Lumpur di Ujung Biennale

TEMPO Interaktif, Perupa Bonyong Munni Ardhi terdiam menatap tumpukan lumpur basah di atas meja, tepat di depannya. Perlahan, dengan kedua tangannya, ia mengaduk lumpur dan kemudian melumurkan pada mukanya. Puluhan orang yang menyaksikan adegan itu mulai tak sabar. “Makan, makan,” teriak mereka berulang-ulang.

Sedikit ragu, Bonyong pun mulai memasukkan lumpur basah itu ke mulutnya. Beberapa kali perupa senior anggota Kelompok Kepribadian Apa (Kelompok Pipa) itu menjejalkan lumpur basah ke mulutnya setelah suapan sebelumnya dimuntahkan. Rasa tak nyaman di mulut memaksa Bonyong membuat gerakan mengitari meja, sembari terus berusaha mengeluarkan lumpur dari rongga mulutnya.

“Ini durasinya berapa menit?” kata Bonyong tiba-tiba. Ia tampaknya mulai tersiksa. “Baru lima menit. Terus. Lumpurnya dimakan, seperti lukisan itu,” teriak rekan-rekan Bonyong. “Itu estetis,” kata Bonyong sembari menuding lukisan karyanya yang tergantung di dinding. “Ini juga estetis,” rekan-rekan Bonyong menyahut.

Maka Bonyong pun kembali mengulang adegan mengaduk-aduk lumpur di atas meja, kemudian memasukkannya ke mulut, dan memuntahkannya kembali. “Terima kasih,” kata Bonyong mengakhiri performance-nya. Bonyong rupanya tak tahan lagi, ia segara menyerbu dua ember air bersih di dekat meja, membersihkan muka dan mulutnya.

Performance “Bonyong Ciak Lumpur” itu berlangsung di Jogja National Museum, Minggu sore lalu, sebagai bagian dari rangkaian penutupan Biennale Jogja X, yang berlangsung sejak 11 Desember 2009. Panitia sengaja menggelar performance itu di depan lukisan karya Bonyong berjudul Makan Lumpur, yang dipajang di lantai III Jogja National Museum bersama karya-karya dari Kelompok Pipa lainnya.

“Saya sebenarnya pingin membawa lumpur Lapindo, langsung dari lokasinya di Sidoarjo, namun tidak ada waktu,” kata Bonyong kepada Tempo seusai pertunjukan. Maka Bonyong pun akhirnya harus puas dengan lumpur yang biasa digukanan para seniman patung untuk membuat master patung. Bagi Bonyong, performance ini untuk membuktikan keberpihakannya kepada para korban bencana lumpur Lapindo, sama seperti konsep lukisan karyanya yang berjudul Makan Lumpur.

Lumpur tampaknya menjadi benda favorit para perupa pada acara penutupan Biennale Jogja X di Jogja National Museum, Minggu lalu. Tak Hanya Bonyong, perupa Dadang Christanto juga memanfaatkan lumpur dalam performance-nya bertajuk Survivor. Dadang “memajang” 12 orang yang tubuhnya dilumuri lumpur di atas panggung utama upacara penutupan Biennale Jogja X. Tiap-tiap manusia lumpur itu membawa foto korban bencana lumpur Lapindo. Tanpa berkata sepatah kata pun, manusia lumpur itu bertahan di atas panggung sejak pukul 19.00 hingga acara penutupan Biennale Jogja X berakhir, menjelang dinihari.
Menurut Dadang, Survivor dalam acara penutupan Biennale Jogja X ini merupakan yang ketiga kalinya. Pertama kali Survivor dipentaskan pada peringatan Hari Hak Asasi Manusia Sedunia di Tugu Proklamasi, Jakarta, 10 Desember 2008. Pentas kedua berlangsung di Sydney, 10 Desember 2009. Survivor adalah ekspresi keberpihakan Dadang terhadap para korban bencana lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo.

Survivor, menurut Dadang, mengadopsi budaya tapa pepe pada zaman kerajaan dulu. Tapa pepe adalah aksi diam yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang di alun-alun keraton untuk menuntut keadilan kepada sang Raja. “Tapa pepe biasanya dilakukan jika sudah tidak ada cara lain untuk menyelesaikan masalah,” Dadang menjelaskan.

Pematung Albara–yang karya serial wajah Presiden RI dipajang di titik nol Yogya–tak mau ketinggalan memanfaatkan lumpur. Kali ini “korban”-nya adalah kolektor kondang asal Magelang, Oei Hong Djien. Kejadiannya berlangsung di balik panggung utama penutupan Biennale Jogja X.

“Saya mau membuat patung Pak Hong Djien. Maukah dibuatkan negatifnya? Cukup lima menit saja,” ujar Albara merayu Hong Djien. Kolektor itu mengangguk setuju. Albara pun kemudian membedaki wajah Hong Djien. Namun tiba-tiba Albara membenamkan wajah Hong Djien ke lumpur. Dalam waktu sekejap, terciptalah negatif patung wajah Hong Djien.

Meski terperanjat, Hong Djien sama sekali tak marah. “Edan. Ini bukti senimannya kreatif, cerdas,” kata Hong Djien sembari mengumbar tawa. Hong Djien pun kemudian membubuhkan tanda tangan pada cetakan patung wajahnya itu.
Penutupan Biennale Jogja X juga diwarnai pemberian Lifetime Achievement Award kepada Kartika Affandi dan Ledjar Soebroto. Kartika Affandi adalah putri sulung maestro lukis Affandi. “Selain konsisten dengan dunia lukis hingga saat ini, Kartika Affandi punya tanggung jawab besar merawat lukisan karya Affandi,” kata Soewarno Wisetrotomo, Steering Committee Biennale Jogja X. Sedangkan Ledjar Soebroto adalah kreator wayang kancil. Karyanya bahkan menjadi koleksi di sejumlah museum di negeri Belanda.

Panitia Biennale Jogja X juga memberikan Respect Award untuk Kelompok Sanggar Bambu, Rumah Seni Cemeti, dan Lembaga Kebudayaan Rakyat Taring Padi. Sanggar Bambu dinilai punya peran besar dalam dunia seni rupa di Yogyakarta maupun di Indonesia. Rumah Seni Cemeti dinilai punya andil besar pada dunia seni rupa kontemporer. Sedangkan Taring Padi punya nilai lebih terhadap keberpihakan pada persoalan sosial dan politik rakyat kelas bawah.

heru cn

(diunduh dari http://www.tempointeraktif.com/hg/seni/2010/01/15/brk,20100115-219287,id.html)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: