Keindahan “Enggak Keruan” Berjejal

Minggu, 28 Februari 2010 | 02:44 WIB

Wicaksono Adi

Bermula dari acara kumpul-kumpul di sebuah rumah di bilangan Kemang Utara, Jakarta, yang melibatkan sejumlah orang dengan latar belakang profesi yang berbeda, terbentuklah semacam komunitas yang menamakan diri Jakarta Art Movement.

Setelah satu tahun bertukar ide, acara kumpul-kumpul itu menghasilkan sebuah pameran seni rupa bertajuk ”The Second God” yang digelar di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 21-28 Februari 2010.

Di situ sekurang-kurangnya terlibat 15 kelompok: Tigade Studio, Ario Hendrasto dan Universitas Tarumanegara, Kezia and Friends, Ancol Plus, e[X]serut, Fakebook, Jalan Baru, SEXi, 4Friends, Askes, Agus and Friends, Agus and Tato, Begoendal, Dream Icon, dan Atap Alis. Tak ada karya individual dalam pameran ini karena karya-karya yang dipresentasikan adalah hasil kolaborasi seluruh anggota kelompok. Kurator pamerannya empat orang, Bambang Asrini Widjanarko (penulis seni), Ilham Khoiri (wartawan seni), Seno Joko Suyono (wartawan seni), dan Imam Muhtarom (penulis sastra).

Mereka coba menunjukkan bahwa hari ini manusia telah terperangkap oleh pesona tuhan-tuhan palsu (dengan ”t” kecil) yang mengepung dan berpusar dari segala jurusan. Tuhan-tuhan palsu yang menyembul dari pesona benda-benda dan rongsokannya, ilmu dan teknologi, citra, ideologi, politik, jalanan, dunia game, parfum, papan etalase, mistik, filsafat, gosip dan omong kosong, bus kota dan angkot, televisi, internet, sorban dan jubah agama, kuburan, dan seterusnya dan seterusnya.

Sugestinya, hari ini kian banyak yang giat memuja tuhan-tuhan palsu itu sambil menyaksikan orang-orang yang kelaparan, kakek dan nenek renta dijebloskan ke penjara, banjir tayangan berita pembunuhan plus mutilasi, anak balita yang dicekik oleh ibunya sendiri, remaja kecanduan chatting dan main BB di antara bisingnya pertengkaran politik tanpa ujung.

Realitas campur

Selama 20 tahun terakhir hampir semua seniman kontemporer Indonesia sibuk menampilkan realitas campur aduk yang nyaris tak dapat dijelaskan dengan kacamata tunggal semacam itu. Karya-karya mereka adalah sejenis upaya untuk merangkum dan mewujudkan segala kerumitan yang bertentangan dan tak terurai dari pusaran bentuk-bentuk yang dikenali ataupun tak dikenali.

Mereka sadar bahwa tak ada perwujudan dan penjelasan tunggal dari realitas semacam itu. Setiap karya seni senantiasa akan tersedot oleh pusaran dimensi-dimensi yang bertolak belakang ataupun saling sejajar dalam bidang dan garis tegangan, yang saling bertemu pada momen serta sekuen tertentu, yang polanya tak dapat ditentukan.

Intinya, karya seni kian asyik dengan keindahan dari segala hal yang ”enggak keruan”. Dan secara fisik kota Jakarta adalah contoh terbaik dari keindahan semacam itu. Tentu, bentuk seni lama (lukisan, patung, grafis konvensional-individual) tak selalu dapat menampung segala yang ”enggak keruan” itu. Maka, mereka pun mulai mencampur berbagai media dalam suatu rangkaian bentuk yang kemudian lazim disebut seni instalasi.

Munculnya komunitas Jakarta Art Movement (JAM) menjadi menarik karena senimannya rata-rata datang dari bermacam profesi dan tempat (Jakarta, Tangerang, Bogor) sehingga sangat mungkin akan memberikan cara pandang yang berbeda dengan kaum seniman kontemporer mapan yang sudah mulai mengalami penjenuhan. Dalam berkarya dan bekerja pun, mereka tidak terlalu terbebani oleh wacana-wacana seni rupa kontemporer ini-itu. Mereka mencipta karya karena didorong oleh keinginan untuk merekonstruksi pengalaman bersama dalam menyerap kenyataan yang ”enggak keruan” itu melalui media yang mereka kuasai.

Hasilnya? Dari segi keterampilan teknis, karya-karya mereka ternyata tidak kalah dibandingkan dengan karya-karya seniman kontemporer kita yang sudah mapan. Misalnya karya Kezia and Friends yang beranggotakan perancang busana, pelukis tubuh, juru foto, penata tari, dan para model. Karya mereka yang berjudul Forbidden The Second God itu menampilkan tubuh yang dibalut pakaian dari serpihan ritmis benda-benda metalik dan alur-alur zipper, guntingan bekas cakram data, kumparan kabel, pernik-pernik warna-warni, dan sebagainya untuk mendapatkan efek dramatis tubuh buatan pada posisi tertentu.

Pada karya instalasi 4Friends berjudul House of Soul kita menemukan kuburan atau nisan lengkap dengan taburan bunga di atasnya. Nisan itu dilengkapi dengan laci-laci berisi benda-benda (tas tangan, ponsel dan berbagai aksesori) dari merek paling top. Nisan juga dilukisi gambar perempuan telanjang tampak dari belakang dalam posisi sedikit meringkuk menembus laci maut.

Dari segi keterampilan teknis, saya tak dapat membedakan karya-karya pameran JAM ini dengan pameran-pameran seni rupa kontemporer yang ada selama ini. Dan para kuratornya memang menempatkan karya-karya dalam konteks perkembangan seni rupa kontemporer secara luas. Tempat pamerannya juga berada di ruang spesifik, yakni Galeri Nasional. Namun, ada risiko yang harus ditanggung dari keputusan ini bahwa dramatisasi tuhan-tuhan palsu dari dunia yang ”enggak keruan” itu akhirnya menjadi sangat terbatas. Pameran ini menjadi kumpulan obyek pepasang, tetapi akhirnya karya-karya tersebut harus berjuang melawan isolasi lokasi ruang.

Saya membayangkan, jika pamerannya tidak berlangsung dalam ruang galeri yang tertutup dan ditampilkan di ruang-ruang interaksi publik ataupun ruang-ruang personal misalnya, boleh jadi kedahsyatan tuhan-tuhan palsu akan lebih nyata. Setiap karya yang ditampilkan boleh jadi akan menemukan konteks ruangnya secara lebih utuh. Namun, terlepas dari kelemahan tersebut, bagi saya, apa yang dilakukan oleh JAM telah menegaskan kembali slogan lama: ”setiap orang adalah seniman”.

Wicaksono Adi Direktur Kreatif pada Lembaga Konsultan Desain, El Touf Wicakadi.

(diunduh dari http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/28/02440854/keindahan.enggak.keruan.berjejal)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: