Wajah yang Menyapa dan Disapa

Karya-karya Triyadi Guntur Wiratmo menghapus ”jiwa nampak”, lebih simpati daripada empati. Antara karya dan kita adalah jarak, dua kehadiran yang setingkat tak saling mengintervensi.

INILAH detail yang mustahil ditangkap oleh mata telanjang. Pada kanvas putih 180 x 120 sentimeter, dengan pensil hitam, wajah itu dibesarkan dengan bantuan kaca pembesar. Kulit pun seperti kulit jeruk, dahi tak rata. Sebagian kepala terang karena cahaya, dan mata itu tajam memandang. Inilah Topography of Face 3, satu di antara empat lukisan wajah hitam-putih, di antara 12 karya Triyadi Guntur Wiratmo dalam pameran tunggalnya yang ketiga di Galeri SIGIarts, sampai Sabtu pekan lalu. Sengaja atau tidak, ke-12 karya itu terasa pas dengan ruang galeri yang tak begitu luas—biasanya pameran di sini kalau tak terasa kosong kurang karya, terkesan sesak, terlalu banyak karya.

Tapi bukan karena ruang yang pas itu bila keempat wajah hitam-putih itu terasa hadir dan menyapa. Latar belakang yang hanya kanvas polos memperkuat kehadiran wajah secara detail, wajah yang hadir atas namanya sendiri, dan bukan atas atribut-atribut yang—sebagai manusia—mestinya ada. Ini sebuah wajah yang tak kita kenal, namun terasa seperti pernah kita temui: lelaki yang memandang tajam itu, perempuan muda dengan tatapan yang kosong (Topography of Face 4), lelaki dengan rokok di bibir (Topography of Face 1), dan wajah lelaki muda yang seperti hendak berkisah (Topography of Face 2).

Yang terasakan adalah ”dialog” akrab, antara saya dan wajah. ”Dialog”, kata ini menyarankan dua diri yang setingkat, saling menghargai, saling mendengarkan. Tetap ada jarak antara saya dan karya: wajah itu tetap di luar saya, wajah itu orang lain; namun terasa bersahabat dan ada simpati.

Kata terakhir itu, ”simpati”, menjelaskan beda antara wajah karya Triyadi dan lukisan potret pada umumnya. Di sini wajah, seperti sudah dikatakan, tampil atas namanya sendiri, tak terselubung ide dari penciptanya—misalnya wajah yang tampan, cantik, yang ekspresif, dan yang bercerita. Itu sebabnya yang muncul adalah simpati, dan bukannya empati. Ketika berhadapan dengan potret diri Affandi, misalnya, ada empati di situ: kita merasakan garis-garis yang meliuk-liuk dan sapuan yang meraba.

”Simpati” itu juga menjelaskan bahwa wajah di sini bukan konsep, melainkan tetap manusia yang menyapa. Bandingkan dengan serial wajah Agus Suwage yang diposekan mirip potret Chairil Anwar yang memegang sebatang rokok. Menurut saya, potret-potret karya Agus itu lebih sebagai konsep. Figur di situ hanya menjadi media, bukan dirinya sendiri, untuk menyampaikan gagasan Agus.

Syahdan, ketika empati menggerakkan emosi dan imajinasi kita, kita pun bertualang di dunia estetika bersama karya tersebut. Kita menghayati ”dunia” karya itu, karya itu memasuki, menggerakkan emosi kita. Pada empat wajah Triyadi yang terjadi adalah terjaganya jarak untuk tak saling menyentuh, apalagi saling memasuki. Dialog, itulah yang ada. Kita memang tak tergerak secara emosional, tapi lebih menyadari kehadiran diri sekaligus kehadiran sang wajah. Ada yang bukan kita, dan ada yang bukan dia. Wajah itu ”merdeka”, bukan lagi merupakan jejak emosi pelukisnya. Triyadi telah menghapus ”jiwa nampak” Sudjojono. Yang ada adalah eksplorasi pada elemen-elemen kesenirupaan namun bukan untuk elemen itu sendiri sebagaimana dalam lukisan abstrak. Eksplorasi Triyadi mengarah pada hadirnya ”kenyataan” sebagaimana ia peroleh dari pembesaran foto. Dalam kata-kata Asmudjo Jono Irianto, kurator pameran ini: fotografi yang ”menunjukkan kenyataan yang tak bisa dilihat atau sulit ditangkap oleh mata manusia”.

Dan Triyadi mempertahankan kenyataan ”baru” hasil pembesaran itu. Ia tak mencoba mengguncangkannya, ia mengambil jarak, ia tak ingin ikut campur. Ia tak seperti Dede Eri Supria yang mengguncangkan kenyataan dengan mengubah hubungan antara obyek satu dan yang lain, dan membentuk ”kemustahilan” (yang saya ingat misalnya koboi yang melabrak baliho; botol kecap menggantikan api di Tugu Monas). Triyadi juga berbeda dengan karya beberapa kelompok Taksu, yang mendeformasi foto di komputer, atau mengambil satu detail dan kemudian memperbesarnya sedemikian rupa hingga tak dikenali lagi obyek utuhnya.

Karyanya yang bukan hitam-putih bermediakan cat minyak serasa tak sekuat yang bermediakan pensil. Dalam karya-karya berwarnanya ”tegur sapa” itu tak begitu tegas. Kehadiran kita dan kehadiran karya serasa kurang terdukung. Sekali lagi, dialog itu tak setegas dalam karya hitam-putih.

Di sisi lain, karya-karya berwarna dalam pameran ini menjelaskan betapa Triyadi memang piawai menghadirkan kembali kenyataan fotografis. Hilangkan sejenak sosok figur di situ, dan amati detail pada kostum: ini serasa sebuah komposisi benda-benda. Namun kita akan segera menyadari kembali kehadiran sang figur, dan ini sebabnya karya Triyadi tak menjadi nonfiguratif atau abstrak.

Lalu bandingkan dengan dua karya hitam-putih namun bukan wajah. Dua karya ini, Gestural Statement 1 dan 2, menghadirkan figur setengah badan sebagaimana dalam karya berwarnanya. Rupanya, goresan pensil Triyadi menjadi pokok karya tampil tegas, ”keluar” dari kanvas. Inilah rupanya mengapa dialog yang terjadi lebih tegas. Dalam karya cat minyak, sapuan kuas menyajikan kelembutan, dan sapuan lembut ini lebih menjadikan kostum tampil daripada figur. Kalaulah karya-karya berwarnanya tak sampai jatuh menjadi semacam gambar reklame tentang baju, misalnya, menurut Asmudjo, kuratornya, karya Triyadi ”menunjukkan indeks sebagai ’karya seni’.” Dan karya seni, Asmudjo mengutip Tony Schirato, teoretikus kebudayaan dan budaya visual, mengandung suatu nilai budaya yang tak dipunyai oleh advertensi.

Melihat karya itu sendiri, menurut saya, fokus lukisan Triyadi pada menyusun kenyataan baru selembar demi selembar, sedangkan pada gambar reklame fokus itu pada keseluruhan gambar. Tapi memang, jarak antara reklame dan lukisan berwarna Triyadi terasa tipis. Bagaimanapun, kostum itulah yang lebih tampil. Dan bukankah gambar reklame, betapapun provokatif modelnya, tetap saja yang penting adalah barang yang dikenakan?

Itu soalnya bahwa kehadiran model (orang lain) dalam gambar reklame tidak penting. Dalam karya Triyadi, betapapun kuat kostum itu tampil, masih terasa adanya sang figur biarpun diselimuti baju, jaket, atau kerudung. Masih ada orang lain yang menyapa dan kita sapa.

Bambang Bujono

(diunduh dari  http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/08/31/SR/mbm.20090831.SR131250.id.html)


  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: