Cerita Asyik Bob Sick

Minggu, 6 Juni 2010 | 06:22 WIB

Bob Yudhita Agung alias Bob Sick (39) berpameran tunggal dengan tajuk ”Bobvarium” di Srisasanti Arthouse, Kemang, Jakarta Selatan, 26 Mei-26 Juni. Sebagaimana pameran-pameran sebelumnya, sebenarnya sosok Bob—dengan segala cerita dan caranya memandang hidup—terasa lebih mengasyikkan ketimbang lukisannya. Bagaimana bisa?

Kami ngobrol dengan Bob di Srisasanti Arthouse, beberapa saat sebelum pameran. Sosok lelaki ini nyaris tak berubah: tubuh penuh tato, terkesan ringkih, tapi penuh spontanitas dalam melihat kenyataan. Pandangannya kerap mengejutkan.

Malam itu, sekitar pukul 22.00, Bob melukis. Dia memang selalu senang melukis. Wajahnya berbinar saat menghadapi kanvas kosong, beberapa botol cat, serta air dalam gelas plastik.

Dia colek cat hitam dengan kuas dan menggoreskannya pada kanvas. Setelah corat-coret sana-sini, terbentuklah tiga lelaki sedang bersila. Satu orang berkumis, satu berkemeja rapi, satu lagi berkepala pelontos.

Anatomi ketiga sosok itu tak sempurna. Ada yang satu tangannya kecil, kaki meleot, berjari enam, atau kepala agak penyok. Bob cuek saja.

”Hidup ini penuh misteri. Tuhan menciptakan banyak hal aneh, tapi kita menerimanya saja. Kenapa lukisan manusia harus tampak sempurna?” katanya.

Bob berhenti sejenak, berdiri, lalu ambil jarak. Tak lama, dia bergegas mengisi kanvas lagi. Kali ini, muncul bangunan mirip kelenteng. Ada pilar-pilar besar dengan hiasan naga.

Beberapa bidang kanvas dicat warna hijau. Sebagian lagi dibiarkan hitam-putih. Sesekali, tangannya mengobok-obok air dan mencipratkannya ke kanvas sehingga catnya meleleh.

Ketika melukis, Bob seakan tenggelam dalam permainan yang memabukkan. Dia asyik mencolek cat dengan kuas, menggores, mencorat-coret, atau melabur warna. Semuanya dikerjakan dengan gembira, santai, spontan, tanpa beban, dan kadang naif.

Setelah 30 menit beraksi, Bob menyudahi lukisan itu dengan membubuhkan namanya. Dia duduk melepas lelah. Wajahnya sumringah. ”Rasa lega sehabis melukis itu seperti habis masturbasi,” katanya.

Eh, lukisan itu bercerita apa sih? ”Itu tiga orang bersahabat yang ngobrol di kelenteng.”

Ngobrol apa? ”Mungkin soal ipoleksosbudhankam, he-he-he…,” katanya. Bob mengaku tak suka bersekolah zaman Orde Baru karena penuh indoktrinasi. Salah satunya, pelajaran tentang ipoleksosbudhankam: ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan.

Bob sengaja membuat penampilan tiga sosok itu berlainan karena ingin menceritakan, mereka memang berbeda. Tapi, perbedaan tak menghambat ketiganya ngobrol santai di sebuah rumah ibadah.

”Kita mungkin beda agama atau keyakinan, tapi kita harus bisa berdamai dengan siapa saja. Manusia tak bisa hidup sendiri kan.”

Dari mana ide itu muncul? ”Lihat jalanan yang penuh orang. Indonesia punya banyak penduduk yang beda-beda, tapi masih sering bentrok.”

Merdeka

Begitulah, Bob Sick. Seniman lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta tahun 1998 itu hadir sebagai sosok unik dalam peta seni rupa Indonesia. Dia menyerahkan seluruh hidupnya untuk jalan kesenian.

Setidaknya tekad itu terlihat dari sekujur tubuhnya yang didedikasikan untuk ekspresi beragam tato. Bahkan, seminggu sebelum kami berjumpa, dia menambahkan satu tato baru lagi. ”Bentuknya tengkorak dan bintang,” katanya sambil menunjuk kepalanya yang kini berambut cepak.

Seniman ini telah melintasi perjalanan panjang dalam kesenian. Sebagaimana para pelukis angkatannya di ISI Yogyakarta, katakanlah seperti Putu Sutawijaya atau Bunga Jeruk, Bob juga berjuang mati-matian untuk meraih tempat di wacana dan pasar. Karyanya mulai diapresiasi sekitar tahun 2007.

Kehidupan dan lukisan Bob dianggap mewakili cara berkesenian yang merdeka. Dia bisa mengambil ide dari mana saja, melukis dengan sekena hati, spontan, gembira, dan nakal. Dirinya dibiarkan larut dalam arus insting petualangan seni yang cair.

Dalam pameran ”Bobvarium”, spirit itu juga kuat terasa. Belasan lukisannya mengangkat obyek beragam: suasana kota, para sahabat, petani, bar, kolam renang, serta sosok beberapa kolektor lukisan. Bidang-bidang kanvas dipenuhi berbagai bentuk, sebagian terasa agak dekoratif, dengan warna-warni cerah.

Bob tak berkeberatan saat disinggung bahwa corak visualnya kini lebih ”manis” dibandingkan dengan karya beberapa tahun lalu yang lebih ekspresif. Mungkin kondisi itu terkait dengan kehidupannya yang kian mapan seiring pasar yang makin menghargai karyanya.

”Saya tak mau mandek dengan satu gaya visual. Berkesenian itu harus terus bergerak bebas,” katanya.

Memang, kebebasan itulah yang menapasi perjalanan hidup dan karya-karyanya. Bagi Ugo Untoro, seniman sahabat Bob di Yogyakarta, kesenimanan Bob menjadi kuat karena dia mengelola bahasa yang tak terduga. Dia bisa ngomong apa saja dengan tetap di kerangka pikirannya. Dia tidak khawatir dikatakan bodoh.

Sikap itu hasil dari bacaan Bob atas apa yang terjadi pada hidup sehari-harinya. ”Itu merupakan keberanian dan sudah jarang ditemui sekarang, ketika para seniman pada ’kontemporer’ semua,” kata Ugo.(ILHAM KHOIRI)

(diunduh dari http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/06/06221072/cerita.asyik.bob.sick)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: