Memilih atau Mencipta Presiden?

Minggu, 11 Oktober 2009 | 03:00 WIB

Wayan Kun Adnyana

Perupa Pande Taman kelahiran kampung turis Desa Peliatan Ubud tahun 1970 memilih Dusun Jagalan, Muntilan, Jawa Tengah, sebagai tempat tinggal sekaligus studio kreatifnya. Jagalan tentu saja bukan sebuah kota, melainkan pedesaan yang sejuk, dengan sisi sekitar tetumbuhan hijau dan bukit-bukit. Pun, Taman beranjak dari komunitas perupa-perupa alumni ISI Yogyakarta yang kebanyakan bermukim di seputaran Nitiprayan, Bantul, Yogyakarta. Berjarak dari Bali juga sedikit berjalan menjauhi Yogyakarta, sosok yang lahir dari trah ahli keris dan alat persenjataan tradisional Bali ini seakan menempa diri dalam sunyi.

Sunyi bagi Taman adalah bara yang membakar jiwa kreatifnya. Sunyi pula yang mengobati dia dari kondisi-kondisi psikologisnya yang guncang. Taman sebagaimana dituturkan kurator Suwarno Wisetrotomo dalam katalog pameran tunggal Taman di Komaneka Gallery, Ubud, ”… tiba-tiba meminta dan memutuskan pulang, balik ke Bali, begitu pesawat yang ditumpanginya tiba di Bandara Chek Lap Kok, Hongkong. Beruntung Koman Wahyu Suteja yang mengajak Taman mampu menenangkannya dari suasana gegar seperti itu”. Taman memang acap kali teringsut dalam kondisi kejiwaan yang tidak menentu. Di Taman Jiwa—begitu Pande Taman memberi nama studionya—perlahan kepungan suasana psikologis ”chaotik” tadi, ditata, dipertanyakan kembali, disadarkan, pun diajak berdialog ke persoalan sosiologis makro kehidupan. Taman melahirkan karya dari proses terapi atas dirinya sendiri ini.

Membaca karya-karya Taman pada pameran tunggal bertajuk ”Taman (the garden)”, 25 September-25 Oktober 2009 kali ini, saya tertuju pada pertanyaan hakikat hak perilaku individu dan kolektif dalam membentuk konsensus, keidealan, dan bahkan ihwal kebenaran khusus. Perupa peraih penghargaan Excellent Achievement Award, Bali Biennale 2005 ini selalu membeberkan berpuluh, bahkan beratus muka manusia untuk menyuratkan subyek tertentu. Tema di setiap karya merupakan identifikasi wujud figurasi yang muncul dari tumpahan, jejeran, dan tumpukan kepala-kepala manusia dengan wajah nyaris tanpa ekspresi. Raut muka terlihat semuanya datar, dingin, tanpa senyum ataupun tangis. Contoh paling gamblang, lihat karya lukisnya yang berjudul ”Siapa yang Ingin Jadi Buddha?” (200 x 150 cm), atau ”Siapa yang Ingin Jadi Presiden?” (200 x 250 cm), siluet wajah Buddha dan Presiden dibentuk oleh deretan beratus muka manusia anonim.

Kedua karya ini mengernyitkan pemikiran saya tentang interaksi perilaku sosial dengan perilaku individu. Suatu hal, taruhlah sesosok presiden, sesungguhnya bukan dipilih oleh komunitas sosial sebuah negara, melainkan dibentuk dan diciptakan oleh perilaku sosial dominan. Jargon pemilihan umum, yang selama ini kita kenal, tidak lebih hanya sebagai peristiwa kebahasaan. Karena sesungguhnya memang presiden bukan ditentukan semata saat proses pemilihan umum, melainkan telah dibentuk dan diciptakan jauh-jauh hari oleh perilaku konsumsi, selera, pemikiran, ide-ide, juga cita-cita komunitas sosial dominan. Pemahaman ”dominan” tentu menunjuk pada relasi ”kawula-gusti”.

Karya-karya patung Taman juga sebentuk dunia kerumunan yang tanpa nama. Tubuh-tubuh berjejal, menumpuk, dalam berbagai fragmen kehidupan. Lihat karya patungnya berbahan kayu, ”Memetik Buah Surga” (110 x 235 cm) menggambarkan tubuh-tubuh manusia berbaris-sesak menghamba sesuatu. Karya ini mengesankan betapa keterkaitan perilaku konsumsi secara otomatis mencipta sebentuk habitus.

Pendek kata, kegelisahan dan keputusan Taman untuk berjarak dari interaksi sosial paling kompleks seperti Ubud akhirnya memang memuarakan kesejatian. Kesejatian yang mengarah pada kesadaran dan keseriusan untuk selalu melakukan pembertanyaan atas perilaku sosial hari ini.

Kehilangan kelakar

Beranjak menuju pertanyaan sosial, bagi Taman bukannya tanpa risiko. Secara tematis, karya-karya Taman kali ini kelihatan kehilangan kelakar, rasa humor, dan hal yang terkait dengan upaya ekspose perilaku individu. Kalau dalam lima tahun sebelumnya secara terang benderang, Taman mengajukan gugatan penuh satiristik tentang perilaku tubuh-tubuh personal. Semisal Taman memberi judul sebuah karyanya ”Aku Bukan Anjing” (2001) yang semata untuk menegaskan subyek karyanya itu memang sesosok binatang berbelalai selayak gajah. Boleh jadi logika satiristik seperti ini terilhami dari bagaimana Rene Magritte, terutama pada karyanya tentang ”Bukan Cangklong”, padahal jelas subyek karyanya tentang cangklong rokok, tetap saja kehendak untuk mengolok-olok antara batas kenyataan dan imaji telah dibersitkan Taman.

Atau seri karyanya yang bertajuk ”Don’t Put Head on Your Head” yang secara bergurau menertawakan diri pribadi dan karib sesama perupa dengan meminjam wajahnya berikut ia bubuhi gambar-gambar binatang seperti kura-kura, babi, dan monyet tepat di kepala. Teman perupa yang dilukis seperti itu hanya bisa tersenyum melihat ulah nakal Taman itu.

Upaya membangun relasi antara perilaku individu dan perilaku sosial dominan barangkali sebuah tawaran yang menarik untuk dilalui Taman pada hari esok. Bagaimanapun, di dalam sebuah komunitas komunal membutuhkan kelahiran patron baru, yang menawarkan perilaku pemikiran liyan, sebelum semua sisian sejarah ruang kolektif terjerembab dalam dekadensi berkepanjangan. Tanda-tanda terbangunnya ruang individu pada ruang sosial terbaca ketika muncul sosok, tokoh, dan juga pahlawan. Sekiranya seniman berkesempatan untuk mengorbitkan perilaku berpikir liyan yang menyosok itu.

Wayan Kun Adnyana Pengajar Seni Rupa di FSRD ISI Denpasar

(diunduh dari http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/11/0300225/memilih.atau.mencipta.presiden)

  1. #1 by Sahabat Gallery on October 24, 2009 - 12:35 pm

    Terima kasih pak Amar infonya, maaf sy bukan/belum menjadi kolektor. salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: