Yang Terinterpretasi Masa Lalu

jakarta | Sun 23 May 2010
by : Sjifa Amori

Lukisan Popo Iskandar yang dijuduli Kucing (1975, cat minyak di atas kanvas) termasuk dalam karya penting koleksi Galeri Nasional Indonesia. Lukisan yang menampakkan wujud kucing berbentuk geometris sehingga cenderung imajiner. Apalagi kucing ini didominasi warna hitam dengan sedikit goresan halus putih dan kuning yang berfungsi sebagai garis telinga, kaki, ekor, dan corak belang. Tanpa sapuan tipis garis kuning dan putih yang pendek-pendek ini, positif lukisan Popo adalah sebuah bidang hitam yang bersegi-segi dengan latar warna pastel yang lebih cerah.

Obyek kucing ini digambarkan Popo dengan ekspresif (lewat goresan atau coretan) dengan memperlihatkan emosi pelukisnya (misalnya soal kemisteriusan). Popo memainkan bentuk kucing (secara anatomis), meski masih terlihat seperti kucing dengan ciri khas mata dan gesturnya yang meliuk-liuk.

Kucing mengungkapkan salah satu dari berbagai karakter yang pernah dibuat dengan obyek binatang. Dengan deformasi yang mengandalkan efek-efek goresan yang spontan dan transparan, binatang itu seakan baru bangkit dari tidur dan mengibaskan badannya. Dalam penghayatan obyek-obyeknya, Popo berhasil menampilkan karakter-karakter yang esensial dari obyek-obyek dalam ruang imajiner.

Karya Popo ini kembali dipamerkan di Pameran Besar Seni Rupa Indonesia 2010 yang bertajuk Manifesto: Percakapan Masa di Galeri Nasional Indonesia. Dalam pameran yang dibuka pada Selasa (18/5) dan akan berlangsung hingga Senin (31/5) mendatang ini, Popo tidak sendirian, namun ditemani dengan banyak lagi seniman lain dari masanya dan masa sebelumnya. Juga seniman-seniman setelah eranya.

Makanya, Kucing juga tidak sendirian. Dia ditemani “kucing-kucing” lain yang tersaji dalam bentuk yang lebih kekinian, seperti Play Popo karya Erwin Pandu Pranata (2010, pelat besi, cat, dan komponen elektronik) dan Beyond Act/Koko‘ s Way karya Rudi St. Darma (2010, media campuran di atas kanvas).

Play Popo adalah karya trimatra yang berupa kapsul dari pelat besi berwarna hitam. Kapsul berukuran tinggi 100 cm dan diameter 45 cm ini memiliki mata kucing berwarna biru terlukiskan dengan cat. Sisanya adalah coretan cat warna putih, merah, dan kuning, yang menciptakan karakter kartun sebagai pelengkap wajah kucing. Misalnya alis yang beda warna dan beda letak, juga kumis kucing yang berantakan dan bahkan ada sedikit sapuan telapak kaki kucing, yang menjadikan kapsul ini -secara visual- mirip Doraemon.

Sementara lukisan Rudi St. Darma adalah sebuah karya yang bercirikan garfis dengan keberadaan huruf-huruf tercetak bertuliskan Popo‘ s Way secara repetitif sebagai latar lukisannya. Bahwa lukisan ini adalah hasil sebuah interpretasi dari karya Popo, tercermin dari kode-kode artistik dan gaya Popo yang ia ambil dalam melukis sebentuk makhluk imajiner berwarna hitam (lebih berbentuk ular berkepala dua).

Obyek dalam lukisan Rudi bisa dikaitkan dengan bentuk kucing, hanya jika melihat coretan-coretan cat putih sebagai motif tubuhnya -yang mengingatkan kita pada Kucing-nya Popo. Selain itu, Rudi juga mengadopsi karakter warna Popo yang menaburkan setumpahan warna pastel sebagai latar obyek-obyeknya.

”Saya mengundang seniman untuk berinteraksi sambil menyisipkan atau bahkan menawarkan sikap dan persoalan ”baru” dalam proses dialog mereka dengan karya yang dikerjakan para seniman pendahulu mereka. Rangkaian proses dialog yang saya sebut ‘percakapan’ ini dilakukan masing-masing seniman ini,” kata Kurator pameran Kurator pameran Rizki A. Zaelani dalam sambutannya di pembukaan pameran.

Pameran Manifesto: Percakapan Masa menampilkan karya-karya (lukisan, patung, seni grafis, gambar, obyek, video art, fotografi, dan karya instalasi) yang dikerjakan oleh lebih dari 120 orang peserta yang berasal dari 13 provinsi di Indonesia. Acara ini juga mendisplay karya terbaik koleksi Galeri Nasional Indonesia.

Dalam catatan kurasinya, Rizki mengungkapkan bahwa seniman di masa kini tak hanya menghadapi karya-karya “masa lalu” tersebut sebagai penampakan ragam bentuk dan kecenderungan artistik saja, tetapi juga berbagai manifestasi intensi persoalan yang pernah dibayangkan seniman sebelumnya.

Secara teoritis pengalaman dialog semacam ini hendak menghadapi titik-titik artikulatif penting mengenai berbagai hal pada suatu masa, di masa lalu, ketika pengalaman dan identitas kita pernah digambarkan.

Selain Kucing, lukisan seniman terdahulu yang juga dipilih sebagai bahan dan fokus dialog seniman, antara lain Halaman Rumah (1957) karya Nashar, Kakak dan Adik (1978) karya Basuki Abdullah, Badai (1851) karya Raden Saleh Sjarif Bustaman, Pertemuan (1947) karya Otto Djaja, Tiga Kawan (1962) karya Srihadi Soedarsono, Si Hitam dan Si Putih (1963) karya Danarto.

Karya-karya terbaik koleksi Galeri Nasional Indonesia ini lantas “dibaca” (masing-masing oleh dua seniman) yang kemudian juga memproduksi karya dari hasil “dialog” tersebut.

“Sebagian seniman melakukannya dengan memunculkan kembali tanda-tanda yang telah ada dalam karya-karya sebelumnya itu. Sebagian lain ada yang hanya menjadikannya sebagai jalan masuk pada suatu persoalan. Bahkan seakan mengajak karya dari masa lalu itu supaya berlaku bagi persoalan di masa kini,” kata Rizki.

Bahkan beberapa seniman berupaya menggali lebih dalam lagi intensi penciptaan para seniman di masa lalu menjadi ragam artikulasi artistik dan estetik di masa kini. “Dalam hal ini, baik para seniman maupun para penikmat dan pengamat, saya rasa setuju pada kesimpulan yang diajukan Berger, bahwa segera, setelah kita bisa melihat, kita menjadi sadar bahwa kita juga bisa dilihat”.

Percakapan Masa adalah rangkaian kegiatan dalam rangka perayaan 102 tahun peringatan lahirnya semangat Kebangkitan Nasional Indonesia. Pameran yang juga merupakan salah satu realisasi program Galeri Nasional Indonesia dalam menyambut Visit Museum 2010 ini mengikutsertakan sekitar 200 seniman dari berbagai daerah di Tanah Air.

“Sepanjang tahun perjalanan sejarah inilah, seni rupa berkembang seiring pertumbuhan sikap kesadaran berbangsa sebagaimana diusung perintis seni rupa, di antaranya Raden Saleh, Affandi, Hendra Gunawan. Tema Percakapan Masa, saya pikir, tepat sekaligus inspiratif bagi seniman peserta untuk menunjukkan interaksi pemikiran dan sikap artistik yang berkesinambungan,” kata Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, dalam sambutannya dalam katalog pameran.

Peresmian pameran disertai dengan acara peluncuran buku atau Katalog Post EventPameran Besar Seni Rupa Indonesia: Manifesto 2008 yang memuat tulisan para kurator, reproduksi karya yang dipamerkan, serta biodata perupa yang berpartisipasi.

Perhelatan ini juga menandai dibukanya Pameran Koleksi Tetap Galeri Nasional Indonesia. Tata letak pameran ini dibagi berdasarkan pemikiran kuratorial, yaitu Pameran Koleksi Sejarah; dari masa perintisan seni rupa modern Indonesia hingga saat ini (Gedung B Ruang B1), Pameran Koleksi Khusus; Lukisan abstrak dan abstraksi di Indonesia (Gedung B Ruang B2), dan Pameran Koleksi Internasional (Gedung C Ruang C2).

Syifa Amori

(diunduh dari http://www.jurnalnasional.com/show/arsip?berita=131682&pagecomment=1&date=2010-5-23)



  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: