Benang Merah Kata dan Rupa

Galeri Salihara memamerkan karya seni rupa yang berangkat dari perang, melalui puisi karya para penyair ternama. Sebuah eksperimen media.

SELALU ada yang baru dari karya Jompet alias Agustinus Kuswidananto. Sejak dua pekan lalu, karyanya yang serupa—bukan sama—kembali tampil di ruang publik. Kali ini di Galeri Salihara, Pasar Minggu, Jakarta. Dalam rangkaian acara Festival Salihara, karya perupa Yogya kelahiran 1976 ini kini berada di tengah-tengah galeri yang memamerkan obyek seni rupa lain dengan tema Perang, Kata dan Rupa.

Satu bagian dari serial karya tentang prajurit Jawa ini, Java Amplified, sudah pernah tampil di Yokohama Triennale, Jepang, dan pameran besar seni rupa kontemporer Manifesto di Galeri Nasional pada 2008. Awal tahun lalu, serial lainnya, Java Machine: Phantasmagoria, juga muncul di Jakarta Biennale.

Yang tampil di Salihara, War of Java: Do You Remember? # 3, masih berbicara tentang prajurit-prajurit Jawa yang tak bernyawa. Mereka terdengar ”hidup” ketika kita mendengar genderang drum perang yang ditabuh berulang kali, di antara sejumlah penanda yang kasatmata: panji-panji berkibar, sepatu lars berbaris, topi prajurit menggantung.

Jompet adalah seniman bunyi. Instalasi yang ia buat melibatkan motor listrik—lengkap dengan dinamo serta kabel-kabel yang menjuntai dan bertelingsut. Namun hasilnya adalah kenikmatan mata dan telinga yang simultan. Karya Jompet yang segar ini membuat tema yang dipilih menyelusup mulus ke relung pikiran pengunjung yang memasuki galeri sirkuler itu.

Di sekeliling ruang digantung belasan lukisan dengan ukuran rata-rata lebih dari satu meter persegi. Yang paling mudah dikenali adalah lukisan Mahatma Gandhi dalam siluet kertas, lalu coretan abstrak serupa darah yang lebih kental nuansa hitam dan abu-abunya. Kemudian sketsa karikaturis akan pemandangan yang kelam tanpa orang. Ada juga manusia bertopeng seram yang memangku kuda Pegasus dengan tulisan ”Back to Fetish”. Sulit dicari penghubungnya.

Tema memang tak selalu menjadi benang merah yang mudah dicerna. Salah satu kurator pameran, Sitok Srengenge, menulis bahwa tema pameran dipilih bukan untuk merekam peperangan yang terjadi. Yang dilakukan justru untuk merekam respons seni rupa ”terhadap sebuah keadaan dahsyat yang sampai ke dalam hidup kita dengan perantara mediasi kata dan rupa”.

Sebagai aturan main, setiap perupa dibekali puisi karya penulis sajak kelas satu di republik ini, mulai Chairil Anwar si ”binatang jalang” dari Angkatan 1945, penyair kiri Agam Wispi yang lari ke Belanda menghindari penumpasan komunis 1965, hingga Nirwan Dewanto yang namanya dikenal pasca-Kongres Kebudayaan 1991. Tugas para perupa adalah membuat atau merekonstruksi karya agar mendekati perang melalui rangkaian kata yang ditulis para penulis itu.

Nah, yang menjadi jembatan kata-katanya adalah para penulis-cum-kurator yang dekat dengan lingkungan Salihara. Mereka ini bertugas ”membaca” karya para perupa, lalu menceritakannya kembali dalam katalog. Syukur kalau karya yang dihasilkan punya ”benang merah” dengan puisi. Dalam beberapa karya, benang merahnya tak dapat dibaca. Tapi mari nikmati saja sebagai sebuah permainan yang berani.

Lihatlah karya Jompet yang, bila sesuai dengan aturan main, berangkat dari dua puisi panjang Triyanto Triwikromo yang berbicara tentang perang melawan Kumbakarna dan perjuangan Kunti. Nyatanya, prajurit Jompet lebih mirip prajurit Jawa dalam parade daripada para penakluk Rahwana, apalagi pelaku perang Pandawa dan Kurawa. Puisi Triyanto hanya hadir dalam rekaman yang dibacakan, yang bisa disimak lewat headphone. ”Dan, genderang tertabuh bertalu-talu, seperti barisan prajurit yang akan lewat,” kurator Asikin Hasan menuliskan kepiawaian Jompet dalam menghadirkan bunyi. Tak setitik pun puisi Triyanto dibahasnya.

Lalu tilik karya perupa Putu Sutawijaya, yang berangkat dari sajak Chairil Anwar, eksponen Angkatan 1945 yang meletup dengan karya-karya besar tapi meninggal pada usia 27 tahun pada 1949. Adalah Wahyudin, kurator asal Yogya, yang bertugas ”membaca” karya Putu kala menerjemahkan puisi Chairil, berjudul Malam.

Mulai kelam
Belum buntu malam
Kami masih berjaga
— Thermopylae? –
– jagal tidak dikenal? –
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang

Putu melukis wajah Chairil yang sangat populer—sedikit menoleh ke kiri sambil mengisap rokok—di atas kanvas 180 cm x 180 cm dengan warna klasik perang: hijau kehitaman dengan coret-coretan kasar sketsa. ”Dengan sapuan dan lelehan yang ekspresif di kanvas, Putu memperlihatkan wajah lain si penyair yang lebih jalang,” kata Wahyudin.

Dari puisi Agam Wispi yang sangat terkenal, Matinya Seorang Petani, Joko Pramono alias Jopram melukis Lubang Tubuh, onggokan jerami yang menyerupai tubuh manusia yang rebah ke tanah dengan tubuh yang berlubang-lubang. Dan seperti penulis yang baik, Tubagus P. Svarajati merasa perlu memberikan keterangan tentang latar belakang Jopram yang disebutnya ”lahir dari rahim petani”. Menurut dia, ini membuat Jopram cerdas menerjemahkan apa artinya keputusasaan petani seperti yang diceritakan Agam dengan getir:

Depan kantor bupati
Tersungkur seorang petani
Karena tanah
Karena tanah

Sebuah karya yang terasa sangat ”kosmetik”—bisa jadi karena modelnya mirip bintang sinetron—dibuat R.E. Hartanto, perupa asal Bandung. Ia beruntung mendapatkan puisi Toto Sudarto Bachtiar pada 1955 yang juga sungguh manis di telinga:

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata: aku sangat muda

Tanto, nama panggilan sang perupa, membuat Le depart, foto digital atas seorang prajurit belia yang ranum dengan kulit bercahaya. Namun dia berhadapan dengan dirinya sendiri yang terluka parah, bisa jadi hanya dalam hitungan sepuluh detik, dua jam, atau seminggu setelah menjajal nyawa di medan tempur. Lehernya berlubang, darah berceceran di sekujur badan. ”Bahasa tubuh mereka menyiratkan situasi perpisahan,” kurator Agung Hujatnikajennong me-nulis, saat membaca karya Tanto.

Yang menarik adalah dua karya Yustoni Volunteero, yang ditanggapi Bambang Bujono, kritikus seni rupa. Yustoni mendapat bagian puisi panjang Iswadi Pratama, pendiri dan sutradara Teater Satu Lampung. Sebagai hasilnya, ia membuat dua karya. Yang satu berjudul Struggle of Pegasus # 2, berlatar merah dengan gambar seorang berperut buncit telentang di atas lantai, dan di lantai yang sama rebah pula sesosok manusia berkepala seperti kuda. Banyak tulisan yang lalu-lalang, tapi hanya dua bait puisi Iswadi yang dikutipnya. Seolah-olah hanya dua itulah yang mengaitkan gambar-gambar tersebut dengan puisi atau tema perang. Satu lagi, Struggle of Pegasus # 1, berisi gambar kuda yang dipangku tadi.

Menurut Bambang, Toni membuat goresan-goresan ekspresif seperti ditebar begitu saja di kanvas, seolah memungut benda-benda di sekitar yang kebetulan diingat. ”Bertolak dari sajak atau bukan, dua karya Toni tetap saja Toni seperti biasa,” tulisnya. Tak penting lagi, kalau begitu, setengah mati mencari benang merahnya.

Kurie Suditomo

(diunduh dari http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/07/27/SR/mbm.20090727.SR130927.id.html)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: