Jalan Alternatif Bermain: Kiprah Saiful Hadjar dan Gerakan Seni Rupa di Surabaya

 

Riadi Ngasiran

Esais, penelaah seni rupa, tinggal Surabaya

 

 

”Secara historis, negara berkembang dibanjiri hasil pembangunan negara-negara maju… Mereka menetapkan segala hal, mengontrol investasi, suku bunga dan tarif cukai, pajak dalam negeri, dan segalanya, kecuali terbit dan tenggelamnya Matahari.”

          Eduardo Galeano[i]

 

 

Seorang seniman yang ingin berpartisipasi nyata dalam penciptaan perubahan sosial atau kebudayaan, tentu ia akan menempatkan masyarakat dalam kedudukan sederajat dan bersifat dialogis. Pun dalam proses penciptaannya, masyarakat mempunyai arti penting dan seringkali diberi peran dalam proses penciptaannya. Dalam pemahaman ini, seni rupa bukan hanya sebagai karya seni yang sekadar dilihat, tetapi diharapkan mampu memberikan kesadaran akan adanya sebuah permasalahan kepada masyarakatnya.

 

Kehadiran Saiful Hadjar, sebagai seniman sekaligus penggerak utama Kelompok Seni Rupa Bermain (KSRB) sejak tahun 1994 di Surabaya, adalah memberikan kesadaran bahwa kesenian adalah “alat” untuk menyampaikan ide-ide dan pembelaannya terhadap kepincangan-kepincangan sosial itu dan konsen kepeduliannya akan harkat-harkat kemanusiaan. Masalah estetika, tidak lagi dipahami sebagai mencari keindahan pada bentuk karya kesenian semata. Tetapi, estetika menyangkut aspek kehidupan itu sendiri, menjaga keseimbangan pada tatanan kosmos.

 

Dalam pandangan ini, sebenarnya kesenian merupakan metode pembebasan dengan mengadakan upaya pendampingan. Karena itu, nilai dan perdebatan estetika memang tidak banyak mendapat tempat, kalau mungkin dikesampingkan. Dengan begitu, kesenian menjadi melebar, meluas, hingga merambah sesuai dengan luasnya persoalan sosial, kebudayaan dan kemanusiaan.

 

Hal ini diperkuat pula dengan paradigma bahwa kesenian adalah sejajar dengan disiplin keilmuan yang lain. Seorang seniman, karenanya, harus berdiri sejajar dengan para ilmuwan. Seniman adalah termasuk intelektual juga. Kelompok Seni Rupa Bermain, dengan paradigmanya itu, memfungsikan diri sebagai laboratorium intelektual. Ia adalah forum kerja yang bergerak di lapangan kesenian dan kebudayaan dalam arti yang seluas-luasnya. Sebagai laboratorium intelektual dalam memfasilitasi segenap energi yang terlahir dari dialektika gagasan-gagasan, ia berkepentingan untuk terlibat secara kritis dalam setiap manifestasi dinamika arus-arus perkembangan seni dan kebudayaan di Surabaya.

 

Sebelum menerjuni secara serius, lewat gerakan seni rupanya itu, Saiful Hadjar (yang kelahiran Surabaya, tepatnya di kampung Kaliasin, 30 Agustus 1959), dikenal sebagai pengamat seni lukis di Surabaya. Lewat sebuah sketsanya di suratkabar harian Surabaya Post, (edisi 15 September 1989), cukup mengesankan saya karena tema yang diangkatnya cukup memberikan semangat dalam pergulatan hidup. Sketsa gambar berjudul  Perkelahian menggambarkan dua ekor banteng sedang berkelahi, dengan latar-belakang suasana padang sabana yang tandus.  Dengan sikap-sikapnya yang cukup menantang, secara serius sikap berkesenian Saiful Hadjar yang mendudukkan pemahaman bahwa seni adalah juga alat untuk menyatakan ekspresi politik, dan sekaligus juga, identitas ideologis. Apalagi, disadari bahwa dalam konteks sejarah[ii], intelektual mencakup juga seniman dan penulis. Dalam pandangan mengenai intelektual seperti ini, seperti pandangan Ron Eyerman, bisa dibedakan dengan gerakan politik dan gerakan kultural. Para aktor dalam gerakan kultural, tidak penting untuk memikirkan diri mereka atau bertindak sebagai intelektual, tetapi lebih sebagai seniman dan penulis atau wartawan, guna mendukung proses kerja sebelum mengadakan aksi keseniannya.

 

 

***

 

Pada Senin, 29 Mei 2006. Lumpur panas tiba-tiba menyembur dari sepetak sawah yang terletak di Desa Siring, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Awalnya hanya sebuah semburan kecil yang menggenangi sawah dan tanah kosong di sekitarnya. Tetapi hari demi hari, semburan lumpur panas dengan suhu sekitar 70 derajat Celsius yang membawa gas dengan bau menyengat itu, kian membesar. Tak hanya sawah yang dilahapnya, jalan tol dan rumah-rumah penduduk pun tak luput dari terjangan lumpur panas itu.

 

Ketika itu, pakar menyebutkan bahwa setiap hari semburan tersebut mampu mengeluarkan sedikitnya 50.000 metrik ton lumpur panas dari dalam bumi. Dalam hitungan awam, besarnya semburan lumpur panas setiap harinya setara dengan 10.200 truk dam berkapasitas empat meter kubik. Tidak heran jika dalam tempo sebulan sedikitnya 200 hektar sawah dan lahan tebu milik rakyat telah terendam lumpur. Saat itu, warga empat desa yang ada di sekitarnya pun terusik ketika lumpur mulai merambah rumah-rumah mereka. Keempat desa itu adalah Desa Siring, Reno Kenongo, dan Jatirejo di Kecamatan Porong serta Kedungbendo di Kecamatan Tanggulangin, kesemuanya masuk Kabupaten Sidoarjo. Kini, dari luapan lumpur panas itu, berakibat 23 pabrik serta lebih dari 2.700 kepala keluarga berstatus mengungsi.[iii] Ketika seniman melakukan aksi kebudayaan ini, luapan Lumpur mencapai 6.000 meter kubik perhari, sementara hingga akhir November 2006 volume semburan Lumpur mencapai 126.000 meter kubik perhari.

 

Saiful Hadjar, sebagai penyair, menuliskan larik-larik berikut ini:

Beranak

dari kekonyolan penambang kekayaan bumi

dan penguasa negeri

harus sampai di meja mahkamah internasional

                                                                                                           

Duh ibu, pertiwiku

siapa yang bisa ganti

air matamu dengan madu?

 

Demikianlah Saiful Hadjar menggamitkan kata-kata yang terangkai dalam sebuah sajaknya, ”Danau Siringan”. Rangkaian kepedihan, perih di kejauhan. Suara jerit di bawah asap panas pada hamparan sawah dan pedusunan –yang sebelumnya subur kehijauan— telah berubah menjadi danau lumpur yang menyengat tak sedap. Panas di bawah terik kemarau panjang, mewujud jadi padang panas, menyimpan duka-derita orang-orang yang tengah mengalami musibah itu di pengungsian. Mereka mengembuskan kabar luka dari orang-orang yang telah didzalimi keserakahan pemilik kapital yang mengeksplorasi sumber kekayaan bumi, berdalih investasi untuk membangun negeri. Ya, mereka juga menggamitkan doa-doa agar kalis dari sambikala, mangsa sang waktu, yang akan memenjarakan karena ketakberdayaan mengatasi keadaan.

 

Inilah sebuah respon seniman atas bencana alam, yang akan diikuti dengan bencana budaya di negeri ini. Performance art Danau Siringan, di antaranya menyuarakan perih luka orang-orang desa yang kampung halamannya tenggelam karena bencana luapan lumpur gas Lapindo, di kawasan Porong, Kabupaten Sidoarjo.Performance berjudul Danau Siringan dimainkan pada 21 Juni 2006, pk 16.00 WIB, mengelilingi alun-alun kota Sidoarjo. Di antara mereka, ada yang berkalung rentengan ikan laut, untingan padi yang dirangkai, membelit pinggang, menyimbolkan terancamnya kehidupan. Sesosok tubuh yang melepuh, ditandu turut mengiringi aksi ini.

 

Gagasan Saiful Hadjar dari Kelompok Seni Rupa Bermain Surabaya, didukung sejumlah pemain (selain Saiful Hadjar sendiri), adalah Willy Al-Mahmud Yunus, Budi Astuti, Vira, Ellys, Ugeng Bayu dan sejumlah partisipan. Sebuah keprihatinan yang dinyatakan dalam performance art Danau Siringan mengacu pada sebuah desa di antara 8 desa seluas 400 hektare, yang sudah tenggelam karena luapan lumpur panas PT Lapindo Brantas Inc. —sebuah perusahaan Grup Bakrie, milik Menko Kesra Aburizal Bakrie. Sebuah danau lumpur yang kelahirannya telah membunuh perputaran perekonomian mandiri masyarakat Desa Siring, Renokenongo, Kedungbendo, Sengon,  Glagaharum, Jatirejo, Mindi, hingga kelurahan Porong, Kabupaten Sidoarjo, disertai dengan korban harta dan jiwa.

 

Pada awal-awal melubernya lumpur panas,  terdapat kejadian mengenaskan. Dua orang lelaki dari Desa Renokenongo dan Jatirejo, kondisi tubuhnya membiru dan paru-parunya gosong karena terperosok ketika sedang menyelamatkan harta bendanya, saat rumah-rumah mereka mulai secara pelahan terendam luberannya. ”Mereka jangan dibiarkan menderita berlarut-larut lama, secepatnya diberi kepastian, agar bisa merintis kehidupannya kembali di tanah pertiwi, yang penuh kekayaan alam.” Saiful Hadjar mencoba memberikan penjelasan akan aksinya tersebut.

 

Bentuk performance ini, dua orang petani  tambak dan sawah menggeret korban bencana Lumpur Lapindo dengan tandu. Performance ini melalui rute dari pendopo pariwisata mengelilingi alun-alun Sidoarjo dan kembali ke pendopo pariwisata. Bertujuan untuk memberikan penyadaran tentang kesemberonoan eksplorasi kekayaan alam yang selalu merugikan rakyat kecil dan merusak lingkungan.

 

Dan penonton pun penasaran. Di alun-alun yang biasanya menjadi semacam pasar kaget, orang-orang menyaksikan kabar haru dari para seniman. Meski memang, soal luapan lumpur yang menyatukan rumah, sawah pertanian, tambak perikanan, dan areal tanah dekat jalan bebas hambatan,  berubah menjadi danau lumpur panas, telah mereka dengar. Gaungnya kian mencekam telinga orang-orang yang melihat aksi performance itu, hingga akhirnya sadar akan kondisi yang menimpa sesama saudaranya itu.

 

Seperti performance yang diaksikan Saiful Hadjar dan Kelompok Seni Rupa Bermain sebelumnya, ia berikhtiar mengingatkan bahwa rakyat kecil selalu tidak bisa berbuat apa-apa dalam menuntut untuk mendapat haknya kembali, mengingat kebutaan terhadap hukum politik dan birokrasi. Seperti halnya menghadapi perusahaan yang menyalahi aturan main untuk eksplorasi tambang minyak yang sekarang sudah terlanjur memjadi pusat luapan bencana dan petaka. Tentu bukan perusahaan tersebut yang harus menanggung semuanya, seluruh pejabat pemerintah yang terkait ikut serta bertanggung jawab. Peristiwa bencana lumpur panas Lapindo merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang telah menghilangkan tempat tinggal, mata pencarian, pendidikan, nyawa, ganggung kejiwaan, dan sebagainya. ”Apa tidak sebaiknya gangguan tersebut diajukan ke Mahkamah Internasional?,” teriak Saiful Hadjar. Bila demikian keadaannya, siapa di antara kita dapat membantu mereka untuk melakukan tuntutan terhadap penyelewengan tersebut, menghadapi kemungkinan yang paling buruk akibat dari kecerobohan ulah manusia tersebut.

 

Memang, luberan lumpur Lapindo adalah khas efek dari praktik kapitalisme dunia. Manusia di negeri dunia ketiga selalu menjadi sasaran dari korban eksplorasi alam, setelah kekayaan disedot habis, agaknya tinggallah bumi yang nyaris tak berdaya. Seperti disinggung dalam petikan awal tulisan ini, dalam kata-kata Eduardo Galeano, mereka mengambil ”segalanya, kecuali terbit dan tenggelamnya Matahari.” Inilah yang terakhir menjadi perhatian Saiful Hadjar, konsen membela harkat kemanusiaan.

 

***

 

 

Situasi Indonesia mulai memanas, menyusul maraknya aksi demontrasi yang dilakukan mahasiswa dan segenap elemen masyaakat, sejak pertengahan April 1998 hingga akhir Mei 1998, adalah masa-masa penting menjelang tumbangnya rezim Orde Baru —ditandai dengan mundurnya Soeharto dari kursi kepresidenan. Saiful Hadjar pun turut melakukan aktivitas dengan menggelar poster raksasa, ukuran 30 x 3,6 meter, membungkus teras gedung Balai Pemuda Surabaya pada 11 Mei 1998 —beberapa sebelum Soeharto jatuh. Di atas kertas bekas bungkus semen itu, digambarkan fragmen aksi demonstrasi yang marak membawa spanduk bertuliskan Mari Bersama Merevolusikan Impian Kita untuk Negeri Ini, dan mendapat dukungan sejumlah seniman lain di Surabaya. Dengan gambar yang didominasi warna hitam itu, mengingatkan kita pada sejarah seni lukis Indonesia di masa perjuangan.

 

Dari gambar besar itu, dikerjakan Saiful Hadjar, pula menjadi pemicu keberanian seniman lain untuk melakukan aktivitas pertunjukan, seiring gegap-gempitanya reformasi, maka Balai Pemuda Surabaya menjadi pusat kegiatan kota Pahlawan. Para seniman, bersama tokoh-tokoh masyarakat dan mahasiswa, melakukan serangkaian orasi, baca puisi, pentas tari dan teater, yang menyuarakan kehendak berakhirnya pemerintahan Orde Baru dibawah rezim Soeharto.  Beberapa hari berikutnya, Saiful Hadjar memamerkan karyanya berjudul  Seni Rupa Teror: Antara Sepatu Beliau dan Mahasiswa (di pelataran Balai Pemuda Surabaya, Mei 1998), yakni menggelar gambar dari kertas semen berukuran 5 x 15 dengan objek sepatu-sepatu tentara dan mayat-mayat mahasiswa bergelimpangan untuk memperingati Tragedi Trisakti. Hingga akhirnya, tersiar berita tentang jatuhnya rezim diktator Orde Baru, Soeharto, pada 20 Mei 1998 yang menyerahkan pemerintahannya kepada B.J. Habibie.

 

Meski kekuasaan telah berganti tangan, di bawah pemerintah Presiden Habibie kondisi Indonesia tidak menjadi lebih baik, bahkan makin carut-marut. Saiful Hadjar melihat situasi itu, mengajak memikirkan terbentuknya sebuah masyarakat baru dengan menggelar Seni Rupa Instalasi: Republik Indonesia Baru (digelar di halaman parkir depan Dewan Kesenian Surabaya, 2 Agustus 1998). Dengan tumbangnya Soeharto dari kursi kepresidenan, seruan reformasi total belumlah tercapai. Teror, penculikan, penganiayaan, kekerasan, kerusuhan dan kesewenang-wenangan masih terjadi dimana-mana. Misalnya, Tragedi Universitas Trisakti, Insiden Semanggi, Insiden Ketapang, Insiden Kupang, Kerusuhan di Solo, Kasus embunuhan terhadap dukun santet di Banyuwangi, dll. Sehingga, rakyat Indonesia masih ”diinterogasi gelap”, yakni dikejar bayang-bayang pertanyaan yang membikin rasa ngeri dan menakutkan, dalam kondisi masih gelap. Maka, muncullah Seni Rupa Teror: Interogasi Gelap (digelar di parkir timur Kompleks Balai Pemuda Surabaya, 30 Desember 1998).

 

Melalui pemaknaan seni rupa dengan kata ”teror”, bagi Saiful Hadjar, merupakan kesadaran diri terhadap masyarakat yang mengalami tindakan kesewenang-wenangan. Seni rupa teror melakukan pemberdayaan masyarakat lewat seni rupa. Dalam hal ini seni rupa dijadikan sebagai ruang dialog bagi masyarakat (baik yang tertindas maupun penindas, serta melibatkan meeka yang memiliki kepeduliaan terhadap persoalan tersebut), masing-masing dapat berperan sebagai subjek untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi. Tujuannya: agar mereka itu punya kewajiban melakukan “teror” terhadap teror yang telah menginjak-injak nilai-nilai kemanusiaan.[iv]

           

Dalam aksi kebudayaan Seni Rupa Teror: Interogasi Gelap, aksi kesenian diawali dari penggarapan ruang terbuka dengan memasang lukisan fragmen berukuran 4 x 30 meter. Lukisan tersebut dilukis di atas kertas semen, menceritakan tentang demonstrasi, pamswakarsa (pengamanan swakarsa), kasus santet, penganiayaan, penculikan, kematian dan segala bentuk kekerasan lainnya. Sedang di depan lukisan fragmen, terdapat pagar-pagar lalu-lintas atau garis polisi (line police). Pagar-pagar itu ditata dalam bentuk komposisi yang membangun imajinasi tentang pengaturan lalu-lintas pada saat terjadinya demonstrasi dan kerusuhan. Lewat karya seni ini, para seniman hendak bersama-sama membangun ”Nasionalisme Kekinian” dengan sikap dan pandangan kritis, rendah hati, toleran dan menomorsatukan evaluasi kritis sebagai motor kemajuan masyarakat demokrasi, menjunjung seperangkat nilai-nilai yang didasari pada konsep harkat kemanusiaan.

 

Peristiwa Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh memberikan kegelisahan bagi seorang seniman. Inspirasi pun muncul dari Saiful Hadjar, dengan Seni Rupa Teror: Tanah Rencong (dipamerkan di Gresik, 10 – 13 November 1999) dengan konsep, lukisan besar berukuran 45 x 15 meter, hampir menutup muka gedung. Karya di atas kertas semen ini digarap secara komikal penuh, dengan warna-warna sederhana, seperti merah, hitam dan putih. Mengungkapkan secara gamblang praktik kekerasan, pembunuhan, perkosaan, perlawanan, penggalian jenazah yang dilakukan pihak militer di Aceh. Instalasi bertuliskan “Anda Memasuki Wilayah Bebas HAM”, sepatu tentara, menggambarkan ekspresi kekuasaan yang angkuh.  Di belakangnya, berjajar celana dalam berlumuran darah yang merupakan visualisasi atas pemerkosaan yang menimpa sebagian perempuan di Aceh.Tengkorak dan tulang-belulang menyebarkan bau anyir.[v]

 

Pada periode perlawanan ini, Saiful Hadjar masih setiap dengan konsep estetika teror. Maka muncullah Seni Rupa Teror: Titik Balik Kenegaraan (digelar di arena Festival Seni Surabaya 2000, 25 Februari – 3 Maret)[vi]. Mengangkat kembali masalah “pembangunanisme” sebagai sebuah ideologi Orde Baru, yang dulu dibanggakan, ternyata tidak mengakar kuat. Pembangunan yang ditandai dengan pernyataan, penghargaan dan monumen, hanya manipulasi besar-besaran. Negara akhirnya menjadi kacau-balau, diawali dengan krisis kepercayaan pada pemimpin, krisis ekonomi-moneter, dan serangkaian peristiwa akibat konflik sosial yang terjadi berlarut-larut hingga menyengsarakan rakyat. Divisualkan dalam beberapa gundukan tanah bongkaran kuburan, dengan tengkorak kepala, tulang-belulang berserakan, ditimpahi bau anyir yang menyengat. Di bagian atasnya, terdapat batang kayu yang menancap dan celana dalam, kutang, bergantungan di atasnya. Tak pelak, inilah gambaran dari kekerasan terhadap perempuan dan masih berlangsungnya kerusuhan dan pembunuhan. Sejak reformasi digulirkan, banyak darah tergenang dan nyawa manusia melayang sia-sia. KSRB mengajak merenung untuk memikirkan, sekaligus mengajak, menggugah dan meneriakkan kesadaran masyarakat untuk mengerem tindakan anarki terhadap sesamanya,  bagaimana masa depan negeri dan bangsa ini dibangun kembali.

 

Berbagai persoalan kemanusiaan menimpa rakyat Indonesia, mulai dari krisis ekonomi, krisis kepemimpinan, sampai pelbagai aksi teror, seperti penculikan, pembunuhan dengan isu santet dan pembantaian terhadap rakyat Aceh, dan masih banyak kasus lainnya yang belum terungkap. Belum lagi pemilihan wakil rakyat yang sampai sekarang masih tidak menentu menjadikan suara-suara yang seharusnya sudah terwakili dan terakomodasi, semakin tidak menentu saja. Rakyat semakin dibuat bingung dan was-was terhadap gejala ketidakstabilan negara dan bangsa kita, yang dulunya ‘gemah ripah loh jinawi’, bagaikan surga. Suara-suara yang terkoyak dan didiamkan seakan mereka sudah mati.

 

Seorang seniman yang peduli terhadap kondisi masyarakatnya tentu tergerak untuk mencoba merefleksikan persoalan tersebut lewat bahasa seni rupa. Ia mencoba merefleksikan melalui media yang dituangkan dalam bentuk seni rupa instalasi: merespon, mengakomodasi dengan bahasa simbol seni rupa. Lewat karya ini, ia  berupaya menyadarkan publik tentang kondisi dan keadaan di mana masyarakat arus bawah selalu tertindas, dan suara-suara hanya untuk permainan elite politik. Dalam kehidupan bermasyakat, lewat karya-karya seninya, seniman akan bersikap mempertanyakan: Dimanakah sebenarnya posisi arus bawah, siapa yang menampung suara-suara mereka, atau mereka hanya menjadi permainan yang menguntungkan golongannya saja?

 

Era reformasi terkadang semakin menjauh dari tujuan positifnya. Suasana yang paradoks bisa saja terjadi. Justru, di era reformasi itu, kita terancam dalam pelbagai krisis (krisis multidimensi), dan pada ujungnya, keutuhan negara-bangsa terancam. Pelbagai peristiwa kerusuhan, baik yang dipicu agama, maupun kerusuhan antaretnis, semakin membuktikan ‘suasana’ terancam itu. Pada sisi lain, di era reformasi ditandai dengan semakin terbukanya krans kebebasan dan demokrasi, ternyata para elite politik justru gamang dengan suara-suara itu, suara-suara rakyat yang perih dan kerap dilupakan. Aspirasi yang mereka dengar, hanyalah yang memberikan angin dukungan bagi kepentingan politik mereka. Suara di dalam kerumunan massa, digambarkan Agus Koecink dalam pelbagai kanvas yang berbeda ukuran. Ia menggiring imajinasi penikmatnya, terhadap para pemimpin, elite politik yang dungu, yang tak mau mendengar jeritan dan penderitaan mereka.

 

Di sinilah, sesungguhnya, seniman bermaksud mengingatkan kita akan perlunya kehadiran seorang pemimpin yang mencerahkan. Negeri ini membutuhkan kepemimpinan yang mencerahkan, yang tidak saja mau mendengar suara dari massa pendukungnya atau kelompok sendiri. Elite politik, para wakil rakyat, tidak lagi mendengar dengan jernih keinginan rakyat; mereka cenderung memaksakan kehendaknya sendiri dan berebut kursi kekuasaan. Sementara di tingkat bawah, pelbagai persoalan mengacam kehidupan negara kita: krisis multidimensi dan ancaman disintegrasi bangsa.

 

Bila rezim demokratis harus bekerja dengan memuaskan, ia membutuhkan seorang pemimpin yang bukan penipu ataupun ahli pidato yang pandai menghasut. Tetapi, seorang tokoh yang memiliki nilai etika dan intelektual yang sedemikian menonjolnya, sehingga sesama warganya akan mengikuti tuntutannya tanpa harus dipaksa ataupun dirangsang secara emosional. Sayangnya, kehadiran pemimpin semacam ini amat sulit ditemukan, dan yang ada hanyalah Kabinet Mega Omplong (2001)[vii]. Lewat karya lukisan hitam-putih, Saiful Hadjar mencoba menggambarkan kehadiran seorang pemimpin, yang terkesan enggan untuk memikul tugas membimbing bangsanya —sebuah tugas berat dan sulit yang menyusahkan. Padahal, peranan sang pemimpin, jelas mempunyai arti sosial yang amat besar: pengemban suatu perasaan sosial dan tidak mementingkan diri sendiri, yang amat tinggi.

 

Dalam perkembangannya, keberadaan Saiful Hadjar bersama Kelompok Seni Rupa Bermain, secara jelas dipahami sebagai sebuah gerakan kebudayaan. Sebagai gerakan kebudayaan, pada dasarnya, memiliki kesamaan dengan gerakan-gerakan sosial dan politik, dan merupakan alasan mengapa para seniman harus berdiri sejajar, memosisikan dirinya dengan kaum intelektual. Akan tetapi, tidak semua seniman, penulis dan wartawan, adalah intelektual –hanya karena berdasarkan aktivitas-aktivitas dan praktik hidup mereka.

 

***

 

Sebagai sebuah gerakan kebudayaan, Kelompok Seni Rupa Bermain jelas berbeda dengan Gerakan Seni Rupa Baru, yang berawal dari kegelisahan terhadap perkembangan  idiom-idiom baru dalam penciptaan seni rupa; ia berbeda pula dengan kelompok lain yang sebetulnya juga merupakan sempalan dari Gerakan Seni Rupa Baru, yang mempunyai kepedulian besar terhadap masalah-masalah sosial, dimana di dalamnya terdapat model kesenian yang dilakukan Moelyono dan Semsar Siahaan. Selain Saiful Hadjar, memang sebelumnya terdapat nama Moelyono. Seniman kelahiran Tulungagung ini, memberikan pandangan dalam berkesenian bahwa yang lebih penting adalah keberpihakannya terhadap nilai-nilai kemanusiaan, dengan menggelar pameran karyanya di Surabaya. Pelarangan atau pencekalan sebuah pameran, seperti pada karyanya Mengenang 100 Meninggalnya Marsinah (1993), sesungguhnya tidak menjadi soal, bahkan meminjam istilah Saiful Hadjar sebagai “sebuah keberhasilan”, karena gaung dari karya itu akan semakin membuka ruang dialog di tengah masyarakat.  Namun, yang lebih penting adalah seberapa jauh seni sebagai karya kreatif yang mencerminkan pengalaman dan pengetahuan budaya, serta dapat memberikan suasana psikis, sebab seniman bukan pimpinan dalam karya, melainkan pencetus nilai-nilai di dalam deretan karyanya sebagai upaya menguatkan keberadaan kebudayaan dan apresiasi budaya dalam kehidupan masyarakat.

 

Kehadiran seniman yang melibatkan diri ke dalam persoalan masyarakat, adalah kenyaan sejarah. Dalam sejarah perjuangan bangsa moden Indonesia, patung wayang, sepanduk dan seni persembahan sering digunakan sebagai alat propaganda di rapat-rapat umum politik dan perarakan protes, di masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Seniman seolah menjadi saksi bagi proses perubahan-perubahan dalam masyarakat. Tak hanya di Surabaya, di sejumlah kota lain pun muncul bentuk kesenian yang memberikan kesadaran bagi masyakatnya. Di Yogyakarta, kita mengenal adanya kelompok seniman yang menyebut diri Taring Padi, yang di dalamnya terdapat nama Weye Hariyanto —belakangan ia menyatakan keluar[viii].  Kelompok ini mempunyai kaitan jelas, dengan aktivitas seniman lainnya, seperti terungkap dalam tulisan Nur Hanim Mohamed Khairuddin:

 

Keterlibatan Taring Padi, dalam emansipasi politik, proses demokrasi, keadilan sosial dan reformasi Indonesia turut menggunakan mural dan patung wayang gergasi, sepanduk dan poster untuk mendidik dan mencetus budaya kritis dalam masyarakat. Gerakan pelajar 1998 yang berjaya menumbangkan raksaksa rezim Orde Baru adalah atas daya usaha kolektif-kolektif budaya dan intelektual seperti Taring Padi, Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (JAKER, pimpinan Wiji Thukul) dan Kelompok Seni Rupa Bermain (KSRB, pimpinan Saiful Hadjar di Surabaya), yang instrumental menggerakkan protes dan persembahan budaya, yang terkesan radikal atau pun masih dalam kerangka kritisisme konstruktif.[ix]

 

Dari sini, muncul adanya kerja kesenian sebagai pengalaman, seperti dianjurkan Saiful Hadjar, sekaligus menjadikan aktivitas kesenian sebagai laboratorium intelektual – sebuah upaya untuk menajamkan pengetahuan dan cakrawala pandangan dalam memahami persoalan yang terjadi dalam masyarakat. Kesenian adalah alat untuk mengadakan perubahan-perubahan secara luas, kesenian berparadigma dalam konteks kebudayaan. Tingkat kepedulian seorang seniman akan sangat menentukan proses penciptaan, pemilihan medium dan menempatkan posisi karyanya dalam kehidupan ini.

 

Aktivitas politik telah melumatkan harkat kemanusiaan bila tanpa dilandasi etika berpolitik yang baik. Sebab, pada ujungnya politik praktis memang tak bisa dilepaskan begitu saja dari aktivitas untuk memperebutkan kekuasaan. Bermain politik secara cantik, yang menganggap aktivitas itu sebagai “seni” agaknya sesuatu yang sulit dilakukan para elite politik itu di Indonesia. Tak heran bila kekuasaan selalu memperoleh celah untuk mendapatkan cercaan atau pun kritik – kendati juga muncul upaya untuk mencari celah positifnya dalam sejarah pemikiran umat manusia.

 

Begitulah: masalah kekacauan, penindasan, pembantaian, yang selalu mengakibatkan darah mengalir, tak lepas dari praktik tiranik kekuasaan. Entah kekuasaan yang hendak dilanggengkan, atau hendak menumbangkannya oleh para pembangkangnya. Dan persoalan-persoalan di seputar itu, selalu menumbuhkan inspirasi yang bisa dipetik oleh seorang seniman. Juga, belakangan adalah persoalan merajalelanya praktik korupsi, nepotisme, kolusi, menjadi sebongkah kebekuan dialog yang perlu dicairkan melalui kesenian. []

 

Surabaya, 14 Mei 2007

 

*) Riadi Ngasiran, esais dan penelaah seni rupa, tinggal di Surabaya.

 

 

 

 


C.a.t.a.t.a.n.

 

[i] Eduardo Galeano, penulis dan ahli sejarah Amerika Latin. Karyanya trilogi Memory of Fire dan karya klasiknya, Open Veins of Latin America, mempunyai nilai unik karena mengeksplorasikan fakta sejarah, fiksi,jurnalisme dan analisis politik. Ia juga dalam artikel panjang berjudul Five Hundred Years of Solitude (mengambil judul yang mirip dari penulis Columbia terkemuka, penerima Penghargaan Nobel Sastra tahun 1982, Gabriel Garcia Marquez, One Hundred Years of Solitude). Saya banyak berterima kasih pada Halim HD atas pemikiran-pemikiran Eduardo Galeanoini. Kutipan di awal tulisan ini, diambil dari Kompas, 17 Februari 2003.

[ii] Ron Eyerman berpendapat bahwa seniman dan penulis dapat saja berubah ikut gerakan politik, secara praktis, seperti telah terjadi pada awal abad ke-20 dan dalam tahun 1930-an. Ron Eyerman, Cendekiawan: Antara Budaya dan Politik, Penerbit Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1996:52-53.

[iii] Data terakhir penjelasan Direktur Pengelolaan Sungai dan Pabrik Dirjen Sumber Daya Air, Ir. Widarto (mewakili Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto) dalam Seminar Nasional yang digelar Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) di Graha Sepuluh Nopember ITS Surabaya, pada  Senin, 20 November 2006 (Duta Masyarakat, 22/11/2006 hlm 14).

[iv] Riadi Ngasiran, Memaknai Seni Rupa Indonesia Alternatif: Iki Lhoo…! Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001. 

[v] Patut dicatat adalah pernyataan Picasso ketika ia melukis dengan ukuran besar. ”Perang di Spanyol adalah pertempuran melawan reaksi rakyat. Seluruh karir saya adalah satu perjuangan terus melawan reaksi dan kematian seni. Lukisan yang sedang dikerjakan ini, akan kunamakan Guernica. Saya ekspresikan rasa hororku pada kasta militer yang menceburkan Spanyol ke laut penderitaan dan maut”, kata Picasso, pada Mei 1937. Secara kebetulan atau mendapat inspirasi dari Picasso, Saiful Hadjar melakukan hal serupa. Ia membikin lukisan berukuran 450 x 150 cm yang hampir menutup gedung sebuah universitas di Gresik. Karya di atas kertas semen ini digarap komikal penuh. Warnanya sederhana, merah, hitam dan putih. Karya ini mengungkapkan secara gamblang, adanya praktek kekerasan, pembunuhan, perkosaan, perlawanan, penggalian jenazah yang dilakukan oleh pihak militer di Aceh. Baca: ”Picasso-Saiful Hadjar Ekspresikan Teror Militer”, dalam Surabaya Post, Senin 15 November 1999.

[vi] Buku panduan Festival Seni Surabaya, 2000. Juga katalog diterbitkan Kelompok Seni Rupa Bermain dalam serangkaian pameran karya Saiful Hadjar, Seni Rupa Teror: Tanah Rencong (1999) dan Seni Rupa Teror: Titik Balik Kenegaraan (2000). Secara keseluruhan, gagasan dan visual dikerjakan Saiful Hadjar.

[vii] Penyebutan ”Mega” sangat jelas, merujuk pada kepemimpinan presiden Megawati, yang menggantikan Abdurrahman Wahid, dari kursi kepresidenan, dalam Sidang Istimewa MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat), pada bulan Juli 2001. Karya tersebut dipamerkan di Galeri Surabaya, pada akhir Agustus 2001.

[viii] Weye Hariyanto menyatakan keluar karena pada perkembangan berikutnya setelah rezim Orde Baru jatuh, aktivitas mereka dirasa sudah keluar dari visi semua sebagaimana dipahami bersama. Banyak karya Weye Hariyanto, terutama grafis, yang tanpa menyebutkan namanya melainkan cukup dengan identitas Taring Padi. Catatab Wawancara Weye Hariyanto, di Surabaya, Desember 2000.

[ix] Nur Hanim Mohamed Khairuddin,  “Taring Padi: Mengintai dunia seni independen Jogjakarta”. Diambil dari situs internet kakiseni,com tanggal 21-11-2002.

Lihat: http://www.kakiseni.com/articles/features/MDI3MQ.html

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan foto karya

 

  1. Saiful Hadjar dan Kelompok Seni Rupa Bermain, Performance Art “Danau Siringan” (2006). Keprihatinan atas korban lumpur Lapindo, di Porong, Kabupaten Sidoarjo (Jawa Timur).
  2. Saiful Hadjar, ”Partisipasi Politik” (grafis, cukil kayu, 2004)
  3. Saiful Hadjar, ”Rohaniawan” (grafis, cukil kayu, 2004)
  4. Saiful Hadjar, ”Sidang Umum” (grafis, cukil kayu, 2004)
  5. Saiful Hadjar dan Kelompok Seni Rupa Bermain, “Kami Bukan Pewaris Negeri” (2000). Bentuk garapan seni rupa instalasi “Aki Kebudayaan Anak-anak Pinggiran” di Gedung Museum Pemuda atau Galeri Surabaya, Kompleks Balai Pemuda Surabaya, 20-24 September 2000.
  6. Saiful Hadjar dan Kelompok Seni Rupa Bermain, Seni Rupa Teror “Titik Balik Kenegaraan” (2000). Pameran seni rupa instalasi di Balai Pemuda Surabaya pada Festival Seni Surabaya, Mei 2000.
  7. Saiful Hadjar dan Kelompok Seni Rupa Bermain, Seni Rupa Teror: “Tanah Rencong” (mixed media) dipamerkan dengan membungkus Gedung Universitas Muhammadiyah Gresik, 1999.
  8. Saiful Hadjar dan Kelompok Seni Rupa Bermain, “Indonesia Baru” (1998). Gambar di atas kertas bekas pembungkus semen berukuran 30 x 4 meter, dipamerkan menutup Gedung Depan Balai Pemuda Surabaya.
  9. Saiful Hadjar dan Kelompok Seni Rupa Bermain, Seni Rupa Kamar Kecil, dipamerkan di tepian Sungai Kalimas, dalam Festival Seni Surabaya, 31-1 Juli 1996.

 

 

 

 

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: