Banten, Agus Djaja-Toto Djaja, dan Perupa Urban

Gito Waluyo

Alamat: Taman Banten Lestari, Blok E 3c No. 40. Unyur-Serang-Banten

Penulis budaya dan pelaku seni, penggiat

Galeri Gudeg Tangerang dan RUANG +(baca RUANGPLUS)

Melihat Banten setelah menjadi provinsi yang ke 30, setelah memisahkan diri dari Jawa Barat merupakan daerah yang strategis dari segi geografis, ekonomis dan budaya. Setelah Banten menjadi provinsi yang baru, Banten mau tidak mau harus bersaing dengan daerah lain yang lebih dulu berkembang. Banten pada zaman kerajaan adalah merupakan wilayah ekonomi dan budaya yang berkembang pesat, bersaing dengan Batavia pada waktu itu.

Tak sedikit artefak budaya Banten pada jaman kejaannya, yang sampai sekarang masih bisa dilihat di museum Banten Lama. Meskipun sedikit sekali artefak yang ada, tapi setidaknya kita bisa melihat kejayaan Banten “tempo doeloe”. Sisa kejayaan Banten pada hasil kriya terutama gerabah masih ada sampai sekarang dan masih perproduksi. Kita masih bisa melihat dari hasil gerabah “tempo doeloe” dengan kekhasan yang belum berubah drastis. Dari stilisasi ragam gambar dan bentuknya sampai sekarang.

Seni rupa Banten

Membaca sejarah seni rupa Banten terutama pelaku senirupanya memang tidak seperti Yogyakarta, Bali, atau Bandung. Di mana di ketiga daerah tersebut sejarah seni rupanya maupun pelaku seni rupanya bisa dipelajari atau dirunut satu persatu dengan jelas. Dibukukan para sejarahwan seni rupa, dibicarakan oleh kurator-kurator dikupas, didiskusikan di meja-meja para pelaku dan pengamat seni rupa.

Bali, Yogyakarta, dan Bandung sering disebut-sebut daerah yang mempunyai pengaruh besar dalam perkembangan seni rupa Indonesia. Bandung, sejak datangnya perupa Ries Mulder di ITB (Institut Teknologi Bandung) telah ikut mewarnai perkembangan sejarah seni rupa Indonesia dengan gaya yang kubistik. Walter Spies, Bonet, Arie Smit serta beberapa perupa lain dari luar negeri ikut membangun sejarah seni rupa Indonesia di daerah Bali. Perupa seperti S. Sudjojono, Affandi, Hendra­gu­nawan dan lain sebagainya pindah ke Yogyakarta saat Ibukota Jakarta hijrah ke Yogyakarta dan mereka membangun kesenian terutama seni rupanya di daerah gudeg tersebut.

Sejarah seni rupa Banten memang tak terpetakan dan belum pernah ada yang membicarakan. Padahal Banten mempunyai pelaku sejarah seni rupa dan diakui di tingkat nasional bahkan internaional. Melihat perkem­bangan seni rupa Banten sedikit sekali yang bisa kita lihat, bahkan nyaris tak terbaca dan tak terdengar di telinga. Karena tak pernah ada tulisan tentang sejarah seni rupa Banten. Dan tak ada tulisan yang menceritakan sejarah seni rupa Banten yang ditulis baik pelaku maupun pemerhati seni rupa baik dari Banten atau pun dari luar Banten. Dan kebanyakan perupa Banten yang berprestasi baik di tingkat nasional maupun internasional itu sudah jadi sebelum Banten menjadi provinsi.

Agus Djaya dan Persagi

Perupa Agus Djaja pria kelahiran Banten 1913-1993 yang pernah belajar di Academi of Fine Arts di Amsterdam, Nederland adalah putra Banten yang kali pertama masuk kejajaran perupa nasional dan internasional. Agus Djaya mengadakan gerakan seni rupa bersama Sudjojono dengan membentuk Persagi (Persatuan Ahli-Ahli Gambar Indonesia) di belakang mereka antara lain ada Otto Djaja, Harijadi, Hendra Gunawan, Basoeki Resobowo, Affandi, dan sebagainya. Agus Djaja di Persagi menjadi ketuanya. Persagi didirikan untuk mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia lewat karya seni rupanya. Dari sini kita bisa melihat karya-karya Affandi dan Soedjojono yang memberikan semangat revolusi, termasuk karya-karya Dullah dan Soejono Kerton. Persagi dikenal sebagai generasi radikal yang terdidik dengan baik dan kritis. Di samping rasa nasionalismenya yang tinggi dan anti penjajah. Dan gerakan para seniman ini adalah untuk mengusir penjajahan dan feodalisme di bumi Indonesia pada waktu itu.

Persagi dibentuk juga untuk melawan berkembangnya seni rupa yang dikenal dengan nama Mooi Indie­ sebuah ungkapan untuk mengejek ala Sudjojono. Mooi Indie­ yang meng­gam­barkan keindahan alam Hindia Belanda memang lebih mendominasi seni rupa Indoensia sejak di tahun 1816 saat Belanda menduduki negeri ini. Belanda yang mengusai Indonesia secara pemerintahan akhirnya diganti oleh pemerintahan Jepang, dan pada saat itu Persagi dibubarkan sekitar tahun 1942.

Agus Djaja dan Otto Djaja dalam era kesanggaran

Banten dalam perkembangan seni rupa, tak memiliki literatur sejarah seni rupa yang baik. Setelah kemerdekaan 1945 disebut sebagai era kesanggaran, di mana sanggar-sanggar seni rupa banyak ber­mun­culan di berbagai kota dan daerah. Sanggar-sanggar yang lahir pada waktu itu antara lain Jiwa Mukti, Seniman Indonesai Muda, Pancaran Cipta Rasa, Pusat Tenaga Perupa Indonesai., Himpunan Budaya Surakarta, Yin Hua, Gabungan Perupa Indonesia, Perupa Rakyat, Sanggarbambu. Dan sanggar-sanggar tersebut berada diberbagai kota dari Bandung, Jakarta, Yoyakarta, Solo, Surabaya, Malang, Bali sampai Medan dan Padang. Dalam era kesanggaran ini Agus Djaja dan Otto Djaya tak banyak disebut-sebut.

Tapi bagaimanapun Agus Djaja dan Otto Djaja dua kakak beradik ini setidak­nya telah memahatkan nama Banten dalam sejarah seni rupa walaupun tidak banyak ditulis dan dibicarakan di lingkungan seni rupa Banten sendiri. Kedua tokoh seni rupa Banten tersebut memang tak seperti tokoh seni rupa Yokyakarta, Bali, dan Bandung. Ketika kita bicara seni rupa Yogyakarta kita tak bisa lepas dari sosok Affandi atau Joko Pekik, ketika kita bicara seni rupa Bali kita tak bisa lepas dari perupa Nyoman Gunarsa atau Nyoman Erawan. Kita bicara seni rupa Bandung kita akan dengar nama Tisna Sanjaya, Jehian, atau Barli.

Sepeninggal Agus Djaya dan Otto Djaya perupa Banten seperti tak bernafas. Padahal sekarang Banten memiliki perupa-perupa muda yang tumbuh lebih bebas dan merdeka. Tapi ternyata toh sampai sekarang belum ada yang seperti Agus Djaja dan Otto Djaya. Sedikit sekali pameran yang pernah ada di Banten, gerakan seni rupanya sepi dari gagasan dan pemikiran. Sebenarnya keadaan seperti ini juga perlu kita pertanyakan di Banten ke para pelaku seni rupanya.

Paska Agus Djaya dan Otto Djaya

Beberapa tahun belakangan ini walaupun sudah ada beberapa kelompok seni rupa di Banten tapi belum kelihatan gairah seni rupa yang cukup berarti. Untuk sedikit mengetahui kelompok seni rupa di wilayah Serang, ada kelompok PSB (Persatuan Seniman Banten), Kelompok Bun­deran, Komunitas Bunga Rumput di Pandeglang dan di Tangerang ada Perpeta (Per­satuan Perupa Tangerang), Kelompok Taman Sari di Lippo Karawaci Tangerang. Sanggar Ki Mas Djong, di Serang, (masih ada beberapa sanggar yang tak sempat di tulis sebab tempat dan waktu)

Sampai sekarang perupa-perupa Banten tak banyak yang bisa naik kepentas seni rupa nasional. Hanya beberapa saja misalnya Munadi perupa Tangerang yang tinggal di Ciputat yang sering pameran di dalam dan luar negeri, di sana juga ada Danarto yang juga cerpinis, Gebar Sasmita di Pandeglang, Leonardus (Leo, alm) yang pernah belajar pada perupa Jepang, Mori Kinsen karyanya banyak ditangan kolektor baik dalam dan luar negeri. Suyatna (alm) yang keramikus ada di Curug. Dan masih banyak perupa yang mempunyai reputasi nasional bahkan internasional yang keba­nyakan tinggal di Tangerang. Dan mereka dikenal sebelum Banten menjadi Provinsi.

Untuk mencari jejak seni rupa pada karya-karya Agus Djaja dan Otto Djaja pada perupa Banten sekarang tidaklah gampang. Bahkah untuk melihat pengaruh karya-karya Agus Djaja dan Otto Djaja pada karya perupa Banten sekarang tidak akan kita temukan. Agus Djaja dan Otto Djaja tidak meninggalkan jejak seni rupa di Banten, yang membuat Agus Djaja dan Otto Djaja tak begitu akrab dengan generasi perupa Banten masa kini. Perupa yang meninggalkan jejak pada genersai penerusnya adalah BRM Achmad Leonardo S. Kusuma (Leo, alm). Almarhum Leo lebih dikenal sebagai guru bagi para perupa Serang, tak sedikit generasi pelukis muda berguru kepada beliau. Gebar Sasmita juga tak bisa dibilang sedikit dalam memberikan pangaruhnya pada perupa Banten terutama di Pandeglang, pada perupa yang terga­bung dalam asuhanya dengan nama Sanggar Bunga Rumput. Pada karya-karya Gebar kita justru menemukan jejak-jejak Hendra Gunawan. Dan mencari pelukis Banten yang pernah berguru pada Agus Djaja dan Otto Djaja pun sangat sulit bahkan belum pernah ada yang mengaku sebagai murid dari dua pelukis tersebut.

Perupa yang belum terpetakan dan galeri

Generasi perupa yang belum terpetakan di Banten yang bisa dibilang memberikan warna seni rupa Banten antara lain Alfin, Indra Kesuma, Sugi Hartono, Amor, Adil, Dwi Samuaji, Sugiarto, Tri Darsono, Sugino, Herman Kimong, Hidayat HL, Mhaex Maranoes, dan masih ada beberapa perupa muda dan karyanya belum pernah muncul.

Kurangnya galeri bahkan tidak adanya galeri di Banten membuat kegiatan seni rupa Banten sepi dan tak ada gaungnya di luar. Meskipun pernah ada beberapa kali pameran seni rupa di Tangerang dan Banten. Tapi itu belum membuat angin segar bagi seni rupa Banten. Karena tak adanya kerja sama dengan beberapa lembaga tertentu dan media, baik media massa maupun elektronik dengan baik. Juga karena kurangnya galeri di Tangerang yang membuat agenda acara pameran seni rupa baik di Tangerang maupun di Banten kurang direspon. Di Banten yang katanya kaya hanya ada satu galeri yaitu Galeri Gudeg di Citra Raya. Dengan adanya Galeri Gudeg diharapkan kegiatan seni rupa di Banten bisa berkembang dan mampu memberikan motivasi kepada perupa Banten. Dengan agenda tetapnya yang minimal pameran setahun 3 kaki dan 3-4 kali diluar agenda tetap, pameran diharapkan bisa berlangsung. Galeri Gudeg menempatkan dirinya sebagai tempat berkembangnya budaya di Banten terutama seni rupanya. Di Tangerang ada museum seni rupa yang menyimpan lukisan yang mempunyai nilai sejarah dalam perkem­bangan seni rupa Indonesia. Museum yang dikelola Universitas Pelita Harapan yang tidak hanya menyimpan lukisan perupa In­donesia tapi juga luar negeri yang ikut mem­bangun sejarah seni rupa Indonesia. Museum Seni Rupa Pelita Harapan masih sepi dari perbincangan, berita dan peng­unjung. Terutama dari publik Banten bahkan tak sedikit yang tahu tentang keberadaan museum ini.

Perupa urban

Dalam beberapa kali pertemuan dengan para pelaku seni rupa di Jakarta sebe­narnya Banten terutama Tangerang, mempunyai potensi untuk berkembangnya seni rupa. Banyak kolektor yang ada wilayah Banten terutama Tangerang. Tapi ini juga tan­tangan bagi perupanya juga untuk bisa memajukan Banten lewat seni rupa dengan gagasan-gagasan baru dalam berseni rupa. Ada gerakan seni rupa yang terus bergulir di Banten itu yang kita harapkan ke depan. Dengan sebuah gagasan-gagasan ber­kese­nianlah kita bisa lebih dikenal dan maju. Berkarya dengan gagasan-gagasan baru dalam berkarya akan menjadikan seni itu lebih bermakna dan berarti bukan hanya sebuah gula-gula dan hiasan dinding atau gerakan dan tulisan yang hampa tanpa kekutan roh.

Meskipun perupa Banten lebih banyak perupa urban tapi belum banyak di antara perupanya yang mencoba mengangkat tema-tema masyarakat urban. Dan Banten harus mampu menampilkan perupa urbannya maju ke depan bersaing dengan perupa urban Jakarta.

Mengutip tulisan Chandra Johan, perupa dan pengamat senirupa dalam tulisannya yang berjudul “Refleksi Metropolis”. Kesadaran akan rupa, ruang rupa, makna rupa dengan seluruh organisasi unsur-unsurnya menjadikan karya-karya para seniman urban ini akan tampak lebih smart dalam memperlakukan keseniannya. Seni rupa bagi mereka bukan sekadar “jendela pura-pura” untuk mempersoalkan atau menceritakan suatu realitas dalam ruang yang tersekat. Lebih dari itu, rupaan senantiasa melahirkan suatu pengalaman baru yang khas yang tak bisa dibandingkan dengan khayalan, cerita ataupun realitas yang terbatas.

Berbicara seni rupa urban, Banten nampaknya mempunyai cerita tersendiri di tengah perkembangan seni rupa di kota-kota budaya yang potensi seninya cukup kuat dan signifikan, khususnya seperti Yogya dan Bali. Banten yang heterogen sebenarnya menarik untuk di gali tentang hasil karya para perupanya. Karena wilayah Banten yang lain dinamikan kotanya “njomplang” dengan Tangerang yang terdulu ber­kembang.

Perkembangan seni rupanya pun berbeda jauh, baik cara kerja dan karyanya. Di Tangerang kita akan menemukan karya-karya seni rupa yang layak untuk bersaing dengan para perupa Urban dari Jakarta. Dominasi Jogja, Bali, dan Bandung, dalam seni rupa memang patut membuat kita iri. Perupa urban Jakarta kini mulai memasuki pasar seni rupa yang mulai ramai, meski harus bersaing dengan perupa dari luar negeri.

Perupa Banten memang wajib “iri” pada prestasi yang mereka dapat. Samapi kapan perupa Banten menjadi penonton pameran dan tak pernah pameran. Jakarta yang dekat adalah cerpin besar yang harus kita lihat sebelum kita beranjak ke Jogja dan Bandung atau Bali. Dan kita tunggu aksi dari para perupa Banten kapan akan mengejar seni rupa dari Yogyakarta dan Bali, atau menyusul Jakarta yang dekat. Secara geografis kita di depan pintu yang akan membawa kita bukan saja untuk bisa bermain di tingkat nasional, regional tapi juga internasional. Semua tergantung dari para perupa untuk membangun jaringan seni rupanya. Mampukan seni rupa Banten maju dan berkembang mengangat Banten lewat karya rupanya.

Banten, 6 Mei 2007

Nama : gito waluyo

Lahir : Cilacap, 14-11-1972

Alamat:

Taman Banten Lestari, Blok E 3c No. 40. Unyur-Serang-Banten

E-mail :

g1114w2000@yahoo.com

rungplus@yaoo.co.id

Mobile: 081314737172

Melukis: Otodidak

Selain melukis, juga me­­ne­kuni du­nia tulis menulis ter­utama sas­tra (cerpen dan puisi) juga teater. Mengoleksi katolog dan catatan senirupa. Pernah terga­bung dalam Sanggar Lukis Edi Peni di Bu­butan (Komunitas Budaya Buruh Tange­rang). Sekarang menekuni desain grafis komputer, peker­jaan­nya sebagai desain grafis di media massa Fajar Ban­ten dan sebgai penulis budaya. Ak­tif sebagai pe­ng­urus Komunitas Ke­bon Nanas dan KSI (Komunitas Sastra Indo­nesia-Banten). Sekarang membangun RUANG+ sebagai menyenggarakan pameran, workshop, diskusi seni rupa dan menyelenggarakan kegiatan kesenian yang lain.

Kegiatan Pameran

– Pame­ran ber­sama dengan Komunitas Bu­butan 1996 di Tange­rang.

– Pa­meran Ber­sama Komuntas Bubutan di Gedung Marfati 1998 di Tangerang

– Mengadakan kegiatan Pameran Ka­talog Senirupa Indonesia dan Diskusi

Senirupa tahun 2000 di EMC Radio.

– Pameran bersama di Balai Budaya Tangerang 2004 di Tangerang

Pada acara persemian Dewan Kesenian Tangerang (DKT)

– Pameran bersama di Balai Kota Tangerang 2004 di Tangerang

Pada acara ulang tahun Kota Tangerang

– Pameran bersama di Jerman School 2004 di Tangerang

Kegiatan pameran tiga tahun terakhir

– Pameran bersama di Balai Kota Tangerang 2005 di Tangerang

Pada acara ulang tahun Kota Tangerang

– Pameran bersama di Pendopo Alun-Alun Serang Banten 2005 di Banten

Pada acara silaturahmi kesenian

– Pameran bersama di Taman Ismail Marzuki 2005 di Jakarta

Pada acara memperingati hari buruh

– Pameran bersama di Galeri Gudeg 2006 di Tangerang

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: