Babak Baru Seni Rupa Indonesia

Ilham Khoiri

Bazaar Art Jakarta 2009-Indonesian Art Festival di Ballroom I Ritz-Carlton Pacific Place Jakarta, 28-30 Agustus, memperkuat fenomena terkini seni rupa. Acara garapan majalah Bazaar ini menjadi penanda, seni rupa kontemporer makin terbuka, bahkan sangat akrab dengan gaya hidup kaum urban di mal.

Dunia seni rupa Indonesia telah memasuki babak baru.” Demikian dikatakan Dian M Soedarjo, Presiden Direktur MRA Media Group (penerbit majalah Harper’s Bazaar Indonesia), dalam sambutan pembukaan festival, Kamis (27/8) malam.

Babak baru itu terasa sejak ratusan pengunjung memasuki pintu Ballroom I Ritz-Carlton Pacific Place. Tidak disambut lukisan, patung, atau instalasi (sebagaimana laiknya pameran seni), mereka justru dikejutkan oleh sedan biru tanpa atap yang nongkrong di teras ballroom. Itulah BMW Z4 Roadster, produk terbaru BMW.

Pada latar panggung pembukaan, terpasang layar besar. Mobil mewah itu ditayangkan berputar-putar di atas kanvas raksasa dengan roda dilumuri cat merah, kuning, dan biru. Jejak roda membentuk putaran garis warna-warni serupa lukisan abstrak besar. Art performance ini karya seniman asal Afrika Selatan, Robin Rhode.

Layar itu juga menampilkan iklan BRI Platinum dengan duta artis senior Christine Hakim. Harap maklum, BMW dan BRI Platinum adalah sponsor festival ini. Sebagaimana penampilan Christine (yang juga menghadiri acara itu), dandanan sebagian besar pengunjung modis, wangi, bahkan seksi. Sebagian mereka adalah sosialita Ibu Kota.

Aroma ”metropolis” muncul pada pentas art performance ”Fashionvaganza” karya Tiarma Sirait. Masuk dalam ruang pameran, kesan serupa masih kental. Ruang utama menampilkan 22 galeri dan balai lelang. Masing-masing memajang lukisan, patung, instalasi, atau art object dalam suasana lebih santai, modis, dan menyenangkan.

Kita bisa temukan karya seniman generasi muda Tanah Air. Sebut saja Gede Mahendra Yasa, Agapetus A Kristiandana, Monika Ari Kartika, atau Theresia A Sitompul. Karya mereka sarat nuansa kehidupan urban, seperti manusia robot, citra fotografi digital, suasana kota, atau grafiti. Semua itu menyatu dengan interior pusat perbelanjaan yang mewah dan menggairahkan bagi yang suka gemerlap duniawi.

Pada sisi kiri, ada ruangan khusus menampilkan karya Islamic Art, koleksi pribadi Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, dan Area Indonesian Odyssey. Bagian ini juga disusupi aura urban lewat ”instalasi” gaun hasil rancangan desainer Adrian Gan, Deden Siswanto, dan Irsan.

Gaya hidup

Bazaar Art Jakarta 2009-Indonesian Art Festival memperkuat gejala masuknya seni rupa kontemporer dalam geliat gaya hidup masyarakat kota. Buktinya, art fair ini tidak diselenggarakan universitas seni, majalah khusus seni rupa, atau galeri, melainkan oleh Bazaar, majalah gaya hidup ibu kota. Acara ini juga dirayakan di mal—pusat arus konsumsi masyarakat urban.

Semua itu menunjukkan, habitat dan citra seni rupa mulai bergeser. Dulu, karya seni beredar di perguruan tinggi, museum atau galeri, serta dikoleksi kalangan berduit terbatas. Wacana seni dipingit para kritikus yang berdiam di menara gading, sementara seniman suka menyepi seperti nabi.

”Sekarang, apresiasi seni meluas dan sudah menjadi bagian lifestyle masyarakat kota,” kata Deli Makmur, konsultan fashion dan gaya hidup sekaligus Managing Director Fame 74. Dia lantas menunjuk Louis Vuitton yang menggandeng seniman kontemporer Takashi Murakami, Prada dengan James Jean, atau Chanel dengan Zaha Hadid.

Rachel Ibrahim, pemilik Sigi Arts di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, mengungkapkan, peluasan apresiasi seni itu juga ditandai dengan tumbuhnya kolektor baru dari kalangan profesional muda kota. Bagi mereka, karya seni bukan lagi sekadar gengsi, melainkan kebutuhan gaya hidup yang bisa dinikmati dengan cara masing- masing.

Kolektor baru tumbuh seiring dengan kemudahan mengakses dan membeli karya seni. Apalagi, beberapa bank menawarkan paket pinjaman pembelian karya seni lewat kartu kredit. Bank Mega, contohnya, memberi fasilitas pembelian bagi pemilik kartu kredit dengan angsuran selama enam bulan tanpa bunga.

”Kami bekerja sama dengan galeri,” kata Budy Setiawan, General Manager Card and Unsecure Loan Bank Mega.

Pertemuan

Di luar soal gaya hidup, festival ini berhasil menjembatani kepentingan galeri, balai lelang, seniman, karya seni, kolektor, pengamat, masyarakat, juga pemerintah. Didukung sponsor bermodal besar, mereka bertemu dalam satu ajang demi merayakan seni rupa kontemporer. Pertemuan macam ini sudah lama diimpikan stakeholder seni rupa di Tanah Air. Majalah C-Art mulai merintis lewat ”Art Show: Exhibitions on Contemporary Art” di Grand Indonesia akhir April.

Kehadiran Bazaar Art Jakarta 2009 memperkuat rintisan itu. Meski belum sesemarak art fair di negara-negara maju, spirit art fair di Jakarta kali ini menerbitkan optimisme. Mungkin saja, nanti kita bakal punya art fair berskala lebih besar, diikuti galeri internasional, dan diperhitungkan dalam percaturan pasar seni rupa dunia.

(diunduh dari http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/30/04031273/babak.baru.seni.rupa.indonesia)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: