Nyoman Batuan, di Simpang Pilihan

Minggu, 28 Maret 2010 | 03:50 WIB

WARIH WISATSANA

Walau sudah bersentuhan dengan dunia internasional sedini tahun 1920-an, sewaktu Bonnet bermukim di Campuhan, Ubud, seni lukis Bali hingga saat ini seakan terus ada di simpang pilihan. Penuh pergulatan yang menawarkan kemungkinan dan juga semacam ”kegamangan” bagi sebagian besar pelakunya, tersirat dari karya-karya mereka.

Para seniman tersebut mencoba meraih stilistik dan tematik yang diidam-idamkan, dan dengan itu diharapkan kuasa mewakili suatu capaian kreasi yang diidealkan: tetap berakar pada tradisi, namun mencerminkan dinamika kekinian. Dewa Nyoman Batuan, pelukis yang dilahirkan tahun 1937, ada dalam bacaan ini.

Pada pameran yang dibuka penari Bulantrisna Djelantik di Bentara Budaya Bali, pelukis yang dikenal dengan kosa-rupa ”Mandala”-nya ini tengah menggelar sejumlah karya, tepatnya 58 buah, dalam suatu pameran tunggal, berlangsung 20-28 Maret 2010. Mandala adalah suatu ikon simbolik berbentuk bulatan penuh yang konon berawal dari wujud serupa di Tibet, menandakan suatu lingkaran kehidupan meliputi seluruh ruang, waktu, dan keadaan. Lewat ikon yang ditekuninya sejak tahun 1965 ini, Dewa Nyoman Batuan menjelajahi berbagai macam tema, dari tradisional hingga kontemporer.

Melalui karya-karya bertarikh 1970-an hingga 2010, dapatlah dirunut, bukan hanya proses eksplorasi dirinya yang melintasi aneka tahapan zaman, melainkan juga perjalanan seni rupa Bali, mulai dari yang tradisi prakolonial, era Pita Maha, hingga terkini yang lebih ”modern” serta bercorak kontemporer. Bila semula karya Dewa Nyoman Batuan berisi obyek-obyek alam dan tradisi Bali, mulai tahun 1970-an, Mandala-nya itu, dimasuki tema-tema dan kosa-rupa yang cenderung kontekstual serta sosial.

Lebih berani

Kalau pada fase awal karya- karyanya didominasi warna-warna alamiah dengan ikon-ikon tradisi berbentuk wayang, bunga, serta kehidupan sehari-hari yang lekat dengan umat Hindu, kini ia tak segan-segan memainkan unsur-unsur warna yang lebih berani, sebagaimana biasa ditunjukkan generasi pelukis Bali berikutnya.

Dewa Nyoman Batuan dapat dikatakan generasi ketiga pasca- Pita Maha yang mencoba melakukan pembaruan-pembaruan tema. Walau tema-tema generasinya itu semula masih seputar upacara dengan segala ikon simbolik yang menyertainya, semisal barong, belakangan coba diterjemahkan dalam suatu wujud visual yang lebih berkembang dan mulai mengarah pada ekspresi yang bersifat individual.

Pada karya Dewa Nyoman Batuan terkini, tampak tema-tema yang bersentuhan dengan dunia modern, seperti sepasang turis yang tengah asyik bercengkerama di pantai. Ada pula respons atas kejatuhan Presiden Soeharto.

Kecenderungan itu masih dibungkus dalam suatu Mandala dengan titik-titik yang membentuk lingkaran. Karya dengan kecenderungan ini jelaslah menunjukkan dilema Dewa Nyoman Batuan dalam simpang pilihan sebagaimana disinggung di atas. Tidak heran bila upayanya untuk ”modern” ini sedikit banyak memengaruhi pencapaian karya terkininya, yang kurang utuh dan padu dibandingkan karya-karya bercorak tradisi.

Kehendak untuk menggarap tema sosial ini bukan semata pilihan Dewa Nyoman Batuan, namun juga menjadi kepedulian banyak pelukis tradisi serta para perupa Sanggar Dewata ataupun generasi yang lebih baru lagi.

Meski dianggap berguru pada Gusti Ketut Kobot, sebagaimana dijelaskan oleh kurator pameran, Hardiman, Dewa Nyoman Batuan pada dasarnya tetaplah seorang pelukis tradisi yang otodidak. Memang ia, layaknya pelukis modern dan kontemporer, telah berupaya melakukan berbagai ”eksperimen” dan pencarian, mulai dari hal yang filosofis hingga ke upaya penambahan kosa-rupa baru di dalam karyanya. Bahkan, lebih jauh lagi, ia mencoba menggunakan alat-alat kerja yang merupakan hasil temuan sendiri, semisal media sapu lidi sebagai pengganti kuas.

Dilema yang dialami Dewa Nyoman Batuan, baik dalam pencarian visualnya maupun tematiknya, serta proses kreatifnya, pada hakikatnya menghinggapi pula seniman-seniman Bali lainnya, baik yang tradisi maupun yang modern, ataupun kontemporer. Warisan tradisi yang dipandang adiluhung memang membantu mereka untuk mencapai tahapan tertentu dalam kreasinya, yang boleh jadi menghasilkan karya-karya yang cukup mengejutkan dan menjanjikan. Akan tetapi, warisan tradisi tersebut pada tahapan berikutnya, ketika diperhadapkan dengan kenyataan yang telah berubah sebagai akibat kemodernan dan keglobalan yang tak terelakkan, seakan malahan menghalangi kemungkinan berekspresi secara individual dengan lebih bebas dan merdeka.

Simpang pilihan ini, beserta fenomena yang menyertainya, sebagaimana tecermin dari karya dan pergulatan Dewa Nyoman Batuan, pada hakikatnya menyarankan kepada para pelaku seni— sebagaimana yang juga diungkapkan oleh John Clark (1998)— untuk melakukan suatu transmision of knowledge (alih pengetahuan) yang bersifat transformative-interpretative, yaitu mengolah perubahan berdasarkan penafsiran kultural setempat. Dengan demikian, semua pengaruh dari luar dapat disikapi secara lebih kritis guna menghasilkan karya yang dalam tahapan tertentu berspirit Bali, atau Indonesia.

Warih Wisatsana Penyair; Tinggal di Bali

(diunduh dari http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/28/03503285/nyoman.batuan.di.simpang.pilihan)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: