Tiga Citra Luz

Seniman Eddi Prabandono mengangkat tema personal untuk pameran tunggalnya di Jakarta. Tiga patung anaknya tergolek tidur.

Sepenggal patung kepala berukuran besar tergolek di lantai galeri. Posisinya miring ke kiri dengan hanya terlihat satu telinga. Mata sosok patung itu tertutup rapat dengan mulut mencebik. Hidungnya bulat mungil dengan pipi gembil. ”Ia tertidur lelap,” kata Eddi Prabandono, perupa yang membuat karya itu.

Nama patung berbahan tanah liat dengan ukuran 400x400x300 sentimeter itu Luz. Ini tak lain adalah nama anak semata wayang Eddi dan Nana Miyagi, seniman bidang tekstil yang berdomi sili di Jepang. Nama lengkap anak itu Luz Miyagi Prabandono. Usianya tiga tahun.

Eddi mengakui pameran tunggalnya yang bertajuk Presentasi Strategis: Patung, Luz dan Ilusi lebih ke arah perso nal. ”Saya ayah yang harus bekerja keras untuk dia dan melindungi,” katanya ketika dihubungi Tempo di rumahnya, Yogyakarta. Maka kecintaan pada Luz dituangkan dalam dua patung berbeda ukuran dan bahan, dan sebuah lukisan di SigiArts, Jalan Mahakam, Jakarta.

Dia memilih patung berbahan tanah dengan alasan tanah adalah representasi Indonesia. Lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan Nagasawa Art Park Artist in Residence ini pun mengusung 10 ton tanah liat, yang diangkut dua truk dari Yogyakarta.

Patung yang memenuhi hampir separuh ruang pamer itu diselesaikan dalam waktu dua minggu. Sekitar tiga hari ia membuat konstruksi dan selebihnya menyusun tanah liat. ”Capek sekali,” kata lelaki kelahiran Pati, Jawa Tengah, 8 Juli 1964 ini. Sebelumnya ia pernah membuat lima patung berukuran besar pula.

Patung lainnya yang dipamerkan sampai 10 Agustus berbahan aluminium. Ukurannya sepersepuluh dari patung berbahan tanah liat dan diletakkan di atas meja putih. Meski jauh lebih kecil, dari kejauhan ia tampak berkilau. Bila didekati, kita melihat rambut Luz tersisir rapi dengan garis-garis alis di atas matanya yang tertutup. Dibandingkan dengan patung berbahan tanah liat, teksturnya lebih jelas.

Kurator Hendro Wiyanto mengatakan, patung di atas landasan tampak lebih mudah ditangkap sebagai obyek. Sebaliknya, patung tanah liat seakan lebih menyarankan kehadirannya sebagai ”subyek”, suatu ”ada bersama” di dunia nyata. Patung tanah liat berukuran besar itu mengandaikan jarak aktual sangat ekstrem antara pemirsa dan obyek tatapan.

Obyek Luz terlihat lebih segar pada lukisan bercat akrilik di atas kanvas berukuran 150×200 sentimeter. Pipi gembilnya terlihat merah semu. Bibir nya lembut berwarna merah muda. Dan poni rambut hitam pendeknya agak berantakan. Luz, sebagai bayi di bawah lima tahun, tampak menggemaskan. ”Lukisan yang pertama kali saya buat,” kata Eddi, yang memenangi Asian Artist Fellowship 2009/2010. Raut muka Luz yang tergolek tidur itu adalah potret yang diambil ketika dia menengoknya pada musim panas di Jepang, tahun lalu. Luz dan ibunya, Nana, setidaknya tiga kali mengunjungi Eddi di Indonesia.

Dan ketika Luz hadir di pembukaan pameran pada akhir Juli lalu, kita boleh menerima keyakinan Eddi untuk presentasi strategisnya ini. Satu Luz di dunia nyata untuk tiga Luz yang tergolek tidur. ”Bapak bekerja keras, ya,” kata putri kecil yang juga bisa melukis itu dalam bahasa Jepang, melontarkan pujian kepada ayahnya.

Martha W. Silaban

(diunduh dari http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/08/10/SR/mbm.20090810.SR131044.id.html)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: