Monika Ary Kartika Soetjipto

Konsep Karya:

Pengantar Kuratorial

“Con Festivit”

Jim Supangkat / kurator

Studio Monika Ary Kartika terletak di kawasan pegunungan dekat Lembang, Bandung yang jauh dari kawasan perkotaan. Di sana ia bekerja, biasanya sendirian tapi ia tidak merasa kesepian. Selain pelukis, Monika hobi berdansa dan secara tetap menghadiri acara dansa pada klub-klub dansa Latin. Aneh, ketika ia hadir pada suasana riuh ini (dansa Latin dikenal sangat festive, tercermin pada gerak tubuh dan kostumnya), Monika justru merasa kesepian. Berpangkal pada paradoks ini, sejak tahun 2008 Monika menjelajahi rasa festive dan mengungkapkan pencarian ini melalui karya-karyanya.

Sudah tentu ia mula-mula mencoba mengangkat suasana klub dansa Latin yang diikutinya secara tetap. Ia membuat sejumlah foto suasana ruang-ruang dansa dan foto kawan-kawannya ketika berdansa. Monika kemudian mengolah foto-foto ini, mengedit, menggabungkan, mengubah, atau menambah warna melalui proses digital pada komputer dan kemudian memindahkannya ke atas kanvas. Ternyata Monika merasa tidak menemukan apa yang dicarinya. Lukisan-lukisan yang dihasilkannya justru menampilkan suasana lengang yang sepi. Sejumlah lukisannya terpusat pada penggambaran para pedansa dengan latar kosong. Sejumlah lagi menampilkan kerumunan pendansa yang sama sekali tidak menampilkan kesan festive. Warna pada lukisan-lukisan ini cenderung khromatik dan gelap; menampilkan suasana muram. Monika merasa seperti tertahan untuk menampilkan warna cerah yang festive.

Maka Monika kembali menjelajah mencari subject matter dan suatu ketika perhatiannya terpancing pada Jember Fashion Carnaval di kota Jember yang secara tetap diberitakan harian Kompas. Ia mendatangi festival ini dan mencoba mendalaminya. Perayaan ini merupakan parade di mana semua peserta menampilkan pakaian karnaval yang dirancang sendiri yang dibimbing oleh tim pemrakarsa. Tradisi ini dimulai sekitar sembilan tahun lalu dan diselenggarakan setiap tahun. Waktunya, beberapa hari menjelang bulan Ramadhan. Pemrakarsa tradisi ini adalah perancang busana Dynand Fariz, di Jember yang mempunyai industri fashion. Namun perayaan ini tidak punya tujuan komersial. Para peserta membiayai sendiri pakaian karnaval yang diperagakan. “Ada yang sampai menjual motor untuk bisa mengikuti karnaval ini,” kata Monika mengisahkan.

Monika merasa menemukan obyek lukisan yang dicarinya. Ia membuat sejumlah besar foto dari ratusan peserta karnaval, mewawancarai beberapa peserta, berkenalan, menanyakan suka-duka mereka dan bercengkrama. Bukan hanya suasana festive yang teatrikal yang ditemukannya pada perayaan ini. Dari perkenalannya dengan pemrakarsa dan para peserta, Monika merasakan kebersamaan pada penyelenggaraaan festival ini seperti kebersamaan pada upacara-upacara di dunia tradisi. Ada kegembiraan bersama yang dirasakannya positif. Kegembiraan ini meluas ke semua orang yang menghadiri perayaan ini, “Banyak orang luar seperti saya ikut merasakannya,” ungkap Monika. “Terlihat pada wajah-wajah mereka yang antusias.”

Maka pada tahun 2009 Monika mulai mengangkat foto-foto yang dibuatnya di Jember Fashion Carnaval ke atas kanvasnya. Ia kembali mengolah foto-foto ini dan tidak sekadar memindahkannya ke lukisan. Didorong keinginan memperluas khazanah visual perayaan seperti ini ia melakukan browsing dan menemukan Brazil Carnival yang diselenggarakan di dua kota di Brazil; Rio de Janeiro dan Sao Paolo yang kemudian dipertandingkan di Sambodromo (tempat utama di Rio de Janeiro yang khusus dibuat untuk karnaval pada tahun 1984). Ia segera merasakan kesamaan karnaval ini dengan karnaval di Jember. Dari browsing, Monika menemukan Brazil Carnival diikuti oleh sekolah-sekolah dansa Samba di kedua kota tadi. Acara di Sambodromo diselenggarakan setiap tahun selama 4 hari (sejak Sabtu-Selasa) sebelum permulaan masa puasa pada agama Katholik (Rabu Abu). Perayaan besar ini digelar mulai jam 8 malam sampai jam 5.30 pagi, tidak seperti Jember Fashion Carnaval yang digelar pada siang hari. Brazil Carnival diikuti oleh ribuan peserta dan dihadiri oleh ratusan ribu pengunjung.

Dari membandingkan kedua karnaval ini, Monika merasa perayaan-perayaan itu adalah pesta rakyat yang menunjukkan ikatan komunal. Pada masyarakat yang masih menjalankan tradisi, upacara yang mirip dengan perayaan ini menunjukkan masih kuatnya ikatan komunal. “Tapi kedua karnaval itu bukan tradisi seperti upacara adat di Bali, Yogyakarta, dan Solo yang sarat dengan keperluan religi tertentu,” kata Monika. “Kedua karnaval ini tradisi baru dan saya merasa bisa masuk karena karnaval-karnaval ini seperti tradisi masa kini.” Dari pemahaman ini Monika merasa bahwa masyarakat dalam kehidupan masa kini sebenarnya masih tetap memerlukan ikatan komunal. Kebutuhan inilah yang melahirkan karnaval-karnaval di pelbagai kota di negara mana pun.

Kesadaran itu membawa Monika ke konsep mendasar dalam berkarya. “Saya merasa lukisan-lukisan saya lebih memperlihatkan pikiran positif,” katanya. Pandangan ini berkaitan dengan pengalaman pada perjalanan berkaryanya. Pada awal karirnya Monika menjelajahi ruang individu yang sepi dan muram. Waktu itu ungkapannya menampilkan ruang kosong dengan tanda-tanda minimal mempertanyakan kematian karena pernah diduga mengidap penyakit kanker payudara yang fatal, diagnosa yang ternyata tidak benar.

Lukisan-lukisan pada pameran tunggalnya ini mencerminkan penjelajahan Monika mencari rasa festive yang diyakininya berkaitan dengan pikiran positif. Lukisan-lukisan ini bukan penggambaran karnaval-karnaval yang direkamnya lewat foto. Lukisan-lukisan ini adalah ekspresi festive yang ditampilkan melalui gambaran manusia, permainan warna, ornamentasi, brush strokes, dan collage (Monika menerapkan payet dan manik-manik pada lukisannya) dalam susunan yang riuh.

Eskpresi itu seperti mencoba menampilkan spirit di balik perayaan di mana semua orang yang terlibat melepaskan posisinya sebagai individu dan memasuki sebuah ruang komunal. Komposisi riuh pada lukisan-lukisan ini tidak cuma menampilkan kegembiraan yang bermuara pada pleasure. Susunan pada lukisan-lukisan Monika terlihat mencoba menampilkan suasana ruang magis yang tranquilizing. Kendati sekilas terkesan datar, ruang pada lukisan-lukisan ini muncul karena penataan lapisan (layers). Monika membangun lapisan-lapisan ini dengan membedakan tingkat ketajaman gambaran dan penerapan brush strokes.

Pada semua lukisan itu ada point of interest. Pada posisi sentral ini Monika menampilkan wajah dan tubuh. Gagasan ini muncul dari kecermatannya mengamati kedua karnaval. Ia merasa kedua karnaval ini merayakan tubuh. Pangkalnya tentu dorongan untuk tampil teatrikal. “Tapi kreativitas mengejutkan pada perayaan tubuh ini tidak untuk menonjolkan diri,” katanya. Pada Karnaval Jember ia melihat wajah menyatu dengan tubuh dalam menampilkan cerita karena disain kostum Karnaval Jember ini selalu didasarkan cerita. Wajah menjadi tidak bisa dikenali lagi karena olahan make up. Sementara itu perayaan tubuh lebih nyata pada Karnaval Brazil. “Selain tubuh perempuan, tubuh laki-laki dan tubuh waria dirayakan juga,” kata Monika menegaskan. “Wajah yang ceria menyatu juga dengan tubuh di tengah kostum gemerlap yang pada kepala dan tubuh sama meriahnya.”

Persoalan tubuh memang muncul pada pemikiran masa kini menentang totalitas kekuasaan yang terstruktur oleh rezim representasi yang dibenarkan ilmu pengetahuan. Dalam rezim representasi ini tubuh berfungsi untuk pembuktian material dalam pemikiran tentang manusia. Dorongan tubuh (desire) yang relatif sulit dibuktikan secara material dengan sengaja disingkirkan untuk mengukuhkan kebenaran material. Karena itu filosof Michel Foucault melihat kekuasaan yang terstruktur ini mencerminkan kedaulatan rasio dan membuat setiap orang ikut menindas tubuhnya sendiri. Bagi Foucault, ini pembunuhan vitalitas atau daya hidup yang tercermin pada ekspresi tubuh.

*Con Festivit ; “raya” dalam Bahasa Latin.

Nama                        : Monika Ary Kartika Soetjipto

Tempat /tgl lahir : Bandung,17 November 1982

Alamat                    : Jl. Lamping No. 7,

Cipaganti,

Bandung 40131,

Jawa Barat, Indonesia

Telepon                 : +62 – 22 – 2035050

Fax                         : +62 – 22 – 2033500

Hp                          : +62 – 818216066

E-mail                  : confestivit@monzdcreation.com

Website                 : www.k-art-ika.com

Pendidikan Seni Formal :

S1 FSRD ITB, Studio Seni Lukis, angkatan 2001, lulus Januari 2006.

Pameran tunggal :

2010 : Vivi Yip Art Room 2, Annexe, Ciputra World Marketing Gallery, Jl.Prof.Dr.Satrio Kav.11, Jakarta Selatan. 20 November – 20 Desember

Pameran pilihan :

2010 : – Bazaar Art Jakarta 2010, Ballroom Ritz-Carlton, Pasific Place, Jakarta

– Pameran keliling 6 kota Ilustrasi Cerpen KOMPAS 2009 di Bentara Budaya Jakarta, Biro Kompas Bandung, Balai Soedjatmoko Solo, Bentara Budaya Yogyakarta, Galeri ORASIS Surabaya, Bentara Budaya Bali

– Pameran 95 nominee Biennale Indonesia Art Award, Galeri Nasional, Jakarta

– “Space and Image”, Ciputra World Marketing Gallery, Casablanca, Jakarta

– Lawang Wangi’s Inagural Exhibition, “Halimun, The Mist”, A Reflection  Upon the Development of Indonesian Contemporary Art, Art Sociates, Bandung

– “Veduta”, Bandung Initiative #5, Vanessa Art Link, Jakarta

2009 :  – “My Body”, 43 seniman perempuan, Grand Indonesia, penyelenggara Andi Gallery, Jakarta

– Bazaar Art Festival 2009, Ballroom Ritz-Carlton, Pacific Place, Jakarta

-“Up and Hope”, d’Peak Gallery, Jakarta

– Pameran Ilustrasi Cerpen KOMPAS 2008 plus karya pendamping di Bentara Budaya Jakarta dan Bentara Budaya Jogjakarta, Solo, dan Bentara Budaya Bali

– Ilustrasi Cerpen KOMPAS 26 April 2009

– Program MOSAIC “GRIP : Young Contemporary Artists from Indonesia and China”, Art Distrik 798, Vanessa Art Link, Beijing, China

– “Reborn”, Grand Opening of H2 Gallery, Semarang.

2008 : – “Art with an Accent”, pameran ke-6 Asosiasi A-One (Asia Art Communication), 4 negara : Jepang, Korea, China, Indonesia. Di North Shamian Street, Liwan, Guangzhou, China.

– “The 13th Asian Art Biennale Bangladesh 2008”, 26 negara dari Asia, Amerika Latin, dan Eropa. Di National Museum, Dhaka, Bangladesh.

– “The 19th Asian Water Colours 2008”. Di Museum Neka, Ubud, Bali.

– Ilustrasi Cerpen KOMPAS 23 November 2008

– “Ini, Baru Ini”, Grand Opening Vivi Yip Art Room, Jakarta.

-“Untukmu Perempuan Indonesia”, persembahan Yayasan Kanker Indonesia. Di Gedung Arsip Nasional Indonesia, Jakarta.

2005 : – Pameran Fotografi “Displaced Spaces”, Selasar Sunaryo Art Space, Bandung. Pameran hasil workshop bimbingan fotografer asal Korea, Han Sung Pil.

– Pameran Fotografi “Asian-Europe Art Camp”, Selasar Sunaryo Art Space, Bandung. Bekerja sama dengan Common Room

Pameran bersama lainnya :

2007 : – “LOVE”, The Peak, Lembang.

– “Tribute to Barli”, Bale Seni Barli, Kota Baru  Parahyangan, Padalarang.

2006 : – Ars Mobilis 2006 “Earthborn, Heavenbred”, Ciwalk, Bandung.

– Pameran Bersama IWPI Jawa Barat (Ikatan Wanita Pelukis Indonesia), Bandung.

– Pameran “Charity for Mamannoor”, Galeri Adira, Bandung

2005 : – “50 x 50”, dalam Rangka Peringatan 50 tahun KAA, Galeri Kita, Bandung.

– Pameran Bersama Seniman Bandung, Pendopo Walikota, Bandung.

2004 : – “Steal Life”, Galeri Sumardja, FSRD ITB, Bandung.

– Pameran Seni Rupa Perempuan, Galeri Soemardja, ITB, Bandung.

2002 : – Pameran TPB FSRD ITB angkatan 2001 di Aula Barat ITB, Bandung.

Penghargaan :

2010 : – Masuk 95 Finalis Indonesia Art Award

2004 : – Masuk 10 Finalis Kompetisi Melukis Landscape, Bale Seni Barli, Padalarang

2000 : – Masuk 20 Finalis Kompetisi Melukis untuk beasiswa Universitas Lim Kok Wing, Malaysia

1999 : – Juara II Kompetisi Melukis TIngkat Nasional, kerja sama Majalah GADIS dengan OREO

1995 : – Juara I Kompetisi Melukis Tingkat Nasional, Majalah Jayabaya, Surabaya, Indonesia

– Penghargaan dari UNESCO, lukisan dijadikan kartu pos UNESCO

1993 : – Juara I Kompetisi Melukis Tingkat Nasional, KTT Non Blok, mendapat piala dari Menteri Pariwisata dan Budaya

1991 : – Juara I Kompetisi Melukis se-Bandung, Gramedia Bandung

1990 : – Penghargaan Gajah Perak dari Jerman

– Penghargaan Medali Perak dari NHK, Jepang

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: