Menampilkan Wajah Agama yang Berbudaya

Minggu, 6 September 2009 | 03:45 WIB

Ilham Khoiri

Ramadhan di Tanah Air selalu dirayakan dengan berbagai kegiatan budaya bernapaskan Islam, termasuk pameran seni rupa islami. Bisakah ekspresi estetik agama ini melampaui jebakan simbol-simbol sempit, lalu mengulik spirit ajaran yang lebih mencerahkan?

Gue banget. Tidak handmade, uang kembali”. Kata-kata itu ditulis dengan kaligrafi Arab bergaya naskhi. Di bawahnya, terpampang lukisan potret diri Asmudjo Jono Irianto dengan topi dan kaca mata bulat. Ada lagi tulisan, juga pakai aksara Arab, berbunyi ”Gue banget”.

Lukisan Asmudjo itu adalah salah satu karya yang cukup mengusik pada pameran seksi ”Islamic Art” dalam rangkaian ”Bazaar Art Jakarta 2009-Indonesian Art Festival” di Ballroom I Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta, 28–30 Agustus. Pameran hasil kerja sama Bazaar Jakarta dan Art Sociates Bandung ini digelar pada awal Ramadhan tahun 2009.

Mengapa mengusik? Karya itu mengkopi tren lukisan kontemporer yang gemar menampilkan potret diri dalam citra realisme-fotografis. Anehnya, potret itu diimbuhi teks kaligrafi Arab yang tidak menukil ayat Al Quran atau hadis sebagaimana lazimnya lukisan kaligrafi Arab. Kaligrafi di situ justru berisi kata-kata ledekan tadi.

Karya ini seperti hendak membebaskan kaligrafi yang dianggap sakral karena menjadi bagian dari Islam. ”Padahal, kaligrafi itu tulisan yang dapat menuliskan apa saja, termasuk kalimat ’Tidak handmade, uang kembali’. Itu kritik saya atas praktik seni rupa kontemporer yang mengejar citra fotografi, tapi dikerjakan secara manual,” kata Asmudjo.

Ada lagi karya Agus Bakul, berjudul ”Doa Aman dari Bahaya”. Meski mengutip petikan doa sakral, kaligrafi Arab di situ ditorehkan secara bebas, lepas dari kungkungan gaya klasik— katakanlah seperti naskhi, tsuluts, atau dewani. Seniman ini menuliskan aksara dengan sapuan kuas ekspresif, warna-warni, dan bertumpuk-tumpuk sehingga memunculkan citra aksara antara terbaca dan tak terbaca.

Upaya lain digarap Irman A Rahman dengan melukis kata bahasa Arab Iqra dengan tulisan Latin. Ada juga karya foto, drawing, dan grafis. Sejumlah karya sudah dikenal umum, seperti Achmad Sadali, AD Pirous, Agus Kamal, Sunaryo, Hanafi, atau Tisna Sanjaya.

Meski berskala terbatas, pameran ”Islamic Art” dengan kurator Zaenudin Ramli ini memperlihatkan geliat segar dalam praktik seni rupa Islam. Pendekatannya lebih bebas, santai, dan tanpa terbelenggu simbol-simbol klise.

Upaya menggamit spirit Islam dalam dunia seni rupa modern menguat sejak tahun 1970-an. Pada masa awal Orde Baru, masyarakat mulai mencecap optimisme kehidupan lebih baik setelah didera huru-hara politik tahun 1965. Tumbuh gairah mengangkat spiritualitas religius sebagai ekspresi seni rupa modern sekaligus menguatkan identitas keindonesiaan.

Achmad Sadali dan AD Pirous, dua dosen seni rupa ITB Bandung, memelopori gerakan ini. Sadali menyuguhkan lukisan abstrak bernuansa religius, sedangkan Pirous menekuni lukisan kaligrafi Arab. Terobosan ini memicu tren lebih luas, seperti lukisan batik berkaligrafi garapan Amri Yahya di Yogyakarta dan lukisan surealis kaligrafi Arab gaya Amang Rahman di Surabaya.

Hingga akhir 1980-an, ekspresi seni rupa Islam lekat dengan kaligrafi Arab. Citra itu mencair saat Festival Istiqlal (FI) I tahun 1991 dan FI II 1995 menggelar karya seni rupa Islam dalam spektrum lebih luas. Tak berkutat pada kaligrafi Arab, ratusan seniman menyuguhkan beragam karya dan tema: dua dimensi (lukis, grafis, foto, dan drawing), tiga dimensi (patung dan keramik), seni instalasi, serta seni pertunjukan.

”Karya seni rupa bisa disebut islami apabila sesuai dengan nilai-nilai keislaman yang bersumber dari Al Quran dan hadis. Untuk itu, tersedia begitu banyak tafsir. ”Demikian catat tim kurator FI II tahun 1995.

Sayang, setelah itu, hampir tak ada lagi perhelatan seni rupa Islam berskala besar dan dengan konsep kuat. Ekspresi seni Islam muncul sporadis lewat sejumlah pameran setiap Ramadhan. Itu pun didominasi kaligrafi Arab dengan pendekatan estetik monoton.

Ekspresi Islam akhirnya berputar pada simbol-simbol yang dangkal dan sempit. Saat bersamaan, muncul kelompok-kelompok radikal yang membeberkan wajah Islam yang keras, eksklusif, serta hampir antiperbedaan dan keberagaman. Belum lagi isu terorisme yang kerap dikaitkan jihad Islam.

Perluasan

Pameran ”Islamic Art” di Pacific Place menjanjikan harapan baru. Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar, seniman Muslim di sini ditantang untuk menggali nilai keislaman sebagai ekspresi seni secara lebih terbuka. Islam tak harus diungkapkan lewat lambang-lambang ritualistik (ibadat), perjuangan politik (siyasah) garis keras, dikungkung hukum formal (fiqh) halal-haram, atau sesuatu yang kearab-araban saja.

Seniman bisa melampaui semua itu, lantas menyelami spirit agama yang lebih universal, penuh nilai kemanusiaan, ketuhanan, dan pembebasan. Di sinilah, wajah agama bisa muncul dengan indah.

(diunduh dari http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/06/03455640/menampilkan.wajah.agama.yang.berbudaya)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: