Seni Rupa

Seperti apakah seni rupa Indonesia? Seni rupa Indonesia makin terlibat dalam hiruk-pikuk pasar seni rupa (art market) di Asia. Generasi baru perupa Indonesia yang dalam bahasa ”pasar seni rupa” disebut ”contemporary artist”, di pasar menempati posisi sepenting bahkan lebih ”panas” dibanding artis-artis yang dikategorikan sebagai ”old and modern master” seperti Affandi, Sudjojono, dan Hendra Gunawan. Bre Redana

Mereka ini sebutlah antara lain Yunizar, Rudi Mantofani, Handiwirman Sahputra, I Nyoman Masriadi, dan Putu Sutawijaya. Generasi setelah mereka dengan eksperimen gila-gilaan, beberapa di antaranya dari disiplin grafis, tengah merangkak naik.

Sementara pasar memetakan sendiri perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia, apa itu seni rupa Indonesia dari rumusan yang ingin mengklaim lebih akademis belumlah jelas. Dari sisi pasar, seperti dipetakan lembaga bernama artprice untuk Art Stage Singapore, terlihat betapa signifikan posisi Indonesia di Asia.

Dalam kata pengantarnya, artprice dengan yakin menyebut: sejak milenium baru, pusat daya sedot kreasi artistik dan penawaran (demand) telah pindah secara mencolok ke Timur. Sebelumnya artprice menguraikan betapa di tahun 1950-an Eropa telah kehilangan supremasinya atas pasar seni rupa yang berpindah ke tangan Amerika. Semacam revolusi, di mana Eropa Lama tak pernah bangkit kembali.

Kini, ditandai dengan perkembangan ekonominya, China, India, dan Indonesia mengambil peran penting pada pasar seni rupa internasional. Ditambah kekuatan Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang, penghasilan Asia dalam pasar seni global di tahun 2009 mengungguli Amerika. Menurut data artprice, total penghasilan balai lelang Asia 155 juta dollar AS, sementara Amerika 142 dollar.

Peristiwa

Di luar angka-angka yang bikin mabuk itu, seperti apa sebenarnya kegairahan seni rupa kontemporer Indonesia bisa dilukiskan? Sebuah peristiwa bernama ”art fair” barangkali bisa menggambarkannya. Kita bisa menangkap atmosfernya di situ.

Belakangan ”art fair” telah menjadi sebuah ”happening”, sebuah peristiwa—bukan sekadar kejadian—bagi kalangan seni rupa, baik untuk kalangan kolektor, pedagang dan perantara seni, serta seniman. Peristiwa-peristiwa itu berlangsung di Hongkong, Shanghai, Beijing, dan semacamnya. Di Jakarta juga telah berlangsung peristiwa serupa, disponsori oleh majalah gaya hidup (bukan majalah seni). Tahun 2011 ini, kelihatannya di Jakarta bahkan akan berlangsung dua ”art fair”, didukung dua majalah berbeda.

Di kawasan Asia Tenggara, yang paling baru berlangsung di Singapura, dengan nama Art Stage Singapore, mengambil tempat di kawasan premium negeri itu, Marina Bay Sands, tanggal 12-16 Januari 2011. Otak di balik acara ini adalah kurator dari Swiss, Lorenzo Rudolf, yang dikenal prakarsanya dalam melahirkan Art Basel, baik di Swiss maupun Miami. Berskala internasional, Arts Stage diikuti lebih dari 120 galeri dari berbagai negara, baik Asia, Eropa, dan Amerika. Dari Indonesia, 12 galeri ikut serta. Sesuai abjad, mereka adalah Ark, Canna, Edwin’s, Fang, Langgeng, Linda, Nadi, Platform3, Semarang, Umahseni, Vanessa, dan vivi yip.

Wanita

Banyak yang berkomentar Art Stage lebih meriah dibanding Singapore Art tahun lalu. Harian negeri itu, Straits Times, tiap hari menempatkan peristiwa ini sebagai berita utama. Mereka soroti harga-harga barang seni yang menakjubkan dari karya Picasso sampai perupa yang menjadi semacam selebritas zaman ini, Takashi Murakami.

Selain soal harga dan penjualan, juga karya-karya yang mengandung potensi kontroversi. Misalnya karya seniman Indonesia Ronald Manullang, yang dibawa ke Art Stage oleh Galeri Umahseni. Ronald menggambarkan rangkaian Hitler dengan tubuh perempuan montok sedang hamil. Pemilik galeri, Leo Silitonga, mengaku karya-karya itu telah menimbulkan reaksi kontras. Ada yang suka sekali, ada yang tidak suka sekali, bahkan dikasih katalog pun menolak.

Atau apa yang ditampilkan oleh Galeri Maskara dari Mumbai, India. Artis galeri ini, T Venkanna, sepanjang hari hanya duduk bertelanjang bulat dalam booth-nya. Pengunjung booth diatur oleh pemilik galeri untuk masuk satu per satu, dan diambil fotonya duduk bersebelahan dengan sang artis. Banyak yang menolak, terutama pengunjung wanita. Alasannya, si artis kurang ganteng. ”Kalau seperti Brad Pitt saya mau,” kata seorang wanita cantik tertawa.

Peristiwa ”art fair” semacam ini adalah peristiwa urban. Majalah-majalah gaya hidup menyelenggarakan photo session. Pesta-pesta sudah pasti. Tanya seniman-seniman muda Indonesia. Mereka masing-masing menyimpan pengalaman seru. Para fashionista berkeliaran, dalam acara yang diperkirakan dikunjungi sekitar 50.000 orang selama lima hari ini. Banyak cowok yang kelihatannya memotret karya seni, padahal diam-diam mengambil foto para wanita. Perdagangan seni dan galeri umumnya memang dipegang wanita. Ada film berjudul Women Art Revolution menggambarkan keadaan ini.

Monyet

Di tengah hiruk pikuk itu, kembali ke pertanyaan semula, seperti apa seni rupa Indonesia? Tak urung, pertanyaan itu muncul dalam ”Talks Programme”. Seorang peserta diskusi mengaku dari Inggris mengajukan pertanyaan tersebut ketika berlangsung diskusi ”Indonesian Art on the World Stage”. Pembicara adalah Oei Hong Djien, Deddy Kusuma, Wiyu Wahono, ketiganya kolektor, serta perupa Arin Dwihartanto dan kurator Alia Swastika. Penanya mengulang rumusan pertanyaannya karena rupanya tak ada jawaban yang melegakannya (Alia bersikukuh, seni adalah soal gagasan).

Seorang pemilik galeri dari Singapura yang banyak berhubungan dengan seniman di Yogya mengambil alih pembicaraan. Dia mengaku tahu jawabannya. Katanya, seni (rupa) di Indonesia adalah sesuatu yang paling orisinal (most original). Di negara-negara lain katanya seni rupa terkurasi berlebihan (over currated) dan tertata berlebihan (over managed). Itu kebalikan dari yang terjadi di Indonesia, di mana seni katanya ”undercurrated and undermanaged”.

Tak jelas apakah itu pujian atau ledekan. Menjadi ingat Eddie Hara, seniman Indonesia yang tinggal di Belgia. Ia ikut serta acara ini bersama Nadi Gallery. Kata Eddie, seniman itu ibaratnya monyet. Ada tiga jenis monyet, yakni monyet kebun binatang (jinak, peliharaan pemerintah), monyet sirkus (terampil, mendatangkan keuntungan, biasanya dipelihara galeri), dan monyet hutan (bebas apa maunya, tapi tak dikenal).

Biar kalangan seni rupa sendiri yang menjawab.

(diunduh dari http://m.kompas.com/news/read/data/2011.01.23.04213541)

<!–

–>

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: