Tuan Arie Menggugurkan Teori

50 TAHUN
Tuan Arie Menggugurkan Teori

Minggu, 9 Mei 2010 | 04:47 WIB

OLEH AGUS DERMAWAN T

Penestanan adalah salah satu dusun paling sejahtera di Kecamatan Ubud, Gianyar, Bali. Rumah-rumah asri, penduduk tenteram, dan para pelukis berkarya dengan tenang di dalam studio yang (tak perlu lagi) kelihatan dari jalanan.

”Harus diakui, semua ini berawal dari Tuan Arie Smit,” kata Made Sinteg, pelukis yang sungguh happy hidup di kawasan itu.

Sejarah lalu buru-buru menengok setengah abad lalu. Kala itu Dusun Penestanan terbilang amat miskin. Sebagian besar penduduknya bekerja sebagai buruh tani, dengan anak-anak nirsekolah yang dikaryakan sebagai pengangon bebek. Arie ingin menaikkan harkat penduduk di sekitar situ, dengan cara mengumpulkan anak-anak untuk diajari melukis. Setelah melewati berbagai hambatan, pada tahun 1960 berdirilah perkumpulan seni lukis anak-anak di Penestanan, yang oleh Arie dinamai ”Young

Pada mulanya ”Young Artist” hanya melibatkan 40 anak, dengan di dalamnya mencatat sejumlah nama yang di kemudian hari jadi orang tua terkenal, seperti Ketut Soki, Nyoman Cakra, Nyoman Londo, Wayan Pugur, Ketut Tagen, Ngurah KK. Perkumpulan ini merebak sehingga dalam tempo beberapa tahun sudah ada ratusan anak yang melukis. Dengan gaya lukisannya yang kuasi modern, disertai bentuk-bentuk naif dan warna-warna menyala, lukisan tradisional kelompok ”Young Artist” mendapat pasar yang hebat. Maraknya, pasar ini tentu saja mengubah secara drastis kehidupan ekonomi Dusun Penestanan. Bahkan, ketika Bali dilanda krisis turis akibat letusan Gunung Agung tahun 1963, lukisan-lukisan ”Young Artist” tetap mengibarkan sayapnya lantaran agen-agen seni lukis ”Young Artist” di Belanda, Jerman, sampai Meksiko terus menyerapnya.

Seni lukis ”Young Artist” berkembang sampai lima dekade. Para pelukis angkatan pertama yang senantiasa bangga dengan sebutan ”young” memang menurunkan spirit kepada generasi di bawahnya. ”Young Artist” pun jadi aliran. Pada 2010 pelaku terujung seni lukis ”Young Artist” sudah sampai pada status ”cucu”. Dilihat dari jumlah pelukisnya yang ribuan, bisa dibilang ”Young Artist” merupakan aliran terbesar di Indonesia atau jangan-jangan di dunia.

Merasa beruntung

Arie Smit, kelahiran Zaandam, Belanda, 15 April 1916, merasa beruntung bisa bertemu dengan tahun ke-50 ”Young Artist”. Dalam momentum ini, ia lantas mengungkapkan bahwa hasratnya untuk mengangkat potensi warga Dusun Penestanan bukan sekadar bertolak dari fatsal ekonomi.

”Lewat Penestanan, saya sesungguhnya ingin melawan sejumlah pandangan yang melecehkan potensi hidup bagian-bagian dari bangsa Asia Tenggara. Lewat seni lukis Penestanan, saya ingin mengatakan bahwa tenaga budaya ras Asia Tenggara itu luar biasa,” katanya.

Memang, pada suatu masa kebudayaan bangsa di Asia Tenggara dianggap rendah dan diposisikan jauh di bawah tingkat kebudayaan China dan India. Hal ini terungkap lewat teori Egon Freiherr Von Eickstedt (Rassenkunde und Rassengeschichte der Menschheit, 1934). Di situ Eickstedt mengatakan bahwa ras Palae Mongoliden yang mendiami kawasan Asia Tenggara adalah cabang dari ras Mongolid, yakni ras yang diklaim paling terbelakang.

Lebih ekstrem lagi ilmuwan ini mengatakan bahwa ras Palae Mongoliden disebut mewakili ras pinggiran yang lemah sehingga ras ini terdesak dari dataran-dataran tinggi Tibet serta China Selatan untuk kemudian lari ke dalam rimba belantara tropika. Itu sebabnya, di Asia Tenggara dalam waktu yang sangat lama tidak ada nama spesifik untuk menandai eksistensinya sehingga sejumlah tempat di Asia Tenggara lantas diberi nama seperti Further India, Indochina, Nederlands Indie, l’Indie Exterieur, Greater India, Little China, dan sebagainya.

Arie tentu sangat tak suka dengan teori itu. Karena itu, ia bergirang ketika Sutan Takdir Alisjahbana membantah pelecehan tersebut dalam Konperensi Malaysian Society of Orientalists di Kuala Lumpur, Oktober 1965. Dikatakan di situ bahwa sesungguhnya bangsa Bumantara (begitu Sutan Takdir menyebut bangsa-bangsa Asia Tenggara) adalah ras penuh petualangan yang mampu membentuk kebudayaan baru meski sebagiannya berasal dari India dan China. Pendapat ini didukung oleh Bernard Groslier yang menyebut Asia Tenggara sejak abad kelima sudah tumbuh menjadi ”centers of original cultures”.

”Saya boleh menduga, Takdir membela bangsa Asia Tenggara setelah tahu kenyataan yang diperlihatkan oleh orang-orang Bali. Termasuk yang dilakukan oleh tangan kreatif masyarakat Penestanan,” kata Arie yang bersahabat dengan Sutan Takdir sejak 1952.

Arie tak pernah menduga, pembelaannya atas ras Asia Tenggara lewat komunitas kecil Penestanan menghasilkan buah besar yang menggelantung sampai 50 tahun kemudian. Atas jasa-jasa itu, Arie Smit mendapat penghargaan Dharma Kusuma dan Widja Kusuma dari Pemerintah Provinsi Bali. Sementara gemerlap lukisan ”Young Artist” di sekujur Bali dan kesejahteraan warga Penestanan yang tak henti disyukuri pelan-pelan mengubur pengalamannya yang kelabu dan seru pada masa lalu.

Agus Dermawan TK ritikus, penulis buku-buku seni rupa.

(diunduh dari http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/05/09/04475921/tuan.arie.menggugurkan.teori)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: