Dunia Rumput Ito

Minggu, 6 September 2009 | 02:58 WIB

Ilham Khoiri

Ketika banyak pelukis sibuk merayakan ingar-bingar kehidupan urban, Ito Joyoatmojo (51) menelusuri dunia rerumputan yang bersahaja dan tampak remeh. Selain pesona teknik realisme-fotografis, apalagi yang menarik dari karya pelukis Indonesia yang tinggal di Swiss itu?

Ito berpameran tunggal bertajuk ”Allegorical Flatness Painting” di SIGI Arts Gallery, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, 4-12 September. Pameran menampilkan 14 lukisan, video, dan beberapa foto dokumentasi. Di antara karya-karya itu, lukisan rerumputan, semak, atau bebungaan mudah memikat perhatian.

Lukisan itu rata-rata menampilkan rerumputan secara realis, sangat rinci, dan dibesarkan dalam ukuran dua-empat kali lipat dari aslinya. Begitu detailnya gambar itu sehingga kita dihadapkan pada seluk-beluk rumput yang ternyata lebih kompleks dari bayangan kita selama ini.

Ambil satu contoh, lukisan ”Jombang” buatan tahun 2005. Karya ini menggambarkan rumput gajah mini. Ukuran aslinya mungkin sekitar 30 cm x 50 cm persegi. Di atas kanvas, gambar itu dibesarkan menjadi 100 cm x 150 cm.

Bagaimana hasilnya? Ada hamparan rumput gajah mini dengan detail mengagumkan. Kita bisa menangkap bentuk daun rumput yang lonjong-hijau dan bertumpuk-tumpuk; batang rumput berwarna yang kecoklatan dan menyelip-nyelip di antara dedaunan; atau akar rumput yang tercerabut. Beberapa daun rumput yang mengering berwarna kekuningan.

Di sela-sela bentuk seragam rumput gajah mini, tumbuh bermacam gulma liar. Tampak pula tanah liat di sela-sela rumput yang merenggang. Semuanya dihadirkan secara persis.

Begitu mirip lukisan itu dengan aslinya, bahkan lebih rinci dan lebih besar dari pandangan mata biasa, sampai-sampai pemandangan di atas kanvas itu mirip citraan hasil tangkapan kaca pembesar. Saat memandang itu, kita tergoda bertanya, apakah ini lukisan atau foto?

Diamati dari jarak dekat, garis atau warna pada kanvas memperlihatkan karakter goresan dan perpaduan warna dengan tangan. Namun, jika kita menjauh, katakanlah dari jarak sekitar satu meter, goresan itu melebur dalam bangunan citra fotografis yang sangat realistik. Pencapaian visual semacam ini memenuhi semua karya tentang rerumputan, semak, atau bebungaan.

Seperti mesin

Bagaimana Ito melukis sedetail itu? ”Lukisan itu berangkat dari foto yang dilukis. Saat melukis, saya memperlakukan diri bak mesin cetak dengan menuangkan warna berdasar lapisan warna CMYK: cyan, magenta, yellow, and key (black),” kata seniman jebolan seni lukis IKJ Jakarta itu.

Ito biasanya mengambil foto rerumputan secara acak. Image itu dimasukkan dalam komputer, lalu disorotkan dengan alat proyektor ke atas kanvas. Berdasar proyeksi itu, dia buat gambar hitam-putih yang sangat rinci sebagai dasar lukisan.

Lukisan itu lantas diwarnai secara bertahap dengan panduan warna dan bentuk dari komputer. Awalnya, bidang dilaburi lapisan warna cyan (kebiruan). Kemudian dituangkan lagi warna magenta (kemerahan), lalu yellow (kuning). Warna-warna itu disapukan dalam keadaan cair agar bisa bercampur satu sama lain. Pertemuan berbagai lapisan warna itu menghasilkan warna akhir secara alamiah.

”Di atas kanvas, tak ada warna yang lebih penting atau kurang penting. Semuanya tampil bersamaan secara demokratis,” papar lelaki yang menetap di Swiss selama 20 tahun lebih itu.

Setelah menikmati sensasi realisme-fotografis dan memahami teknik pembuatannya, lantas apa yang bisa kita tangkap dari lukisan Ito? Mungkinkah kita memperoleh cerita atau makna khusus dari hamparan rumput, semak, atau bunga?

Terus terang, lukisan-lukisan itu jauh dari narasi, bahkan seperti sengaja menjauhkan diri dari beban makna. Lukisannya hanya menenggelamkan diri pada sensasi visual dari alam liar yang punya keindahan bersahaja. Tak terasa hasrat untuk menyisipkan makna atau merepresentasikan hiruk-pikuk manusia urban sebagaimana lazimnya lukisan kontemporer.

Bagi kurator pameran, dosen seni rupa ITB Bandung, Asmudjo Jono Irianto, lukisan Ito mengusung kedataran (flatness). Dalam konteks kehidupan kontemporer, itu bisa jadi semacam alegori dari kebudayaan yang dangkal.

”Ito membebaskan diri dari seni rupa kontemporer dengan masuk dan mensubversi dari dalam. Karya-karyanya mengingkari stereotip seni lukis kontemporer,” catat Asmudjo dalam katalog pameran.

(diunduh dari http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/06/02583429/dunia.rumput.ito)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: