Mendulang Emas di Kampung Halaman

Minggu, 3 Januari 2010 | 03:55 WIB

Mikke Susanto

Sebuah perhelatan seni berlangsung meriah di sebuah kampung di Pantai Klungkung, Bali. Ada upaya memadu ragam kreatif melalui dua situs berbeda: antara kampung tani dan nelayan; juga antara media lumpur dan pasir. Melepas penat dengan karya yang berkualitas.

Lelehan cat kayu itu bercampur keringat tubuh para penampil. Namun, cat hitam dan putih pada belasan tubuh-tubuh kekar itu perlahan mengelupas karena geliat di tanah berlumpur. Maklum, sawah disulap jadi panggung. Tubuh mereka beradu. Ada yang saling banting, menari, juga menabuh genderang.

Adegan mereka serius, tetapi juga diselingi dengan kelakar gestur tokoh yang lain. Permainan mereka diakhiri dengan adegan melukis. Anehnya, selain memakai kuas berupa jerami berapi, dari mulut ”sang pelukis” keluar semburan api ke kanvas. Wow!

Singkatnya, penampilan kelompok Bale Ganjur Orkestra Procession ini berhasil merangkum ragam kreatif, mulai dari seni musik, tari, teater, rupa, hingga bela diri. Dalam kerindangan karya-karya seni rupa Wayan Sujana Suklu, Wayan Sudiarta, dan Joko Avianto, mereka memberi penduduk Desa Lepang, Klungkung, keriangan. Dalam agenda bertajuk ”Apa Ini Apa Itu!” pada 29-31 Desember 2009 lalu, 20-an seniman mengiringi aktivitas kerja para penduduk.

Di hari berikutnya penari Nyoman Sura tak kalah menarik. Bersama satu penari lainnya ia menelusuri setiap karya instalasi yang digelar di sepanjang Pantai Lepang. Gerakan mereka hanya diterangi oleh bulan purnama dan lampu senter yang dipasang pada belitan kain. Aksi Sura seakan mengajak penonton untuk masuk dan merasakan karya seni rupa di keremangan malam bermandi cahaya bulan dan deburan ombak.

Basis alam

Djagad Art House sebagai penyelenggara sengaja ingin memberi suguhan yang berbasis alam. Sajian karya-karya outdoor menjadi penyambung dunia dan situs yang berbeda. Desa Lepang, Klungkung, menjanjikan ruang semacam itu. Desa ini dibelah oleh Jalan Bypass Ngurah Rai yang menghubungkan Denpasar dan kota-kota di Bali timur. Di sisi utara jalan adalah kampung persawahan yang subur. Sedangkan di selatan deretan pantai berjajar menjanjikan keindahan tersendiri.

Para perupa yang diundang secara khusus banyak menyuguhkan medium bambu sebagai sarana utama. Meskipun demikian, ada pula sajian seni multimedia, fotografi, lukisan, seni rupa pertunjukan, dan seni wayang baru. Program yang dibuka Nyoman Artawan (seorang penambang pasir) ini menampilkan antara lain peseni Welldo Wnophringgo, Wawan S Husein, Made Djirna, Agung Gunawan, dan Daniel Kho.

Perupa dan arsitek Eko Prawoto membangun karyanya tepat di bibir pantai. Ia menggubah media ini dengan komposisi yang mirip dengan ruang liburan. Inspirasinya mengingatkan pada tempat tidur turis yang sedang bermandikan sinar matahari. Namun tanpa harus dilihat secara konseptual, karya bambu yang disusun secara geometris itu pun sudah menjadi sarana rekreasi visual yang sangat khas.

Di ujung paling timur terdapat karya Nyoman Sujana Kenyem. Karya yang disuguhkan tanpa judul ini sangat menarik secara teknis. Ia menganyam ribuan cabang bambu kecil yang dirangkai menjadi bentuk seperti ujung kuas. Lima ”ujung kuas” tersebut di-display dengan beragam cara. Ada yang ditopang bambu yang disusun serempak merapat. Ada pula yang ditopang dengan bambu bak garis-garis ekspresif. Karya Kenyem terlihat anggun di tengah pertemuan ujung sungai dan bibir laut.

Tepat di malam terakhir, tampil kolaborasi perupa Nyoman Erawan dan Tisna Sanjaya. Mereka menggelar prosesi pembakaran lukisan Tisna yang sempat dipamerkan dalam Festival Ubud. Selama 20 menit iringan gamelan Bali mengimbangi gerakan tubuh Erawan yang tambun namun lentur, disambung geliat Tisna yang menutup tahun 2009 dengan membakar dan melarung lukisannya ke lepas pantai. Ibarat siklus alam, prosesi ini ingin mengembalikan hakikat keagungan karya kepada Sang Hyang Widhi Wasa.

Hujan yang menghantui sepanjang hari tak menyurutkan penduduk untuk ikut memeriahkan program, yang diikuti oleh peserta dari Indonesia, Malaysia, Jepang, dan Jerman ini. Celotehan yang muncul dari mulut mereka juga menarik. Sepanjang tiga hari penuh gelaran yang berbasis seni multidimensi dan partisipatoris ini terus mendapat respons.

Tak pelak beberapa ibu-ibu maupun anak-anak yang sengaja menonton sering bergumam, ”Apa ne… apa to! Apa ini, apa itu?” Mungkin tak penting lagi penamaan karya bagi mereka. Jauh lebih penting adalah hiburan yang menarik dan bermakna. Inilah ”harta karun” bagi para penduduk. Mereka haus tontonan memikat, dekat, dan murah.

Mikke Susanto Pengajar FSR ISI Yogyakarta

(diunduh dari https://sahabatgallery.wordpress.com/wp-admin/post-new.php)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: