Mooi Indiẽ, Cita Rasa Kelas, Sukarno Dan S.Sudjojono

Oleh :

D. A. Hamdani

 

~sawah jang sedang dibadjak, sawah jang berair djernih dan tenang atau goeboeg di tengah-tengah padang padi, tidak loepa poela pohon-pohon kelapa didekatnja atau bamboe dan goenoeng jang kebiroe-biroean didjaoeh mata. Begitu djoega orang-orang perempoean jang ada haroes berselẻndang merah berkibar-kibar diemboes angin atau berpajoeng, berbadjoe biroe, sadjaknja lebaran tiap hari. Semoea serba bagoes dan romantis bagai disorga, semoea serba enak, tenang dan damai. Loekisan-loekisan tadi tak lain hanja mengandoeng satoe arti : Mooi Indiẽ. – Dan kalau ada seorang peloekis berani meloekis hal-hal jang lain,…..dan peloekis jang demikian, kalau tidak maoe dimakan penjakit tbc, lebih baik mendjadi goeroe atau mentjari pekerdjaan klerk statistiek, sebab menanti-nantikan waktoe jang baik bilamana gambarnja lakoe lama lagi datang.~[1]

 

Pada pertengahan hingga akhir abad ke–19 di Indonesia telah berkembang suatu bentuk seni lukis romantisme yaitu melalui representasi atau kehadiran Raden Saleh sebagai pelukis pribumi yang kehadirannya tercatat lengkap hingga kini. Menjelang awal abad ke–20, bermunculan para pelukis baru, yaitu para pelukis yang datang dari negara induk jajahan Indonesia yaitu para pelukis Belanda yang datang ke Indonesia, selain itu muncul juga para pelukis yang karena kelahiran dan tempat tinggalnya di Indonesia (Hindia Belanda) menjadi para pelukis Indo Belanda atau biasa disebut Indische Schilderer, serta ditambah para pelukis asing yang datang dari berbagai negara Eropa.

Pada abad ke-19 di Indonesia hadir para pelukis yang didatangkan secara resmi oleh pemerintah kolonial Belanda yang bekerja pada “Badan Penyelidik Pengetahuan dan Kesenian” yang dikepalai oleh C.G.C. Reinwardt, seperti Antoine Payen dan Bik bersaudara (Theodorus Bik dan Adrianus Bik) dengan tugas resmi melukis alam, kota, pemandangan, tumbuh-tumbuhan dan fauna untuk kepentingan Natural Sciences Commission pada badan yang dipimpin Reinwardt tersebut.  Para pelukis yang datang secara resmi ini kemudian mengajarkan pengetahuannya kepada sebagian masyarakat pribumi, seperti Raden Saleh yang mendapat pengetahuan seni lukis dan menggambar dari Theodorus Bik dan Payen. Mungkin saja pelukis ini mengajarkan tidak hanya kepada Raden Saleh, tetapi catatan tentang hal itu belumlah dapat ditemukan hingga kini.

Sejak kecil Raden Saleh telah dididik untuk menjadi calon pegawai yaitu sebagai juru gambar (draughtsman) dan juru lukis pada Badan Penyelidik Pengetahuan dan Kesenian yang dikepalai professor C.G.C. Reinwardt di Bogor, ketika ia baru berusia tujuh tahun sekitar 1818. Setelah Inggris “menyerahkan” kembali Indonesia kepada Belanda ditahun 1816, pemerintahan jajahan yang baru dari Nederland tidak saja membawa penguasa-penguasa kolonial, tetapi juga beberapa guru besar atau professor yang diantaranya adalah Reinwardt yang dikuasakan untuk melakukan penyelidikan-penyelidikan tentang “Pengetahuan dan Kesenian”, selain itu juga para pelukis yang diantaranya adalah Antoine A.J. Payen yang menjadi pelukis pada “Badan Penyelidik Pengetahuan dan Kesenian” tersebut. Para pelukis ini ditugaskan melukis alam dan pemandangan di Indonesia.

Raden Saleh dididik menjadi calon pegawai Belanda di Cianjur, di rumah Residen Cianjur, R. Baron der Capellen. Dirumah inilah Antoine A.J. Payen bertemu dengan Raden Saleh yang kemudian tertarik kepada bakat Raden Saleh dalam menggambar. Pelajaran menggambar pertama Raden Saleh diterima dari pelukis Belanda Theodorus Bik yang mengajarinya di rumah Residen Cianjur tersebut. Theodorus Bik adalah juga salah seorang pelukis pada “Badan Penyelidik Pengetahuan dan Kesenian” di Bogor. Badan inilah yang kemudian mendirikan Kebun Raya Bogor (Botanical Garden) sebagai tempat penyelidikan Ilmiah dan tempat studi menggambar dan melukis aneka tumbuh-tumbuhan atau flora dan fauna untuk kepentingan Natural Sciences Commission pada “Badan Penyelidik Pengetahuan dan Kesenian“.

Memasuki tahun 1900 muncul pelukis-pelukis pribumi yang ―karena suasana dan iklim seni rupa saat itu atau medan sosial seni rupa saat itu― tetap membawakan seni lukis yang romantik terutama pemandangan alam. Pada awal abad ke-20, Seni lukis ini memang berkembang dengan hadirnya pelukis-pelukis asing dan pelukis-pelukis Indo hingga membentuk patron dengan didirikannya Kunstkring (Bataviasche Kunstkring) pada tahun 1902.

Seni lukis ini kemudian mempengaruhi pelukis-pelukis pribumi baik hubungan langsung (lewat akademi atau belajar kepada seorang pelukis) maupun tidak langsung. Nama-nama seperti Abdullah Suriosubroto—yang merupakan lulusan akademi seni rupa di Belanda (Belldende voor Kunst Academiẽ)—, Mas Pirngadi, Wakidi dan generasi selanjutnya seperti Basuki Abdullah—yang juga lulusan akademi seni rupa di Belanda—, Omar Basalamah, Sukardji, Wahdi dan beberapa yang lainnya.

Industrialisasi, Institusionalisasi, Penyelenggaraan Pendidikan dan Pembentukan Cita Rasa

          Kurang lebih tahun 1870 Belanda memasuki periode kapitalisme modern, hasil revolusi industri selama masa dua puluh tahun sebelumnya, terwujud dalam perkembangan industri, perkapalan, perbankan dan komunikasi yang modern. Volume perdagangan berkembang dengan pesatnya, sedang perkembangan modal terjadi secara besar-besaran, sistem perdagangan bebas ini mengatur hubungan-hubungan ekonomi Belanda dengan negara-negara tetangga Eropa. Selain itu pemerintah Belanda menjalankan politik “pintu terbuka” di Hindia Belanda (Indonesia) yang mengakibatkan berkembang dan munculnya perusahaan-perusahaan swasta dibidang perkebunan, manufaktur dan mineral tambang yang hasil produk-produk tanah jajahan tersebut lebih banyak mencari pasaran di negeri-negeri asing dari pada di negara Belanda sendiri. Pada masa ini ekspor modal ke Hindia Belanda (Indonesia) sangat menanjak yang dimulai sejak tahun 1850. Selain itu kondisi-kondisi yang menyenangkan bagi penanam modal juga dijamin oleh Pemerintah Kolonial seperti tenaga kerja dan sewa tanah yang murah.

Liberalisme sistem perekonomian Hindia Belanda (Indonesia) mengakibatkan tumbuhnya kota-kota sebagai pusat kegiatan ekonomi, pendidikan, komunikasi dan kegiatan sosial dan budaya. Modernisasi dan kemajuan (progress) sebagai akibat dari industrialisasi mengakibatkan migrasi penduduk desa ke kota (urbanisasi) dan tumbuhnya infrastruktur-infrastruktur kehidupan sosial masyarakat yang tadinya belum pernah ada dalam struktur sosial kehidupan masyarakat seperti partai politik, serikat dagang, serikat buruh, organisasi-organisasi sosial masyarakat dan budaya. Kota menjadi tempat pertemuan orang-orang dari berbagai daerah dan menjadi tempat pertukaran intelektual, terutama di kota praja (Gemente) dimana penduduk Eropa-nya tinggal lebih banyak, modernisasi kota bahkan berjalan lebih cepat.

Sejajar dengan perkembangan perekonomian di satu pihak dan perluasan bidang pemerintahan beserta administrasi dan pelayanannya di pihak lain, timbulah kebutuhan akan tenaga kerja, baik dalam bidang administrasi maupun dalam berbagai bidang teknik dan kejuruan. Sekedar untuk memenuhi kebutuhan itulah Pemerintah Kolonial secara lambat laun mendirikan sekolah-sekolah, mula-mula terbatas sampai tingkat rendah saja dan baru dalam dasawarsa kedua abad ke-20 dibuka sekolah tingkat menengah dan sejak tahun dua puluhan dibuka perguruan tinggi tingkat universitas.

            Pada akhir abad ke-19 pemerintah kolonial Belanda telah mendirikan sekolah-sekolah menengah pertama di Indonesia seperti Kweekscholen (Sekolah Guru Pribumi) tahun 1852 di Surakarta, Sekolah Juru Suntik (Dokter Djawa-scholen) pada tahun 1851 di Jakarta, dan Sekolah Pimpinan Pemerintahan Pribumi (Amtenar Pangreh-Praja) tahun 1878 di Bandung, karena guru, tenaga medis dan pegawai pemerintahan adalah orang-orang yang paling diperlukan oleh pemerintah kolonial Belanda saat itu. Pada tahun 1889, Sekolah Dokter Djawa berubah menjadi STOVIA[2] dan pada dekade berikutnya pemerintah kolonial mengadakan pendidikan tinggi setingkat universitas dengan dibukanya Technische Hogeschool/TH (sekarang ITB) di Bandung pada 1920 dan pada 1927 STOVIA di Jakarta ditingkatkan menjadi Sekolah Tinggi Kedokteran. 

Dari kemajuan industri dan pendidikan tersebut terbentuklah kelas sosial masyarakat menengah atau Borjuis. Para pengusaha pemilik modal (kelas Borjuis), selain membawa modal, mereka juga membawa cita rasa estetik. Seni lukis romantik berkembang seiring karena cita rasa kelas menengah atau (Borjuis) di Eropa yang kurang menyukai lukisan yang menggambarkan cerita dari Injil atau  kesusasteraan klasik. Masyarakat kelas ini lebih menyukai lukisan yang menggambarkan hal-ikhwal yang biasa saja, salah satunya adalah pemandangan alam. Dimana estetika atau keindahan lukisan ini membawa mereka istirahat sejenak dari kesibukan kerja, berdagang dan industri kota yang bising dan kotor.[3] Cita rasa ini kemudian mempengaruhi lapisan teratas masyarakat Indonesia atau pribumi yaitu kelas priyayi atau mẽnak dan kelas terpelajar berpendidikan Belanda atau Sekolah Eropah (Europeanean School).[4] Dalam masyarakat kolonial Hindia Belanda (Indonesia), masyarakat dibagi dalam tiga golongan atau stratifikasi sosial :

  1. Bangsa Eropah atau Europeanean
  2. Bangsa Timur Asing atau Vreemde Oosterlingen
  3. Bangsa Pribumi. [5]

Pada masyarakat pribumi dibagi lagi dalam tiga golongan atau stratifikasi :

  1. Kaum Priyayi (Kelas Bangsawan)
  2. Kaum Adat atau Pemimpin Agama
  3. Rakyat Biasa. [6]

Dari golongan-golongan tersebut prevelesi atau hak istimewa berada mutlak pada golongan bangsa Eropah atau Belanda. Sedang pada masyarakat pribumi prevelesi itu dimiliki oleh kaum bangsawan atau kelas priyayi. Dengan prevelesi tersebut  kelas priyayi dapat memiliki hak kekuasaan atas kekayaan, tanah dan otoritas kekuasaan pada tingkat pemerintahan tertentu. Selain itu juga jaminan-jaminan ekonomis, kesempatan bersekolah dan prevelesi untuk bergaul dengan masyarakat Belanda yang ada di Indonesia.[7]

Sukarno sebagai orang yang lahir dari kelas ini sangat terpengaruh oleh cita rasa  ini. Hal ini terbukti dari lukisan-lukisan koleksinya yang banyak bertemakan keindahan seperti pemandangan alam, gambar wanita dan alam benda [8]. Dalam buku “Key Concepts In Post-Colonial Studies” karangan Bill Ashcroft, Gareth Griffiths dan Hellen Tiffin (London: Routledge, 1998) terdapat istilah :

‘Mimicry’ : Suatu istilah untuk menjelaskan hubungan ambivalen antara si penjajah dan orang yang dijajah. Si terjajah melakukan peniruan (to mimic) kepada si penjajah dengan mengadopsi kebiasaan-kebiasaan budaya, pendapat-pendapat, lembaga-lembaga dan nilai-nilai si penjajah.[9]

 

Sedangkan pada diri Sudjojono hal ini tidak terjadi. Ia sangat anti terhadap cita rasa ini – yang ia sebut sebagai cita rasa kolonial – Soedjojono menjadi penentang pertama dan utama estetika seni lukis pemandangan alam ini.

Ketika Mas Pirngadi di tahun 1928 mengajar melukis kepada seorang muridnya, Soedjojono, ia masygul melihat kasarnya sapuan kuas Soedjojono dan kotornya warna-warna yang dipilih semaunya sendiri. Kata Pirngadi :

“ Saya tidak mengerti mengapa cara menggambarmu sangat kasar, suatu gambar lapangan tetapi seperti sawah yang baru saja dipacul………kalau menggambar awan, gunakan warna putih, oker, dicampur vermillion sedikit. Sedangkan  bayangan ialah warna-warna itu ditambah dengan biru. Untuk bayangan air di sawah, gunakan warna-warna tersebut ditambah oker dan biru sedikit lagi. Warna oker adalah warna kunci. Hindarkan pemakaian warna hitam dan putih”.[10]

 

Soedjojono lahir dari kelas Proletar, ayahnya adalah seorang kuli kontrak perkebunan yang dikirim dari Jawa ke Sumatera. Ayah Soedjojono seorang kuli kontrak pembangkang, sehingga ia diasingkan disebuah ‘barak’ tempat isolasi bagi para buruh atau kuli perkebunan yang membangkang. ‘Barak’-nya bernomor “101” yang kelak selalu ia abadikan dalam lukisannya “SS 101”. ‘SS’ inisial namanya Sindhudarsono/Sindutomo Soedjojono dan ‘101’ rumah atau barak tempat ia dilahirkan.[11]

 

 

Catatan :

 


[1] S. Soedjojono, “Seni-Loekis Di Indonesia, Sekarang dan Jang Akan Datang”, dalam Seni Loekis, Kesenian dan Seniman (Yogyakarta: Indonesia Sekarang, 1946), hal. 5.

[2] Lihat “Dari Raden Mas Tumenggung, Drs., dr., Hingga Ssn., SH., Ssss……”, (Jurnal Aikon, edisi 101, Juni 1999), hal. 13. Lihat juga “Berawal dari Sekolah Juru Suntik – Kronologi Gedung Kebangkitan Nasional”, (Jurnal Aikon, edisi 103, Agustus 1999), hal. 3.

[3] Lihat Sanento Yuliman, “ Seni Lukis Indonesia Baru-sebuah pengantar”, (Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta, 1976), hal.5.

[4] Lihat Sanento Yuliman, Ibid., hal. 5.

[5] Lihat Susanto Tirtoprodjo, “Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia”, Tjet. Ke.II, P.T. Pembangunan Jakarta, hal. 44. Dikutip dari Imam Buchori Zainuddin, “Latar Belakang, Sejarah Pembinaan Dan Perkembangan Seni Lukis Indonesia Modern 1935-1950“ , Tesis Bag. Seni Rupa, DPSR. ITB.Hal. 16.

[6] Lihat B. Schrieke, “Indonesian Sociological Studies”, (Bandung: Sumur Bandung, 1960), hal. 201

[7] Lihat Imam Buchori Zainuddin, Op. cit., hal. 5.

[8] Lihat Lee Man-Fong, Lukisan-Lukisan dan Patung-Patung Koleksi Presiden Sukarno dari Republik Indonesia (Jakarta: Panitia Penerbit Lukisan-Lukisan dan Patung-Patung Koleksi Presiden Sukarno, 1964)

[9] Lihat Bill Ashcroft, Gareth Griffiths, Hellen Tiffin, “Key Concepts In Post-Colonial Studies”,(London: Routledge, 1998), hal. 139.

[10] Lihat Imam Buchori Zainuddin, Op. cit., Hal. 105 – 106.

[11] Lihat Jim Supangkat, “Nasionalisme Sudjojono”, suplemen Harian Kompas menuju Millenium III, 1 Januari 2000. Hal. 71

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mooi Indiẽ, Cita Rasa Kelas, Sukarno Dan S.Sudjojono 

Oleh :

D. A. Hamdani

 

~sawah jang sedang dibadjak, sawah jang berair djernih dan tenang atau goeboeg di tengah-tengah padang padi, tidak loepa poela pohon-pohon kelapa didekatnja atau bamboe dan goenoeng jang kebiroe-biroean didjaoeh mata. Begitu djoega orang-orang perempoean jang ada haroes berselẻndang merah berkibar-kibar diemboes angin atau berpajoeng, berbadjoe biroe, sadjaknja lebaran tiap hari. Semoea serba bagoes dan romantis bagai disorga, semoea serba enak, tenang dan damai. Loekisan-loekisan tadi tak lain hanja mengandoeng satoe arti : Mooi Indiẽ. – Dan kalau ada seorang peloekis berani meloekis hal-hal jang lain,…..dan peloekis jang demikian, kalau tidak maoe dimakan penjakit tbc, lebih baik mendjadi goeroe atau mentjari pekerdjaan klerk statistiek, sebab menanti-nantikan waktoe jang baik bilamana gambarnja lakoe lama lagi datang.~[1]

 

Pada pertengahan hingga akhir abad ke–19 di Indonesia telah berkembang suatu bentuk seni lukis romantisme yaitu melalui representasi atau kehadiran Raden Saleh sebagai pelukis pribumi yang kehadirannya tercatat lengkap hingga kini. Menjelang awal abad ke–20, bermunculan para pelukis baru, yaitu para pelukis yang datang dari negara induk jajahan Indonesia yaitu para pelukis Belanda yang datang ke Indonesia, selain itu muncul juga para pelukis yang karena kelahiran dan tempat tinggalnya di Indonesia (Hindia Belanda) menjadi para pelukis Indo Belanda atau biasa disebut Indische Schilderer, serta ditambah para pelukis asing yang datang dari berbagai negara Eropa.

Pada abad ke-19 di Indonesia hadir para pelukis yang didatangkan secara resmi oleh pemerintah kolonial Belanda yang bekerja pada “Badan Penyelidik Pengetahuan dan Kesenian” yang dikepalai oleh C.G.C. Reinwardt, seperti Antoine Payen dan Bik bersaudara (Theodorus Bik dan Adrianus Bik) dengan tugas resmi melukis alam, kota, pemandangan, tumbuh-tumbuhan dan fauna untuk kepentingan Natural Sciences Commission pada badan yang dipimpin Reinwardt tersebut.  Para pelukis yang datang secara resmi ini kemudian mengajarkan pengetahuannya kepada sebagian masyarakat pribumi, seperti Raden Saleh yang mendapat pengetahuan seni lukis dan menggambar dari Theodorus Bik dan Payen. Mungkin saja pelukis ini mengajarkan tidak hanya kepada Raden Saleh, tetapi catatan tentang hal itu belumlah dapat ditemukan hingga kini.

Sejak kecil Raden Saleh telah dididik untuk menjadi calon pegawai yaitu sebagai juru gambar (draughtsman) dan juru lukis pada Badan Penyelidik Pengetahuan dan Kesenian yang dikepalai professor C.G.C. Reinwardt di Bogor, ketika ia baru berusia tujuh tahun sekitar 1818. Setelah Inggris “menyerahkan” kembali Indonesia kepada Belanda ditahun 1816, pemerintahan jajahan yang baru dari Nederland tidak saja membawa penguasa-penguasa kolonial, tetapi juga beberapa guru besar atau professor yang diantaranya adalah Reinwardt yang dikuasakan untuk melakukan penyelidikan-penyelidikan tentang “Pengetahuan dan Kesenian”, selain itu juga para pelukis yang diantaranya adalah Antoine A.J. Payen yang menjadi pelukis pada “Badan Penyelidik Pengetahuan dan Kesenian” tersebut. Para pelukis ini ditugaskan melukis alam dan pemandangan di Indonesia.

Raden Saleh dididik menjadi calon pegawai Belanda di Cianjur, di rumah Residen Cianjur, R. Baron der Capellen. Dirumah inilah Antoine A.J. Payen bertemu dengan Raden Saleh yang kemudian tertarik kepada bakat Raden Saleh dalam menggambar. Pelajaran menggambar pertama Raden Saleh diterima dari pelukis Belanda Theodorus Bik yang mengajarinya di rumah Residen Cianjur tersebut. Theodorus Bik adalah juga salah seorang pelukis pada “Badan Penyelidik Pengetahuan dan Kesenian” di Bogor. Badan inilah yang kemudian mendirikan Kebun Raya Bogor (Botanical Garden) sebagai tempat penyelidikan Ilmiah dan tempat studi menggambar dan melukis aneka tumbuh-tumbuhan atau flora dan fauna untuk kepentingan Natural Sciences Commission pada “Badan Penyelidik Pengetahuan dan Kesenian“.

Memasuki tahun 1900 muncul pelukis-pelukis pribumi yang ―karena suasana dan iklim seni rupa saat itu atau medan sosial seni rupa saat itu― tetap membawakan seni lukis yang romantik terutama pemandangan alam. Pada awal abad ke-20, Seni lukis ini memang berkembang dengan hadirnya pelukis-pelukis asing dan pelukis-pelukis Indo hingga membentuk patron dengan didirikannya Kunstkring (Bataviasche Kunstkring) pada tahun 1902.

Seni lukis ini kemudian mempengaruhi pelukis-pelukis pribumi baik hubungan langsung (lewat akademi atau belajar kepada seorang pelukis) maupun tidak langsung. Nama-nama seperti Abdullah Suriosubroto—yang merupakan lulusan akademi seni rupa di Belanda (Belldende voor Kunst Academiẽ)—, Mas Pirngadi, Wakidi dan generasi selanjutnya seperti Basuki Abdullah—yang juga lulusan akademi seni rupa di Belanda—, Omar Basalamah, Sukardji, Wahdi dan beberapa yang lainnya.

Industrialisasi, Institusionalisasi, Penyelenggaraan Pendidikan dan Pembentukan Cita Rasa

          Kurang lebih tahun 1870 Belanda memasuki periode kapitalisme modern, hasil revolusi industri selama masa dua puluh tahun sebelumnya, terwujud dalam perkembangan industri, perkapalan, perbankan dan komunikasi yang modern. Volume perdagangan berkembang dengan pesatnya, sedang perkembangan modal terjadi secara besar-besaran, sistem perdagangan bebas ini mengatur hubungan-hubungan ekonomi Belanda dengan negara-negara tetangga Eropa. Selain itu pemerintah Belanda menjalankan politik “pintu terbuka” di Hindia Belanda (Indonesia) yang mengakibatkan berkembang dan munculnya perusahaan-perusahaan swasta dibidang perkebunan, manufaktur dan mineral tambang yang hasil produk-produk tanah jajahan tersebut lebih banyak mencari pasaran di negeri-negeri asing dari pada di negara Belanda sendiri. Pada masa ini ekspor modal ke Hindia Belanda (Indonesia) sangat menanjak yang dimulai sejak tahun 1850. Selain itu kondisi-kondisi yang menyenangkan bagi penanam modal juga dijamin oleh Pemerintah Kolonial seperti tenaga kerja dan sewa tanah yang murah.

Liberalisme sistem perekonomian Hindia Belanda (Indonesia) mengakibatkan tumbuhnya kota-kota sebagai pusat kegiatan ekonomi, pendidikan, komunikasi dan kegiatan sosial dan budaya. Modernisasi dan kemajuan (progress) sebagai akibat dari industrialisasi mengakibatkan migrasi penduduk desa ke kota (urbanisasi) dan tumbuhnya infrastruktur-infrastruktur kehidupan sosial masyarakat yang tadinya belum pernah ada dalam struktur sosial kehidupan masyarakat seperti partai politik, serikat dagang, serikat buruh, organisasi-organisasi sosial masyarakat dan budaya. Kota menjadi tempat pertemuan orang-orang dari berbagai daerah dan menjadi tempat pertukaran intelektual, terutama di kota praja (Gemente) dimana penduduk Eropa-nya tinggal lebih banyak, modernisasi kota bahkan berjalan lebih cepat.

Sejajar dengan perkembangan perekonomian di satu pihak dan perluasan bidang pemerintahan beserta administrasi dan pelayanannya di pihak lain, timbulah kebutuhan akan tenaga kerja, baik dalam bidang administrasi maupun dalam berbagai bidang teknik dan kejuruan. Sekedar untuk memenuhi kebutuhan itulah Pemerintah Kolonial secara lambat laun mendirikan sekolah-sekolah, mula-mula terbatas sampai tingkat rendah saja dan baru dalam dasawarsa kedua abad ke-20 dibuka sekolah tingkat menengah dan sejak tahun dua puluhan dibuka perguruan tinggi tingkat universitas.

            Pada akhir abad ke-19 pemerintah kolonial Belanda telah mendirikan sekolah-sekolah menengah pertama di Indonesia seperti Kweekscholen (Sekolah Guru Pribumi) tahun 1852 di Surakarta, Sekolah Juru Suntik (Dokter Djawa-scholen) pada tahun 1851 di Jakarta, dan Sekolah Pimpinan Pemerintahan Pribumi (Amtenar Pangreh-Praja) tahun 1878 di Bandung, karena guru, tenaga medis dan pegawai pemerintahan adalah orang-orang yang paling diperlukan oleh pemerintah kolonial Belanda saat itu. Pada tahun 1889, Sekolah Dokter Djawa berubah menjadi STOVIA[2] dan pada dekade berikutnya pemerintah kolonial mengadakan pendidikan tinggi setingkat universitas dengan dibukanya Technische Hogeschool/TH (sekarang ITB) di Bandung pada 1920 dan pada 1927 STOVIA di Jakarta ditingkatkan menjadi Sekolah Tinggi Kedokteran. 

Dari kemajuan industri dan pendidikan tersebut terbentuklah kelas sosial masyarakat menengah atau Borjuis. Para pengusaha pemilik modal (kelas Borjuis), selain membawa modal, mereka juga membawa cita rasa estetik. Seni lukis romantik berkembang seiring karena cita rasa kelas menengah atau (Borjuis) di Eropa yang kurang menyukai lukisan yang menggambarkan cerita dari Injil atau  kesusasteraan klasik. Masyarakat kelas ini lebih menyukai lukisan yang menggambarkan hal-ikhwal yang biasa saja, salah satunya adalah pemandangan alam. Dimana estetika atau keindahan lukisan ini membawa mereka istirahat sejenak dari kesibukan kerja, berdagang dan industri kota yang bising dan kotor.[3] Cita rasa ini kemudian mempengaruhi lapisan teratas masyarakat Indonesia atau pribumi yaitu kelas priyayi atau mẽnak dan kelas terpelajar berpendidikan Belanda atau Sekolah Eropah (Europeanean School).[4] Dalam masyarakat kolonial Hindia Belanda (Indonesia), masyarakat dibagi dalam tiga golongan atau stratifikasi sosial :

  1. Bangsa Eropah atau Europeanean
  2. Bangsa Timur Asing atau Vreemde Oosterlingen
  3. Bangsa Pribumi. [5]

Pada masyarakat pribumi dibagi lagi dalam tiga golongan atau stratifikasi :

  1. Kaum Priyayi (Kelas Bangsawan)
  2. Kaum Adat atau Pemimpin Agama
  3. Rakyat Biasa. [6]

Dari golongan-golongan tersebut prevelesi atau hak istimewa berada mutlak pada golongan bangsa Eropah atau Belanda. Sedang pada masyarakat pribumi prevelesi itu dimiliki oleh kaum bangsawan atau kelas priyayi. Dengan prevelesi tersebut  kelas priyayi dapat memiliki hak kekuasaan atas kekayaan, tanah dan otoritas kekuasaan pada tingkat pemerintahan tertentu. Selain itu juga jaminan-jaminan ekonomis, kesempatan bersekolah dan prevelesi untuk bergaul dengan masyarakat Belanda yang ada di Indonesia.[7]

Sukarno sebagai orang yang lahir dari kelas ini sangat terpengaruh oleh cita rasa  ini. Hal ini terbukti dari lukisan-lukisan koleksinya yang banyak bertemakan keindahan seperti pemandangan alam, gambar wanita dan alam benda [8]. Dalam buku “Key Concepts In Post-Colonial Studies” karangan Bill Ashcroft, Gareth Griffiths dan Hellen Tiffin (London: Routledge, 1998) terdapat istilah :

‘Mimicry’ : Suatu istilah untuk menjelaskan hubungan ambivalen antara si penjajah dan orang yang dijajah. Si terjajah melakukan peniruan (to mimic) kepada si penjajah dengan mengadopsi kebiasaan-kebiasaan budaya, pendapat-pendapat, lembaga-lembaga dan nilai-nilai si penjajah.[9]

 

Sedangkan pada diri Sudjojono hal ini tidak terjadi. Ia sangat anti terhadap cita rasa ini – yang ia sebut sebagai cita rasa kolonial – Soedjojono menjadi penentang pertama dan utama estetika seni lukis pemandangan alam ini.

Ketika Mas Pirngadi di tahun 1928 mengajar melukis kepada seorang muridnya, Soedjojono, ia masygul melihat kasarnya sapuan kuas Soedjojono dan kotornya warna-warna yang dipilih semaunya sendiri. Kata Pirngadi :

“ Saya tidak mengerti mengapa cara menggambarmu sangat kasar, suatu gambar lapangan tetapi seperti sawah yang baru saja dipacul………kalau menggambar awan, gunakan warna putih, oker, dicampur vermillion sedikit. Sedangkan  bayangan ialah warna-warna itu ditambah dengan biru. Untuk bayangan air di sawah, gunakan warna-warna tersebut ditambah oker dan biru sedikit lagi. Warna oker adalah warna kunci. Hindarkan pemakaian warna hitam dan putih”.[10]

 

Soedjojono lahir dari kelas Proletar, ayahnya adalah seorang kuli kontrak perkebunan yang dikirim dari Jawa ke Sumatera. Ayah Soedjojono seorang kuli kontrak pembangkang, sehingga ia diasingkan disebuah ‘barak’ tempat isolasi bagi para buruh atau kuli perkebunan yang membangkang. ‘Barak’-nya bernomor “101” yang kelak selalu ia abadikan dalam lukisannya “SS 101”. ‘SS’ inisial namanya Sindhudarsono/Sindutomo Soedjojono dan ‘101’ rumah atau barak tempat ia dilahirkan.[11]

 

 

Catatan :

 


[1] S. Soedjojono, “Seni-Loekis Di Indonesia, Sekarang dan Jang Akan Datang”, dalam Seni Loekis, Kesenian dan Seniman (Yogyakarta: Indonesia Sekarang, 1946), hal. 5.

[2] Lihat “Dari Raden Mas Tumenggung, Drs., dr., Hingga Ssn., SH., Ssss……”, (Jurnal Aikon, edisi 101, Juni 1999), hal. 13. Lihat juga “Berawal dari Sekolah Juru Suntik – Kronologi Gedung Kebangkitan Nasional”, (Jurnal Aikon, edisi 103, Agustus 1999), hal. 3.

[3] Lihat Sanento Yuliman, “ Seni Lukis Indonesia Baru-sebuah pengantar”, (Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta, 1976), hal.5.

[4] Lihat Sanento Yuliman, Ibid., hal. 5.

[5] Lihat Susanto Tirtoprodjo, “Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia”, Tjet. Ke.II, P.T. Pembangunan Jakarta, hal. 44. Dikutip dari Imam Buchori Zainuddin, “Latar Belakang, Sejarah Pembinaan Dan Perkembangan Seni Lukis Indonesia Modern 1935-1950“ , Tesis Bag. Seni Rupa, DPSR. ITB.Hal. 16.

[6] Lihat B. Schrieke, “Indonesian Sociological Studies”, (Bandung: Sumur Bandung, 1960), hal. 201

[7] Lihat Imam Buchori Zainuddin, Op. cit., hal. 5.

[8] Lihat Lee Man-Fong, Lukisan-Lukisan dan Patung-Patung Koleksi Presiden Sukarno dari Republik Indonesia (Jakarta: Panitia Penerbit Lukisan-Lukisan dan Patung-Patung Koleksi Presiden Sukarno, 1964)

[9] Lihat Bill Ashcroft, Gareth Griffiths, Hellen Tiffin, “Key Concepts In Post-Colonial Studies”,(London: Routledge, 1998), hal. 139.

[10] Lihat Imam Buchori Zainuddin, Op. cit., Hal. 105 – 106.

[11] Lihat Jim Supangkat, “Nasionalisme Sudjojono”, suplemen Harian Kompas menuju Millenium III, 1 Januari 2000. Hal. 71

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: