Tisna, Klungkung, dan ‘Upacara Pralina’

Jum’at, 08 Januari 2010 | 07:41 WIB

TEMPO Interaktif, Puluhan buruh asyik menaikkan pasir ke atas truk pada 29 Desember 2009 di Pantai Lepang, Klungkung. Sambil menggerakkan sekop, mereka meneriakkan sumpah serapah ala penyanyi rap dalam campuran bahasa Bali dan Indonesia. “Utang tak dibayar-bayar”, “Anak sakit sedang sekarat”, “Upah masih kurang”, dan lain-lain.

Paduan bunyi dan suara yang serampangan justru menjadi eksotika tersendiri.
Tak selesai di situ, mereka tiba-tiba bergerak mengambil sejumlah lukisan besar berukuran 1,5 x 2 meter dalam iringan bleganjur (gamelan) yang serempak. Lukisan-lukisan itu merupakan karya perupa Tisna Sanjaya yang pada Agustus 2009 dikuburkan di Pantai Sanur dalam event Sanur Village Festival. Semua lukisan bergaya abstrak, dengan dominasi warna hitam, yang menciptakan ilusi tentang ombak dan kesuraman.

Seniman asal Bandung itu membongkarnya kembali untuk Festival Seni Kontemporer bertajuk “Apa Ini, Apa Itu” di pantai tersebut. “Nanti akan dibakar dan diambil abunya untuk menandai penutupan acara,” kata perupa Wayan Sujana Suklu, yang menggagas acara itu. Dalam tradisi Bali, aksi pembakaran merupakan bentuk upacara Pralina, yang berarti upaya mengembalikan harmoni alam semesta setelah hiruk-pikuk kehidupan terjadi.

Menurut Suklu, perlakuan terhadap karya Tisna merupakan pernyataan mengenai kontemporerisme saat ini. “Ini upaya pencarian makna dari kebingungan demi kebingungan,” ujarnya. Karena itu, festival sengaja tidak mengikat 27 seniman yang terlibat dengan kerangka yang konseptual utuh. Sejumlah karya bahkan dikerjakan langsung oleh warga desa setelah menerima konsep kasarnya dari seniman yang menggagasnya. Catatan restrospektif baru akan dibuat setelah acara selesai pada 31 Desember malam.

Selain Tisna, seniman lain yang ikut tampil adalah Nyoman Sujana Kenyem dengan karya instalasi bambu berjudul Menunggu Angin dan Wayan Sudiarta, yang membangun kubangan lumpur untuk melengkapi atraksinya. Aksi spektakuler juga dilakukan Welldo Wnophringgo, yang mengurung diri selama 53,5 jam untuk berkarya.

Tak kalah seru, penampilan musik kontemporer Ngurah Mahardika, Wayan Pacet, dan Gusti Sudibia dengan 100 gendang jembe-nya. Ketut Suanda, yang selama ini dikenal sebagai pelawak dengan nama Cedil, tampil dalam format pertunjukan yang lain, yakni gubahan musik tradisional kontemporer yang jarang dipanggungkan, apalagi bersamaan dengan melawak.

Beberapa penari unjuk kebolehan untuk merespons seni instalasi karya arsitek asal Yogyakarta, Eko Prawoto, dan beberapa karya seni lainnya. Penari yang unjuk kebolehan adalah Nyoman Sura, Ni Kadek Diah Kristin, Jasmine Okubo (Jepang), dan Deasylina da Ary (Solo). Seniman lainnya yang tampil adalah Agung Gunawan, I Gede Made Surya Darma, Wawan Setiawan Husin, dan Putu Satria Kusuma. Juga Daniel Zacharias (fotografi) dan Joko Dwi Afianto (instalasi).

Yang menarik, kolektor Adi Bachman asal Jerman memamerkan reproduksi karya seniman dunia, seperti Andy Warhol, Francis Bacon, Marc Chagall, Max Ernst, Roy Lichtenstein, dan Pablo Picasso. Repro sejumlah karya masterpiece dunia, yang biasanya bisa dilihat di buku-buku dan museum, dihadirkan di studio Suklu untuk ikut mendorong apresiasi masyarakat terhadap karya seni dunia.

Daniel Le-Claire, art director Festival Seni Kontemporer, mengatakan acara ini berkehendak memberi ruang seluas-luasnya bagi siapa saja yang setiap hari dikepung pertanyaan tentang makna kontemporer. Mereka bisa datang dan terlibat secara langsung sambil terus mengasah pertanyaan dan kemudian menemukan jawabnya sesuai dengan versi masing-masing.

Suklu menyebutkan, acara sengaja digelar di Klungkung, yang selama ini terasa jauh dari hiruk-pikuk kehidupan seni di Bali. Padahal, sebelum Sanur dan Ubud menjadi pusat kesenian, Klungkung telah menjadi mata air kesenian Bali karena merupakan kerajaan tertua di pulau ini. “Di sini kita mendialogkan seni masa lampau dengan seni masa kini,” ujarnya. Kekinian yang tak hanya berasal dari seputaran Bali, tapi juga dari kancah seni nasional dan internasional.

ROFIQI HASAN

(diunduh dari http://www.tempointeraktif.com/hg/seni/2010/01/08/brk,20100108-217919,id.html)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: