PAMERAN BESAR SENI RUPA INDONESIA 2010 MANIFESTO : “Percakapan Masa”

Undangan:

Kurator : Rizki A. Zaelani

Pameran Besar Seni Rupa Indonesia 2010 menampilkan karya-karya (lukisan, patung, seni grafis,
gambar, object, video art, fotografi, dan karya instalasi) yang dikerjakan oleh lebih dari 120 orang
peserta yang berasal dari 13 Provinsi di Indonesia serta karya-karya terbaik koleksi Galeri Nasional
Indonesia.

Acara Pembukaan :

Selasa : 18 Mei 2010
Waktu : 19.30 – selesai
Tempat : Galeri Nasional Indonesia,
Jln. Medan Merdeka Timur No. 14
Jakarta 10110

Pameran akan diresmikan oleh :
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI Bapak Ir. Jero Wacik, SE

Peresmian pameran akan disertai dengan acara peluncuran buku
“Pameran Besar Seni Rupa Indonesia : MANIFESTO 2008”

Pameran terbuka untuk umum, 19 – 31 Mei 2010
Setiap hari pukul : 10.00 – 18.00 wib
informasi lengkap silahkan kunjungi : http://www.manifesto.web.id atau
telephon Rizki Ayu Ramadhana 021-34833954

______________________________________________________

102 : Kebangkitan Nasional
“PERCAKAPAN MASA”

“Benarkah kemerdekaan politik kita secara langsung juga berarti kemerdekaan kita pada masa lalu, pada adat dan tradisi yang beku membelenggu, pada karakter dan sifat kita yang membatu?”

― RadharPanca Dahana, “Mozaik Indonesia Mencari Tradisi” (2007)

“Percakapan Masa” adalah rangkaian kegiatan dalam rangka perayaan ‘102 tahun peringatan lahirnya semangat Kebangkitan Nasional [Indonesia]. Satu abad lebih tahun 1908 terlampaui, kini kita menghadapi perubahan dramatis era globalisasi dunia. Kemajuan budaya pada saat ini tak hanya mengubah cara kita mengenang perjalanan sang waktu tapi juga memperbaharui sikap kita ketika menimbang keberadaan ruang eksistensi kita. Teoritisi budaya kontemporer David Harvey menjelaskan fenomena globalisasi dunia saat ini sebagai kondisi ‘pemampatan ruang-waktu’ (time – space compression). Gejala ‘pemampatan ruang-waktu’ ini menawarkan kembali pada kita perumusan-perumusan yang ‘baru’ mengenai makna ruang keberadaan kita, soal eksistensi diri, termasuk juga mengenai makna ‘kebebasan‘ dan ‘kemandirian’ di tengah berbagai tantangan perubahan, kondisi perbedaan, dan ketidak-pastian akibat gejala ‘implosi’ (implosion), atau meleburnya berbagai sekat-sekat keyakinan, definisi, maupun persepsi yang telah terbangun secara ‘tradisional’ .

Globalisasi dunia melalui kemajuan teknologi interaksi dan komunikasi tak hanya menciptakan bentuk pengalaman baru mengenai ruang keberadaan (dari pengalaman fisikal menjadi virtual); tetapi juga membentuk persepsi dan pemahaman baru mengenai perumusan pengalaman mengenai waktu yang tak hanya berlangsung kian cepat, tetapi juga seolah berlaku secara acak dan ulang alik. Pola penafsiran konvensional memahami rentang perjalanan waktu ibarat suatu garis lurus yang bergerak dari masa lalu ke masa kini untuk sampai di masa depan. Proyeksi yang bersemangat menuju harapan kemajuan di masa mendatang sering menciptakan kondisi masa kini yang tegang, bersaing, dan saling meniadakan sehingga masa silam, kemudian, dianggap kondisi yang telah lalu, mati, bahkan menjadi beban yang harus disingkirkan. Namun pada arah sebaliknya, juga tak jarang, masa lalu dianggap sebagai tata nilai yang bersifat merumuskan dan menjadi model penilaian yang menjanjikan keselamatan bagi keadaan masa kini dan tantangan masa mendatang. Mengingat gentingnya perubahan persiapsi kita mengenai pengalaman soal waktu, maka ihwal ‘tradisi’ di era globalisasi justru menjadi risalah penting untuk terus-menerus ditimbang.

Soal penemuan nilai ‘ke-baru-an’ sering dibayangkan sebagai hasil ‘perlawanan’ atau ‘pemberontakan’ kepada nilai-nilai masa lalu yang dianggap menjadi bagian dari tradisi. Kini, kita sadar bahwa soal terpenting di situ bukan tentang ‘yang baru’ dibandingkan dengan ‘yang lama’; tapi ihwal ‘bagaimana keduanya berkaitan’? karena masalah ‘melawan’ atau ‘memberontak’ pada tradisi bukanlah satu-satunya cara begaimana kita memiliki kaitan bermakna dengan masa lalu. Kritikus dan sejarawan seni Sanento Yuliman membayangkan kondisi kebaruan itu sebagai situasi yang ‘berhutang’ pada situasi di masa lalu dan soal proyeksi gambaran bagi masa depan. Katanya: “(s)eandainya kita harus hidup dalam lingkungan yang segala-galanya baru dan asing, kita (ibaratnya kaum transmigran) akan menghadapi resiko kekacauan orientasi dan kehilangan gambaran diri. Dan apakah “diri” kita, kalau bukan sebuah gambaran yang kita gubah dari unsur-unsur masa lampau, masa kini, dan masa depan, yang kita ingini agar lingkungan kita mencerminkannya?”(1. Toh, masa lalu juga bukan segala soal yang ‘terang’ ada di dalamnya. Ihwal ‘tradisi’ misalnya, tak sepenuhnya selalu terjamin hanya karena berasal dari masa lalu. Pemerhati budaya Radhar Panca Dahana mengajukan pertanyaan reflektif yang penting ihwal tradisi yang justru jadi bahan penting bagi jalan perubahan dan kemerdekaan sikap yang sejati, katanya: “benarkah kemerdekaan politik kita secara langsung juga berarti kemerdekaan kita pada masa lalu, pada adat dan tradisi yang beku membelenggu, pada karakter dan sifat kita yang membatu?”(2.

Pameran ini, “Percakapan Masa”, hendak menunjukkan semacam pengalaman dialog kreatif yang yang dilakukan para seniman muda pada saat kini terhadap titik-titik artikulatif masa lalu di mana pengalaman dan identitas kita pernah digambarkan. Ini tentu bukan soal menggambarkan kembali masa lalu, selain justru menemukan kesadaran ‘baru’ tentang maknanya yang penting terhadap pembentukan berbagai arah perubahan. Saya mengundang para seniman muda untuk berinteraksi sambil menyatakan sikap-sikap ‘kebaruan’ mereka pada saat berdialog dengan karya yang pernah dikerjakan oleh para seniman pendahulu mereka. Para seniman muda yang terbiasa dengan perubahan dan soal percepatan pengalaman di masa kini itu saya ajak untuk bekerja sambil mengenang sikap pemikir budaya Rabindranath Tagore yang pernah menyimpulkan bahwa “waktu adalah sebuah kekayaan dari perubahan, tetapi jam waktu dalam parodinya menjadikan waktu hanya ibarat peralihan masa saja dan tanpa memiliki dimensi kekayaan nilainya”. Sehingga tanpa kesadaran dan sikap reflektif, sebuah masa melulu hanya jadi penjumlahan dari bilangan detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, bahkan dekade. “Percakapan Masa” mengandung intensi untuk menemukan refleksi yang berharga dari masa lalu, sebagaimana suatu percakapan bermakna untuk memunculkan ‘gambaran yang kita gubah dari unsur-unsur masa lampau, masa kini, dan masa depan, yang kita ingini agar lingkungan kita mencerminkannya”.

Pameran seni rupa ini saya anggap berkaitan dengan sikap ‘kesadaran nasional’ karena akan menunjukkan berbagai indikator proses refleksi keasadar-diri via ekpresi ‘kesadaran’ seni. Aktivitas ‘melihat’ (to see) sebagai manifestasi ‘rasa sadar’ manusia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari cara kita mengenal dan mengetahui. “Cara kita melihat materi dan benda-benda dipengaruhi oleh segala yang kita tahu dan apa yang kita percayai. . . Meskipun demikian, [kapasitas] ‘melihat’ telah kita lakoni sebelum kita mengenal kata-kata dan kalimat dan seluruh dari hasilnya tak selamanha bisa dilingkupi oleh kata-kata dan kalimat. Dengan demikian, [kapasitas] ‘melihat’ bukan masalah reaksi kita secara mekanis terhadap berbagai bentuk rangsang yang bersifat optikal. Sedangkan ‘melihat secara seksama’ (to look) secara khusus lagi merupakan suatu ‘aksi untuk memilih’ . Melihat secara seksama tentu tak hanya soal melihat suatu benda dengan satu titik pandangan secara tertentu; kita justru melakukannya dengan cara menghubungkan benda tersebut dengan [perkara mengenai] diri kita sendiri. Sehingga kemudian visi kita secara menerus bisa aktif, terus bergerak, menerus menyangga bagaimana benda yang kita lihat tersebut tetap berada pada lingkaran pemahamannya secara tersendiri, membentuk apa yang dipresentasikannya kepada kita sebagaimana kita mereflesikan diri kita sendiri”(3.

Pameran ini akan menunjukkan pilihan ‘mater pieces’ koleksi Galeri Nasional Indonesia bersama-sama dengan karya-karya baru yang dibuat para seniman muda sebagai bentuk tanggapan kratif terhadap karya-karya maestro tersebut. Para seniman muda diundang untuk melihat [kembali] secara seksama ‘master pieces’ yang dikerjakan pada masa silam itu sebagai pokok penting proses refelksi-diri. Para seniman muda yang kini tengah bergulat dalam iklim perubahan dan percampuran berbagai identitas itu bekerja dengan kesadaran sebagaiman pernah diusulkan pengamat seni John Burger, bahwa “(s)egera, setelah kita bisa melihat, kita menjadi sadar bahwa kita juga bisa dilihat”(4.

‘Percakapan Masa’ mengundang dialog pengalaman dan penafsiran para seniman muda melalui beberapa pokok risalah penting yaitu soal: (i) KEJADIAN (Event); (ii) SITUASI (Circumstance); KEADAAN RINCI (State of the Detail); serta tentang (iv) POTRET (Portaiture) yang berasal dari titik waktu masa lampau yang dilihat secara seksama demi menujukkan pokok-pokok perubahan dan persamaannya di masa kini.
Bandung, Januari 2010
Rizki A. Zaelani / kurator

CATATAN:

1. Sanento Yuliman, “Yang Modern dan Yang Antik”, dalam Asikin Hasan, ed. DUA SENI RUPA: Sepilihan Tulisan Sanento Yuliman (Jakarta: Yayasan Kalam, 2001), hlm.34
2. Radhar Panca Dahana,
3. John Burger, Ways of Seeing (London: Penguin Book, 1972), hlm. 8-9.
4. Ibid. (hlm.9)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: