Archive for May, 2010

Merespons “Badai” Raden Saleh

Minggu, 30 Mei 2010 | 03:34 WIB

Sebanyak 158 seniman mengikuti pameran bersama ”Manifesto” Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 19-31 Mei, ini. Dengan mengangkat tema ”Percakapan Masa”, pergelaran ini berusaha menyandingkan karya para seniman generasi modern koleksi galeri dengan hasil kerja para perupa kontemporer. Apa yang dihasilkan dari pertemuan itu?

Pameran menampilkan lukisan karya seniman dari tahun 1850-an, tahun 1940-an, hingga tahun 1970-an. Generasi lama itu mencakup, di antaranya, karya Raden Saleh, Basuki Abdulah, Soedjojono, Affandi, Hendra Gunawan, Srihadi Soedarsono, Popo Iskandar, Ahmad Sadali, Nashar, dan Widayat. Karya mereka umumnya berupa lukisan dua dimensi.

Karya-karya itu dijejerkan dengan karya baru dari seniman kontemporer (dalam arti yang bekerja 10 tahun belakangan). Seniman tahun 1990-an sampai tahun 2000-an itu mengusung karya baru lebih menerabas batas, seperti lukisan, patung, grafis, video, dan instalasi. Mereka diwakili, antara lain, oleh Hafiz, Deddy Paw, Rudi St Darma, Erwin Pandu Pranata, Syahrizal Pahlevi, Putut Wahyu Widodo, Bambang ”Toko” Witjaksono, Entang Wiharso, Heri Dono, Nasirun, dan Tisna Sanjaya.

Untuk melihat bagaimana hasil pertemuan itu, mari kita amati bagaimana seniman baru merespons lukisan Raden Saleh. Judulnya ”Badai” berukuran 74 x 97 cm. Karya terkenal buatan tahun 1851 itu menggambarkan pemandangan laut yang diterjang badai. Air laut membuncah tinggi. Satu perahu terombang-ambing di tengah. Satu perahu lagi didorong ombak dan menabrak batu karang. Langit gelap.

Lukisan yang dikerjakan 159 tahun lalu itu masih menggetarkan. Goresan warna-warni murung itu menghadirkan ombak, perahu, langit, dan batu karang dalam amuk badai yang mencekam. Lukisan bergaya romantis ini sangat kuat sebagaimana gaya serupa di Eropa pada masanya.

Respons

Lukisan Raden Saleh tadi direspons beberapa seniman masa kini. Deddy Paw menyajikan lukisan ”Badai Pasti Berlalu, Raden..!” berukuran 180 x 180 cm. Pelukis ini menggambar kembali lukisan badai Raden Saleh mirip aslinya di sudut kanan atas kanvas—seperti bidang insert.

Lukisan laut itu kemudian diteruskan ke bidang-bidang lain. Hanya saja, sosok badai itu telah mereda dan menjelma sebagai laut tenang, biru, dan indah. Pemandangan jadi agak surealis karena tampak menyeruak beberapa buah apel segar.

Dalam karya ini, ”Badai” Raden Saleh terasa menjadi potongan masa lalu yang dicomot begitu saja dan dihadirkan kembali dalam dunia imajinasi masa kini yang bebas. Batasan dimensi ruang dan waktu antara masa lalu dan masa kini sepertinya hanya sebuah permainan.

Semangat serupa juga diusung Hafiz dalam video berjudul ”Berbadai Pun Kemudian”. Image lukisan ”Badai” Raden Saleh ditempelkan secara utuh di dinding berukuran sekitar tiga meter. Lukisan itu kemudian disorot lagi dengan kotak-kotak hitam yang bergerak. Ada suara deru badai bergema dalam ruang itu. Seiring dengan deru yang makin menggebu, kotak-kotak hitam itu juga bergerak lebih cepat. Gambar pemandangan badai laut itu jadi tertutup, tetapi sensasi suasana badai justru lebih kental.

Sensasi itu bukan muncul dari gambar langit menggila dan perahu tergulung ombak. Badai itu justru terasa hadir nyata karena kita mendengar rekaman suara menderu serta pergerakan kotak-kotak hitam seperti angin yang datang menerjang. Di ruang ini, kita seperti dibenturkan pada dua pendekatan berbeda. Raden Saleh memunculkan badai dengan meniru serealis mungkin pemandangan itu, sedangkan Hafiz menghadirkan badai lewat suara dan gerakan video animasi di layar.

Pertemuan tiga karya tadi memperlihatkan pemetaan pendekatan kreatif seniman dalam merepresentasikan kenyataan. Raden Saleh menuangkannya dengan cara mimesis alias meniru alam sepersis mungkin. Kemiripan gambar manual di atas kanvas dengan obyek di alam nyata merupakan pencapaian berharga di tengah keterbatasan teknologi pada abad ke-19.

Zaman kemudian berubah. Teknologi fotografi dan print digital diadopsi sebagai bagian dari pengembangan teknik melukis. Ketika kemiripan itu tak lagi sulit lagi, Deddy Paw berusaha masuk pada tantangan baru, yaitu mengulik gagasan untuk mempermainkan imajinasi.

Hafiz memilih bergerak di ruang audiovisual lebih lengkap. Tak hanya mengandalkan visual yang diam, seniman ini juga mengolah gambar bergerak alias animasi. Unsur suara juga dimasukkan untuk memperkuat efek lebih dramatis.

Interaksi

Interaksi serupa juga terasa pada banyak karya lain. Lukisan kucing Popo Iskandar tahun 1975, misalnya, diolah ulang dalam lukisan bercorak pop penuh teks oleh Rudi St Darma. Berangkat dari kucing pula, Erwin Pandu Pranata membuat mainan mirip kapsul yang digambari mata kucing dan bisa meneriakkan suara ngreek yang keras.

Pada kasus lain, lukisan halaman rumah yang liris karya Nashar (1957) ditanggapi dengan lukisan halaman rumah bergaya ekspresionisme urban oleh Syahrizal Pahlevi. Sementara Putut Wahyu Widodo menampilkan pemandangan hypermall (rumah masyarakat urban) yang gemerlap dan instan.

Semua contoh itu menggambarkan berbagai reaksi para seniman kontemporer terhadap karya seni rupa modern. Sebagian seniman mengambil ikon-ikon lama dan memainkannya dalam adonan baru. Sebagian menyerap pendekatan lama sebagai batu loncatan untuk melihat kenyataan lebih aktual. Sebagian lagi berkarya secara bebas.

Dialog semacam inilah yang menjadi kekuatan pameran ini. Pertemuan karya dari berbagai generasi ini memang merangsang pembacaan berlapis. Seperti dicatat kurator pameran, Rizki A Zaelani, berbagai risalah yang muncul dalam dialog ini mencerminkan manifestasi dari niat, perhatian, dan mood seniman dalam melihat dan menyikapi persoalan hidup. (ILHAM KHOIRI)

(diunduh dari http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/05/30/0334138/merespons.badai.raden.saleh)

Leave a comment

Yang Terinterpretasi Masa Lalu

jakarta | Sun 23 May 2010
by : Sjifa Amori

Lukisan Popo Iskandar yang dijuduli Kucing (1975, cat minyak di atas kanvas) termasuk dalam karya penting koleksi Galeri Nasional Indonesia. Lukisan yang menampakkan wujud kucing berbentuk geometris sehingga cenderung imajiner. Apalagi kucing ini didominasi warna hitam dengan sedikit goresan halus putih dan kuning yang berfungsi sebagai garis telinga, kaki, ekor, dan corak belang. Tanpa sapuan tipis garis kuning dan putih yang pendek-pendek ini, positif lukisan Popo adalah sebuah bidang hitam yang bersegi-segi dengan latar warna pastel yang lebih cerah.

Obyek kucing ini digambarkan Popo dengan ekspresif (lewat goresan atau coretan) dengan memperlihatkan emosi pelukisnya (misalnya soal kemisteriusan). Popo memainkan bentuk kucing (secara anatomis), meski masih terlihat seperti kucing dengan ciri khas mata dan gesturnya yang meliuk-liuk.

Kucing mengungkapkan salah satu dari berbagai karakter yang pernah dibuat dengan obyek binatang. Dengan deformasi yang mengandalkan efek-efek goresan yang spontan dan transparan, binatang itu seakan baru bangkit dari tidur dan mengibaskan badannya. Dalam penghayatan obyek-obyeknya, Popo berhasil menampilkan karakter-karakter yang esensial dari obyek-obyek dalam ruang imajiner.

Karya Popo ini kembali dipamerkan di Pameran Besar Seni Rupa Indonesia 2010 yang bertajuk Manifesto: Percakapan Masa di Galeri Nasional Indonesia. Dalam pameran yang dibuka pada Selasa (18/5) dan akan berlangsung hingga Senin (31/5) mendatang ini, Popo tidak sendirian, namun ditemani dengan banyak lagi seniman lain dari masanya dan masa sebelumnya. Juga seniman-seniman setelah eranya.

Makanya, Kucing juga tidak sendirian. Dia ditemani “kucing-kucing” lain yang tersaji dalam bentuk yang lebih kekinian, seperti Play Popo karya Erwin Pandu Pranata (2010, pelat besi, cat, dan komponen elektronik) dan Beyond Act/Koko‘ s Way karya Rudi St. Darma (2010, media campuran di atas kanvas).

Play Popo adalah karya trimatra yang berupa kapsul dari pelat besi berwarna hitam. Kapsul berukuran tinggi 100 cm dan diameter 45 cm ini memiliki mata kucing berwarna biru terlukiskan dengan cat. Sisanya adalah coretan cat warna putih, merah, dan kuning, yang menciptakan karakter kartun sebagai pelengkap wajah kucing. Misalnya alis yang beda warna dan beda letak, juga kumis kucing yang berantakan dan bahkan ada sedikit sapuan telapak kaki kucing, yang menjadikan kapsul ini -secara visual- mirip Doraemon.

Sementara lukisan Rudi St. Darma adalah sebuah karya yang bercirikan garfis dengan keberadaan huruf-huruf tercetak bertuliskan Popo‘ s Way secara repetitif sebagai latar lukisannya. Bahwa lukisan ini adalah hasil sebuah interpretasi dari karya Popo, tercermin dari kode-kode artistik dan gaya Popo yang ia ambil dalam melukis sebentuk makhluk imajiner berwarna hitam (lebih berbentuk ular berkepala dua).

Obyek dalam lukisan Rudi bisa dikaitkan dengan bentuk kucing, hanya jika melihat coretan-coretan cat putih sebagai motif tubuhnya -yang mengingatkan kita pada Kucing-nya Popo. Selain itu, Rudi juga mengadopsi karakter warna Popo yang menaburkan setumpahan warna pastel sebagai latar obyek-obyeknya.

”Saya mengundang seniman untuk berinteraksi sambil menyisipkan atau bahkan menawarkan sikap dan persoalan ”baru” dalam proses dialog mereka dengan karya yang dikerjakan para seniman pendahulu mereka. Rangkaian proses dialog yang saya sebut ‘percakapan’ ini dilakukan masing-masing seniman ini,” kata Kurator pameran Kurator pameran Rizki A. Zaelani dalam sambutannya di pembukaan pameran.

Pameran Manifesto: Percakapan Masa menampilkan karya-karya (lukisan, patung, seni grafis, gambar, obyek, video art, fotografi, dan karya instalasi) yang dikerjakan oleh lebih dari 120 orang peserta yang berasal dari 13 provinsi di Indonesia. Acara ini juga mendisplay karya terbaik koleksi Galeri Nasional Indonesia.

Dalam catatan kurasinya, Rizki mengungkapkan bahwa seniman di masa kini tak hanya menghadapi karya-karya “masa lalu” tersebut sebagai penampakan ragam bentuk dan kecenderungan artistik saja, tetapi juga berbagai manifestasi intensi persoalan yang pernah dibayangkan seniman sebelumnya.

Secara teoritis pengalaman dialog semacam ini hendak menghadapi titik-titik artikulatif penting mengenai berbagai hal pada suatu masa, di masa lalu, ketika pengalaman dan identitas kita pernah digambarkan.

Selain Kucing, lukisan seniman terdahulu yang juga dipilih sebagai bahan dan fokus dialog seniman, antara lain Halaman Rumah (1957) karya Nashar, Kakak dan Adik (1978) karya Basuki Abdullah, Badai (1851) karya Raden Saleh Sjarif Bustaman, Pertemuan (1947) karya Otto Djaja, Tiga Kawan (1962) karya Srihadi Soedarsono, Si Hitam dan Si Putih (1963) karya Danarto.

Karya-karya terbaik koleksi Galeri Nasional Indonesia ini lantas “dibaca” (masing-masing oleh dua seniman) yang kemudian juga memproduksi karya dari hasil “dialog” tersebut.

“Sebagian seniman melakukannya dengan memunculkan kembali tanda-tanda yang telah ada dalam karya-karya sebelumnya itu. Sebagian lain ada yang hanya menjadikannya sebagai jalan masuk pada suatu persoalan. Bahkan seakan mengajak karya dari masa lalu itu supaya berlaku bagi persoalan di masa kini,” kata Rizki.

Bahkan beberapa seniman berupaya menggali lebih dalam lagi intensi penciptaan para seniman di masa lalu menjadi ragam artikulasi artistik dan estetik di masa kini. “Dalam hal ini, baik para seniman maupun para penikmat dan pengamat, saya rasa setuju pada kesimpulan yang diajukan Berger, bahwa segera, setelah kita bisa melihat, kita menjadi sadar bahwa kita juga bisa dilihat”.

Percakapan Masa adalah rangkaian kegiatan dalam rangka perayaan 102 tahun peringatan lahirnya semangat Kebangkitan Nasional Indonesia. Pameran yang juga merupakan salah satu realisasi program Galeri Nasional Indonesia dalam menyambut Visit Museum 2010 ini mengikutsertakan sekitar 200 seniman dari berbagai daerah di Tanah Air.

“Sepanjang tahun perjalanan sejarah inilah, seni rupa berkembang seiring pertumbuhan sikap kesadaran berbangsa sebagaimana diusung perintis seni rupa, di antaranya Raden Saleh, Affandi, Hendra Gunawan. Tema Percakapan Masa, saya pikir, tepat sekaligus inspiratif bagi seniman peserta untuk menunjukkan interaksi pemikiran dan sikap artistik yang berkesinambungan,” kata Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, dalam sambutannya dalam katalog pameran.

Peresmian pameran disertai dengan acara peluncuran buku atau Katalog Post EventPameran Besar Seni Rupa Indonesia: Manifesto 2008 yang memuat tulisan para kurator, reproduksi karya yang dipamerkan, serta biodata perupa yang berpartisipasi.

Perhelatan ini juga menandai dibukanya Pameran Koleksi Tetap Galeri Nasional Indonesia. Tata letak pameran ini dibagi berdasarkan pemikiran kuratorial, yaitu Pameran Koleksi Sejarah; dari masa perintisan seni rupa modern Indonesia hingga saat ini (Gedung B Ruang B1), Pameran Koleksi Khusus; Lukisan abstrak dan abstraksi di Indonesia (Gedung B Ruang B2), dan Pameran Koleksi Internasional (Gedung C Ruang C2).

Syifa Amori

(diunduh dari http://www.jurnalnasional.com/show/arsip?berita=131682&pagecomment=1&date=2010-5-23)



Leave a comment

Manifesto Pergumulan Dua Generasi

RADEN Saleh Sjarif Bustaman duduk santun di atas kursi ganjil yang bagian bawahnya berupa semacam kereta beroda dua. Di lantai dekat roda itu tergeletak potret hitam-putihnya dari masa muda. Seperti dalam potret-potret lamanya, kali ini dia juga tampil dengan beskap hitam berhias tiga bintang di dada kiri dan blangkon. Di belakangnya ada dua tirai tergulung.

Tapi lukisan Raden Salehsaurus karya Heri Dono ini bertabur keganjilan. Sebuah gambar seperti kepala naga atau dinosaurus menempel di sisi kanan kepalanya, dan sebuah bohlam muncul di atas kepalanya. Di dada kirinya juga terpatri gambar kepala badut kecil-potret diri Heri Dono. Adapun di lengan kanannya terpasang emblem gambar bungkus rokok merek tertentu dan di lengan kirinya ada emblem bersimbol burung garuda.

Lukisan akrilik dan cat minyak di atas kanvas itu merupakan tafsir Heri Dono terhadap beberapa lukisan Raden Saleh, termasuk Badai (1851) dan beberapa lukisan singanya. Lukisan itu kini terpajang dalam Pameran Besar Seni Rupa Indonesia Manifesto 2010 di Galeri Nasional Indonesia, Jalan Medan Merdeka Timur 14, Jakarta Pusat. Pameran bertema “Percakapan Masa” itu dibuka oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, yang diwakili Direktur Kesenian Sulistyo Tirtokusumo, pada Selasa malam pekan lalu, dan akan berlangsung hingga 31 Mei.

Pameran yang serangkai dengan peringatan 102 tahun Hari Kebangkitan Nasional ini memamerkan 118 karya perupa masa kini dari sembilan provinsi. Berbeda dari umumnya pameran bersama, “Pameran ini merupakan hasil dari tanggap kreatif seniman atas karya para maestro seni rupa Indonesia,” kata Kepala Galeri Nasional Tubagus “Andre” Sukmana.

Menurut kurator Rizki A. Zaelani, pameran ini diilhami pameran De Paris A Jakarta pada 2008. Kegiatan Pusat Kebudayaan Prancis Jakarta dan Galeri Nasional Indonesia itu memamerkan 55 karya seniman Prancis yang di sumbangkan ke Indonesia pada 1950-an dan karya 21 seniman Indonesia masa kini yang terinspirasi karya seniman Prancis itu. “Bedanya, pameran itu melibatkan jumlah seniman yang terbatas,” kata Rizki, yang saat itu juga menjadi kurator pameran.

Rizki ingin mempertemukan seni-man masa lalu dengan seniman periode kini, dengan batasan angkatan 1990-an. Istilah angkatan merujuk lebih pada masa produktif sang seniman ketimbang kelulusannya dari sekolah seni rupa. Batasan ini dipilih karena, “Saya asumsikan angkatan 1990 dekat dengan perubahan. Karena masa itu ada ledakan ekonomi, makar, dan sebagainya, yang berbeda dari hal yang dialami angkatan sebelumnya,” kata lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung ini.

Dia lalu mengundang 130 seniman muda yang dianggap menonjol untuk jadi peserta, meski beberapa gagal ikut karena berbagai masalah teknis, seperti lupa pada tenggat atau sibuk berpameran solo. Selain itu, “Ada sepuluh seniman yang diundang khusus, seperti Tisna Sanjaya, Heri Dono, dan Nyoman Erawan, yang sebenarnya tergolong angkatan 1980-an,” kata Rizki.

Para peserta diberi foto lukisan para empu seni rupa, seperti Badai karya Raden Saleh, Pertemuan karya Otto Djaja, Cap Go Meh karya Sudjojono, Menguliti Pete karya Hendra Gunawan, dan Tiga Kawan karya Srihadi Soedarsono. Mereka diminta melukis berdasarkan “percakapan” mereka dengan karya para maestro itu.

Proses ini dimulai pada awal Januari lalu dan karya mereka diharapkan sudah masuk Galeri pada awal Mei, tapi beberapa karya melewati tenggat itu dan bahkan ada yang baru sampai pada Selasa pagi, 12 jam sebelum pameran dibuka.

Karya para seniman muda itu merentang dari lukisan dan patung hingga seni video dan instalasi. Hasil pergumulan seniman muda dan empu tua, yang kebanyakan sudah almarhum, itu sebagian terlihat jejak-jejaknya pada karya mereka, tapi beberapa karya nyaris sudah tak terlihat lagi sangkut pautnya dengan karya seniman lama.

Karya mereka umumnya berupa tanggapan terhadap lukisan sang empu, empu itu sendiri, atau meminjam lukisan sang empu sebagai inspirasi untuk menanggapi dunia masa kini. Heri Dono, misalnya, memilih Raden Saleh, yang pernah digelutinya secara mendalam hingga tahun lalu menghasilkan Salah Tangkap Diponegoro, yang terinspirasi Penangkapan Diponegoro karya Raden Saleh.

Menurut Heri, dia ingin menggambarkan Raden Saleh sebagai raja di lukisan Raden Salehsaurus. “Dia seperti seorang raja, seorang yang halus tetapi segarang singa,” kata perupa Yogyakarta yang pernah berkunjung ke bekas rumah peristirahatan musim panas sang empu di Dresden, Jerman ini.

Dalam lukisan itu Heri membiarkan sosok sang empu menonjol, tapi tetap mempertahankan ciri khasnya, baik dalam sapuan kuas maupun permainan simbol. Sosok kepala naga seperti dalam pewayangan di lukisan itu jadi bagian dari upayanya untuk mempertahankan unsur kelokalan dalam karya seni kontemporer.

Lukisan Badai Raden Saleh ditanggapi secara berbeda oleh seniman lain. Deddy P.A.W. menempatkan karya sang empu sebagai bagian dari lukisannya, Badai Pasti Berlalu, Raden…, seolah perluasan dari karya tersebut. Dia menambahkan apel besar yang terseret ombak dan beberapa apel kecil yang terapung-apung di laut yang tenang, yang bertentangan dengan badai besar yang mengguncang-guncang dua kapal di lukisan Raden Saleh.

Sedangkan Dadan Setiawan mengubahnya menjadi Badai Visual. Lukisan cat minyak di kain linen ini mengaburkan Badai, seperti proses blur di pengolah gambar digital Photoshop, menjadi sekumpulan kotak hitam, putih, dan abu-abu. Dipandang dari jarak agak jauh, lukisan Dadan ini akan membentuk bayangan Badai.

Lukisan Agus Djaja, Dunia Anjing (1965), juga ditafsirkan berbeda-beda oleh para perupa. Nus Salomo menciptakan Anjing Dunia, berupa lukisan berbentuk manusia berkepala anjing. Adapun Hilman Hendarsyah menghasilkan Hey!?, yang menggambarkan berbagai jenis anjing sedang menatap ke arah pengamat.

Ibu Menjahit (1935) karya Sudjojono juga menghasilkan karya bermacam-macam. Triyadi Guntur membuat Ibu Menjahit dalam tiga panel yang menggambarkan seorang ibu-yang mirip lukisan Sudjojono-sedang menyulam dan pada panel terakhir menunjukkan hasil sulamannya, berupa tulisan “Punks Never Die”.

Rizki mengakui tak semua seniman mencapai hasil seperti yang diharapkan, karena idealnya mereka sebelumnya memperoleh pengetahuan yang memadai mengenai karya dan sosok sang empu. Tapi beberapa karya, katanya, menunjukkan keberhasilan perupa dalam berinteraksi dengan sang empu tanpa kehilangan gaya atau jalan kekaryaannya.

Pameran Manifesto akan menjadi kegiatan besar dua tahunan di Galeri. “Dua tahun lagi, kami akan membikin Manifesto lagi,” kata Rizki, yang tak menampik bahwa kegiatan ini sebenarnya akan menjadi pameran dua tahunan atau biennale seni rupa Indonesia berskala nasional, melengkapi berbagai biennale yang sekarang sudah ada.

Kurniawan

(diunduh dari http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/05/24/SR/mbm.20100524.SR133599.id.html#


Leave a comment

Berdialog dengan Waktu

Minggu, 23 Mei 2010

Wajah lelaki itu tampak tirus. Sebagian tertutup topi laken yang dikenakannya. Mengenakan jas, dia nampak bak seorang musisi hip hop atau jazz masa kini. Cecep M Taufi k, demikian nama pria itu, menjadi sampul majalah visual artist, majalahnya seniman. Namun, itu bukan majalah sungguhan.

Gambar di atas hanyalah lukisan karya Cecep yang diberi judul Potret Diri yang dibuatnya tahun ini dan menjadi salah satu dari ratusan karya yang dipajang pada Pameran Besar Seni Rupa Indonesia 2010 yang bertema Manifesto: Percakapan Masa. Selain lukisan, pameran yang digelar di Galeri Nasional, Jakarta 18- 31 Mei ini juga menampilkan karya patung, seni grafi s, gambar, video art, fotografi , dan karya instalasi.

Dikerjakan oleh lebih dari 120 orang seniman yang berasal dari 13 provinsi di Indonesia serta karya-karya terbaik koleksi Galeri Nasional Indonesia, termasuk karya sang maestro Raden Saleh dan Basuki Abdullah. Sesuai temanya, Percakapan Masa, pameran ini hendak menunjukkan berbagai representasi visual dari hasil pengalaman dialog para seniman saat kini dengan karya-karya yang telah dikerjakan seniman lain di masa sebelumnya.

Dalam kuratorialnya, Rizal A Zaelani menulis, pada cara dan kecenderungan artistik masingmasing para seniman di masa kini, mereka tak hanya menghadapi karyakarya ‘masa lalu’ tersebut sebagai penampakan sebagai ragam bentuk dan kecenderungan artistik saja, tetapi juga berbagai manifestasi intensi persoalan yang pernah dibayangkan para seniman sebelumnya. Secara teoritis pengalaman dialog semacam ini hendak menghadapi titik-titik artikulatif penting mengenai berbagai hal pada suatu masa, di masa lalu, di mana pengalaman dan identitas kita pernah digambarkan.

Seperti misalnya pada karya Hariyadi Selobinangun. Meski berjudul sama dengan karya Cecep Potret Diri, lukisan yang dibuat Hariyadi pada 1962 ini sangat sederhana. Dia hanya melukis dirinya yang sedang mengenakan jas dan juga topi beserta syal. Betul-betul seakan memindahkan potret dirinya ke dalam kanvas. Beda halnya dengan karya Cecep, yang seolah memindahkan gambarnya sebagai sampul majalah, lengkap dengan indeks-indeks judul beritanya.

Pada dua karya yang berbeda jaman ini, kita bisa melihat para seniman ini berinteraksi sambil menyisipkan atau bahkan menawarkan sikap-sikap dan persoalan-persoalan “baru” dalam proses dialog mereka dengan karya-karya yang dikerjakan para seniman pendahulunya. Contoh lain bisa dilihat pada karya Wahdi Sumianta yang berjudul Tanah Priangan.

Lukisan yang dibuat pada 1974 ini merupakan karya realis yang menggambarkan keindahan tanah priangan, dengan area persawahan menguning berlatar pegunungan. Bandingkan dengan karya Rangga Oka Dimitri yang berjudul Seribu Juta Tahun Badai. Lukisan yang dibuat secara komikal ini, hanya menggambarkan semburan lumpur ke udara, yang diberinya tulisan Wuuzz…, mirip dalam komik-komik Tintin. Meski sama bertema alam, karya yang ditampilkan Wahdi dan Oka, jauh berbeda. Pada karya Wahdi, alam digambarkan tenang.

Sebaliknya pada karya Oka, alam betul-betul sedang meluapkan amarahnya. Bagi para seniman, nilai dan kesadaran penting itu muncul dan digugah dari berbagai tanda yang nampak pada karya yang telah dikerjakan para pendahulunya. Menurut Rizal A Zaelani, bagi kita yang menemukan kesadaran “baru” di karya-karya para seniman itu, maka proses dialog krea tif yang tengah terjadi itu menjadi bekal inspirasi untuk menjelajahi pengalaman tentang perjalanan waktu secara lebih bermakna.

Karya-karya yang dikerjakan oleh para seniman ini dengan demikian bisa sebagai manifestasi kesadaran refl ektif, yang mencoba meraih kembali keyakinan secara penuh bahwa makna penting suatu masa bukan melulu sebagai penjumlahan bilangan detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, bahkan dekade. _ adiyanto

Leave a comment

Dialog Lintas Masa

TEMPO Interaktif, Jakarta – Percakapan menjadi sebuah unsur penting sebagai penanda adanya suatu kehidupan. Tak melulu ucapan yang keluar dari mulut, sebuah percakapan mampu hadir secara virtual, seperti yang tertangkap pada instalasi dua patung kepala yang saling berhadapan. Karya instalasi milik Hedi Hariyanto yang dipajang di depan pintu masuk Galeri Nasional ini, menjadi pemandangan pembuka saat memasuki ruang Pameran Besar Seni Rupa Indonesia Manifesto 2010 bertajuk Percakapan Massa.

Pameran yang berlangsung hingga akhir bulan ini mengajak tak kurang dari 158 seniman dari lintas generasi di seluruh nusantara. Pameran ini menampilkan karya seni berupa lukisan, instalasi, patung, pemutaran video, dan jenis lainnya. Gelaran seni akbar ini merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka perayaan 102 tahun lahirnya semangat Kebangkitan Nasional Indonesia.

Terhitung satu abad lebih terlampaui semenjak 1908, sebuah perubahan dramatis terjadi dalam kemasan globalisasi dunia. Mengantarkan masyarakat pada kemajuan budaya, hingga ke arah kontemporer, genre yang tengah booming di kalangan seniman muda.

Maka hadirlah sebuah percakapan beragam makna. Simak saja lukisan Ibu Menjahit karya Guntur Triadi. Tiga buah lukisan itu bergambar seorang ibu bersanggul dan berkebaya sedang menjahit. Lukisan itu seolah lensa pembesar yang kian detil menampilkan apa yang disulam sang ibu. Ternyata sulaman itu bertuliskan “PUNKS NEVER DIE”. Bagian tulisan itu dijahit dengan benang merah, hingga menampilkan efek jahitan nyata.

Percakapan pun bisa terjadi lewat pandangan mata. Bahkan bagi banyak orang, bahasa mata justru lebih jujur daripada kata yang keluar dari mulut. Teori inilah yang kiranya hendak ditegaskan oleh Ade Darmawan dalam Kumpulan Dongeng Bintang. Dalam satu kanvas besar, Ade menyusun potongan gambar mata dari banyak pesohor negeri ini. Ada sebagian yang mudah dikenal, seperti mata penyanyi Krisdayanti dan penyair Rendra. Namun, ada juga sosok yang masih misteri.

Tak hanya menjadi sebuah medium, percakapan juga mampu menjadi simbol yang menampilkan jati diri seseorang. Dari sebuah bahasa percakapan, muncul tren bahasa yang menjadi simbol sebuah kelompok masyarakat. Dari karya Ferry Widiantoro, lukisan berjudul Sosialite, simbol itu kian dipertegas.

Menurut sang kurator, Rizky A. Zaelani, kaitan pameran ini dengan peringatan Kebangkitan Nasional adalah bagaimana merefleksikan dimensi antara karya seniman tempo dulu dengan masa kini. “Saya mengundang para seniman ini untuk berinteraksi atau bahkan menawarkan sikap dan persoalan baru dalam proses dialog mereka dengan karya-karya pendahulu mereka,” ujarnya dalam katalog. Karya-karya pendahulu yang dimaksud adalah kumpulan karya penting koleksi Galeri Nasional.

Sebagai contoh, lukisan S. Sudjojono yang dibuat pada 1944 berjudul Ibu Menjahit. Lukisan ini kemudian direfleksikan dalam karya Guntur dan Ferry tadi. Dengan badan lukian yang sama, yakni sosok ibu yang menjahit, proses dialog Guntur bermuara pada slogan Punk. Adapun Ferry menambahkan latar dari lukisan Sudjojono dengan sketsa bergambar para wanita hedon di sebuah kafe.

Karya lukisan yang usianya sudah tua juga turut dipamerkan dalam pameran ini. Di antaranya kumpulan lukisan para maestro seni rupa Indonesia, Raden Saleh dan Basuki Abdullah. Ada juga lukisan milik Ivan Sagita berjudul Meraba diri yang dibuat pada 1988, dan lukisan Soeromo DS berjudul Pasar yang dibuat pada 1957,

Seni instalasi tak kalah menarik meramaikan pameran ini. Instalasi berjudul Tanah Merah karya Hestu A Nugroho misalnya, menampilkan potongan-potongan kepala berdiri tegak yang seolah muncul dari permukaan tanah merah. Lain lagi dengan Ichwan Noor yang mempersembahkan karya berjudul Hanging Head berupa kepala raksasa yang digantung dengan posisi terbalik. Wajah di sisi kanan dan kirinya kepala itu tak sama. Di satu sisi, bola mata besarnya melirik tajam ke samping, sedangkan mata satunya memandang lurus ke depan.

Instalator Awan Simatupang juga ikut memeriahkan pameran akbar ini dengan memajang karyanya yang berjudul Dan, di teras Galeri Nasional. Dua buah sepeda dihubungkannya dengan las besi. Hingga karya ini mampu berbicara tentang adanya sebuah terikatan antara masa lalu dan sekarang. Kedua sepeda ini tentunya berasal dari dua generasi berbeda. Meski demikian, antara Ontel dengan sepeda moderen ini, punya hubungan erat dari sambungan las besi tadi.


Aguslia Hidayah

(diunduh dari http://www.tempointeraktif.com/hg/seni/2010/05/22/brk,20100522-249666,id.html)

Leave a comment

Sukari, Seni Sehari-hari

O B I T U A R I

Minggu, 23 Mei 2010 | 03:59 WIB

Wayan Kun Adnyana

Rabu (12/5) sekitar pukul 22.00 Wita, ketika masyarakat Bali diliputi suasana perayaan hari raya Galungan, pelukis Nyoman Sukari berpulang. Sebagaimana diwartakan Kompas, Minggu (2/5), pelukis kelahiran Ngis, Karangasem, 6 Juli 1968, itu telah lebih dari sebulan tergolek berjuang melawan serangan penyakit.

Sesungguhnya, sudah dua kali seniman penggali alam mistik Bali ke dalam wajah seni lukis kontemporer Indonesia itu berjuang dalam perih sakit yang merajam lever dan paru-parunya sebelum akhirnya penyakit itu merenggut nyawanya. Di tahun 2005, ia juga sempat mengalami hal yang sama, hingga beberapa bulan opname di rumah sakit, tetapi kemudian pulih dan sembuh. Semangat berkarya pun kembali beringas, dengan semena memoles cat minyak di kanvas-kanvasnya yang berukuran besar. Banyak rekan perupa menasihati agar Sukari mengganti cat berpengencer terpentin itu dengan akrilik, tetapi ia bergeming.

Kabar kepulangan salah satu pentolan kelompok seniman Sanggar Dewata Indonesia (SDI) itu memang membuat masyarakat seni rupa Bali dan Yogyakarta berduka. Status Facebook, pesan singkat telepon genggam, berseliweran mengabarkan berita dukacita itu.

Masih hidup

Dalam benak kolektif seni rupa Indonesia, tentu Sukari masih hidup, bahkan akan tetap hidup. Ia sosok fenomenal. Kemunculannya di medan seni rupa Indonesia era 1990-an hadir bak bintang. Dibicarakan, diburu kolektor, dicemburui, pun karya ”mistik kontemporer” yang digalinya selalu dibahas.

Karya dan sosok Sukari telah populer di usia muda. Ia pengobar semangat sekaligus sumber inspirasi bagi teman-teman seangkatannya, baik di Kelompok Sebelas SDI maupun Spirit 90 (angkatan 1990 ISI Yogyakarta). Guyub dalam berkarya artistik, kedua organisasi informal para perupa ini memang memunculkan nama-nama perupa Bali tangguh, seperti Nyoman Sukari, Made Sumadiyasa, Putu Sutawijaya, Pande Ketut Taman, Made Mahendra Mangku, dan Made Wiradana.

Bahkan, jika membaca garis sejarah bagaimana karya-karya pelukis muda Bali kisaran umur 25-30 tahunan memantik riuh boom seni rupa, sepertinya dimulai dari generasi Nyoman Sukari dan pelukis Made Sumadiyasa di Yogyakarta. Bagaimana tidak, ketika masih duduk di bangku kuliah, saat teman-teman pelukis seangkatan di ISI Yogyakarta sedang suntuk menggauli tugas-tugas dari dosennya, kedua pelukis tadi telah menjadi pusat perhatian. Karya-karya mereka dipandang sebagai karya pelukis sungguhan, bukan lagi karya studi mahasiswa yang wajib dikoreksi para pengajar di kampus.

Berbeda dengan Sumadiyasa yang menggali impresi-impresi alam ke dalam kanvas, Sukari lebih pada penyusuran mistik dan ritual Bali sebagai titik tolak berkarya. Karya-karya Sukari yang beringas dengan sapuan warna, citra totem-totem purba yang seram, bahkan menjadi semacam ”genre” baru rupa seni lukis Yogyakarta medio 1990-an. Artistik ”mistik” yang ekspresif itu perlahan menggeser pesona seni lukis ”surealis Yogya” yang di era 1980-an menjadi primadona.

Semangat berkemerdekaan dalam membadankan citra-citra ikonik tradisi Bali itu menjadikan Sukari sebagai tokoh sentral kebangkitan—apa yang kemudian—disebut sebagai abstrak-ekspresionisme Bali. Cara-cara pengungkapan penanda budaya-budaya Bali lama dengan kebebasan tanpa kontrol; spontan, berenergi, sekaligus mempribadi. Tentu saja ini berbanding terbalik dengan yang dirintis generasi akademis seni rupa pertama Bali, semacam Nyoman Tusan yang lebih dekoratif.

Lebih unik lagi, Sukari mewatakkan kehidupan sehari-harinya nyaris tak berjarak dengan gelagat ekspresi seninya tersebut. Di saat perhatian publik begitu riuh, ia tetap menjadi sosok Bali; egaliter dalam bergaul, selayak hidup di alam agraris pedesaan. Ia sangat jauh dari kehidupan elitis modern, sebagaimana lazim mendera kehidupan perupa muda di puncak perhatian yang tampil bak selebriti.

Di kalangan perupa-perupa Bali yang bermukim di Yogyakarta, Sukari adalah sosok pengempu, selayak wali bagi adik-adik kelasnya, terutama ketika anak-anak Bali di rantau itu sedang menggelar upacara nikah atau upacara bagi bayi. Suami dari Nyoman Aryaningsih ini mempunyai jalur khusus dengan para pendeta Hindu di Yogyakarta.

Sungguh tidak ada yang mengada-ada dalam kehidupan dan kesenian Sukari. Ia terobsesi untuk menguak tabir dunia mistik dalam kehidupan masyarakat Bali karena ia sendiri menjalaninya dengan bergaul kepada para empu, pun kepada tetua, dan pendeta. Ide dalam berkarya seni bukan menjadi sesuatu yang dicari. Ihwal berkesenian adalah laku keseharian itu sendiri.

Belakangan, karya-karya Sukari justru bertolak dari peristiwa sehari-hari dalam citraan yang berbeda. Ia mengamati kehidupan ”sial” kaum urban perkotaan yang muram. Lukisan-lukisannya dipenuhi wajah-wajah murung dengan sapuan-sapuan yang tebal. Ini bukan sebuah lompatan, tetapi semacam pengalihan sudut pandang dalam melihat realitas di sekitar hidupnya. Dengan cara itu, ia pernah mengatakan, seni bukan sesuatu yang berjarak, melainkan penghayatan atas kehidupan itu. Kini, Sukari benar-benar menghayati hidup dalam laku yang berbeda. Ia pergi di saat memulai lagi mencari posisi seni rupanya….

Wayan Kun Adnyana Penulis Seni Rupa, Pengajar di FRSD ISI Denpasar

(diunduh dari http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/05/23/03590166/sukari.seni.sehari-hari)

Leave a comment

Pakaian adalah Peradaban

Minggu, 16 Mei 2010 | 04:09 WIB

Ilham Khoiri

Tekstil itu bukan melulu soal busana, fashion, atau model cantik berdandan di atas catwalk. Berbagai inovasi bahan pakaian sejatinya juga mencerminkan pergeseran peradaban: usaha manusia untuk merumuskan diri di tengah perubahan alam, budaya, dan ilmu pengetahuan.

Kesan itu mengental dalam pameran bertajuk ”Futurotextiles: Surprising, Textiles, Design, and Art” di Galeri Nasional, Jakarta, 27 April-14 Mei. Pergelaran yang dihelat Pusat Kebudayaan Perancis (CCF) itu diikuti lebih dari 50 seniman, desainer, perusahaan tekstil, arsitek, dan museum. Mereka terutama berasal dari Perancis dan Indonesia.

Pameran dengan kurator Caroline David itu memperlihatkan berbagai inovasi tekstil yang didorong temuan ilmu pengetahuan, teknologi, desain, dan seni. Ini adalah bagian dari festival seni budaya Perancis alias Printemps Français ke-6 di Indonesia. Materi serupa pernah ditampilkan di Perancis, Turki, Belgia, Bangkok, dan Maroko.

Bagaimana tekstil bisa mencerminkan peradaban? Setiap produk dalam pameran ini menggambarkan kreasi tekstil untuk memenuhi beragam kebutuhan manusia yang semakin spesifik. Tekstil diolah demi mendukung kegiatan olahraga, medis, hubungan antarindividu, atau mengatasi problem keterasingan manusia dalam budaya urban.

Terobosan

Pengunjung tak hanya disuguhi sejarah tekstil dan berbagai pertumbuhannya, tetapi juga terobosan yang mengejutkan. Tengok saja produk berlabel Baju Pelindung Aluminium. Baju ini lebih mirip pakaian astronot karena berwarna keperakan, mengilap, dan menutup seluruh tubuh manusia dari kaki hingga kepala. Hanya bagian mata yang ditutup kaca tembus pandang.

Berbahan serat alami, preox, dan dilapis aluminium, busana ini bisa melindungi pemakainya dari api, minyak, uap, percikan metal cair, dan produk kimia lain. Dalam balutan baju ini, manusia bahkan bisa bertahan dalam suhu panas hingga 350 derajat celsius. Inilah hasil garapan teknologi terkini yang menopang gerak industri.

Beda lagi dengan baju renang berlabel LZR Racer dari Speedo. Dengan tekstur nanofibers, pakaian yang melekat ketat pada tubuh atlet ini memudahkan perenang meluncur lebih cepat dalam air. Meski masih kontroversial, kostum yang pernah dicoba pada Olimpiade Beijing 2008 itu merupakan salah satu tawaran menarik abad ini.

Ada lagi baju Wealthy yang membantu dokter memantau kondisi pasien. Dibuat dari serat konduktif dan konektor, baju ini dapat merekam denyut jantung, pernapasan, dan suhu tubuh pemakainya. Informasi itu dikumpulkan dalam kotak garmen dan dikirim lewat GPRS (general packet radio service), kemudian diolah dalam peranti lunak dan disampaikan kepada dokter.

Tak hanya dikenakan pada tubuh, produk tekstil mutakhir juga masuk ke wilayah arsitektur. Sebut saja rumah tekstil di Pusat Pampidou-Metz di Perancis yang dibuka tahun 2010. Ruang heksagon selebar 90 meter itu ditutup membran dari fiberglass dan teflon yang kedap air dan bisa menciptakan lingkungan subtropis.

Bagaimana dengan produk tekstil lokal? Indonesia diwakili perancang Lenny Agustin, PT Dyrt Indonesia, dan ESMOD Jakarta. Masing-masing berusaha mengembangkan tekstil dengan bahan lokal, daur ulang, atau memanfaatkan geotekstil.

Lenny, desainer lulusan Bunka School of Fashion, banyak mengangkat tekstil yang mengolah bahan lokal khas Indonesia. Dia membuat baju dengan kain dari tepung singkong, potongan kain perca, atau dari sumbu kompor. Semuanya dikerjakan dengan semangat daur ulang, mengolah bahan organik, dan tetap memperhitungkan karakter bahan.

Tepung singkong, misalnya, diolah menjadi kertas daur ulang. Kertas ini lantas dipotong-potong dan dijadikan baju dengan teknik origami alias lipat-melipat. Teknik ini pas dengan karakter kain tepung singkong yang memang kaku, cepat kusut, tetapi juga ringan dan sejuk.

Bahan-bahan dari material pinggiran itu ternyata bisa membuahkan busana yang unik. Itu dimungkinkan karena penyelesaian akhirnya tetap mengacu pada gaya yang modis dan indah.

Semangat daur ulang lebih jelas terasa pada bermacam produk kreasi PT Dyrt Indonesia. Perusahaan yang didirikan Beike van den Broek dan Karen Isaryono itu mengolah ulang bahan tak terpakai, seperti spanduk, tube pasta gigi, dan botol plastik. Material yang dianggap sampah itu kemudian digarap lagi, dipotong-potong, atau dianyam sehingga menjadi produk yang trendi, seperti tas, koper, keranjang, tikar, atau kursi.

Pameran ini menjanjikan harapan bahwa dunia tekstil bakal terus tumbuh seiring geliat zaman. Produk-produk yang ditawarkan merupakan rentetan jawaban atas tuntutan hidup manusia yang semakin rumit.

Tentu saja, problem-problem kemanusiaan akan terus bermunculan. Namun, bersamaan dengan serbuan masalah itu, pada akhirnya bakal tercipta pula produk-produk yang bahkan dulu tak terbayangkan. Tekstil hanya satu contoh dari mimpi manusia yang liar dan tak berbatas.

(diunduh dari http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/05/16/04093998/pakaian.adalah.peradaban)

2 Comments

PAMERAN BESAR SENI RUPA INDONESIA 2010 MANIFESTO : “Percakapan Masa”

Undangan:

Kurator : Rizki A. Zaelani

Pameran Besar Seni Rupa Indonesia 2010 menampilkan karya-karya (lukisan, patung, seni grafis,
gambar, object, video art, fotografi, dan karya instalasi) yang dikerjakan oleh lebih dari 120 orang
peserta yang berasal dari 13 Provinsi di Indonesia serta karya-karya terbaik koleksi Galeri Nasional
Indonesia.

Acara Pembukaan :

Selasa : 18 Mei 2010
Waktu : 19.30 – selesai
Tempat : Galeri Nasional Indonesia,
Jln. Medan Merdeka Timur No. 14
Jakarta 10110

Pameran akan diresmikan oleh :
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI Bapak Ir. Jero Wacik, SE

Peresmian pameran akan disertai dengan acara peluncuran buku
“Pameran Besar Seni Rupa Indonesia : MANIFESTO 2008″

Pameran terbuka untuk umum, 19 – 31 Mei 2010
Setiap hari pukul : 10.00 – 18.00 wib
informasi lengkap silahkan kunjungi : http://www.manifesto.web.id atau
telephon Rizki Ayu Ramadhana 021-34833954

______________________________________________________

102 : Kebangkitan Nasional
“PERCAKAPAN MASA”

“Benarkah kemerdekaan politik kita secara langsung juga berarti kemerdekaan kita pada masa lalu, pada adat dan tradisi yang beku membelenggu, pada karakter dan sifat kita yang membatu?”

― RadharPanca Dahana, “Mozaik Indonesia Mencari Tradisi” (2007)

“Percakapan Masa” adalah rangkaian kegiatan dalam rangka perayaan ‘102 tahun peringatan lahirnya semangat Kebangkitan Nasional [Indonesia]. Satu abad lebih tahun 1908 terlampaui, kini kita menghadapi perubahan dramatis era globalisasi dunia. Kemajuan budaya pada saat ini tak hanya mengubah cara kita mengenang perjalanan sang waktu tapi juga memperbaharui sikap kita ketika menimbang keberadaan ruang eksistensi kita. Teoritisi budaya kontemporer David Harvey menjelaskan fenomena globalisasi dunia saat ini sebagai kondisi ‘pemampatan ruang-waktu’ (time – space compression). Gejala ‘pemampatan ruang-waktu’ ini menawarkan kembali pada kita perumusan-perumusan yang ‘baru’ mengenai makna ruang keberadaan kita, soal eksistensi diri, termasuk juga mengenai makna ‘kebebasan‘ dan ‘kemandirian’ di tengah berbagai tantangan perubahan, kondisi perbedaan, dan ketidak-pastian akibat gejala ‘implosi’ (implosion), atau meleburnya berbagai sekat-sekat keyakinan, definisi, maupun persepsi yang telah terbangun secara ‘tradisional’ .

Globalisasi dunia melalui kemajuan teknologi interaksi dan komunikasi tak hanya menciptakan bentuk pengalaman baru mengenai ruang keberadaan (dari pengalaman fisikal menjadi virtual); tetapi juga membentuk persepsi dan pemahaman baru mengenai perumusan pengalaman mengenai waktu yang tak hanya berlangsung kian cepat, tetapi juga seolah berlaku secara acak dan ulang alik. Pola penafsiran konvensional memahami rentang perjalanan waktu ibarat suatu garis lurus yang bergerak dari masa lalu ke masa kini untuk sampai di masa depan. Proyeksi yang bersemangat menuju harapan kemajuan di masa mendatang sering menciptakan kondisi masa kini yang tegang, bersaing, dan saling meniadakan sehingga masa silam, kemudian, dianggap kondisi yang telah lalu, mati, bahkan menjadi beban yang harus disingkirkan. Namun pada arah sebaliknya, juga tak jarang, masa lalu dianggap sebagai tata nilai yang bersifat merumuskan dan menjadi model penilaian yang menjanjikan keselamatan bagi keadaan masa kini dan tantangan masa mendatang. Mengingat gentingnya perubahan persiapsi kita mengenai pengalaman soal waktu, maka ihwal ‘tradisi’ di era globalisasi justru menjadi risalah penting untuk terus-menerus ditimbang.

Soal penemuan nilai ‘ke-baru-an’ sering dibayangkan sebagai hasil ‘perlawanan’ atau ‘pemberontakan’ kepada nilai-nilai masa lalu yang dianggap menjadi bagian dari tradisi. Kini, kita sadar bahwa soal terpenting di situ bukan tentang ‘yang baru’ dibandingkan dengan ‘yang lama’; tapi ihwal ‘bagaimana keduanya berkaitan’? karena masalah ‘melawan’ atau ‘memberontak’ pada tradisi bukanlah satu-satunya cara begaimana kita memiliki kaitan bermakna dengan masa lalu. Kritikus dan sejarawan seni Sanento Yuliman membayangkan kondisi kebaruan itu sebagai situasi yang ‘berhutang’ pada situasi di masa lalu dan soal proyeksi gambaran bagi masa depan. Katanya: “(s)eandainya kita harus hidup dalam lingkungan yang segala-galanya baru dan asing, kita (ibaratnya kaum transmigran) akan menghadapi resiko kekacauan orientasi dan kehilangan gambaran diri. Dan apakah “diri” kita, kalau bukan sebuah gambaran yang kita gubah dari unsur-unsur masa lampau, masa kini, dan masa depan, yang kita ingini agar lingkungan kita mencerminkannya?”(1. Toh, masa lalu juga bukan segala soal yang ‘terang’ ada di dalamnya. Ihwal ‘tradisi’ misalnya, tak sepenuhnya selalu terjamin hanya karena berasal dari masa lalu. Pemerhati budaya Radhar Panca Dahana mengajukan pertanyaan reflektif yang penting ihwal tradisi yang justru jadi bahan penting bagi jalan perubahan dan kemerdekaan sikap yang sejati, katanya: “benarkah kemerdekaan politik kita secara langsung juga berarti kemerdekaan kita pada masa lalu, pada adat dan tradisi yang beku membelenggu, pada karakter dan sifat kita yang membatu?”(2.

Pameran ini, “Percakapan Masa”, hendak menunjukkan semacam pengalaman dialog kreatif yang yang dilakukan para seniman muda pada saat kini terhadap titik-titik artikulatif masa lalu di mana pengalaman dan identitas kita pernah digambarkan. Ini tentu bukan soal menggambarkan kembali masa lalu, selain justru menemukan kesadaran ‘baru’ tentang maknanya yang penting terhadap pembentukan berbagai arah perubahan. Saya mengundang para seniman muda untuk berinteraksi sambil menyatakan sikap-sikap ‘kebaruan’ mereka pada saat berdialog dengan karya yang pernah dikerjakan oleh para seniman pendahulu mereka. Para seniman muda yang terbiasa dengan perubahan dan soal percepatan pengalaman di masa kini itu saya ajak untuk bekerja sambil mengenang sikap pemikir budaya Rabindranath Tagore yang pernah menyimpulkan bahwa “waktu adalah sebuah kekayaan dari perubahan, tetapi jam waktu dalam parodinya menjadikan waktu hanya ibarat peralihan masa saja dan tanpa memiliki dimensi kekayaan nilainya”. Sehingga tanpa kesadaran dan sikap reflektif, sebuah masa melulu hanya jadi penjumlahan dari bilangan detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, bahkan dekade. “Percakapan Masa” mengandung intensi untuk menemukan refleksi yang berharga dari masa lalu, sebagaimana suatu percakapan bermakna untuk memunculkan ‘gambaran yang kita gubah dari unsur-unsur masa lampau, masa kini, dan masa depan, yang kita ingini agar lingkungan kita mencerminkannya”.

Pameran seni rupa ini saya anggap berkaitan dengan sikap ‘kesadaran nasional’ karena akan menunjukkan berbagai indikator proses refleksi keasadar-diri via ekpresi ‘kesadaran’ seni. Aktivitas ‘melihat’ (to see) sebagai manifestasi ‘rasa sadar’ manusia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari cara kita mengenal dan mengetahui. “Cara kita melihat materi dan benda-benda dipengaruhi oleh segala yang kita tahu dan apa yang kita percayai. . . Meskipun demikian, [kapasitas] ‘melihat’ telah kita lakoni sebelum kita mengenal kata-kata dan kalimat dan seluruh dari hasilnya tak selamanha bisa dilingkupi oleh kata-kata dan kalimat. Dengan demikian, [kapasitas] ‘melihat’ bukan masalah reaksi kita secara mekanis terhadap berbagai bentuk rangsang yang bersifat optikal. Sedangkan ‘melihat secara seksama’ (to look) secara khusus lagi merupakan suatu ‘aksi untuk memilih’ . Melihat secara seksama tentu tak hanya soal melihat suatu benda dengan satu titik pandangan secara tertentu; kita justru melakukannya dengan cara menghubungkan benda tersebut dengan [perkara mengenai] diri kita sendiri. Sehingga kemudian visi kita secara menerus bisa aktif, terus bergerak, menerus menyangga bagaimana benda yang kita lihat tersebut tetap berada pada lingkaran pemahamannya secara tersendiri, membentuk apa yang dipresentasikannya kepada kita sebagaimana kita mereflesikan diri kita sendiri”(3.

Pameran ini akan menunjukkan pilihan ‘mater pieces’ koleksi Galeri Nasional Indonesia bersama-sama dengan karya-karya baru yang dibuat para seniman muda sebagai bentuk tanggapan kratif terhadap karya-karya maestro tersebut. Para seniman muda diundang untuk melihat [kembali] secara seksama ‘master pieces’ yang dikerjakan pada masa silam itu sebagai pokok penting proses refelksi-diri. Para seniman muda yang kini tengah bergulat dalam iklim perubahan dan percampuran berbagai identitas itu bekerja dengan kesadaran sebagaiman pernah diusulkan pengamat seni John Burger, bahwa “(s)egera, setelah kita bisa melihat, kita menjadi sadar bahwa kita juga bisa dilihat”(4.

‘Percakapan Masa’ mengundang dialog pengalaman dan penafsiran para seniman muda melalui beberapa pokok risalah penting yaitu soal: (i) KEJADIAN (Event); (ii) SITUASI (Circumstance); KEADAAN RINCI (State of the Detail); serta tentang (iv) POTRET (Portaiture) yang berasal dari titik waktu masa lampau yang dilihat secara seksama demi menujukkan pokok-pokok perubahan dan persamaannya di masa kini.
Bandung, Januari 2010
Rizki A. Zaelani / kurator

CATATAN:

1. Sanento Yuliman, “Yang Modern dan Yang Antik”, dalam Asikin Hasan, ed. DUA SENI RUPA: Sepilihan Tulisan Sanento Yuliman (Jakarta: Yayasan Kalam, 2001), hlm.34
2. Radhar Panca Dahana,
3. John Burger, Ways of Seeing (London: Penguin Book, 1972), hlm. 8-9.
4. Ibid. (hlm.9)

Leave a comment

Seni Rupa (di Ruang) Publik

Minggu, 10 Januari 2010 | 02:56 WIB

Suwarno Wisetrotomo

Semakin sering kita dengar dan saksikan tentang karya-karya seni rupa yang dihadirkan di ruang publik. Peristiwa ini sering kali memancing beragam respons publik, baik dari masyarakat luas maupun dari mereka yang mengaku sebagai para penghuni atau pengguna ruang-ruang publik itu. Contoh paling aktual adalah sejumlah peristiwa tentang penolakan (oleh aparatus pemerintah dengan mengatasnamakan masyarakat), pembongkaran, dan pemindahan sejumlah karya tiga dimensional yang dipasang di sejumlah sudut kota Yogyakarta, terkait dengan peristiwa Biennale Jogja X-2009 (patung ”Ada Diantaranya” karya Yul Hendri yang dipasang di daerah Badran, patung ”Terbelenggu” karya Anjar Warsito dan Daroji yang akan dipasang di bundaran kampus UGM, dan karya kolaborasi Agustioko dan Rony Lampah ”Like Star on The Sky” yang harus dipindah dari perempatan Demangan ke kompleks Jogja National Museum, Gampingan).

Peristiwa itu terjadi, tentu berpangkal dari berbagai kemungkinan; misalnya, perihal adanya kesenjangan apresiasi masyarakat terhadap sejumlah karya seni rupa, atau perihal sikap sewenang-wenang aparatus pemerintah yang merasa terusik oleh ”benda-benda asing” tanpa prosedur birokrasi yang mereka harapkan (baca: harus minta izin), atau kemungkinan lainnya adalah sikap sewenang-wenang sang seniman terkait dengan aksi kreativitasnya, yang mengatasnamakan ”kebebasan berekspresi”.

Terhadap berbagai kemungkinan itu, pangkal persoalannya adalah tiadanya komunikasi yang baik dan produktif, serta kesewenang-wenangan tafsir atas karya seni dan parameter kelayakan kehadiran di sebuah ruang. Menyikapi peristiwa itu tanpa kerendahhatian untuk saling belajar, maka akan berpotensi mengundang sikap anarkis oleh banyak pihak.

Seni (di ruang) publik

Seni publik pada dasarnya (dan idealnya) adalah seni yang digubah/diproduksi oleh seniman (bersama komunitas pendukung, komunitas yang di/terbentuk di sekitarnya), untuk dan dimiliki oleh suatu komunitas atau masyarakat. Karena itu, tak jarang karya seni publik merepresentasikan ”kepentingan” (kegelisahan, pikiran-pikiran, impian, harapan, dan sebagainya) publik pendukungnya, dan memang demikianlah seharusnya.

Seni (di raung) publik bisa berupa mural, taman, karya monumental, yang bersifat temporer atau permanen. Mengacu pada sejarah seni rupa Barat, public art dikenal sejak 1960-an, khususnya di Amerika. Seniman penggeraknya antara lain Roy Lichtenstein, Claes Oldenburg, Robert Morris, Isamu Noguchi (salah satu karyanya yang popular: Horace E Dodge and Son Memorial Fountain, 1978, berbahan baja dengan dasar batu granit, tinggi 7,32 meter, yang dipasang di Philip A Hart Plaza, Detroit), Niki de Saint Phalle, Tony Smith, dan lain-lain. Intinya, public art diproduksi untuk dan dimiliki oleh suatu komunitas atau warga masyarakat. Wataknya partisipatif dan (produknya) interaktif (bisa disentuh, bahkan ada yang harus disentuh, menjadi bagian integral dari ruang publik). Masyarakat sekitar dilibatkan dalam proses, diajak bicara, diajak terlibat atau mengerjakan, minimal dijadikan dasar pertimbangan mengapa sebuah karya dianggap penting berada di suatu tempat tertentu.

Proyek ”muralisasi” oleh Apotik Komik yang melibatkan masyarakat setempat, kemudian proyek serupa oleh Samuel Indratma misalnya, dapat disebut sebagai contoh bagaimana modus operandi seni publik. Ruang publik semestinya tidak ”diakuisisi” secara sewenang-wenang oleh sang seniman, namun sekadar dijadikan ruang berekspresi, yang prosesnya melibatkan warga sebagai pengguna. Seni di ruang publik, seperti sudah disebut di muka, bisa dalam bentuk apa saja: bisa berupa karya-karya seni rupa, bahkan berupa seni (rupa) pertunjukan (performance art), seni peristiwa (happening art), seni lingkungan (environment art), dan lain-lain.

Sesungguhnya tidak mudah memasang (apalagi secara permanen) karya seni di ruang publik (di kota/negara mana pun). Juga tidak bisa begitu saja menyodorkan karya seni (seni rupa, seni tampilan/performance art) untuk nangkring dan hadir di ruang publik secara sewenang-wenang. Peristiwa legendaris yang dilakukan oleh seniman Javacheff Christo, dengan karya environmental sculptor, ketika membungkus gedung parlemen Berlin, ”Wrapped Reichstag” (1971-1995) dapat dijadikan model ideal. Proses negosiasi dengan Pemerintah Jerman berlangsung selama 24 tahun, yang diakhiri dengan proses dan keputusan politik; pada 25 Februari 1994, di parlemen dilangsungkan debat tentang proyek tersebut lebih dari satu jam, disusul dengan voting. Dari anggota parlemen sekitar 525 orang, proyek ”Wrapped Reichstag” disetujui oleh 292 anggota, 223 anggota menolak, 9 anggota abstain, dan 1 suara tidak sah. Proyek yang menghabiskan material kain 100.000 meter persegi, rangka struktur baja ribuan meter, melibatkan 90 pemanjat profesional, 120 pekerja instalasi, selesai pada Juni 1995. Proyek ini sungguh tak terlupakan sepanjang sejarah, meski bersifat temporer.

Kita bisa menemukan sedikit contoh lain. Di pusat kota Berlin, atau Kyoto misalnya, di tengah hamparan bangunan heritage, hampir tidak ada karya seni kontemporer (apalagi baliho/iklan yang rakus) yang ”mencuri” atau ”merusak” atmosfer lingkungan. Baru kemudian di kawasan elite baru dan modern, seperti Postdamrplast (Berlin), bisa ditemukan beberapa karya seni patung kontemporer, antara lain karya Keith Harring yang mencolok: berbahan gelas, dengan bentuk seperti balon warna-warni. Juga terdapat stage di taman yang strategis, yang bisa digunakan oleh para seniman pertunjukan (pantomim, tari, musik, baca puisi, dan lain-lain).

Contoh lain, di beberapa sudut kota Jedah, termasuk pinggiran pantai Laut Merah, berderet patung-patung publik dengan ukuran gigantic menghiasi panorama kota dan pantai yang tenang dan indah. Kemudian di kota Chancun, bagian utara kota Beijing, China, disediakan lahan amat luas, untuk dijadikan taman patung. Pemerintah China membuat acara tahunan di kota itu, dengan cara menghadirkan para pematung dari berbagai negara untuk berkarya secara permanen, dengan bentuk, material, bahkan ukuran dibebaskan.

Bagaimana dengan di Indonesia? Sejumlah kasus penolakan (oleh aparatus pemerintah), pembongkaran, dan pemindahan karya seni rupa di ruang publik pada peristiwa Biennale Jogja X menunjukkan adanya selip komunikasi dan pengertian di antara para pihak. Komunikasi, negosiasi, dan partisipasi merupakan kata kunci agar tidak terjadi (dan terulang) peristiwa sewenang-wenang (oleh seniman maupun birokrat) semacam itu.

Seniman, arsitek, birokrat kota

Saya membayangkan terjadinya sinergi antara seniman, arsitek, dan dengan birokrat kota untuk menciptakan ”tata kota” yang ”nyeni dan manusiawi”. Ketiganya juga bisa menjadi inspirator dan motivator pembangunan kota yang lebih berbudaya, dengan cara memikirkan bagaimana membuat setiap kota memiliki karakter serta cultural landmark. Dengan sinergi dan komunikasi yang intensif di antara mereka, maka setiap peristiwa budaya, seperti berbagai festival, pameran seni rupa biennale, atau triennale (Yogyakarta, Jakarta), dan sebagainya menjadi peristiwa budaya milik bersama, dan menjadi kebanggaan bersama.

Yang dibutuhkan dari birokrat hanyalah sikap tanggap, cerdas, dan cepat merespons, kemudian memfasilitasi, dan tak perlu ribet sendiri. Sinergi itulah, saya kira, yang hingga hari ini belum terjadi dengan mesra, indah, cerdas, dan produktif.

Seniman, arsitek, dan birokrat, dalam pandangan saya, secara umum, masih berada dalam ”ruang” masing-masing dan bersifat elitis. Sangat dibutuhkan kesadaran untuk ”sinergi, siasat, kecerdasan, dan kreativitas” untuk mengelola sebuah kota. Sebelum sebuah kota telanjur menjadi semakin sumpek, ganas, beringas, dan kehilangan atmosfer kemanusiaannya, para arsitek dan seniman bersama ”masyarakat” harus bersatu. Pemerintah harus banyak mendengar dan mengajak semua pihak untuk mewujudkan kota yang ”nyeni, berbudaya, dan manusiawi”.

Suwarno Wisetrotomo Dosen di Fakultas Seni Rupa dan Pascasarjana ISI Yogyakarta, Kritikus Seni Rupa

Leave a comment

Tuan Arie Menggugurkan Teori

50 TAHUN
Tuan Arie Menggugurkan Teori

Minggu, 9 Mei 2010 | 04:47 WIB

OLEH AGUS DERMAWAN T

Penestanan adalah salah satu dusun paling sejahtera di Kecamatan Ubud, Gianyar, Bali. Rumah-rumah asri, penduduk tenteram, dan para pelukis berkarya dengan tenang di dalam studio yang (tak perlu lagi) kelihatan dari jalanan.

”Harus diakui, semua ini berawal dari Tuan Arie Smit,” kata Made Sinteg, pelukis yang sungguh happy hidup di kawasan itu.

Sejarah lalu buru-buru menengok setengah abad lalu. Kala itu Dusun Penestanan terbilang amat miskin. Sebagian besar penduduknya bekerja sebagai buruh tani, dengan anak-anak nirsekolah yang dikaryakan sebagai pengangon bebek. Arie ingin menaikkan harkat penduduk di sekitar situ, dengan cara mengumpulkan anak-anak untuk diajari melukis. Setelah melewati berbagai hambatan, pada tahun 1960 berdirilah perkumpulan seni lukis anak-anak di Penestanan, yang oleh Arie dinamai ”Young

Pada mulanya ”Young Artist” hanya melibatkan 40 anak, dengan di dalamnya mencatat sejumlah nama yang di kemudian hari jadi orang tua terkenal, seperti Ketut Soki, Nyoman Cakra, Nyoman Londo, Wayan Pugur, Ketut Tagen, Ngurah KK. Perkumpulan ini merebak sehingga dalam tempo beberapa tahun sudah ada ratusan anak yang melukis. Dengan gaya lukisannya yang kuasi modern, disertai bentuk-bentuk naif dan warna-warna menyala, lukisan tradisional kelompok ”Young Artist” mendapat pasar yang hebat. Maraknya, pasar ini tentu saja mengubah secara drastis kehidupan ekonomi Dusun Penestanan. Bahkan, ketika Bali dilanda krisis turis akibat letusan Gunung Agung tahun 1963, lukisan-lukisan ”Young Artist” tetap mengibarkan sayapnya lantaran agen-agen seni lukis ”Young Artist” di Belanda, Jerman, sampai Meksiko terus menyerapnya.

Seni lukis ”Young Artist” berkembang sampai lima dekade. Para pelukis angkatan pertama yang senantiasa bangga dengan sebutan ”young” memang menurunkan spirit kepada generasi di bawahnya. ”Young Artist” pun jadi aliran. Pada 2010 pelaku terujung seni lukis ”Young Artist” sudah sampai pada status ”cucu”. Dilihat dari jumlah pelukisnya yang ribuan, bisa dibilang ”Young Artist” merupakan aliran terbesar di Indonesia atau jangan-jangan di dunia.

Merasa beruntung

Arie Smit, kelahiran Zaandam, Belanda, 15 April 1916, merasa beruntung bisa bertemu dengan tahun ke-50 ”Young Artist”. Dalam momentum ini, ia lantas mengungkapkan bahwa hasratnya untuk mengangkat potensi warga Dusun Penestanan bukan sekadar bertolak dari fatsal ekonomi.

”Lewat Penestanan, saya sesungguhnya ingin melawan sejumlah pandangan yang melecehkan potensi hidup bagian-bagian dari bangsa Asia Tenggara. Lewat seni lukis Penestanan, saya ingin mengatakan bahwa tenaga budaya ras Asia Tenggara itu luar biasa,” katanya.

Memang, pada suatu masa kebudayaan bangsa di Asia Tenggara dianggap rendah dan diposisikan jauh di bawah tingkat kebudayaan China dan India. Hal ini terungkap lewat teori Egon Freiherr Von Eickstedt (Rassenkunde und Rassengeschichte der Menschheit, 1934). Di situ Eickstedt mengatakan bahwa ras Palae Mongoliden yang mendiami kawasan Asia Tenggara adalah cabang dari ras Mongolid, yakni ras yang diklaim paling terbelakang.

Lebih ekstrem lagi ilmuwan ini mengatakan bahwa ras Palae Mongoliden disebut mewakili ras pinggiran yang lemah sehingga ras ini terdesak dari dataran-dataran tinggi Tibet serta China Selatan untuk kemudian lari ke dalam rimba belantara tropika. Itu sebabnya, di Asia Tenggara dalam waktu yang sangat lama tidak ada nama spesifik untuk menandai eksistensinya sehingga sejumlah tempat di Asia Tenggara lantas diberi nama seperti Further India, Indochina, Nederlands Indie, l’Indie Exterieur, Greater India, Little China, dan sebagainya.

Arie tentu sangat tak suka dengan teori itu. Karena itu, ia bergirang ketika Sutan Takdir Alisjahbana membantah pelecehan tersebut dalam Konperensi Malaysian Society of Orientalists di Kuala Lumpur, Oktober 1965. Dikatakan di situ bahwa sesungguhnya bangsa Bumantara (begitu Sutan Takdir menyebut bangsa-bangsa Asia Tenggara) adalah ras penuh petualangan yang mampu membentuk kebudayaan baru meski sebagiannya berasal dari India dan China. Pendapat ini didukung oleh Bernard Groslier yang menyebut Asia Tenggara sejak abad kelima sudah tumbuh menjadi ”centers of original cultures”.

”Saya boleh menduga, Takdir membela bangsa Asia Tenggara setelah tahu kenyataan yang diperlihatkan oleh orang-orang Bali. Termasuk yang dilakukan oleh tangan kreatif masyarakat Penestanan,” kata Arie yang bersahabat dengan Sutan Takdir sejak 1952.

Arie tak pernah menduga, pembelaannya atas ras Asia Tenggara lewat komunitas kecil Penestanan menghasilkan buah besar yang menggelantung sampai 50 tahun kemudian. Atas jasa-jasa itu, Arie Smit mendapat penghargaan Dharma Kusuma dan Widja Kusuma dari Pemerintah Provinsi Bali. Sementara gemerlap lukisan ”Young Artist” di sekujur Bali dan kesejahteraan warga Penestanan yang tak henti disyukuri pelan-pelan mengubur pengalamannya yang kelabu dan seru pada masa lalu.

Agus Dermawan TK ritikus, penulis buku-buku seni rupa.

(diunduh dari http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/05/09/04475921/tuan.arie.menggugurkan.teori)

Leave a comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,559 other followers