Badut Sirkus Kontemporer

Jogja Art Fair #2 diklaim sebagai pameran perdagangan karya seni rupa kontemporer pertama di Indonesia. Batas antara pameran bienal dan pasar seni tampak kabur. Laiknya toko one stop shopping, semua jenis kebutuhan kolektor karya seni rupa tersedia. Dari karya konvensional, berupa lukisan, grafis, dan patung, hingga drawing, seni serat, fotografi, karya instalasi, dan karya seni media baru.

SEDERET teks berwarna putih di atas dasar merah menyala itu selalu memaksa orang yang lewat di dekatnya menoleh. Ditulis dengan gaya huruf mesin ketik lawas yang mengesankan sesuatu yang sudah lama berlangsung. Kesan lawas masih ditegaskan dengan bercak pada sejumlah hurufnya, seperti bekas ketukan huruf mesin ketik yang lama tak dibersihkan.

Ada dua hal yang menarik dari teks itu. Pertama, teks itu berbunyi: ”kami tahu kemana pasar seni rupa indonesia akan kami bawa.” Kedua, di bagian bawah teks itu tertulis nama tokoh seni rupa modern Indonesia: S. Sudjojono.

Teks itu sejatinya pelesetan teks aslinya yang merupakan judul tulisan S. Sudjojono pada tahun 1948, tanpa kata pasar: ”kami tahu kemana seni rupa indonesia akan kami bawa.” Pelaku pelesetan adalah perupa Farhan Siki, yang mendapat order membuat karya mural untuk perhelatan Jogja Art Fair #2 di Taman Budaya Yogyakarta, 18 Agustus-5 September.

Order itu ia terima, tapi ia tak kuasa menahan rasa masygul melihat realitas seni rupa kontemporer Indonesia yang dikemas menjadi barang dagangan di dalam ruang pamer. ”Saya hanya ingin bertanya apakah pernyataan Sudjojono itu masih relevan dalam situasi saat ini,” katanya kepada Heru C.N. dari Tempo.

Untuk melengkapi kemasygulannya, ia menambahkan citraan wajah badut sirkus di atas susunan lembaran seng 20 x 11 meter berupa karya mural yang menutup fasade gedung Taman Budaya Yogyakarta yang bergaya klasik Eropa itu. ”Art fair tak lebih sebagai rombongan sirkus,” katanya.

Farhan, yang biasa menggarap karya di ruang publik, mungkin terlalu bersemangat menggugat, bak temperamen Sudjojono yang meledak-ledak saat tersinggung rasa nasionalismenya akibat tulisan J. Hopman di majalah Uitzicht pada 1947 itu. Kritikus seni warga negara Belanda ini menuding seni lukis Indonesia hanya mengekor seni rupa Barat. Kini Farhan sulit menerima bahwa ajang pameran seni rupa di negeri ini dengan label apa pun—pameran bienal atau art fair yang dalam bahasa Indonesia disebut pasar seni—adalah arena dagang benda seni.

Pada ajang Jogja Art Fair #2 ini Farhan memang layak masygul. Penyelenggara membalut arena dagang ini dengan bungkus yang memamerkan kualitas pameran berbau akademis dan punya muatan wacana. Caranya: menggunakan jasa kurator, dalam hal ini Aminudin Th. Siregar, dosen seni rupa Institut Teknologi Bandung yang selama ini dikenal suntuk bergumul dengan wacana seni rupa. Bahkan Aminudin dalam pengantar kuratorialnya tanpa basa-basi mengatakan, selain menawarkan problematika seni rupa kontemporer Indonesia, Jogja Art Fair #2 ini arena dagangan karya seni rupa kontemporer. ”Maksud di sisi lainnya cukup jelas, yaitu keinginan menempatkan JAF sebagai contemporary art fair pertama di Indonesia,” tulis Aminudin.

Pada Jogja Art Fair #1, penyelenggara tidak melibatkan kurator. Tapi praktek kuratorial dalam art fair, khususnya di negara Barat, membuat penyelenggara berubah pikiran. Maka Jogja Art Fair kali ini mendapuk Aminudin sebagai kurator. Aminudin kemudian dengan elegan merumuskan perannya dalam toko karya seni rupa ini: ”Bagi kurator, art fair tak sekadar dunia dagang, tapi merupakan pengalaman kultural yang disebut pula sebagai pengalaman ekonomi.” Menurut dia, kurator kini punya predikat baru sebagai perantara ekonomi budaya. Dalam dunia ekonomi dan politik, peran perantara disebut broker.

Aminudin menyadari pembenaran peran kurator dalam art fair mendobrak batas-batas pameran dua tahunan, semacam Bienal Yogyakarta atau bienal seni rupa kontemporer lainnya, dengan praktek art fair. ”Batasan antara biennale dengan art fair makin kabur,” ujarnya. Salah satunya adalah seleksi karya dengan memberikan label berbau akademis berupa bingkai kuratorial.

Tapi ada yang berbeda dengan praktek art fair di luar negeri. Penyelenggara tidak melibatkan galeri seni sebagai peserta jualan. Penyelenggara langsung menggandeng perupa dengan cara melamar. Dari sekitar 3.000 pelamar, kurator menyeleksinya menjadi 200 karya dari 145 perupa. Dari 200 karya itu, hanya 100 karya yang layak dipajang di ruang pamer. Selebihnya disembunyikan di ruang gudang, demi menjaga nama baik kurator. ”Tapi, bagi pembeli yang ingin melihat koleksi di stock room, kami buka pintu,” ujar Heri Pemad, yang menjabat sebagai presiden dan CEO Jogja Art Fair #2 ini.

Apa yang terjadi di ruang pameran? Penonton langsung disergap dalam ruang bersekat yang berkaitan dengan tema art fair, dan juga dirumuskan dalam bahasa Inggris: ”Spacing Contemporary”. Aminudin membagi tema itu ke dalam empat sekat, yakni spacing alternative untuk karya bercorak eksperimen, spacing new emergences untuk perupa pendatang baru, spacing criticality politicality berupa karya yang bermuatan komentar sosial, dan spacing historically untuk produk seni yang bermuatan sejarah.

Bak supermarket, hampir semua bentuk karya seni rupa kontemporer untuk segala umur dan gender tersedia. Laiknya toko one stop shopping, semua jenis kebutuhan kolektor karya seni rupa tersedia di arena ini, dari karya konvensional, berupa lukisan, grafis, dan patung, hingga drawing, seni serat, fotografi, karya instalasi, dan karya seni media baru. Ada karya pegrafis Eddßi Prabandono berupa patung kepala anaknya tergeletak di atas kotak kayu, ada pula dua kursi mobil balap berhiaskan dua ban lebar di kanan dan kiri.

Di pojok lain ada karya video dan animasi dengan teknik yang masih purba. Masuk ke sekat lain, tersedia karya paket seni two in one yang cocok sebagai atribut hiasan di kamar remaja berupa karya patung berbentuk tulang dengan dua bentuk anjing dalam ukuran kecil yang dilengkapi dengan citraan sama di atas kanvas lukisan.

Karya paket semacam itu juga tersedia di sekat bagian belakang berupa paket three in one karya tiga dimensi pasangan loroblonyo mencitrakan sosok robot yang dilengkapi dengan karya lukis dengan citraan yang sama bertajuk Transplantasi.

Penyelenggara tentu menyediakan sejumlah karya bercorak karya laris manis pada bom seni rupa tahun lalu. Karya lukis itu mengadopsi gaya seni lukis Cina kontemporer yang bercirikan bentuk figur realis dengan latar belakang kosong. Atau karya bercorak street art yang ikut naik daun.

Semua kemasan yang dibuat penyelenggara Jogja Art Fair #2 tak sia-sia. Setidaknya untuk ukuran saat ini ketika pasar seni rupa terkoreksi menjadi normal. Dalam lima hari sejak pembukaan sudah sekitar 35 persen karya dibeli kolektor. Hebatnya, salah satu yang laku adalah karya semi instalasi buatan Agung Kurniawan berupa besi terali dibentuk menjadi citraan gambar realis yang dicantelkan di dinding, yang diboyong kolektor seharga Rp 25 juta.

Bahkan tiga edisi karya fotografi hasil jepretan Wimo A. Bayang lepas ke tangan kolektor, seharga Rp 12 juta setiap edisi. Karya itu berupa perempuan kulit putih menghadap pabrik elektronik dengan punggung berhiaskan ranting pohon. ”Ini benar-benar di luar dugaan,” kata Heri Pemad. Tapi, di luar dugaan juga, sekitar 10 karya yang disembunyikan kurator di gudang—karena dinilai tak layak muncul di ruang pamer—justru ada yang membeli. Artinya, kemasan akademis kurator tidak mempan menghalangi selera kolektor yang berbeda.

Apalagi munculnya peran kurator yang menyeleksi peserta art fair berisiko: arena dagang karya seni rupa ini sepi dari perupa yang sudah punya nama dengan karya laris manis. Sebab, perupa yang sudah punya nama ogah mendaftar menjadi peserta. ”Sebagian besar perupa yang ikut wajah baru,” ujar Heri Pemad. Meski 35 karya terjual, ia pada mulanya tak berani pasang target tinggi. ”Sepuluh persen saja karya terjual, saya sudah jago,” katanya.

Jika S. Sudjojono masih hidup, mungkin ia akan lebih radikal memelesetkan judul tulisannya itu: ”kami tak tahu kemana seni rupa indonesia akan kami bawa.” Maklum, meski kurator Indonesia sudah mengekor ke Barat habis-habisan pun, seni rupa Indonesia malah makin tak jelas arahnya.

Raihul Fadjri, Heru C.N. (Yogyakarta)

(diunduh dari http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/08/31/SR/mbm.20090831.SR131249.id.html)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: