Teguh Ostenrik : WAJAH KARAT DAN SENSASI GEOMETRIS

DUA pameran Teguh Ostenrik tahun ini membuktikan ia adalah perupa yang betul-betul tak mau berkompromi dengan kecenderungan arus utama seni rupa Indonesia. Dua pameran itu adalah deFACEment di Arsip Nasional akhir April dan Wok with Me di Atrium Mal Pacific Place, Agustus.

Mungkin baru pertama kali ada seniman kita yang tertarik membuat karya dari limbah besi pabrik. Dan Teguh memulainya dari Nikko Steel, Cikupa, Tangerang. Pabrik yang berdiri pada 1972 ini sehari-hari memproduksi kawat las listrik. Untuk menjadi kawat las, gelondongan kawat biasa di pabrik ini berturut-turut harus melalui proses giling ke berbagai mesin, mulai mesin pelurus kawat, mesin mixer, mesin oven, sampai mesin pengepakan.

Selama puluhan tahun Nikko Steel bergonta-ganti mesin. Mesin yang rusak dibuang atau dipereteli bagian-bagiannya. Di halaman Nikko Steel terdapat berton-ton tumpukan bangkai mesin bercampur aduk satu sama lain.

Mata Teguh melihat rongsokan itu bisa menjadi suatu karya avant garde. Ia melihat limbah itu bisa didaur ulang menjadi patung-patung kontemporer. Dalam timbunan itu, Teguh melihat berbagai ”ekspresi wajah”. Bagai pemulung, Teguh lalu turun, memilih, menyeleksi sampah besi itu.

Ia merakit, merekatkan, meng-assembling potongan besi satu dan lainnya. Hasilnya puluhan wajah manusia yang rusak, karut-marut, berkarat. Itulah ”paras kita” yang dipamerkannya di gedung Arsip Nasional. Kita bisa melihat bagaimana Teguh jeli memanfaatkan peretelan besi bekas itu. Kemampuan abstraksi Teguh patut dipuji.

Seperti seorang Tjokot di Bali yang tak mengkhianati lekuk kayu, Teguh tak ingin merusak keunikan peretelan itu. Teguh tidak merancang desain patung sedari awal. Semuanya bertolak dari bahan yang ada. Ia menghormati materi. Ia peka melihat dimensi-dimensi.

Ia sendiri turun mengelas. Unsur pertukangannya terasa kuat. Gir-mur bisa menjadi mata, kawat menjadi sungut-sungut dan sulur-sulur, klaker-baut menjadi hidung dan bibir. Dengan berbagai spare part itu Teguh mampu menyajikan berbagai kemungkinan ekspresi wajah yang tak terduga.

Karya kedua Teguh di Pacific Place menggunakan materi tak kalah aneh. Setelah bereksperimen dengan rongsokan besi, kini Teguh bermain-main dengan wajan. Lebih dari 500 wajan digantung dengan senar pancing dari ketinggian 50 meter. Instalasi raksasa ini adalah contoh paling bagus bagaimana karya seni rupa bisa memberikan efek pada ruang publik. Risiko sebuah karya seni rupa yang ditempatkan di mal adalah ia bisa kalah oleh desain eksterior dan interior gerai-gerai mal.

Ini tidak terjadi pada karya Teguh. Karya Teguh sebaliknya, mampu mempenetrasi ruang Atrium Pacific Place. Karya Teguh mampu membentuk ulang ruangan. Instalasinya bukan sekadar hiasan atau aksesori, yang sepintas saja dilalui pengunjung. Melihat karya Teguh, pengunjung bisa merasakan sensasi geometris yang lain.

Naik ke tiap-tiap lantai kita menyaksikan wajan itu menampilkan efek dan panorama berbeda. Bila kita di atas lalu melongok ke bawah, kesannya kita melihat bukan orang-orang yang bergerak lalu-lalang, melainkan wajannya. Bila kita naik lift langsung pencet lantai 6, dari kaca kita lihat seakan-akan wajan-wajan itu jatuh.

Cara kerja Teguh juga tak asal intuitif. Mulanya ia berkonsultasi dengan insinyur dan arsitek Pacific Place untuk mengetahui struktur atrium. Wajan itu digantung di tempat tertinggi Pacific Place yang berbentuk elips. Teguh membagi elevasi elips itu dengan presisi matematis. Ia membagi elips itu menjadi 36 jari-jari. Lalu di setiap jari-jari ia bagi lagi menjadi 12 titik. Tiap titik jaraknya 80 sentimeter. Di tiap titik itulah wajan digantungkan. Pengerjaan instalasi itu memerlukan tiga tukang yang bekerja di atas dan 10 orang di bawah, selama satu minggu.

Keberanian Teguh mengajukan ”selera aneh” ini patut dipuji. Dua karya Teguh ini bisa memberikan warna lain di luar tren rupa kita. Akhir-akhir ini dunia seni rupa kita, misalnya, cenderung didominasi oleh euforia karya fotografis yang bertolak dari teknik apropriasi. Tokoh Monalisa, Che Guevara, Mao, Marilyn Monroe, Jim Morrison, dan lain-lain banyak ditampilkan kembali oleh berbagai pelukis dengan deformasi yang unik-unik.

Tren demikian bukan tanpa sebab. Itu diawali dengan ledakan gaya pelukis Cina. Pascatragedi Tiananmen, dengan teknik canggih-canggih, para perupa Cina banyak menyajikan lukisan pop berwatak poster. Karya-karya itu laku keras di lelang dunia. Pengaruhnya kemudian terasa di sini. Banyak perupa muda kita lalu bereksperimen mengeksplorasi tema demikian. Galeri-galeri kita mendukungnya. Satu-dua memang mengejutkan. Namun, ketika semua ikut-ikutan, terasa kemudian ada homogenisasi selera.

Juga banyak perupa kita yang menggarap tema identitas dan trauma politik. Tema-tema demikian memang laku dalam kuratorial pameran internasional dan menjadi wacana intelektual pascakolonial terbaru. Namun pameran yang menyajikan tema demikian kerap memperlihatkan adanya pengulangan ide sehingga terasa klise.

Teguh tiba-tiba dengan dua pamerannya itu muncul lain. Alumnus seni murni Hochschule der Kuenste, Berlin, Jerman, ini tidak ikut latah. Teguh mengingatkan kita bahwa arus selera seni rupa seharusnya tidak tunggal, melainkan beraneka ragam. Itulah mengapa ia menjadi tokoh seni rupa 2009 pilihan Tempo.

(diunduh dari http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/12/28/LK/mbm.20091228.LK132328.id.html)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: