Pakaian adalah Peradaban

Minggu, 16 Mei 2010 | 04:09 WIB

Ilham Khoiri

Tekstil itu bukan melulu soal busana, fashion, atau model cantik berdandan di atas catwalk. Berbagai inovasi bahan pakaian sejatinya juga mencerminkan pergeseran peradaban: usaha manusia untuk merumuskan diri di tengah perubahan alam, budaya, dan ilmu pengetahuan.

Kesan itu mengental dalam pameran bertajuk ”Futurotextiles: Surprising, Textiles, Design, and Art” di Galeri Nasional, Jakarta, 27 April-14 Mei. Pergelaran yang dihelat Pusat Kebudayaan Perancis (CCF) itu diikuti lebih dari 50 seniman, desainer, perusahaan tekstil, arsitek, dan museum. Mereka terutama berasal dari Perancis dan Indonesia.

Pameran dengan kurator Caroline David itu memperlihatkan berbagai inovasi tekstil yang didorong temuan ilmu pengetahuan, teknologi, desain, dan seni. Ini adalah bagian dari festival seni budaya Perancis alias Printemps Français ke-6 di Indonesia. Materi serupa pernah ditampilkan di Perancis, Turki, Belgia, Bangkok, dan Maroko.

Bagaimana tekstil bisa mencerminkan peradaban? Setiap produk dalam pameran ini menggambarkan kreasi tekstil untuk memenuhi beragam kebutuhan manusia yang semakin spesifik. Tekstil diolah demi mendukung kegiatan olahraga, medis, hubungan antarindividu, atau mengatasi problem keterasingan manusia dalam budaya urban.

Terobosan

Pengunjung tak hanya disuguhi sejarah tekstil dan berbagai pertumbuhannya, tetapi juga terobosan yang mengejutkan. Tengok saja produk berlabel Baju Pelindung Aluminium. Baju ini lebih mirip pakaian astronot karena berwarna keperakan, mengilap, dan menutup seluruh tubuh manusia dari kaki hingga kepala. Hanya bagian mata yang ditutup kaca tembus pandang.

Berbahan serat alami, preox, dan dilapis aluminium, busana ini bisa melindungi pemakainya dari api, minyak, uap, percikan metal cair, dan produk kimia lain. Dalam balutan baju ini, manusia bahkan bisa bertahan dalam suhu panas hingga 350 derajat celsius. Inilah hasil garapan teknologi terkini yang menopang gerak industri.

Beda lagi dengan baju renang berlabel LZR Racer dari Speedo. Dengan tekstur nanofibers, pakaian yang melekat ketat pada tubuh atlet ini memudahkan perenang meluncur lebih cepat dalam air. Meski masih kontroversial, kostum yang pernah dicoba pada Olimpiade Beijing 2008 itu merupakan salah satu tawaran menarik abad ini.

Ada lagi baju Wealthy yang membantu dokter memantau kondisi pasien. Dibuat dari serat konduktif dan konektor, baju ini dapat merekam denyut jantung, pernapasan, dan suhu tubuh pemakainya. Informasi itu dikumpulkan dalam kotak garmen dan dikirim lewat GPRS (general packet radio service), kemudian diolah dalam peranti lunak dan disampaikan kepada dokter.

Tak hanya dikenakan pada tubuh, produk tekstil mutakhir juga masuk ke wilayah arsitektur. Sebut saja rumah tekstil di Pusat Pampidou-Metz di Perancis yang dibuka tahun 2010. Ruang heksagon selebar 90 meter itu ditutup membran dari fiberglass dan teflon yang kedap air dan bisa menciptakan lingkungan subtropis.

Bagaimana dengan produk tekstil lokal? Indonesia diwakili perancang Lenny Agustin, PT Dyrt Indonesia, dan ESMOD Jakarta. Masing-masing berusaha mengembangkan tekstil dengan bahan lokal, daur ulang, atau memanfaatkan geotekstil.

Lenny, desainer lulusan Bunka School of Fashion, banyak mengangkat tekstil yang mengolah bahan lokal khas Indonesia. Dia membuat baju dengan kain dari tepung singkong, potongan kain perca, atau dari sumbu kompor. Semuanya dikerjakan dengan semangat daur ulang, mengolah bahan organik, dan tetap memperhitungkan karakter bahan.

Tepung singkong, misalnya, diolah menjadi kertas daur ulang. Kertas ini lantas dipotong-potong dan dijadikan baju dengan teknik origami alias lipat-melipat. Teknik ini pas dengan karakter kain tepung singkong yang memang kaku, cepat kusut, tetapi juga ringan dan sejuk.

Bahan-bahan dari material pinggiran itu ternyata bisa membuahkan busana yang unik. Itu dimungkinkan karena penyelesaian akhirnya tetap mengacu pada gaya yang modis dan indah.

Semangat daur ulang lebih jelas terasa pada bermacam produk kreasi PT Dyrt Indonesia. Perusahaan yang didirikan Beike van den Broek dan Karen Isaryono itu mengolah ulang bahan tak terpakai, seperti spanduk, tube pasta gigi, dan botol plastik. Material yang dianggap sampah itu kemudian digarap lagi, dipotong-potong, atau dianyam sehingga menjadi produk yang trendi, seperti tas, koper, keranjang, tikar, atau kursi.

Pameran ini menjanjikan harapan bahwa dunia tekstil bakal terus tumbuh seiring geliat zaman. Produk-produk yang ditawarkan merupakan rentetan jawaban atas tuntutan hidup manusia yang semakin rumit.

Tentu saja, problem-problem kemanusiaan akan terus bermunculan. Namun, bersamaan dengan serbuan masalah itu, pada akhirnya bakal tercipta pula produk-produk yang bahkan dulu tak terbayangkan. Tekstil hanya satu contoh dari mimpi manusia yang liar dan tak berbatas.

(diunduh dari http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/05/16/04093998/pakaian.adalah.peradaban)

  1. #1 by Muh. Sholeh on November 26, 2010 - 10:19 pm

    Terima kasih ilmunya pak, semoga memberi manfaat

    • #2 by Sahabat Gallery on February 6, 2011 - 1:57 am

      Sama sama pak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: