Wajan-wajan yang Melayang

Sekitar 500 wajan melayang di atas kepala. Wajan-wajan itu digantung dengan tali senar pada atap gedung di atas lobi atrium Pacific Place, Jakarta, setinggi tujuh lantai. Perabotan masak itu tampil berbeda karena sudah dimainkan: dipotong, dipecah, dibelah, dilubangi, atau disambung-sambung.

Pemandangan ganjil itu segera mengundang perhatian. Bayangkan saja, barang yang biasa tersembunyi di dapur itu dipajang di tempat terhormat di pusat perbelanjaan Ibu Kota. Di tengah etalase mal, penggorengan berbentuk setengah lingkaran itu menjelma sebagai interior mirip sosok burung, bunga mekar, bahkan wajah manusia.

Banyak pengunjung tergoda menengok ke atas, menatap wajan-wajan putih mengilap itu. Sebagian ambil foto bersama. Banyak lagi yang bertanya-tanya, ada apa dengan wajan-wajan itu?

”Itu penghormatan pada wajan yang sering terabaikan, padahal sangat berjasa memberi makan kita,” kata Teguh Ostenrik (59), seniman pembuat instalasi wajan berjudul ”Wok With Me”, di Pacific Place, Kamis (27/8) malam.

Instalasi ruang ini adalah salah satu dari puluhan karya dalam pameran ”A Maze” di Lantai 1-4 Pacific Place, selama 1-30 Agustus. Pergelaran dengan kurator Rizky Zaelani itu diikuti 50-an seniman kontemporer Indonesia. Ini bagian dari perhelatan ”Bazaar Art Jakarta 2009-Indonesian Art Festival” garapan majalah Bazaar.

Selain wajan tadi, ada beberapa karya lain yang juga menarik. Di lantai dasar terpajang patung aluminium ”Sisyphus” oleh Agapetus A Kristiandana. Karya ini menggambarkan seorang laki-laki dengan tubuh berotot masuk dalam lingkaran tengah ban raksasa dan berusaha menggelindingkan ban itu. Kita langsung teringat pada kisah Sisypus dalam mitologi Yunani yang tiada henti mendorong batu ke puncak gunung.

Tak jauh dari situ, fotografer Indra Leonardi memajang seri foto ”ArtistOcrat”. Sejumlah seniman dipotret dalam pose unik dengan karyanya. Agus Suwage, misalnya, difoto mejeng dengan pose serupa lukisan di depannya. Ugo Untoro berbaring di samping bangkai kuda yang jadi obyek seninya.

Beberapa karya lain juga menarik. Ada Radi Arwinda dengan digital print bermotif batik Cirebon mirip wallpaper. Geogre Timorason membuat patung mirip topeng wajah dari alumunium. Dendy Darman membuat sepeda berbadan panjang yang membentuk huruf.

Publik

Selain berbicara soal karya, pameran ”A Maze” menjadi menarik karena mengambil tempat di mal, pusat lalu lintas konsumsi masyarakat kota. Patung, seni instalasi, fotografi, obyek, atau mural itu dipajang di Lantai 1-4 Pacific Place Mall. Karya seni merambah pentas di ruang publik lebih terbuka.

”Kami ingin mendatangi interaksi publik dengan cara berbeda dari yang biasa di galeri. Itu bisa melahirkan interaksi yang saling menggugah,” catat kurator pameran, Rizky Zaelani, dalam katalog pameran.

Interaksi mungkin terjalin karena seni rupa kontemporer memang berkembang demikian terbuka, menerabas batasan, dan penyajiannya kian cair. Di mal, karya seni itu bisa menyaru dalam hiruk-pikuk arus konsumsi, ikut menghibur, sambil menyodorkan gugahan tentang kesadaran lain. Seni bisa menemukan relevansinya dalam kehidupan nyata.

”Wok With Me” karya Teguh Ostenrik adalah contoh. Hadir sebagai interior pada etalase mal, wajan-wajan melayang itu menawarkan hiburan segar. Jika mau lebih serius, pengunjung bisa menelisik lebih jauh dengan mencoba memahami sesuatu di balik instalasi itu, katakanlah soal pentingnya berterima kasih kepada wajan yang setia memberi makan manusia.

Habitat

Pameran di pusat perbelanjaan memang menjadi tren belakangan ini. Sebagian kegiatan Jakarta Biennale XIII 2009, Februari lalu, digelar di Grand Indonesia dan Senayan City. Pameran ”Art Show: Exhibitions on Contemporary Art” garapan majalah C-Art, akhir April, juga mengambil tempat di Grand Indonesia.

Galeri CG sudah bertahun-tahun bermarkas di Plaza Indonesia. Belakangan, Edwin’s Gallery menyewa ruang plaza itu juga. Hampir bersamaan, Mon Decor Gallery, Pure Art Space, dan Zola Zolu membuka galeri di City Plaza Wisma Mulia, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan.

Kenapa mal dipilih untuk perhelatan seni rupa? ”Karena mal adalah ruang publik sekaligus pusat kegiatan masyarakat urban. Ribuan orang berdatangan ke mal setiap hari. Mal yang berlokasi di pusat kota juga lebih mudah diakses,” kata Edwin Rahardjo, pemilik Edwin’s Gallery, yang ikut berpameran dalam Bazaar Art Jakarta 2009-Indonesian Art Festival.

Pemerhati budaya, Taufik Rahzen, berpendapat, fenomena perhelatan seni di mal mencerminkan seni rupa telah menemukan basis sosial baru dengan habitat pusat perbelanjaan. Di situ terjadi perkawinan dari berbagai kepentingan. ”Penggiat seni bisa mengubah arus konsumsi di mal menjadi investasi lewat jual-beli karya seni,” katanya.

(diunduh dari http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/30/03073046/wajan-wajan.yang.melayang)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: