Dialog Lintas Masa

TEMPO Interaktif, Jakarta – Percakapan menjadi sebuah unsur penting sebagai penanda adanya suatu kehidupan. Tak melulu ucapan yang keluar dari mulut, sebuah percakapan mampu hadir secara virtual, seperti yang tertangkap pada instalasi dua patung kepala yang saling berhadapan. Karya instalasi milik Hedi Hariyanto yang dipajang di depan pintu masuk Galeri Nasional ini, menjadi pemandangan pembuka saat memasuki ruang Pameran Besar Seni Rupa Indonesia Manifesto 2010 bertajuk Percakapan Massa.

Pameran yang berlangsung hingga akhir bulan ini mengajak tak kurang dari 158 seniman dari lintas generasi di seluruh nusantara. Pameran ini menampilkan karya seni berupa lukisan, instalasi, patung, pemutaran video, dan jenis lainnya. Gelaran seni akbar ini merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka perayaan 102 tahun lahirnya semangat Kebangkitan Nasional Indonesia.

Terhitung satu abad lebih terlampaui semenjak 1908, sebuah perubahan dramatis terjadi dalam kemasan globalisasi dunia. Mengantarkan masyarakat pada kemajuan budaya, hingga ke arah kontemporer, genre yang tengah booming di kalangan seniman muda.

Maka hadirlah sebuah percakapan beragam makna. Simak saja lukisan Ibu Menjahit karya Guntur Triadi. Tiga buah lukisan itu bergambar seorang ibu bersanggul dan berkebaya sedang menjahit. Lukisan itu seolah lensa pembesar yang kian detil menampilkan apa yang disulam sang ibu. Ternyata sulaman itu bertuliskan “PUNKS NEVER DIE”. Bagian tulisan itu dijahit dengan benang merah, hingga menampilkan efek jahitan nyata.

Percakapan pun bisa terjadi lewat pandangan mata. Bahkan bagi banyak orang, bahasa mata justru lebih jujur daripada kata yang keluar dari mulut. Teori inilah yang kiranya hendak ditegaskan oleh Ade Darmawan dalam Kumpulan Dongeng Bintang. Dalam satu kanvas besar, Ade menyusun potongan gambar mata dari banyak pesohor negeri ini. Ada sebagian yang mudah dikenal, seperti mata penyanyi Krisdayanti dan penyair Rendra. Namun, ada juga sosok yang masih misteri.

Tak hanya menjadi sebuah medium, percakapan juga mampu menjadi simbol yang menampilkan jati diri seseorang. Dari sebuah bahasa percakapan, muncul tren bahasa yang menjadi simbol sebuah kelompok masyarakat. Dari karya Ferry Widiantoro, lukisan berjudul Sosialite, simbol itu kian dipertegas.

Menurut sang kurator, Rizky A. Zaelani, kaitan pameran ini dengan peringatan Kebangkitan Nasional adalah bagaimana merefleksikan dimensi antara karya seniman tempo dulu dengan masa kini. “Saya mengundang para seniman ini untuk berinteraksi atau bahkan menawarkan sikap dan persoalan baru dalam proses dialog mereka dengan karya-karya pendahulu mereka,” ujarnya dalam katalog. Karya-karya pendahulu yang dimaksud adalah kumpulan karya penting koleksi Galeri Nasional.

Sebagai contoh, lukisan S. Sudjojono yang dibuat pada 1944 berjudul Ibu Menjahit. Lukisan ini kemudian direfleksikan dalam karya Guntur dan Ferry tadi. Dengan badan lukian yang sama, yakni sosok ibu yang menjahit, proses dialog Guntur bermuara pada slogan Punk. Adapun Ferry menambahkan latar dari lukisan Sudjojono dengan sketsa bergambar para wanita hedon di sebuah kafe.

Karya lukisan yang usianya sudah tua juga turut dipamerkan dalam pameran ini. Di antaranya kumpulan lukisan para maestro seni rupa Indonesia, Raden Saleh dan Basuki Abdullah. Ada juga lukisan milik Ivan Sagita berjudul Meraba diri yang dibuat pada 1988, dan lukisan Soeromo DS berjudul Pasar yang dibuat pada 1957,

Seni instalasi tak kalah menarik meramaikan pameran ini. Instalasi berjudul Tanah Merah karya Hestu A Nugroho misalnya, menampilkan potongan-potongan kepala berdiri tegak yang seolah muncul dari permukaan tanah merah. Lain lagi dengan Ichwan Noor yang mempersembahkan karya berjudul Hanging Head berupa kepala raksasa yang digantung dengan posisi terbalik. Wajah di sisi kanan dan kirinya kepala itu tak sama. Di satu sisi, bola mata besarnya melirik tajam ke samping, sedangkan mata satunya memandang lurus ke depan.

Instalator Awan Simatupang juga ikut memeriahkan pameran akbar ini dengan memajang karyanya yang berjudul Dan, di teras Galeri Nasional. Dua buah sepeda dihubungkannya dengan las besi. Hingga karya ini mampu berbicara tentang adanya sebuah terikatan antara masa lalu dan sekarang. Kedua sepeda ini tentunya berasal dari dua generasi berbeda. Meski demikian, antara Ontel dengan sepeda moderen ini, punya hubungan erat dari sambungan las besi tadi.


Aguslia Hidayah

(diunduh dari http://www.tempointeraktif.com/hg/seni/2010/05/22/brk,20100522-249666,id.html)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: