PAMERAN TUNGGAL alit suaja “TENGANAN”

n175001977567_1343

Dengan hormat kami mengundang Bapak/Ibu?Saudara untuk menghadiri
pembukaan pameran tunggal :

A L I T S U A J A

“Tenganan”

Kurator : HARDIMAN

Kamis, 12 November 2009
Pukul 19.30 WIB

di Galeri Nasional Indonesia
Jl. Medan Merdeka Timur 14
Jakarta

Pameran akan diresmikan oleh :
Bapak Yusuf Susilo Hartono

Pameran akan berlangsung sampai dengan 22 November

———————————————————————————

Esai Kuratorial

TENGANAN

Oleh Hardiman

Tradisi selalu membedakan antara ‘orang dalam’ dan
‘orang luar’, karena partisipasi dalam ritual dan penerimaan terhadap kebenaran formulatif adalah syarat
bagi keberadaan tradisi.
Anthony Giddens, 2003.

PANDANGAN Giddens seperti yang dikutip di atas, segera menyeret ingatan kita pada Bali. Betapa tidak, pulau yang dicitrakan sebagai ‘sorga terakhir’ ini hingga hari-hari ini masih memelihara tradisi di tengah gemuruhnya kebudayaan global. Tentu saja ada sejumlah latar belakang yang menjadikan Bali mempertahankan tradisinya dengan jalan tradisionalisasi diri. Tak pelak, ini terkait dengan sejarah pencitraan terhadap Bali. Banyak dicatat bahwa Aermoundt Lintgens, pelaut Belanda, orang asing pertama yang menjejakkan kaki di Kuta, Bali, Februari 1597. Ia bersama Emanuel Roodenburch, seorang yang berkebangsaan Portugis, melukiskan alam dan manusia Bali sebagai sorga terakhir (the last paradise). Catatan perjalan ini kemudian dipakai Helen Eva Yates untuk membuat semacam panduan tahun 1914 yang digunakan Koninklijk Paketvaart Maatschapij untuk menggaet turis Belanda ke Bali. Yates menyebut Bali dengan enchanted isle, pulau yang memesona. Sebelum panduan tersebut disebarluaskan, turis pertama yang datang ke Bali tahun 1902 adalah Heer H. Perjalanan Van Kol ini melahirkan sebuah buku yang menceritakan perjalanannya selama di Indonesia, termasuk di Bali tentu saja.

Setelah itu, sejumlah orang asing kemudian bertubi-tubi menulis tentang Bali. Salah satu kitab yang termashur adalah Island of Bali karya Miguel Covarrubias (1973). Berbagai hal ihwal Bali banyak pula ditulis orang asing. Tentu saja, ragam tulisan ini pada umumnya mengisahkan wilayah eksotis dalam ranah orientalisme. Bali kemudian (di)tumbuh(kan) menjadi daerah tujuan wisata. Realitas ini diperkuat pula oleh kebijakan pemerintah Indonesia yang memang dengan sengaja menjadikan Bali sebagai daerah kinjungan wisata. Hingga hari ini, menyebut Bali adalah sama dengan melapalkan citra pariwisata.

Konsekwensi yang segera harus dipikul oleh Bali adalah mengukuhkan citra itu. Jalan yang ditempuh Bali adalah melakukan penguatan terhadap citra itu melalui suatu kekhasan. Kekhasan itu, tak lain, adalah tradisi. Bagaimana tradisi dijaga; bagaimana tradisi dipelihara; dan bagaimana tradisi ditumbuhkan, sesungguhnya ini adalah praktik tradisionalisasi diri. Ini semacam tindak simulakra yang dengan berterus-terang memperlihatkan suatu tiruan dari sesuatu yang asli. Apa boleh buat, jalan yang ditempuh ini adalah jalan konstruksi sosial-budaya yang dirayakan oleh segenap pendukung dan pelaku pariwisata.

Banyak hal yang dihadirkan dalam upaya tradisionalisasi diri itu, mulai dari mematut berbusana, mengolah kuliner, menyusun upacara, bahkan hampir seluruh kehidupan itu sendiri. Intinya, upaya ini adalah jalan penjagaan tradisi demi keberlangsungan industri pariwisata. Dalam masyarakat kontemporer hari ini, tak ada yang salah dengan pilihan ini. Bukankah salinan (copy) dari sesuatu atau bahkan dari copy itu sendiri sesungguhnya telah melahirkan obyek-obyek hiperil yang di dalamnya mengalami proses kompresi, dekonstruksi, dan rekonstruksi ruang. Dengan demikian produksi simulasi telah membawa manusia ke ruang baru. Sebuah wilayah yang dirayakan bersamaan dengan laku konsumsi terhadap program televisi, film, dunia maya, dan banyak lagi.

Membaca Legenda dan Jalan Berbatu
Menelusuri Bali, bagi banyak orang, adalah praktik mengkonsumsi yang ‘asli’. Asli dalam konteks Bali adalah tradisi. Apakah tradisi itu? Jika kacamata simulakra yang digunakan, maka sesungguhnya yang ‘asli’ itu adalah copy—bahkan copy dari copy. Begitu gemarnya dunia pariwisata mengkonsumsi yang ‘asli’ itu, maka lahirlah pencitraan tentang yang ‘asli’. Tenganan, sebagai sebuah wilayah budaya, adalah salah satu obyek (juga subyek) yang dihidupkan secara menerus oleh orang dalam dan orang luar. Upaya menghidupkan ini, mulanya mengukuhkan dirinya melalui sastra legenda.

Tersebutlah Tanah Tenganan sebagai pemberian Dewa Indra. Kisahnya bermula dari kemenangan Dewa Indra atas peperangan dengan Raja Mayadenawa yang otoriter. Dunia, karena peperangan itu, dianggap kotor (leteh), karenanya dibutuhkan upacara penyucian dengan kurban seekor kuda. Terpilihkan Oncesrawa, kuda milik Dewa Indra sebagai bakal kurbannya. Kuda yang dianggap sakti itu memiliki bulu putih dengan ekor warna hitam yang panjangnya sampai menyentuh tanah. Kuda yang diyakini muncul dari laut itu, melarikan diri ketika ia tahu bahwa dirinya akan dijadikan kurban. Dewa Indra kemudian menugaskan wong peneges, prajurit kerajaan Bedahulu, untuk mencari Oncesrawa. Rombongan pencari kuda itu memecah diri menjadi dua rombongan. Satu rombonga bergerak ke arah Singaraja, rombongan yang lain bergerak ke arah Karangasem. Rombongan yang bergerak ke aras Karangasem ini menemukan Oncesrawa, namun sang kuda sakti itu telah menjadi bangkai.

Kecintaan mereka terhadap Oncesrawa membuat mereka ingin tinggal di sekitar bangkai kuda itu. Mereka memohon kepada Dewa Indra. Permohonan mereka dikabulkan, bahkan diganjar hadiah pula berupa tanah seluas bau bangkai tercium. Wong Peneges, rupanya ‘cerdik’, mereka memotong-motong bangkai kuda itu dan membawanya sejauh yang mereka inginkan. Dewa Indra mengetahui hal itu, lalu turunlah Dewa Indra sembari melambaikan tangan, sebagai tanda bahwa wilayah yang mereka inginkan sudah cukup. Wilayah itulah yang sekarang disebut sebagai Tenganan Pegringsingan.

Kata ‘Tenganan’ berarti tengen (tangan kanan) dan ‘Pegringsingan’ berasala dari kata gringsing yaitu kain tentun ikat ganda khas tenganan. Kain gringsing yang dibuat dengan teknik ikat ganda ini, di dunia hanya terdapat di India, Jepang, dan Indonesia. Di India disebut kain Patola dengan bahan sutera berwarna cerah: merah, hijau, kuning, biru, ungu, coklat, dan putih. Di Jepang disebut Tekeyokogasuri dengan bahan kain katun berwarna boru indigo dan putih. Sedangkan di Indonesia, terdapat di Tenganan, dengan bahan katun warna putih atau kuning muda, merah, dan hitam.

Keunikan kain geringsing inilah, antara lain, yang menjadikan Tenganan sangat termashur di dunia pariwisata. Ketermashuran ini bertahan berkat praktik tradisionalosasi diri. Lihatlah misalnya, bagaimana Tenganan sanggup menyedot turis setiap harinya karena sejumlah praktik kehidupan dan berbagai benda tradisi selalu dihidupkan di desa terkaya di Bali itu. Selain kain Geringsing, berbagai upacara masuk ke dalam kalender budaya Tenganan. Sebutlah misalnya Usaba Kasa, Usaba Karo, Usaba Ketiga, Usaba Kapat, Usaba Sambah, dan setrusnya adalah upacara tradisi yang hadir dalam wilayah ritual dan kesadaran akan industri pariwisata. Tak hanya itu, di Tenganan hampir semua rumah bertuliskan weaving deminstrarion. Di pinggir jalan utama sejumlah meja memajang prasi (lontar bergambar, serupa komik) yang juga menghadirkan demonstrasi cara membuatnya. Sejumlah warung memasang papan bertuliskan money changer, tentu sembari menjual coca-cola, bier, dan minuman asing lainnya. Desa dengan tradisi megalit ini—ditandai dengan jalan dari susunan batu bertangga—kontras betul dengan serapan benda-benda modern itu. Berkat interaksi dengan orang luar melalui jalan pariwisata, orang Tenganan telah lama terbiasa memakai kompor gas, televisi, video, vcd player, magic jar, komputer, handphone, kamera digital, dan serupanya.

Membaca Tenganan dan Jalan Kritis
Alit Suaja, pelukis muda Bali, sejak 2006 melakukan riset obyek tentang Tenganan. Dalam berbagai kesempatan, ia kerap hadir di Tenganan. Pengamatan terhadap Tenganan dilakukannya dengan jalan mencermati setiap laku budaya di desa itu. Alit Suaja, melalui bantuan kameranya mencatat berbagai peristiwa, orang-orang, benda-benda, dan apa saja yang ada di Tenganan. Proses ini membuat ia memiliki kecanduan pengamatan terhadap Tenganan. Seperti seorang peneliti, ia memilih semacam metode pengumpulan data melalui teknik bola salju. Data yang terkumpul, semakin hari semakin bertambah.

Kecanduan ini membuat Alit Suaja nyaris tertutup perhatiannya terhadap hal lain di luar persoalan Tenganan. Sebutlah misalnya berbagai fenomena sosial budaya yang terjadi di Bali dalam beberapa tahun terakhir ini, tidak membuat ia terangsang untuk melukiskannya. Yang ada di kepalanya hanyalah Tenganan. Alit Suaja bukan berarti menutup diri untuk persoalan lain, ia hanya ingin memfokuskan kajiannya hanya untuk Tenganan. Pilihan ini, setidaknya bisa ia perkirakan untuk bertahun-tahun ke depan. “Kayaknya, Tenganan yang saya amati baru sebagian kecil dari permukaannya saja. Permukaan yang lain, kedalamannya, dan segala ‘rahasianya’ masih belum terjangkau. Tenganan teramat kaya.” katanya suatu hari kepada saya.

Pengamatan Alit Suaja terhadap Tenganan pada mulanya hadir dalam lukisan serupa refleksi belaka. Karya-karya tahun 2006 dan awal 2007 lebih hadir sebagai efek cerminan dari obyek Tenganan. Lihat misalnya Bocah Tenganan (2006). Lukisan ini sungguh-sungguh (hanya) memotret bocah Tenganan dalam balutan busana kebesarnnya. Di latar belakang menjuntai kain khas Tenganan dalam posisi close-up. Bocah Tenganan, tata rias wajah, dan kain khas Tenganan adalah teks tentang Tenganan. Penegasan teks ini dihadirkan melalui sudut pandang close-up kain Tenganan. Teks-teks yang bunyinya sama itu sungguh (hanya) hadir seagai refleksi belaka. Alit Suaja, pada tahun itu masih menghadirkan kekagumannya pada Tenganan.

Serupa dengan lukisan itu, Sendau Gurau (2007) juga memperlihatkan refleksi yang sama. Hanya saja, pada lukisan ini, Alit melakukan eksplorasi teknik dengan menyandingkan sapuan tipis yang statis dengan gumpalan tekstur yang dinamis. Lukisan model ini, sekali lagi tidak menyoal perkara Tenganan yang kaya akan gejolak budaya. Rupanya tahun awal itu, Alit Suaja belum cukup mengumpulkan data dari observasinya.

Tapi, sekitar pertengahan tahun 2007, Alit Suaja mulai tersentuh oleh realitas konsumsi orang Tenganan. Dua lukisannya, Tentang Apel # 1 (2007) dan Tentang Apel # 2 (2007) menghadirkan puisi liris ihwal benda asing (apel) dalam genggaman gadis Tenganan. Apel yang utuh pada Tentang Apel # 1 diamati tiga gadis Tenganan sebagai benda asing yang menyisakan sejumlah pertanyaan. Pada Tentang Apel # 2, benda asing itu telah tergigit. Kendatipun tanpa menghadirkan wajar tiga gadis dalam lukisan itu, terbaca bahwa apel tersebut tetap sebagai benda asing. Gestur ketiga gadis itu menyisakan sifat asosiatif. Bahkan obyek apel dalam lukisan ini memperlihatkan kecenderungan menguatnya ‘diksi puitis’. Begitulah apel telah menjadi semacam konvensi bagi emosi yang kuat. Serupa ini, Soft Drink (2007) juga hadir dalam emosi yang sama.

Yang mengejutkan, tahun 2007, Alit Suaja sudah melihat hubungan intertekstual yang terstimulus dari motif geometris kain Tenganan. Sulur-sulur horizontal pada kain tersebut dibaca Alit Suaja pada asosiasi tentang barcode. Maka, imbuhan angka-angka pada ujung garis horizoltal itu menguatkan keterbacaan sebagai keseluruhan barcode. Bagi saya, lukisan ini serupa menyimpan kesamaan teks yang saling berasosiasi. Lihatlah garis-garis kain dan ikon barcode itu. Dalam batasan Saussure, hubungan asosiatif ini memadukan terma-terma secara in absentia dalam rangkaian memori.

Jalan kritis yang ditempuh Alit Suaja adalah jalan representasi tentang Tenganan. Bahwa sejak lama Tenganan mengukuhkan dirinya pada wilayah tradisionalisasi diri, terlihat pada pilihan simbol yang diajukan Alit Suaja. Lihat misalnya daun dan duri pandan dalam Ikat Pandan (2008), Pandan Berduri (2008), Di Balik Daun Rumbia (2008), atau pagar besi berujung runcing pada Red Aplle (2008). Lukisan-lukisan ini secara visual memang memperlihatkan sifat asosiatif dengan kebertahanan. Duri atau ujung pagar yang runcing segera menyeret kita pasa asosiasi itu. Selain itu, secara kontekstual daun pandan ini adalah inti dari properti upacara Perang Pandan di Tengangan. Desa yang dibangun oleh kisah peperangan ini, dinarasikan kembali oleh Alit Suaja melalui jalan intertekstualitas. Sebagaimana hakikat intertekstualitas yang memperlihatkan tanda yang mengacu pada tanda yang lain, atau suatu teks mengacu pada teks yang lain, maka pada lukisan ini jelas terlihat kutipan atau rembesar sejumlah teks tersebut.

Keleluasaan Alit Suaja dalam membaca Tenganan diperlihatkannya pula melalui pilihan sudut pandangnya yang makin melebar. Tahun 2008 hingga 2009 ini, Alit Suaja tertarik pada persoalan budaya konsumsi yang melanda Tenganan. Seperti yang pernah ditegaskan Baudrillard, konsumsi adalah sebuah perilaku aktif, ia merupakan sebuah paksaan, sebuah moral, konsumsi adalah sebuah institusi. Ia adalah keseluruhan nilai, istilah ini berimplikasi sebagai fungsi integrasi kelompok dan integrasi kontrol sosial.
Lebih jauh, Baudrillard menekankan bahwa masyarakat konsumsi, juga merupakan masyarakat pembelajar konsumsi, pelatihan sosial dalam konsumsi—artinya sebuah cara baru dan spesifik bersosialisasi dalam hubungannya dengan munculnya kekuatan-kekuatan produksi baru dan restrukturisasi monopolistik sistem ekonomi pada produktivitas yang tinggi.

Dalam batasan itulah, budaya konsumsi merembes juga ke Tenganan. Betapa tidak, konsep tentang ‘orang dalam’ dan ‘orang luar’ pada akhirnya memungkinkan lahirnya perbedaan yang tegas. Perbedaan inilah yang menjadi jalan mulus bagi lajunya interaksi yang, antara lain, membawa ‘benda asing’ itu ke wilayah Tenganan. Apa yang ditangkap oleh Alit Suaja, adalah gempitanya proses merayakan budaya konsumsi pada masyarakat Tenganan. Masyarakat tenganan, selain memiliki kesadaran akan praktik komodifikasi objek dan jasa, juga sekaligus menjadi konsumen untuk benda yang datang dari luar. Lihat misalnya Nonton Bareng (2008), lukisan ini memotret sekumpulan gadis Tenganan yang sedang mengagumi dirinya dalam rekaman handycam. Lukisan lain, Trend (2008) secara terbuka menghadirkan gadis Tenganan yang tengah terkagum-kagum pada poster iklan kosmetik. Ada nada kontras yang dibangun Alit Suaja. Di satu sisi, gadis Tenganan dengan rias tradisi berhadapan dengan make-up modern pada poster iklan kosmetik itu. Jarak yang ingin dibangun Alit Suaja adalah pemendekan antara realitas dengan citra yang dibayangkan.

Membayangkan Tas Kulit (2008), The Partner (2009), dan Respect (2009) adalah juga representasi yang diajukan Alit Suaja tentang budaya konsumsi itu. Bagaimana misalnya tanda yang dibangun melalui ikon barcode begitu mudahnya menyeret asosiasi kita terhadap budaya konsumsi. Ada daya kritis yang terbaca dari Respect. Seorang gadis Tenganan dengan kain khasnya yang terlipat di atas kepala dihubungkan dengan sebuah barcode. Pada posisi ini, barcode adalah penegas yang menghadirkan narasi tentang konsumsi. Penegas ini diperkuat pula oleh beraneka warna rambut sang gadis. Ada kesan tentang kemeriahan, dunia glamour, atau hal-hal lain yang berhubungan dengan cara merayakan sesuatu.

Praktik merayakan kemelimpahan budaya konsumsi direpresentasikan Alit Suaja melalui cara penghadiran hiasan emas. Shade (2009) seperti ingin menegaskan bahwa emas telah hadir sebagai sang superior dihadapan orang-orang yang mengecil. Daya kritis yang dibangun Alit Suaja Suaja adalah pemaknaan dengan cara halus melalui jaringan konotatif. Orang-orang misalnya, dibangun Alit Suaja melalui metode drawing yang segera menyeret ingatan kita pada ketidak lengkapan, kesemtaraan, dan kerapuhan. Sementara sang bunga emas adalah sesuatu yang dibangun dengan cara agung, besar, dan bercahaya. Lihat juga misalnya Bali Heritage (2009) yang menjadikan gasis Tenganan sebagai sang imperior dihadapan bunga emas. Nuansa kerapuhan juga hadir dalam Standing Up (2009) dengan sosok lelaki tua yang kendati kekar, ia hanya dibangun oleh metode drawing, sebuah cara yang konotasinya berdekatan dengan kesementaraan. Atau warna-warna yang kerap dipakai dalam dunia citraan komputer seperti pada Gold (2009) dan Wajah (2009) yang juga menghadirkan sifat kesementaraan bahkan maya. Serupa dengan itu, Fast (2009) menghadirkan daya kritis sang pelukis tentang hal yang sama. Hanya saja, pada Fast bangunan konotatif itu dihadirkan dalam tatanan yang bergerak. Apel sebagai benda asing bergerak melintasi wajah sang gadis. Dalam ruang yang tak terbatas, pergerakan apel itu mengkonotasikan ketakterbatasan. Ia (apel) menjadi semakin asing di hadapan gadis Tenganan itu.

Begitulah Alit Suaja yang lahir, study, dan berkarier di Bali, tak seperti dugaan orang, ia bisa membuat jarak dengan Bali. Daya kritis yang diajukannya melalui jalan puitis adalah sebuah tawaran bagi seni rupa naratif. []

Bali, Oktober 2009.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: