Melihat Kembali Mata Hitam Jeihan

Lebih dari 40 tahun figur pada lukisan Jeihan bermata hanya hitam tanpa bola mata. Pada akhirnya figur menjadi bahasa Jeihan yang khas. Mungkinkah ia berubah, di tengah seni rupa Indonesia yang telah berkembang ke mana-mana?

MANUSIA adalah outline atau skema atau garis besar. Itulah pandangan seorang perupa bernama Jeihan Sukmantoro, yang terlihat dari lukisan-lukisannya sejak awal 1960-an. Sosok manusia dibentuk hanya oleh garis tepi, dan tak jarang garis ini pun di beberapa bagian hilang.

Pada pergelaran 50 lukisan yang sebagian besar bertarikh 2009, yang digelar di Bentara Budaya Denpasar, bulan ini, Jeihan masih seperti itu. Yang berubah, dibandingkan dengan karya-karya Jeihan 1960-an sampai akhir 1980-an, adalah ”isi” skema itu. Sosok-sosok di kanvas Jeihan kini lebih lentur, lebih bervolume, tak lagi sekaku dulu. Lalu warna tak lagi muram dan terbatas. Dulu, pelukis jebolan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung ini hanya suka pada oker, merah, hitam, biru, hijau, dan putih. Kini, muncul warna-warna dengan nuansa lebih ceria: kuning, merah jambu, biru muda, dan jingga. Kalaupun ada hitam, ini hitam yang bersih dan cemerlang, bukan lagi hitam yang kelam. Warna-warna yang lebih bening, tulis Putu Fajar Arjana, kurator pameran, dalam katalogus.

Hidup tak lagi kelam, beku, dan berdimensi terbatas. Bagi Jeihan, kini hidup adalah gerak, meriah, dan enteng—setidaknya itulah yang terkesan dari pamerannya kali ini. Karena itu, ia kini lebih sering menampilkan figur yang berteman, tak lagi sendiri dan sepi. Lihat karya Jazz, figur-figur yang asyik memainkan alat musik dengan tubuh yang didominasi biru. Adapun atmosfer ruangan ditampilkannya dengan warna merah muda.

Hal yang sama juga tampak dalam lukisan mengenai dua penari. Warna hijau dan biru yang gelap berseliweran kontras dengan tubuh putih si penari. Warna-warna itu menyiratkan gerak, tapi monoton. Gerak pada dua perempuan putih dengan latar kuning, putih, biru, dan sedikit merah lebih berwarna meski tak seliar pada dua penari.

Yang tak berubah adalah mata itu: tetap hitam kelam (kadang merah atau warna lain) tanpa bola mata. Mata yang tak peduli pada sekitar, mata yang tak melihat dunia luar. Mata yang memberikan kebebasan kepada orang lain untuk tak perlu sungkan menatap sesukanya pada sosok di kanvas itu. Mata yang memberikan hak ”bicara” lebih pada bagian tubuh yang lain. Mata yang ”membekukan” manusia menjadi ”monumen”.

Dari segi teknis, mata tanpa bola mata itu menjaga kesatuan dengan tubuh yang hanya skema, dan latar belakang yang hanya warna.

Jadi apa yang berkesan dari 50 lukisan Jeihan pada pameran ini?

Kurator menangkap bahwa Jeihan saat melukis merupakan aktivitas spiritual. Fajar Arjana membandingkan kegiatan melukis Jeihan dengan tradisi-tradisi ritual manusia purba yang membuat gambar atau simbol sebagai cara menangkap dan memahami keberadaan Yang Mahakuasa. Jeihan belakangan ini lebih religius dan sering bertafakur, tulis Fajar, setelah ginjalnya tak berfungsi dan mesti dilakukan pencangkokan ginjal.

Adapun pengulas seni rupa Jean Couteau, orang Prancis yang tinggal di Bali, menyebut Jeihan sebagai tokoh seni rupa kontemporer yang pada awalnya menginisiasi gaya Barat dalam hal teknis dan pilihan tema, tapi kemudian ia berhasil menampilkan napas Timur. Ini terutama terlihat, kata dia, dari figur-figur perempuan yang menyiratkan narasi tentang kelembutan, kasih sayang, dan dunia yang misterius. Dan soal karya yang lebih bernilai spiritual, menurut Couteau, merupakan kecenderungan umum para perupa Indonesia. ”Setelah mereka sukses, kaya, dan terkenal, apa lagi yang mereka cari,” katanya.

Dari sisi teknis, Couteau melihat warna pada kanvas Jeihan terasa lebih spontan, membentuk bidang. Dengan demikian, lukisan terasa lebih ekspresif dan atraktif. Dulu, bidanglah yang menentukan warna.

Mungkin; tapi menjadi lebih spiritual atau tidak, menyiratkan kelembutan dan kasih sayang atau sebaliknya, yang jelas sosok figur yang skematik adalah bahasa Jeihan yang khas. Dengan sosok itulah ia berbicara tentang keseimbangan, kontras, kekakuan, kelembutan, dan apa pun yang ingin ia sampaikan kepada dunia. Sosok-sosok itu berbeda dengan figur-figur pada lukisan Srihadi Soedarsono. Pada Srihadi, terutama sebelum ia asyik dengan lukisan penari-penari Balinya, figurnya terasa bermuatan pesan, menjelma simbol. Misalnya ada lukisan berjudul Toga-toga Hijau, lalu ada figur wanita dengan warna tertentu: putih, merah, hijau, dan seterusnya. Warna di situ membawa pesan atau menyimbolkan sesuatu.

Pada Jeihan, garis, bentuk, dan warna bicara atas nama sendiri. Tentu saja ada sesuatu yang berkesan dari lukisan itu, tapi sepertinya bukan yang utama, melainkan semacam produk sampingan. Di sinilah kecermatan anatomi menjadi taruhan dan rupanya Jeihan memang sangat menguasai anatomi. Seolah di tangannya telah terprogram anatomi manusia: bila tangan begini, tubuh akan begitu, leher begini, dan seterusnya. Taruhan utama Jeihan pada kanvasnya adalah mata itu, yang mengundang tanya, mengundang keingintahuan. Seperti ia menyembunyikan sesuatu pada mata hitam itu—ada yang misterius di situ. Tapi, tentu, misteri mata itu tak akan ada maknanya bila saja tubuh yang lain tidak tampil, tak dilukiskan dengan akurasi yang hampir sempurna.

Bandingkan lukisan figur Jeihan dengan pemandangan atau alam bendanya. Segera terasa bahwa pemandangan dan alam benda itu sekadar komposisi yang mungkin artistik, seperti hanya dimaksudkan untuk hiasan dinding.

Lantas sampai kapan mata itu menyimpan misteri? Yang jelas, dukungan pada mata misterius itu mesti dijaga. Pada beberapa karya belakangan ini, latar belakang umpamanya, bagian yang ”mudah” dinomorduakan, tak lagi sepadu dulu. Bukan karena warna tak sepenuhnya mengisi bidang gambar, melainkan karena satuan warna yang tak rata dan tak penuh itu terasa tak selesai. Ketika itulah mata mungkin tanpa misteri lagi.

Atau, satu kemungkinan yang lain: hanya mata. Pada lukisan tiga wanita yang sepenuh kanvas didominasi putih sedikit kebiruan, dan di sana-sini ada bercak biru serta hitam, hampir saja lukisan satu ini hanya mata. Tubuh melebur (tak sepenuhnya hilang) dengan latar belakang. Tapi yang seperti ini baru tampak satu di antara 50 lukisan yang dipamerkan. Di samping itu, ada satu-dua karya yang mengingatkan kita akan Jeihan yang dulu, pada masa 1960-an sampai awal 1980-an. Figur yang masif, dengan latar belakang padat, dengan mata yang menyedot perhatian. Ini hanya menunjukkan Jeihan belum selesai. Di masa ketika seni rupa Indonesia telah centang-perenang perkembangannya, Jeihan yang masih setia pada bahasa ”lama” masih menjanjikan sebuah, mungkin, kejutan. Yang diperlukan hanya sebuah jarak dengan karya-karya lamanya. Ia tak perlu membuat repetisi, apalagi pengulangan diri.

(diunduh dari http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/01/11/SR/mbm.20100111.SR132431.id.html)

Bambang Bujono, Rofiqi Hasan

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: