Imaji Komedi dari Layar Kaca

OK Video 2009 diselenggarakan dengan tema komedi. Masih banyak seniman yang menerjemahkannya secara harfiah dan terlalu sederhana.

Selama dua pekan penyelenggaraan acara OK Video 2009, dari luar, gedung Galeri Nasional sudah tampak berbeda. Ruang Rupa, kelompok inisiatif seniman yang punya gawe ini, dengan berani menempelkan bulatan merah terbuat dari karpet di dinding depan Galeri. Jadilah Galeri, yang biasanya terkesan formal dan dingin, seketika menjadi funky dengan motif polkadot merah, yang sepintas mengingatkan masyarakat seni rupa pada karya-karya seniman Jepang terkemuka, Yayoi Kusama.

Ade Darmawan, Direktur Ruang Rupa, menyebutkan bahwa ide itu harus melewati perdebatan yang cukup alot dengan pengelola Galeri, karena biasanya soal mengecat atau mereka dinding adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. ”Tapi kami yakin kan bahwa kami akan mengembalikan dinding jadi seperti semula,” katanya.

Hasilnya memang menarik karena bulatan merah itu bisa mengubah, meski untuk sementara, citra bangunan yang sebelumnya sangat konvensional menjadi bernuansa kekinian. Apalagi jika kemudian kita memasuki ruang pamerannya, yang pada 28 Juli-9 Agustus menyuguhkan video dari seniman seni visual, baik dari dalam maupun luar negeri. Hampir semua seniman berupaya menampilkan situasi mutakhir dari realitas global dengan bahasa visual terkini, sesuai dengan bingkai kuratorial yang digariskan kurator festival, Aminuddin Th. Siregar, yakni tema komedi.

Dalam penyelenggaraannya yang keempat tahun ini, OK Video menampilkan 95 karya video dari 86 seniman yang datang dari 31 negara. Sebagian peserta itu merupakan mereka yang lolos seleksi dalam kompetisi terbuka, sedangkan sebagian lagi merupakan seniman undangan. Selain menyeleksi video peserta, dewan juri festival memilih tiga karya terbaik OK Video 2009. Pemenang festival adalah Paul Wiersbinski (Jerman), dengan karya Ivo Burokvic: the Life of the Fake Artist as a Young Business Model; Lemeh42 (Italia), dengan Per Fare un Tavolo (How to Make a Table); dan Morten Dysgaard (Denmark), dengan The Door of the Law. Pada malam pembukaan, ketiga karya pemenang diputar di tengah ruang utama, menggunakan layar besar, yang membuat pengunjung menjadikannya sebagai fokus festival.

Karya Paul Wiersbinski paling mengundang perhatian, terutama dari kalangan masyarakat seni rupa, karena menampilkan tema yang aktual dengan kondisi (pasca) boom seni rupa di Indonesia sekarang ini. Dengan cara menggabungkan komedi dan fantasi, sang seniman bertindak seolah sebagai reporter program televisi, dengan kostum yang mirip robot atau makhluk ruang angkasa: ia berbicara tentang karya-karya seniman dunia yang terjual dengan harga sangat tinggi, dan menunjukkan bagaimana praktek ke senian ini adalah soal kepemilikan dan, pada akhirnya, soal keserakahan.

Karya Lemeh42 terasa sangat segar karena ia mengolah material dari buku petunjuk pemasangan meja. Buku yang biasa didapatkan di toko perabotan itu, yang meminta kita memasang sendiri produknya, diparodikan untuk menunjukkan bagaimana nilai efisiensi ditimbang dalam masyarakat industri.

Karya ketiga seniman itu memang pantas menjadi pemenang karena mentransformasikan isu-isu masyarakat yang aktual dalam satu bahasa audio visual yang khas dan otentik. Ketiganya mendasarkan diri atas gagasan tentang gambar bergerak (moving images). Di sini gambar bergerak bukanlah sesuatu yang digarisbawahi sebagai pemba ngun konsep, melainkan penghubung dari ikon visual yang di tampilkan. Karena itu, selain menawarkan bentuk baru yang segar, vi deo mereka bisa keluar dari klise yang la zim dalam ta yangan televisi atau film pendek, yang banyak ditemukan pada karya peserta lain. Pada saat yang sama, ketiganya berhasil menerjemahkan tema ”komedi” menjadi sesuatu yang bukan sekadar tayangan pemancing tawa, melainkan sesuatu yang sublim dari praktek hidup sehari-hari.

Dalam pernyataan kuratorial, Aminuddin Siregar menyebutkan tema komedi merupakan ajakan untuk menggarisbawahi upaya masyarakat ”untuk melepaskan diri dari kecemasan”. Menurut dia, sebagai kecaman kritis yang menyamar sebagai hiburan, komedi membuat kita bisa merefleksikan segala sesuatu, menertawai diri sendiri, memprotes tanpa amarah, dan mengubah celaka menjadi jenaka. ”Sebagai cara berkomunikasi, komedi tak pernah mati dan telah menemani masyarakat sejak dulu, dari komedi yang menggunakan medium tubuh hingga kini dalam bahasa audiovisual,” katanya.

Paparan tema yang disebarkan dalam berbagai publikasi untuk menja ring peserta festival tampaknya cenderung diterjemahkan dengan cara harfiah dan terlalu sederhana. Tentu saja komedi mempunyai unsur yang sangat dekat dengan tawa. Tapi apakah kemudian video-video ini harus meng adopsi aneka bentuk yang serupa dengan tayangan-tayangan yang terlampau umum dalam khazanah budaya audiovisual kita, seperti program televisi, iklan, atau video musik, tanpa mentransformasikan gagasan lebih jauh?

Mari kita simak karya Muhammad Akbar, Telepower. Seniman Bandung ini tampaknya mengambil inspirasi dari tayangan televisi yang menampilkan seorang ahli hipnotis, yang memang cukup populer belakangan ini. Ia membuat versi ringkasnya, yang menunjukkan betapa pada akhirnya kekuatan telematik yang dimiliki justru membuat televisi menjadi mati (atau rusak). Sedemikian sederhana, sehingga sulit untuk menemukan kekuatan visual dari karya ini yang menunjukkan transformasi dari bentuk tayangan televisi menjadi sebuah karya seni video.

Karya seniman lainnya, Bandung Art Now (Tromarama), menunjukkan imaji visual yang lebih segar, meskipun sulit keluar dari kecenderungan naratif yang biasa kita temukan pada model video musik. Pendekatan humor dimulai sejak pemilihan imaji, yang terutama mengambil kartun atau komik sebagai gagasan utama. Sebagian imaji visual mereka merupakan kolase dari berbagai sumber: foto, stiker, tempelan majalah, atau drawing tangan sendiri. Mereka bercerita tentang situasi kesenian di Bandung sekarang, dengan cara yang ringan dan mengundang tawa.

Om Leo atau Narpati Awangga menampilkan Mengapa Orang Kuat, yang memanfaatkan karakteristik komputer (piksel) sebagai modus animasi, sehingga tampak berbeda dengan video yang lain. Tapi bukan hanya itu daya tarik karya ini. Sembari menceritakan kisah seorang sopir truk, ia memberikan teks pada layar video. Gagasannya adalah penerjemahan bahasa (Inggris-Indonesia) yang menggunakan modus kata per kata, sehingga makna keseluruhan kalimat menjadi kacau. Inilah yang mengundang tawa para pengunjung.

Menghibur. Itulah kesan umum yang bisa digarisbawahi dari penyelenggaraan OK Video 2009. Jika Anda ingin mencari humor cerdas, beberapa karya bisa membawa Anda pada gelak tawa, yang sekaligus mengantar Anda pada kritik terhadap realitas-realitas yang kita hidupi beberapa waktu belakangan ini. Jika yang Anda cari adalah karya-karya video yang lebih serius, terutama dalam hal pendekatan artistik, rasanya tak banyak yang bisa ditemukan.

Dalam dunia seni media baru di seluruh dunia, perkembangan karya video bergerak sedemikian cepat. Tren artistik berubah terus-menerus dari kecenderungan minimalis, naratif, fantasi, hingga performance video. Kita tampaknya memang terus terengah- engah untuk bisa mengejarnya. Tapi justru itulah, tanpa perlu menjadikan tren sebagai beban yang harus dikejar, kita punya tantangan untuk menunjukkan definisi kita sendiri tentang seni video atau seni media baru yang lebih cocok dengan konteks lokal kita. Mestinya OK Video bisa berupaya mengambil jalan ke arah ini.

Alia Swastika

(diunduh dari http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/08/10/SR/mbm.20090810.SR131043.id.html)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: