Petruk, Seni yang “Berpihak”

Minggu, 25 Oktober 2009 | 02:59 WIB

Kabinet baru pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono jilid dua telah diumumkan. Parlemen pun sudah dilantik di Senayan. Tetapi, tampaknya urusan tidak serta-merta beres. Pekerjaan rumah, tantangan, ”utang” persoalan masih menumpuk.

Rakyat tak sabar menunggu hasil kerja mereka. Melalui sosok Petruk, punakawan dari dunia wayang, giliran rakyat kini ”menagih” janji-janji yang pernah dihamburkan oleh para pemimpin di masa kampanye. Inilah tema pameran seni rupa bertajuk ”Petruk Nagih Janji” di Balai Soedjatmoko, Solo, 18-25 Oktober 2009. Sebelumnya, karya-karya ini dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) pada 1-7 September 2009.

Satu karya tiga dimensi setinggi 2,5 meter berupa kepala Petruk berhidung panjang dan rambut berkucir, yang terbuat dari sambungan-sambungan pelat logam stainless dan teronggok di sudut teras balai, segera mencuri perhatian. Dari mulut Petruk yang ompong bermuntahan ”kata-kata”. Karya bersama sejumlah perupa yang tergabung dalam Kelompok Hitam Manis ini berjudul ”Sumpah Serapah”.

Petruk tampaknya bukan cuma simbol rakyat yang tertindas dan tertipu. Dalam tafsir 20 perupa, salah satu anak Semar yang lucu dan kadang sok tahu itu juga bisa menjadi simbol manusia yang mudah lupa daratan dan berlaku mencla-mencle. Nasirun lewat ”Dasar Petruk” melukiskan Petruk yang nangkring di atas kursi (jabatan?); atau pada ”Piye Janjimu” karya Slamet Riadi yang menggambarkan Petruk sebagai Ratu yang menyandang pethel sambil mengisap cerutu.

Berpihak

Adapun lakon ”Petruk Nagih Janji” sendiri mengisahkan Petruk yang menagih janji karena berhasil mengalahkan raksasa bernama Kaladaru yang mengacau Kahyangan. Dewa berjanji akan memberikan bidadari untuk diperistri Petruk, tetapi tak ditepati. Maka, Petruk pun marah dan tiwikrama sebagai raksasa. Ini tergambar pada karya Subandi Giyanto yang menyajikan teknik tatah sungging wayang tradisional.

Dengan menyodorkan satu tema tertentu, pameran yang digalang BBY membuktikan bahwa itu tidak selalu membatasi kreativitas dan imajinasi seniman. Lewat konsep ini, BBY yang sejak 1982 konsisten berpihak pada ekspresi-ekspresi budaya yang terpinggirkan, hakikatnya merupakan rekaman aspirasi masyarakat dan catatan sejarah.

Dari sejumlah pameran yang diadakan BBY—semisal ”Kere Munggah Bale”, ”Rai Gedek”, ”Petruk Nagih Janji”—berada dalam satu napas: gugatan kepada politik kekuasaan yang membuat demokrasi ”keblinger”.

Bersandar pada vox populi vox dei (suara rakyat adalah suara Tuhan), BBY ”meminjam tangan” para seniman untuk menggugah kesadaran masyarakat akan eksistensi rakyat dan hak-haknya. Rakyat yang disebut-sebut dalam pidato penuh retorika—saat pemilu, pilpres, pileg, atau pilkada—dilupakan ketika kekuasaan telah di tangan.

Dengan itu, BBY telah melahirkan genre ”seni yang berpihak”. Mengingatkan tentang rakyat, hakikatnya mengingatkan eksistensi manusia. Humanisme sebagai landasan berkesenian, menyadarkan bahwa seni menyimpan idealisme, sehingga seniman tak mudah terseret ideologi pasar, begitu kira-kira.

Tema ”suara rakyat” ini melahirkan beragam imajinasi dan gaya estetika. Karya Heri Dono, ”Kampanye Partai Binatang”, misalnya, melukiskan segerombolan anjing melet yang menyimak pidato berkobar-kobar makhluk aneh berkaki empat. Itu pasti sindiran tentang sistem politik kita, seperti juga karyanya ”Banteng yang Terluka”; menggambarkan banteng ngamuk dengan punggung tertancap panah—tebaklah sendiri.

Beragam ekspresi lahir dari sini. Dari lukisan wayang tradisional karya Sulardi dan RM Poerwasasmita, lukisan kaca ”Mana Janjimu” (Sulasno), hingga gagasan kontemporer seperti pada ”Ingkar” (M Darmo Budi), atau ”Pak Bengis” (Lulus Santosa). Di samping beragam teknik seperti cukil kayu ”Bola Bali Mangan Ati” (AC Andre Tanama), dekoratif modern ”Sirkus Gugat” (Bonny Setiawan), bergaya ilustratif ”Petruk Tapa Bisu” (GM Sudarta), dua dimensional ”Petruk and The Liar” (Donna Prawita Arisuta), hingga karya instalasi ”Ngenteni Ndog Blorok” (Bambang Heras).

(Ardus M Sawega)

(diunduh dari http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/25/02594645/petruk.seni.yang.berpihak)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: