Sistematika Rupa Made Budhiana

Minggu, 13 Juni 2010 | 04:00 WIB

OLEH WARIH WISATSANA

Bila ingin menyaksikan suatu kejutan visual dan kosa rupa yang sensasional, jangan datangi Maha Art Gallery di Sanur sebulan ini. Di ruang pameran terhampar di dinding sederetan kanvas yang di sana-sini dipenuhi torehan warna serta garis-garis bebas yang seakan begitu saja meluap dari kedalaman.

Garis-garis itu dan segugusan warna yang seolah berdiri sendiri, jika dicermati, akan membawa kita pada suatu pengalaman imajiner yang menyiratkan suasana alam dan wujud visual yang tak dikenal, tetapi terasa akrab, sekaligus imajinatif dan sugestif. Itulah karya-karya Made Budhiana, yang tengah berpameran tunggal mulai 26 Mei hingga 26 Juni 2010, menampilkan 29 lukisan berbagai ukuran, dari periode terdahulu, 1999, hingga yang terkini, 2010.

Berbeda dengan karya-karya perupa Bali umumnya, yang kerap merujuk pada ikon-ikon tradisi serta acuan identitas simbolis yang mengingatkan kita pada warisan kultural Bali, Budhiana hadir dengan suatu ekspresi yang terbilang personal. Meskipun kanvasnya, dalam karya-karya tertentu, dipenuhi oleh aneka unsur garis dan rupa-rupa maya yang tak terduga, tak dengan seketika mengingatkan kita pada suatu memori visual ala lukisan Bali.

Apakah ekspresi bebas nan otonom itu menunjukkan Made Budhiana, pelukis kelahiran Denpasar, 27 Maret 1959, ini tak berpijak lagi pada akar kulturnya? Ataukah karya-karyanya yang tergolong abstrak ini mencerminkan pelakunya semata hanyut terbawa arus seni modern serta kontemporer? Atau tepatkah, seperti disiratkan dalam buku biografi kreatifnya, Crossing the Horizon (Melintas Cakrawala), yang diluncurkan pada acara pembukaan, ditulis oleh Wayan Suardika, Budhiana adalah sosok penjelajah kreatif yang bersiteguh dengan pilihan estetiknya?

Rasionalitas

Memaknai karya-karyanya secara lebih utuh dan juga laku kreatifnya selama ini berbeda dengan anggapan yang mengemuka, nyatalah terbukti bahwa Made Budhiana bukanlah pelukis yang menyandarkan kreasinya terutama pada daya intuitif. Memang bila mengamati satu dua karyanya secara terpisah, seolah garis-garis ciptaannya yang dinamis dan bersifat non repetitif serta nonnaratif itu adalah suatu kespontanan yang memancar begitu saja dari dunia bawah sadarnya. Para pengamat kerap menyatakan hal itu sebagai suatu proses cipta yang khas Timur, sepenuhnya bersifat meditatif, di mana unsur-unsur rasionalitas memainkan peran yang amat minimal, atau dengan kata lain, seolah-olah nirkonsep dan nirpesan atau gagasan.

Namun, bila kita mengamati lebih dalam dan membaca tahapan-tahapan penciptaan Budhiana serta wujud visual yang ditampilkan pada kanvas dua dimensinya selama ini, tak dapat disangkal bahwa lukisan-lukisannya adalah buah penggalian pengetahuan secara sistematis. Pilihan sikapnya untuk undur diri dari Sanggar Dewata Indonesia sedini itu serta selalu menjadikan studio-studio pribadinya sebagai semacam ruang publik, tempat berkumpulnya aneka seniman dan intelektual dari berbagai latar kultur, adalah buah olah kesadarannya bahwa disiplin kreasi seni pada hakikatnya adalah sebentuk kerja laboratorium, di mana penciptaan jauh dari aksi spekulatif, tetapi penuh perhitungan dan pertimbangan.

Tidak mengherankan, meski awalnya berangkat dari pola rerajahan Bali, lukisan-lukisan Made Budhiana mengalami tahapan-tahapan evolusi yang terarah dan terkendali. Pilihan ekspresi abstraknya diraih dan dicapai melalui analisis diri yang intens. Berbeda dengan kebanyakan pelukis Bali segenerasinya, yang meski mengkritisi eksotisme, diam-diam menghadirkan dengan sepenuh sadar kebaliannya serta kerap tergelincir menjadi ekspresi pernyataan identitas yang artifisial, Budhiana kuasa melampaui godaan itu. Seni abstrak ditekuninya dalam rentang periode penciptaan yang terbilang panjang. Hal itu bukanlah kemapanan yang menyiratkan kemandekan, melainkan sebentuk pencapaian bahwa dirinya telah menemukan pilihan bahasa ekspresi yang otentik.

Dalam karya-karya belakangan, misalnya ”Melawan Angin”, atau ”Discussion”, terasa sapuan warna dan garis lebih bebas dan nyata. Ruang-ruang kosong yang dihadirkan menyiratkan bahwa Made Budhiana paham bagaimana ”makna” suatu karya sesungguhnya tidak sepenuhnya hasil olah rupa dari sang kreator, tetapi adalah hasil pertemuan atau dialektika dengan sang pemirsa. Ruang-ruang kosong, yang selalu hadir di antara garis-garis dan gugusan warna, selain merefleksikan kedalaman rasa yang sugestif sekaligus meditatif, juga mengantar imajinasi kita pada pengalaman yang melampaui rupa.

Budhiana memang teguh dengan pilihan bahasa estetiknya. Daya analisisnya yang tajam dan didukung oleh intensitas berkaryanya yang teruji, serta digenapi olah intuisinya yang terarah, mengantar dirinya bukan hanya pada pemahaman, melainkan penghayatan akan sesuatu yang ada di seberang kenyataan, yang bersifat transenden. Ekspresi abstraknya, sebagaimana Wassily Kandinsky, Mondrian atau para pendahulu lainnya, menunjukkan bahwa capaian karyanya adalah buah dari suatu kespontanan yang terlatih.

Warih Wisatsana Penyair Tinggal di Denpasar

(diunduh dari http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/13/04001956/sistematika.rupa.made.budhiana)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: