Lukisan Panjang Christine

Minggu, 17 Januari 2010 | 03:35 WIB

Perupa Ay Tjoe Christine (36) membuat serial lukisan terbaru di atas kanvas sepanjang 20 meter dengan lebar 70 sentimeter. Nanti, karya itu bakal dipotong-potong menjadi 19 bagian dan tiap-tiap potongan sudah dibeli kolektor. Wah, ada apa ini?

Lukisan panjang itu ditampilkan dalam pameran tunggal Symmetrical Sanctuary di Sigiarts, Jakarta, 15-30 Januari. Ini adalah pameran tunggal Christine ke-10 sejak tahun 2001. Kurasi ditangani dosen seni rupa ITB, Asmudjo Jono Irianto.

Tak selazimnya lukisan ditempel di dinding datar, karya itu dibuatkan ruang khusus di tengah galeri. Ruang dari kayu itu berbentuk bundar dengan dinding kosong di bagian dalam. Pada dinding itulah kanvas sepanjang 20 meter itu dipasang melingkar dengan menempelkan potongan-potongan kecil besi magnet di bagian pinggirnya.

Gambar dengan charcoal dan akrilik di atas kanvas itu memperlihatkan ekspresi visual khas Christine: sosok-sosok ambigu, murung, dan tak mudah dipahami. Ada manusia, binatang, bangunan, atau tanaman yang berderet-deret dalam bentuk-bentuk yang aneh. Di antara gugusan bidang, tercoret garis atau arsiran yang bebas.

”Itu rekaman perjalanan hidup saya selama beberapa tahun terakhir,” kata Christine saat berbincang sebelum pembukaan, Jumat (15/1) sore.

Yang menarik lagi, lukisan panjang itu sudah dikapling-kapling oleh pembeli. Kaplingan itu ditandai dengan benang merah yang membagi kanvas menjadi 19 bagian, berukuran sekitar 4 meter, 3 meter, 1,5 meter, atau 80 sentimeter. Nanti, setelah pameran, lukisan itu akan dipotong-potong sesuai tanda kaplingan tadi dan diserahkan kepada pembeli.

Proses pembelian karya ini cukup unik. Sepekan sebelum pembukaan, Sabtu (9/1), digelar Lunch Gathering & Preview di Sigiarts. Acara itu dihadiri Christine, Asmudjo, 20 kolektor undangan, serta pengelola galeri.

Seniman dan kurator menjelaskan berbagai hal seputar karya itu. Christine lantas mempersilakan para kolektor membeli karya asalkan mereka mau berembuk untuk menentukan ukuran potongan karya dan bagaimana cara masing-masing mendapatkan potongan itu.

Mereka akhirnya berkompromi: karya dikapling menjadi 19 potong dan pembagiannya berdasarkan undian. Satu kolektor membeli karya lain di luar seri lukisan panjang tadi.

Christine mengaku senang. ”Itu memberikan pengalaman berunding bagi kolektor yang ingin memiliki karya seni. Seniman juga bisa berinteraksi langsung dengan pembeli.”

Kontrol

Menurut Asmudjo, praktik pameran dan penjualan tadi memberikan cara berbeda bagaimana karya seni dikoleksi. Para kolektor, dengan ego dan kekuatan modal masing-masing, ditantang untuk mengesampingkan egonya, bertemu, berdiskusi, dan kemudian berbagi dalam menentukan pembelian karya. Jika berhasil, mereka akan menemukan kesadaran hubungan yang seimbang.

Dengan cara seperti itu, seniman mencoba sedikit mengontrol proses pembelian yang diharapkan dapat melegakan semua pihak. ”Christine bisa menawarkan sistem koleksi semacam ini kalau dia memang punya nama bagus dalam seni rupa kontemporer Indonesia dan termasuk incaran pasar,” kata Asmudjo.

Pilihan ini memang cukup disadari Christine. Lulusan seni rupa ITB Bandung tahun 1997 itu punya beberapa pengalaman tak menyenangkan dengan proses penjualan karya. Salah satunya, terkadang para kolektor hanya memburu karya tanpa mengenal seniman dan memanusiakannya.

Bagi Rachel Ibrahim, pengelola Sigiarts, sistem koleksi Symmetrical Sanctuary menawarkan modus baru dalam pemasaran lukisan. Jika selama ini kolektor berburu karya seni sendiri-sendiri, bahkan mungkin berebut, kini mereka mencoba saling berkompromi. ”Seniman, kurator, dan galeri hanya memfasilitasi saja,” katanya.

Personal

Bagaimana dengan karyanya? Sebagaimana karya-karya lain, lukisan sepanjang 20 meter itu mewakili kegelisahan pribadi Christine. Sosok-sosok dalam lukisannya hanya memperlihatkan kesan obyek-obyek yang akrab dalam kehidupan sehari-hari.

Ada gugusan mirip manusia, bangunan, pohon, binatang, tanah, tiang, atau catatan-catatan tulisan tangan. Anatomi bentuk-bentuk itu didistorsi sedemikian rupa sehingga kadang sama sekali tidak jelas. Umumnya berwarna kelam.

Gambar-gambar tadi mencatat pengalaman seniman berinteraksi dengan bermacam orang di sekitarnya. Jadi, sifatnya sangat personal. ”Kita sering bersinggungan dengan orang dan menemukan masalah dengan status fisik, usia, jenis kelamin, atau soal lain,” kata Christine.

Kita tak bisa lebih jauh lagi menangkap sesuatu yang lebih terang meski mungkin ngobrol lama dengan seniman pendiam ini. Seperti dibilang Asmudjo, agaknya Christine termasuk seniman romantik yang memiliki pandangan hidup tersendiri. Karyanya lebih enak dinikmati sebagai ekspresi estetik dunia dalam yang sangat pribadi. (ilham khoiri)

(diunduh dari http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/17/03353970/lukisan.panjang.christine)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: