Merayakan Budaya Urban

Minggu, 27 Desember 2009 | 04:11 WIB

Ilham Khoiri

Perjalanan seni rupa kontemporer Indonesia tahun 2009 membeberkan praktik yang semakin larut dalam perayaan budaya urban. Berbagai pameran digelar di mal sebagai pusat gaya hidup urban, tema diolah dari problem perkotaan, dan estetika visualnya pun tak jauh dari tampilan budaya pop. Apakah efek sampingnya?

Awal tahun 2009 dibuka dengan situasi pasar seni rupa yang lesu. Ini adalah imbas dari krisis keuangan global yang menerpa dunia sejak pertengahan tahun 2008. Berbeda dengan booming pasar selama dua tahun sebelumnya, berbagai pameran dan kegiatan seni kini berkurang. Transaksi makin selektif.

Dalam suasana murung itu, para pemilik galeri mengeluarkan jurus baru, yaitu menggelar pameran di mal. Pusat perbelanjaan dianggap strategis sebagai ajang pameran. Alasannya, mal bercokol di pusat kota, menjadi pusat arus konsumsi masyarakat urban, sekaligus menjadi ruang publik yang ramai.

Kita bisa menyebut ”Art Show: Exhibitions on Contemporary Art” yang diikuti sejumlah anggota Asosiasi Galeri Senirupa Indonesia (AGSI) di Grand Indonesia, akhir April. Meski punya konteks berbeda, sebelumnya Jakarta Biennale XIII 2009 juga telah ambil tempat di Grand Indonesia dan Senayan City. Begitu pula Bazaar Art Jakarta 2009-Indonesian Art Festival di Ballroom I Ritz-Carlton Pacific Place Jakarta, Agustus lalu.

Inisiatif Galeri CG yang mengambil ruang pamer di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, sejak bertahun-tahun lalu belakangan diikuti Edwin’s Gallery dan O House Gallery. Hampir bersamaan, Mon Decor Gallery, Pure Art Space, dan Zola Zolu membuka ruang pamer di City Plaza Wisma Mulia, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Dengan semangat serupa, pameran Indonesian Contemporary Art & Desain ”ArTention HOT/el” juga mengolah Grand Kemang Hotel, Jakarta Selatan.

Tren ini hanya sebagian dari banyak gejala kian larutnya seni rupa kontemporer dalam geliat gaya hidup masyarakat urban. Pameran yang lazimnya berkutat di perguruan tinggi seni, galeri, atau museum, kini diboyong ke mal. Karya seni rupa—patung, seni instalasi, fotografi, obyek, atau mural—bergumul dengan barang-barang komoditas di ruang etalase mentereng.

Tema karya berangkat dari problematik kota. Para seniman melahap realitas budaya perkotaan berikut tanda-tanda visualnya: citra iklan, jalan raya, mobil, gedung-gedung bertingkat, model, fashion, sampai barang dagangan itu sendiri. Gaya visualnya juga menyerap budaya populer, katakanlah seperti gaya realisme fotografi, komik, atau street art alias seni jalanan (terutama grafiti dan mural).

Perluasan

Tren pameran di mal dengan segala ikutannya tadi menjanjikan harapan baru. Bagi para pemilik galeri, langkah ini dinilai bisa menjaga antusisme pasar yang sudah telanjur mekar saat booming tahun 2007 dan 2008. Pertambahan galeri dan kolektor baru beberapa tahun belakangan perlu dijaga agar tidak runtuh lagi oleh lesunya pasar dunia.

”Dengan pameran bersama di mal, kami ingin membuka pangsa pasar baru yang lebih terbuka,” kata Chris Dermawan, pemilik Galeri Semarang sekaligus salah satu ketua AGSI.

Di luar itu, pameran di pusat perbelanjaan bakal mengantarkan praktik seni rupa kontemporer merambah ruang publik lebih luas. Karya seni rupa yang memang semakin bebas batasan dapat hadir nyata di tengah orang banyak. Interaksi langsung antara karya dan khalayak semakin mungkin.

Pengamat seni rupa dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Suwarno Wisetrotomo, menilai, tren ini turut memperluas medan apresiasi seni. Relevansi seni di tengah masyarakat pun diuji lagi. Jika digarap baik, maka perluasan ini dapat menambal kurangnya peran dan infrastruktur museum dan galeri di Tanah Air.

Tren ini juga bisa didorong untuk lebih jauh membenamkan seni pada kehidupan publik kota. Tak hanya di mal, penyajian seni bisa mengolah ruang publik lain, seperti jalanan, gang, terminal, atau sudut kota lain. Dari sisi seniman, mereka dapat bermain dengan menjumput apa saja di sekitarnya, mengolah dengan teknologi terkini (fotografi, digital, atau komputer), lantas menyajikannya secara cair.

”Dengan sikap terbuka, bahkan bermain-main, seniman bisa membuka berbagai kemungkinan baru yang segar,” kata Suwarno.

Paradoks

Hanya saja, tren ini tak lepas dari persoalan. Dengan mengambil tempat di mal, praktik seni rupa terancam semakin larut dalam arus konsumsi. Ketika seni terjebak dalam rutinitas produksi demi memenuhi pasar, sulit lahir karya-karya yang mendobrak kemapanan dan menawarkan pencerahan.

Bagi pengamat seni rupa Enin Supriyanto, pilihan pameran di mal mengandung paradoks. Pada satu sisi, penyelenggara ingin meningkatkan apresiasi dan pendidikan seni bagi masyarakat. Namun, di sisi lain, mal sebagai pilihan tempat pameran itu justru merupakan sarang konsumsi dan komodifikasi yang jauh dari nilai edukasi.

”Di mal, semua hal diukur dari uang, harga, dan merek. Alih-alih dapat menyubversi mal, karya-karya seni malah terserap arus jual-beli. Parahnya, tampilan dan harga karya tadi memang kadang kalah oleh barang komoditas bermerek terkenal, katakanlah seperti Louis Vuitton,” katanya.

Kekhawatiran ini tak berlebihan. Sebagian karya yang dipamerkan di mal memang akhirnya juga digarap bagaikan produk mal itu sendiri. Tampilan akhir karya, misalnya, mengacu pada komoditas di mal yang bersih, manis, dan selesai. Adopsi budaya pop dilakukan tanpa daya kritis, melainkan hanya sebagai tren yang laku dijual dan terus diulang karena permintaan pasar.

”Banyak karya seni rupa sekarang yang cenderung berorientasi produk. Bahasa visualnya kompromis, mudah dimengerti, dan cantik-cantik. Semakin sulit menemukan karya konseptual yang kuat,” kata kurator asal Bandung, Agung Hujatnikajennong.

Enin berharap, semua stake holder seni rupa—mencakup seniman, kolektor, pemilik galeri, lembaga pendidikan, pengamat/kurator, dan museum—menyadari pilihan dan risiko tren seni rupa yang semakin berorientasi kota tadi. Jika situasi ini dibiarkan tanpa kritik, pasar benar-benar akan jadi acuan utama yang menyetir perjalanan seni rupa.

”Idealnya, kita perlu membangkitkan kritik seni rupa untuk menjaga seni rupa kontemporer tetap berada di jalurnya,” katanya.

(diunduh dari http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/12/27/0411096/merayakan.budaya.urban)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: