Nuansa Pesisir dalam Seni Rupa Riau

Oleh: Mirza Adrianus (Perupa Riau)

Ketika di mana-mana dunia seni rupa sibuk dengan informasi aktivitas kesenirupaan baik secara perorangan maupun melalui komunitas seni rupa yang bermunculan di daerah-daerah, peranan komunikasi dan informasi sepertinya sangatlah mutlak peranannnya.

Para seniman seni rupa secara personal maupun kelompok-kelompok komunitas seni rupa yang memiliki hubungan komunikasi dan informasi yang telah terjalin baik, akan lebih berpotensi untuk dapat mengangkat dan mempromosikan aktivitas kesenirupaannya kepada masyarakat baik di tingkat lokal maupun nasional bahkan internasional.

Tidak sedikit para seniman seni rupa lokal yang namanya naik daun setelah mendapat promosi melalui kegiatan-kegiatan pameran yang digelar dalam skala nasional, seperti event yang dilaksanakan oleh Galeri Nasional yang telah teragenda rapi ini.

Bagi seniman untuk dapat mengikuti kegiatan-kegiatan seni rupa ini tentulah tidak terlepas dari hubungan komunikasi dan informasi yang lancar antara pihak penyelenggara dengan para pelaku seni yang berminat untuk ikut serta dalam event tersebut.

Ketika seorang petinggi dari Galeri Nasional berkunjung ke sebuah kota kecil yang jauh terpencil di daerah Kuala Indragiri di Provinsi Riau, yaitu Kota Tembilahan, pada tahun 2006 lalu, beliau menyatakan bahwa setelah berkeliling mengikuti event-event seni rupa di tanah air, baik yang dilaksanakan dalam skala lokal regional maupun nasional, sepertinya Riau sangat sepi dari aktivitas seni rupa. Sama sekali tidak memperlihatkan geliat kedinamisannya.

Pada forum-forum tersebut tidak ada karya-karya dari Riau yang dapat untuk dibicarakan. Begitu pula halnya dengan informasi-informasi kegiatan kesenirupaan yang dilaksanakan di tingkat lokal, sama sekali tidak ada.

Mendengar pernyataan dari seorang Direktur Galeri Nasional ini, tentunya membuat saya menjadi terkesima. Karena paling tidak apa yang diucapkan beliau tentulah merupakan sebuah gambaran dari pandangan pengamat seni rupa nasional terhadap Riau yang sepi, statis, bahkan mungkin sama sekali tak berdenyut alias mati.

Akan tetapi semuanya ini tentulah tidak terlepas dari masalah komunikasi dan informasi yang tidak terjalin baik, terutama kepada pelaku-pelaku seni yang berdomisili di daerah. Yakinlah kita bahwa pihak penyelenggara kegiatan telah menyebarkan informasi ke seluruh daerah, tidak terkecuali daerah Riau. Informasi biasanya disampaikan melalui lembaga-lembaga kesenian seperti Dewan Kesenian ataupun Taman Budaya. Namun karena lembaga-lembaga kesenian daerah selalu saja terlambat menjalin hubungan komunikasi yang harmonis dengan para pelaku seni maka informasi tentang kegiatan yang ditaja tersebut sudah sangat terlambat sampai kepada para pelaku seni rupa di daerah. Sehingga tidak jarang daerah, khususnya Riau, selalu absen dalam keikutsertaannya dalam event-event tersebut. Kalaupun ada kadang kala penyertaannya hanya melalui penunjukan asal-asalan tanpa melalui penyeleksian yang serius di daerah.

Melihat giatnya aktivitas seni rupa yang dilakukan oleh kawan-kawan perupa di berbagai tempat di Riau, saya ingin menyampaikan kepada kita semua di forum yang amat terhormat ini agar segala usaha dan kerja keras kawan-kawan tidak hilang begitu saja dari catatan perjalanan kesenirupaan, baik catatan di tingkat lokal maupun nasional.

Paling tidak semenjak tahun 2003, frekuensi kegiatan seni rupa di provinsi ini sudah menunjukkan geliat aktivitasnya. Kegiatan pameran dan diskusi seni rupa dilaksanakan bukan hanya terkonsentrasi di Pekanbaru (ibu kota provinsi), akan tetapi sudah merambat ke daerah-daerah, khususnya daerah Tembilahan – Indragiri Hilir, yang pernah dikunjungi oleh Bapak Tubagus Andre (Galeri Nasional) dan Adi Rosa (pengamat seni rupa) tahun 2006 lalu.

Terlepas dari berbicara masalah mutu dan kualitas, paling tidak belasan orang perupa di Tembilahan – Indragiri Hilir yang terhimpun dalam Komunitas Perupa Pesisir Inhil (KOPPI) semenjak tahun 2004 sudah bergiat dalam berkarya dan melaksanakan event-event pameran yang sudah diagendakan setiap tahunnya.

Di Pekanbaru, disamping Dewan Kesenian Riau, melakukan kegiatan tahunannya melalui Badan Kontak Seniman Seni Rupa Riau (BKSR). Telah pula melaksanakan kegiatan Kenduri Seni Rupa se-Riau, pameran bersama Riau-Sumbar serta pameran-pameran kelompok yang dilaksanakan di mall dan hotel-hotel berbintang, aktivitas seni rupa di Riau untuk kegiatan kebersamaan secara kuantitas mungkin sudah cukup namun secara personal para perupa masih saja menghadapi kendala-kendala teknis, pemahaman konsep dan tema. Hal ini selalu saja muncul dalam perbincangan-perbincangan antar sesama perupa.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan permasalahan ini selalu terangkat ke permukaan. Pertama, kegiatan kesenirupaan di negeri ini memang masih relatif baru apabila dibandingkan dengan kegiatan kesenirupaan di tanah Jawa. Sebut saja Jogja, Jakarta, Bandung ataupun Ball yang sudah memulai kegiatan semenjak zaman kolonial. Terus berlanjut pada awal timbulnya seni rupa baru Indonesia pada era S. Soejoyono, Dullah, Affandi, dsb yang terus berlanjut hingga pada saat ini yang telah banyak melahirkan para maestro seni rupa Indonesia; yang dapat dijadikan pedoman sebagai sokoguru dalam aktifitas seni rupa di negeri tersebut.

Kedua, di daerah Riau memang masih sulit untuk mencari seorang figur, seorang tokoh seni rupa yang dapat dikultuskan sebagai guru, yang telah melahirkan karya-karya besar yang dapat dijadikan sebagai sokoguru, sebagai teladan yang dijadikan pedoman dan petunjuk dalam kegiatan kesenirupaan.

Ketiga, mayoritas para pelaku seni rupa di rantau ini masih memiliki wawasan dan pengetahuan yang masih tipis terhadap realita sosial budaya masyarakat Melayu yang melekat erat dalam kehidupan masyarakat di negeri ini, yang hingga kini nilai-nilai etika, moral dan kultur masih kental mewarnai kehidupan masyarakat yang menjadi khas kehidupan masyarakat Melayu. Pengetahuan terhadap budaya ini tentulah sangat penting sebagai pondasi tempat berpijak bagi seniman dalam melakukan aktifitas kesenirupaan untuk melahirkan karya-karya yang berkualitas.

Menyikapi faktor-faktor di atas, saya ingin menuturkan bahwa aktifitas seni rupa di rantau ini sadar atau tidak, sengaja atau tidak sengaja, sesungguhnya telah melekat dalam kehidupan masyarakat seiring dengan kebutuhan dan tuntutan hidup sehari-hari. Butuh akan rasa keindahan bentuk dan rupa telah terimplementasikan oleh masyarakat dalam bentuk seni praktis.

Kekayaan akan motif ragam hias yang telah memberikan andil dalam memperindah rumah adat Melayu serta segala perlengkapannya yang ditampilkan dalam bentuk ukiran Melayu. Pernik-pernik sulaman dan tenun tertuang pula dalam bentuk pakaian kebesaran adat; kebesaran kerajaan yang sarat akan simbol dan filosofi. Bahkan lebih daripada itu, segala perlengkapan upacara religius seperti totem-totem, balai-balai dan ancak yang didominasi warna kontras hitam, putih dan merah, hingga saat ini masih terpelihara oleh saudara-saudara kita di pedalaman merupakan bukti warisan budaya yang dianut oleh masyarakat Proto Melayu.

Kegiatan seni rupa modern di rantau ini paling tidak dapat dicatat ketika M. Dahlan, M. Sidik, Tenas Effendi dan O.K. Nizami Jamil sekitar tahun 1962 dengan memanfaatkan sebuah garasi mobil dinas seorang pejabat pemerintahan dengan segala keterbatasan, secara sukarela menenteng dua, tiga buah karyanya untuk dipamerkan kepada masyarakat ketika itu. Kemudian disusul dengan kehadiran Aswan R., Mastok, Subagio, Amrin, Amrun, Armawi KH dan Dantje S. Moeis pada era tujuh puluhan. Pada era tahun delapan puluhan, aktifitas kesenirupaan lebih banyak mengarah pada pekerjaan patung, monumen dan ukiran setelah hadirnya Robertson, Nasrin Asmana, Iwan Donna, Isdakhori yang seangkatan dengan saya. Dewan Kesenian Riau dan Himpunan Perupa Riau pada era sembilan puluhan telah memberikan dorongan kuat terhadap aktifitas seni rupa di rantau ini. Bermunculannya para perupa Riau pada saat itu telah ikut andil dalam event-event besar seni rupa yang menjadi catatan perjalanan seni rupa di rantau melayu tersebut.

Pada era tahun dua ribuan, kompetisi di kalangan seniman semakin ramai. Aktifitas kekaryaan bukan hanya terkonsentrasi di Kota Pekanbaru, tetapi makin semarak dengan giatnya para perupa di beberapa daerah, terutama Tanjung Pinang dan Batam (sebelum Kepri pisah dari Riau) serta Tembilahan (Kab. Inderagiri Hilir) yang kini merupakan salah satu sentra aktifitas seni rupa yang cukup dinamis. Pada akhir-akhir ini persoalan tema lokal dalam kekaryaan sangatlah terasa mewarnai karya-karya kreatif para perupa.

Sebagaimana yang pernah dikomentari oleh Bung AI-Azhar (budayawan), berdasarkan pengamatannya dari beberapa pagelaran seni rupa di negeri ini bahwa seni rupa Riau kini lebih cenderung mengangkat tema kepesisiran. Kehidupan masyarakat pantai yang akrab dengan jermal, mablo dan perahu serta masyarakat pedalaman dengan jala, jaring dan lukah merupakan objek-objek yang selalu terangkat dalam karya-karya para perupa. Nuansa alam, sosial dan budaya pesisir sangat terasa kental mewarnai dalam kemelayuan.

Sebagaimana halnya di Sumatera Barat, nuansa Ngarai Sianok dan Lembah Anai telah menjadikan sumber inspirasi yang besar bagi seniman dalam proses kekaryaannya. Suatu bentuk alam yang begitu akrab dengan para senimannya, mulai dari Wakidi hingga generasi seni rupa termuda yang tumbuh menjamur hingga pada saat ini. Fenomena nuansa pesisir agaknya sebuah kondisi alam kemelayuan yang sangat dekat dengan para seniman yang dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi dalam proses ideoplastis kekaryaannya.

Usaha pendekatan secara sadar tentunya perlu dilakukan oleh para seniman untuk dapat membaur beradaptasi terhadap fenomena budaya ini yang nantinya fenomena budaya pesisir akan menjadi sebuah “ikon lokal” di tengah-tengah kegemilangan seni rupa nasional.

Betapa hembusan lembut belaian angin selat menyusuri pantai-pantai nyiur melambai dan pohon-pohon bakau yang menghampar luas mengikuti alur garis pantai yang berliku-liku, gemerisik pasir putih yang kemilau berselasah landai terhempas gelombang-gelombang pantai nan berdendang, terasa sedap menyentuh kulit legam anak nelayan yang bertelanjang dada. Dengan lincah mengayunkan lengan dayung perahu di antara pancang-pancang jermal yang tertancap kokoh tersimpul tali-tali tambang yang merentang, tempat mereka hidup menghabiskan waktu dari hari ke hari tanpa hirau akan di mana harus berakhir. Alunan dendang anak nelayan di antara petikan dawai-dawai gambus di antara gelombang laut nan biru, inilah sebuah nyanyian anak pesisir dalam syair-syair kehidupan.

Tentunya ini merupakan sebuah fenomena yang sangat berpotensi sebagai sumber inspirasi bagi perupa sebagai landasan dalam beraktivitas untuk melahirkan karya-karya yang berkualitas.

Bagi seniman memang tidak harus menerima apa adanya. Dia harus berusaha mengais dan menggali (istilah Yusmar Yusuf). Masih banyak mustika-mustika etnis yang terbenam dan terkubur di dalam lumpur-lumpur budaya modern jauh di pedalaman sana. Usaha senimanlah untuk menggali dan menukil mustika-mustika tersebut untuk diangkat ke permukaan. Kemudian diasah serta dipoles agar mustika itu kembali indah, bercahaya dan berkilau.

Pekanbaru, 11 Mei 2007 Wassalam

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: