Mutasi Makhluk-makhluk Made Wianta

Rabu, 02 Desember 2009 | 08:00 WIB

pameran karya  wiantaTEMPO Interaktif, Makhluk-makhluk aneh itu datang lagi. Tapi makhluk-makhluk itu kini mengalami metamorfosis. Bila dulu makhluk-makhluk itu seperti muncul dari retakan-retakan batu candi, pohon-pohon beringin, kolam-kolam berlumut, atau asap dupa, kini mereka seolah-olah menyelam dengan girang ke dunia warna, mencelupkan diri ke sungai permen, menempel di traffic light, berkejaran di etalase plaza, atau muncul dari video billboard.

Pameran tunggal Made Wianta berjudul “SpotLight” di Galeri Nasional, Jakarta, menunjukkan pada diri Wianta terjadi pencarian terus-menerus tiada henti. Wianta hadir dengan wajah baru. Wajah anak muda yang ringan, energetik, dan menyuarakan dinamika pop art. Kita melihat kanvas-kanvas Wianta didominasi warna-warna sangat cerah, merah, hijau, dan jingga.

Di usianya yang sudah lebih dari 60 tahun, Wianta justru tidak ingin berarif-arif menggali identitas tradisi atau apa pun. Ia sebaliknya, membebaskan diri menjadi manusia kota-kota besar dunia. Wianta menamakan pameran besarnya ini sebagai periode Post-Karang Asem. Ini adalah pameran dari hasil pembacaan ulang dirinya atas apa yang telah dicapainya pada periode Karang Asem pada 1970-an.

Periode Karang Asem boleh disebut adalah periode magis Wianta. Kala itu pada 1977, Wianta baru saja pulang dari mengembara di Belgia. Dengan bolpoin atau tinta, Wianta menciptakan drawing makhluk-makhluk surealis. Ia menciptakan makhluk-makhluk dengan gaya sendiri yang mencekam. Imajinya bertolak dari sawah dan hutan-hutan Bali pada 1970-an. Di kertasnya muncul figur-figur antara binatang melata dan dewa yang geraknya tak lazim serta sangat plastis.

“Saya membayangkan binatang-binatang yang lari ke atas pelepah-pelepah karena takut pestisida,” katanya. Saat itu Wianta masih terpukau dengan warna tradisional. “Warna grinsing,” katanya. “Warna kain tenun Bali.”

Drawing-nya saat itu sangat detail dan kaya akan garis, lengkung, serta noktah-noktah. Dengan segera orang melihat Wianta memiliki keterampilan dan ketelatenan tangan yang luar biasa. Karya awal ini diburu para kolektor. Bisa dibilang, akibat karya ini, Wianta langsung ditahbiskan menjadi seorang maestro. Banyak kolektor menunggu Wianta menciptakan lagi karya-karya magis ala Karang Asem. “Saya tidak bisa karena tangan saya sudah gemetar,” katanya. Wianta mengaku, pada 1984, sesungguhnya ia sudah merasa ingin menyelesaikan periode Karang Asem. “Mataku juga tak setajam dulu.”

Publik seni rupa Indonesia selanjutnya tahu bahwa Wianta, kemudian dalam perkembangannya, memasuki apa yang disebut periode geometrik. Dalam periode ini, ia mengolah unsur-unsur segitiga, segi empat, kaligrafi, dan pointilistik. Namun, Wianta mengaku di balik semua itu dalam dirinya mendesak-desak ingin mengeluarkan makhluk-makhluk tersebut. Di mana saja, baik di toilet maupun di kabin pesawat terbang, tangannya bisa spontan melakukan corat-coret mengeluarkan imaji makhluk-makhluk itu di atas selembar kertas atau grenjeng rokok.

Kini makhluk-makhluk itu hilir-mudik di atas kanvas. Sebagian di antaranya dilukis dengan cara memancarkan corat-coret yang dilakukan kapan pun itu dengan menggunakan bantuan sorotan proyektor di atas kanvas. “Ini suatu proses evolusi yang panjang dari 1970-an sampai 2000-an.” Menurut Wianta, bila pada geometriknya semua berdasarkan perhitungan struktur, kini antistruktur. “Saya menafsirkan ulang makhluk Karang Asem dengan kondisi sekarang,” kata Wianta.

Menurut Wianta, makhluk-makhluknya kini adalah makhluk kosmopolitan dan urban. “Makhluk-makhluk yang lepas ke New York dan Tokyo,” katanya. Wianta mengaku terpukau dengan alam warna reklame-reklame atau billboard di kota-kota besar dunia. “Warna jreng, warna bright, sangat provokatif,” katanya.

Menurut dia, warna kota-kota di Indonesia terlalu kelam. “Warna yang mendominasi Jakarta, misalnya, terlalu abu-abu.” Sementara itu, di Berlin, Tokyo, dan New York, ia bisa melihat orang-orang dari sudut warna. Ia mengenang, “Saat duduk di seberang rel, di Paris, saya melihat baju polisi demikian menyala, di New York, taksi kuning melintas di mana-mana.” Dan di keramaian itu mata Wianta melihat macam-macam roh dengan berbagai wujud yang aneh. “Roh-roh itu bukan roh 1970-an yang gentayangan di pinggir sungai, melainkan di traffic light, mal-mal, dan mobil-mobil.”

Wianta mengaku sejak 1990-an sudah ingin memamerkan karya-karya Post-Karangasem ini. Tapi ia masih belum berani. Ia mempertimbangkan kolektor fanatiknya, yang tentu kaget ketika karyanya berubah. Tapi pada 1990-an itu tanda-tanda keliaran tampak pada karya-karya instalasinya. Wianta melukis di rumah jagal, melepas kunang-kunang dalam ruangan, atau menancapkan pecahan beling di kasur.

Di Galeri Nasional, minggu-minggu ini, kita melihat Wianta akhirnya berani menampilkan fase barunya. “Aku mengambil risiko,” katanya. Galeri Nasional olehnya dibungkus terpal oranye. Di puluhan kanvas yang cerah, kita melihat makhluk-makhluk aneh itu seperti otomatis keluar begitu saja dari alam pikiran Wianta. Kita melihat fantasi Wianta menyala-menyala. Ia seperti anak-anak lagi. Bebas, tak takut salah, penuh main-main. Melalui pameran ini, Made Wianta seolah lahir kembali.

Seno Joko Suyono

(diunduh dari http://www.tempointeraktif.com/hg/seni/2009/12/02/brk,20091202-211375,id.html)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: