“Six Masters”, Jalan Lain Perupa Bali

Minggu, 6 September 2009 | 02:59 WIB

Putu Fajar Arcana

Di tengah dominasi kultur tradisi Bali yang digadang-gadang sebagai investasi pariwisata, seni rupa menjadi medan paling terbuka terhadap berbagai eksplorasi. Sejak persentuhan awal dengan modernisme yang dibawa para perupa Barat pada awal tahun 1930-an, seni rupa Bali terus bergerak hingga mencapai bentuk paling kontemporer.

Seniman seperti Made Wianta, Made Budhiana, Chusin Setiadikara, AS Kurnia, Sutjipto Adi, dan Mangu Putra boleh disebut enam perupa yang menjadi simpul penting dalam perjalanan seni rupa urban di pulau itu. Kendati kental berada dalam kungkungan tradisi, Made Wianta, Made Budhiana, dan Mangu Putra bagai melompat begitu saja untuk kemudian hadir dengan karya-karya yang tampak begitu jauh dari entitas kultural di mana mereka berasal. Sementara tiga nama lainnya, Sutjipto Adi, AS Kurnia, dan Chusin Setiadikara, adalah para perupa yang datang dari kota-kota yang kental diwarnai budaya urban di Jawa.

Karya-karya mereka bisa disimak dalam pameran bertajuk ”Six Masters From Bali” di Maha Art Gallery Bali, 22 Juli-22 September 2009. Pameran ini ibarat pelacakan jejak-jejak urban di dalam konstelasi seni rupa Bali. Selain itu, lokasi di mana Maha Art berada sangat tajam meruapkan aroma urban: seni murni yang berkesan reflektif dipertemukan dengan ”kultur” bermain golf di sekitar kompleks Hotel Bali Beach Sanur.

Pada awal keberangkatannya sebagai perupa, Made Wianta sempat mengadopsi teknik perupaan klasik Kamasan dengan obyek rupa makhluk-makhluk ”gaib” yang barangkali hanya hidup dalam angan. Tetapi, sesudah periode Karangasem itu, seniman asal Desa Apuan, Tabanan, Bali, ini seperti menghapus jejak tradisi Bali di dalam karyanya. Ia sepenuhnya bergulat dengan permainan ruang dan komposisi seperti tampak dalam periode Triangle dan Kaligrafi. Bali ia serap sebagai nilai yang lebih lentur jika harus dipertemukan dengan pengaruh kultur urban perkotaan. Itu misalnya tampak dalam beberapa kali pameran dan performance art yang ia gelar. Dasar-dasar arsitektur sebagaimana ada dalam pedoman klasik Asta Kosala Kosali, ia jinakkan sedemikian rupa sebagai patokan untuk bekerja pada kanvas.

Perupa lulusan ISI Yogyakarta, Made Budhiana, bahkan tetap menumpukan kekuatan karyanya pada garis-garis spontan yang menyerupai sketsa. Sementara, menurut peneliti kebudayaan asal Perancis, Jean Couteau, seni rupa Indonesia umumnya tidak pernah mengenal sketsa sebagai unsur pembentuk perupaan secara keseluruhan.

Agaknya, bisa dipahami mengapa Budhiana sebagai satu-satunya perupa Bali setidaknya yang tergabung dalam Sanggar Dewata meloncat meninggalkan citraan-citraan abstrak ekspresionistik yang membungkus Bali secara simbolik. Ia memang kelahiran kota Denpasar, tepatnya di sekitar Jalan Veteran, jalan yang pertama-tama berhadapan muka dengan kultur urban di Bali. Di jalan itu terdapat Hotel Bali, hotel pertama pada masa kolonial, yang begitu pekat mendesakkan gaya hidup turistik sampai kini.

Kutub lain

Ketika pertama kali hadir sekitar 10 tahun yang lalu, Mangu Putra sudah memilih jalan berbeda. Ia tidak merunut bentuk-bentuk abstrak untuk membungkus simbol-simbol Bali, tetapi menghadirkan impresi-impresi alam, terutama gunung. Alam ia hadirkan sebagai kekuatan penyeimbang kehidupan manusia sebagaimana ada dalam filosofi hidup orang Bali. Tema-tema lingkungan ini bisa menjadi alasan mengapa kemudian pada periode berikut, religiositas dan tema-tema kritik sosial mewarnai karya-karyanya.

Pada karya berjudul Reverence, perupa kelahiran Sangeh, Badung, ini melukiskan lima biksu bersujud takzim pada Mount Everest (gunung). Pengalaman perjalanannya ke Tibet telah mempertemukan Mangu pada Bali, yang dalam pandangan hidupnya menganut keseimbangan antara laut dan gunung.

Tiga perupa lain, Chusin, AS Kurnia, dan Sutjipto Adi, adalah perupa-perupa perantauan yang sejak awal menjejakkan karya-karya mereka pada kultur perkotaan dengan segala problem kemanusiaan, termasuk religiositasnya.

Chusin, misalnya, berangkat melukis dengan realisme fotografik menghadirkan karya ”Innocence”. Ia memotret wajah seorang bocah yang terselip di antara pinggang kedua orangtuanya. Wajah yang menampakkan pandangan kosong, tanpa pertanyaan, berada antara kepoloson dan ketiadaan harapan. Bukankah visualisasi semacam itu menjadi dramatisasi terhadap kekerasan hidup di perkotaan?

Kendati lebih berkesan reflektif, Sutjipto dan Kurnia juga memilih ungkapan-ungkapan realistik pada karyanya, jenis karya yang sangat populer pada perupa-perupa kontemporer.

Bolehlah kemudian disebut enam perupa ini menjadi kutub lain dalam perjalanan seni rupa di Bali. Mereka tidak saja menemukan gaya ungkap personal yang spesifik, tetapi telah mendorong satu kultur perkotaan yang menyelusup di tengah dominasi tradisionalisme. Kendati terjepit oleh berbagai kecenderungan perilaku yang ”menguduskan” investasi turisme, enam perupa ini pelan-pelan membangun jalan estetik ”baru” untuk menjangkau pusat-pusat peradaban seni rupa dunia.

(diunduh dari http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/06/02593742/six.masters.jalan.lain.perupa.bali)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: