Islam, Seni dan Kekuasaan Tentang Pergulatan: Ingatan dari Festival Istiqlal I 1991 dan Festival Istiqlal II 1995

 

 

 Oleh: Zaenudin Ramli (Bandung)

 Pengantar ke persoalan

 Lima belas tahun sudah berlalu, peristiwa pameran seni rupa modern Festival Istiqlal I 1991 dan II 1995 telah dilewati. Daripada peristiwa itu, rupanya ada kejadian yang diingat dan sempat tercatat. Di lain pihak tak jarang pula ada kejadian yang tertinggal bahkan nyaris dilupakan. Baik peristiwa atau kejadian yang diingat dan ditulis oleh para penulis, pengarang atau sejarawan itulah yang muncul ke permukaan. Kejadian yang muncul ke permukaan sekaligus hidup dalam kerangka besar ruang dan waktu, maka biasanya itulah yang disebut juga sebagai sejarah yang dominan. Sebaliknya, peristiwa yang tidak dikenal dan luput dari perhatian, sehingga tidak tercatat oleh para penulis, pengarang dan sejarawan, itulah peristiwa yang terbenam. Karena alasan berbagai versi mungkin saja peristiwa dan kejadian itu pun ditindas, akibatnya ia tidak layak hidup dan tidak sepatutnya juga dijadikan sebagai rujukan sejarah.

 

Apapun masalahnya, bukankah sejarah selalu menyimpan sisi-sisi yang tetap dilematis?. Jika begitu sering dikata jika sejarah dalam pengertian tautologis disebut sebagai apa yang menjadi tugas dan ditulis oleh sejarawan, pada akhirnya akan mengandung segi problematis jika tidak dikatakan mahasulit. Oleh karena itu, guna meminimalisir kesalahan akibat yang akan ditimbulkan, disarankan upaya penulisan sejarah atau historiografi perlu memfokuskan sejarah tertentu. Dalam konteks demikian dikatakan bahwa sejarah adalah sejarah tertentu, particular yang berlawanan dengan hal yang sifatnya general berarti umum. Maka, tugas sejarawan maupun para penulis dan peneliti sejarah dituntut untuk melakukan upaya menulis hal-hal yang terperinci bahkan detail. Maksudnya, sejarah perlu menyajikan hal-hal yang kecil-kecil dan terbuang, tidak terbatas pada hal-hal yang besar. Begitulah, dalam pengertian yang sedalam-dalamnya sejarawan adalah ’master of details’1, untuk meminjam istilah Kuntowijoyo.

 

Rupanya pokok peristiwa Festival Istiqlal I 1991 dan peristiwa Festival Istiqlal II 1995 (selanjutnya ditulis FI-I dan F-II) yang sudah lama berlalu itu, agaknya masih menyimpan sisi kekhawatiran apa yang dilupakan dan tidak sempat tercatat tersebut. Ada kenyataan bahwa Festival Istiqlal bukan saja upaya menyorong bagaimana seni rupa kontemporer gagasan Islam dicoba ditawarkan pada praktik seni rupa modern Indonesia secara lebih luas. Jaun daripada itu FI juga terbentuk dari pengaruh-pengaruh secara sosiologis bahkan etnografis. Walaupun tidak sistematis, tulisan ini mencoba melihat sisi-sisi problematik dari kegiatan Festival Istiqlal tersebut. Utamanya baik yang diselenggarakan pada perhelatan pertama maupun yang kedua. Dengan demikian, secara internal upaya pendekatan melihat kasus FI selain dilihat sebagai upaya gagasan seni (Islam) yang coba ditawarkan dalam pergulatannya dengan modernitas Barat. Kemudian secara lebih jauh juga kegiatan Festival Istiqlal dilihat sebagai masalah eksternal. Dalam pengertian ini, kegiatan FI I dan FI II dilihat sebagai sebuah kasus kontruksi dari pengaruh kekuatan-kekuatan ideologis maupun kultural. Kekuatan-kekuatan yang dimaksud tersebut, antara lain bagaimana kekuatan Islam, politik dan kekuasaan (individu dan organisasional) bersaing, hingga satu-sama lain saling mempengaruhi.

 

Modernitas dan Seni Modern Indonesia Gagasan Islam

 

Jika boleh dimengerti setidaknya sekitar paruh 1970-an, awal gagasan seni Islam pada seni rupa modern Indonesia itu muncul. Pada bahasan dalam konteks ini sering diketahui dan dijelaskan, bahwa seni rupa Islam yang demikian, mulanya dirintis oleh salah seorang pionir utamanya yaitu pelukis Ahmad Sadali. Sering diketahui jika pelukis Ahmad Sadali secara tegas mencoba menawarkan nilai-nilai Islam dan gagasan spiritualitas religius terhadap praktik seni lukis modern di tanah air. Sebagai seorang pionir dan tonggak kelahiran atau kemunculan gagasan seni Islam dalam seni rupa modern Indonesia. Ahmad Sadali tentu saja punya nilai tersendiri, yaitu keutamaan dan keistimewaan yang sangat khusus dibanding dengan pelukis-pelukis muslim Indonesia sezamannya. Selain sebagai sosok pelukis, yang biasanya hanya terlibat dengan karyanya saja. Ahmad Sadali juga merupakan sosok pemikir yang secara tidak langsung mampu memberikan wacana gagasan nilai-nilai Islam hingga akhirnya menjadi persoalan ekspresi seni, dalam bentuknya yang sangat spesifik terhadap seni rupa modern di Indonesia.

 

Seperti halnya bentuk seni rupa modern Islam yang digagas oleh pelukis Ahmad Sadali. Bentuk seni rupa modern Indonesia seperti demikian, tidak bisa dilepaskan juga dari masalah-masalah nilai-nilai Islam yang telah menyejarah dan telah masuk dalam pola kehidupan masyarakat Indonesia. Dalam konteks itu bisa dipahami, nilai-nilai Islam dan pengaruh Islam kerap berkelindan dengan masalah-masalah kebudayaan tradisi, berikut masalah-masalah sosial-politik pemerintahan yang telah dilaluinya. Tidakkah kita ingkar, konsep dasar negara modern Indonesia itu, dari kemunculannya yang dicita-citakan oleh presiden Soekarno2, merupakan tarik-menarik antara cita-cita nasionalisme, sosialisme dan Islamisme? Maka dalam hal ini, nilai-nilai Islam masuk tak hanya berlaku sebagai soal nilai yang mempengaruhi kesenian dan kebudayaan masyarakat tradisional Indonesia saja, akan tetapi dalam hal ini sosial-politik kekuasaan pun turut serta mempengaruhi.

 

Dalam dunia Islam yang lebih luas, kenyataan tidak bisa dipungkiri, jika kelahiran kesenian dan kebudayaan Islam pada dasarnya lahir dan tidak bisa dilepaskan lewat persentuhannya dengan budaya Barat. Dalam bahasa populer para pemikir dan pengamat kebudayaan, mereka menyebutnya dengan sebutan masalah modernitas Barat yang terjadi dimana-mana, terutama yang terjadi pada abad ke-19. Dengan demikian ibaratnya memahami konteks modernitas, berarti pula memahami bagaimana gejala kebudayaan Barat khususnya yang berlangsung pada abad ke-19 itu, menjalin interaksi sekaligus memberikan implikasi besar terhadap segi kebudayaan dan kesenian Islam. Inilah yang tergambar dari hasil-hasil artefak kesenian dan segi arsitektural bangunan Islam. Pemikir Islam kontemporer lulusan Sorbonne Prancis seperti Mohammed Arkoun secara radikal pernah menanyakan terhadap persoalan ini, ia mengatakan:

“Bagaimana seharusnya pemahaman ini dimengerti untuk mendorong prinsip modern dalam Islam maupun di dalam arsitektur?. Bagaimana seharusnya diri sendiri (kami Islam) melakukan pembaharuan sekaligus melakukan pendekatan tentang arsitektural dengan mempraktekan metode-metode kreatif dan eksplorasi baru?3

 

Demikianlah, pertanyaan Arkoun tersebut di atas, jelas menyiratkan bagaimana dominasi konteks modernitas Barat telah menyebar dan menampakkan karakter yang sangat khas berikut mempunyai sisi nilai-nilai universal. Maka, mau tidak mau telah mempengaruhi dampaknya terhadap nilai-nilai ‘tradisional’ Islam, baik dalam kesenian maupun dalam kebudayaan Islam secara lebih luas.

 

Selain kita maklum lewat persentuhannya dengan budaya modernitas Barat. Seni rupa modern Islam Indonesia pada dasarnya memang berkembang dan dipengaruhi oleh nilai-nilai kebudayaan lama yang hidup sebelumnya dalam masyarakat tradisional Indonesia. Disini bisa dimengerti dan tidak perlu dipaparkan panjang lebar, bagaimana sesunguhnya pola kehidupan dan konsep kesenian seperti itu terjadi. Dalam kehidupan masyarakat budaya etnis Indonesia lampau, yang tidak lain pola kehidupan dan keseniannya telah jauh-jauh hari hidup sebelumnya –justru sebelum masa Islam masuk ke bumi nusantara ini, yang relatif lebih diwarnai sebagai tanda perkembangan fase kehidupan modern—sangat berbeda dengan warna dan nilai-nilai budaya Islam ketika saat masuk mempengaruhi.  Masalah hadirnya pengaruh budaya Islam dan agama Islam di bumi nusantara khususnya sejak abad ke-15, tidak hanya membawa soal usaha perniagaan saja. Rupanya Islam datang ke wilayah Nusantara tersebut, memberikan andil besar terhadap turut-sertanya merubah tatanan pemerintahan pada zaman itu –jika boleh disebut istilah prinsip demokrasi dalam zaman modern, pada masa kini— maka raja-raja di Jawa saat itu yang memimpin pemerintahan seperti halnya Majapahit, raja mempunyai posisi yang sangat berkuasa dan hak otonomi penuh tidak bisa diganggu gugat.  Namun, kedatangan Islam pada saat itu jelas menawarkan suatu perubahan, ini diceritakan oleh sejarawan legendaris  Onghokham, ia menuliskan :

”Elemen-elemen oposisi terhadap konsep seorang dewa-raja, yang diwakili Majapahit, menemukan dalam Islam suatu ideologi yang lebih cocok untuk menentang kekuasaan negara yang mutlak. Jadi penyebaran agama Islam bukan saja merupakan suatu revolusi agama, namun juga memiliki unsur-unsur revolusi sosial. Menurut agama Islam, raja hanyalah seorang anggota umat Islam seperti anggota yang lain.”4

 

Kenyataan juga, jika akar-akar praktik dan gagasan seni rupa modern di luar Eropa dan Amerika, merupakan cerminan sejarah tegak bagaimana kekuatan dominasi pemikiran Barat itu berdiri. Sejumlah pengembangan literatur-litaratur lewat ilmu pengetahuan, budaya, filsafat dan seni yang tersebar di semua kawasan maupun negara berbagai di dunia, nyaris tanpa terkecuali, merupakan hasil produksi daripada kekuatan pemikiran Barat abad sejak abad ke-18 khususnya, hingga pengembangan puncaknya pada abad ke-19.  Situasi kedigjayaan dominasi Barat ini tercermin dalam pandangan orientalisme. Pandangan orientalisme berusaha memahami kebudayaan non-Barat di luar Barat atau Timur, dipahami berdasarkan pengalaman manusia Barat Eropa. Salah satu pemikir terkemuka dan juga kritikus budaya Edward Said menggambarkan situasi ini, ia menjelaskan:

”Bagi Eropa, Timur bukan hanya dekat; ia juga merupakan tempat koloni-koloni Eropa yang terbesar, terkaya dan tertua, sumber peradaban-peradaban dan bahasa-bahasanya, saingan budayanya dan salah satu imajinya yang paling dalam dan paling sering muncul tentang ’dunia yang lain’ (the other of world) . Sebagai tambahan, Timur telah membantu mendefinisikan Eropa (Barat) sebagai imaji, idea, kepribadiandan pengalaman yang berlawanan dengannya. Tapi tak ada sesuatu pun dari dunia Timur ini yang bersifat khayalan semata-mata. Timur adalah suatu bagian integral dari peradaban dan kebudayaan material Eropa.” 5

 

Dalam dunia Islam sekalipun, hingga gagasan seni Islam misalnya, pengaruh modernitas itu terasa dan teralami. Pijakan yang paling mendasar adalah seni Islam juga merupakan pengaruh sejarah dominasi modern Barat dan modernitas Barat sejak abad ke-19 yang diyakini universal. Sejak kemunculannya pada abad pertengahan, Islam hampir selalu dipersepsi oleh Barat sebagai ’ancaman’ yang tidak toleran pada Barat.6  Pengaruh modernitas Barat ini tidak dapat dihindari, dan akhirnya diterima sebagai kenyataan. Begitulah, pada berbagai segi dan bentuknya pengaruh modernitas Barat telah mempengaruhi sisi kehidupan dan budaya Islam. Tentang dominasi pembacaan modernitas Barat, kritikus budaya dan pemikir Islam post-modern, seperti Ziauddin Sardar mencoba menggambarkan lain, ia menulis:

“Modernitas adalah pandangan, dimana dengan pandangan itu kita memperhatikan kilas-balik dari keanekaragaman. Modernitas mengacu pada gaya dari sosial dan institusi budaya, yang dimunculkan di Eropa setelah masa pencerahan (enlightenment). Ia datang dan mendominasi dunia melalui kolonialisme namun menetapkan superioritasnya dalam periode poskolonial. ”7

 

Bagi Sardar masalah pembacaan modernitas Barat yang terjadi di Eropa sejak kemunculannya pada era-pasca pencerahan (enlightment) khususnya hingga kini, masih terus-menerus menampilkan sisa dominasi di seluruh dunia sejak kolonialisme hingga menetapkan superioritasnya pada periode poskolonial.

 

Dalam praktik seni rupa modern di dunia Islam, masalah modernitas barat seakan menjadi pilihan yang sangat rumit. Di satu sisi mereka (negara Islam) harus menerima kenyataan dominasi atas sejarah Barat. Sementara di sisi lain, mereka seolah ditagih untuk mempertahankan dirinya sebagai identitas Islam. Wijdan Ali salah seorang peneliti dan pengamat seni asal Pakistan, yang intens terhadap praktik gejala seni rupa Islam di seluruh dunia pernah menyatakan bahwa tidak dapat dihindari aspek kolonialisasi Barat terhadap seni Islam menampakkan pengaruh yang amat jelas. Tidak hanya pengaruhnya terhadap kebudayaan Islam di negara Islam di dunia, akan tetapi dampaknya tercermin dari ’meresapnya’ sejarah seni Barat serta pengetahuan Barat pada praktik seniman-seniman muslim di seluruh dunia. Sebagai amsal lewat pameran Contemporary Art dari seluruh negara Islam seluruh dunia yang ditampilkan pada tahun 1980, di Galeri Nasional-Jordania. Pemikiran Wijdan Ali itu tersimpul dalam catatannya:

“Posisi negeri Islam oleh para penjajah asing tidak hanya mengikis mereka (negera-negara Islam) yang mempunyai ekonomi berkecukupan tetapi juga melemahkan ilmu, dan keindahan seni-seninya. Akibatnya, ekspresi seni rupa Barat mengalahkan seni tradisional yang berasal dari pribumi (Islam).” 8

 

Sejak permulaan abad ke-20, sebelum dan setelah kemerdekaan yang diperoleh oleh kebanyakan negara-negara Islam. Mereka mengalami suatu kelahiran kembali sikap dan pemikiran yang politis dan intelektual. Dimana, akibat dari persoalan ini mempengaruhi juga sikap pengembangan artistik mereka –diantara negara-negara muslim—suatu kreasi kegiatan budaya dan intelektual diantara mereka. Salah satu dari zona utama yang menguntungkan dari kebangkitan kembali ini adalah seni rupa. Meskipun begitu, kebangkitan kembali dalam Islam modern yang ditunjuki mulai berkembangnya sekaligus dibuatnya lukisan dan seni patung (sculpture), yang terjadi malahan sebaliknya mereka justru bertahan pada estetika Barat (Westren aesthetics), begitu pun dengan masalah norma-norma. Pada akhirnya masalah demikian, menyebabkan hilangnya ’identitas’ budaya Islam. Inilah yang disebut Wijdan Ali sebagai penyakit schizopherenic yang terjadi di dalam kalangan seniman Islam modern.

 

 

Festival Istiqlal: Antara Pergulatan Politik Dan Kekuasaan

 

Kegiatan Festival Istiqlal 1991 dan 1995 yang diselenggarakan pada masa orde Baru dan hidup dalam pemerintahan presiden Soeharto. Pada dasarnya merupakan Festival yang berusaha menampilkan segi dan sisi kehidupan kebudayaan dan kesenian Islam Indonesia secara lebih kontekstual. Tidak aneh jika usaha menampilkan kebudayaan Islam Indonesia tersebut, mengambil inspirasi dari sebutan atau sisi lain dari kebudayaan Indonesia yang beranekaragam tersebut. Maka pilihan pun diambil dengan judul: Pameran Kebudayaan Indonesia yang Bernafaskan Islam’. Bisa dikata, inilah tonggak penting bagaimana kebudayaan Islam di bumi nusantara secara fisik ditampilkan dalam suatu pameran Festival. Namun, usaha menggelar acara seperti FI tersebut, ternyata bukan saja menampilkan aspek kebudayaan Islam di bumi nusantara saja. Secara ekonomis, usaha menempatkan FI 1991 berkait dengan usaha pemerintah saat itu, untuk mempromosikan aspek wisata Indonesia secara turistik. Lebih gamblang pernyataan ini, dijelaskan oleh Soeharto:

”Melalui Festival Istiqlal ini penampilan kebudayaan kita yang bernafaskan Islam itu, kita laksanakan dan kita kaitkan dengan Tahun Kunjungan Indonesia 1991. Dengan demikian, festival ini lebih merupakan paparan kebudayaan khas kaum muslimin Indonesia, baik bagi bangsa Indonesia sendiri maupun bagi bangsa-bangsa lainnya. Tujuan yang ingin kita capai adalah timbulnya kesadaran akan jatidiri khas umat Islam Indonesia, terpeliharanya saling pengertian antara berbagai umat beragama serta makin kukuhnya persahabatan antara bangsa-bangsa.”9

 

Selain itu FI juga merupakan usaha politis Soeharto untuk menjaga konsep Bhineka Tunggal Ika dan masalah kebangsaaan (nation). Tidaklah aneh, jika FI juga soal usaha menunjukkan semangat keindonesiaan, yaitu semangat kekeluargaan dan toleransi dari suatu masyarakat majemuk, yang menganut berbagi agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Dalam semangat kekeluargaan dan toleransi ini, kaum muslimin menghargai agama serta kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang dianut oleh Saudara-saudaranya se-Bangsa. Perpaduan kedua unsur tadi, antara yang universal dan yang nasional, menimbulkan kepribadian tersendiri dan menyebabkan kebudayaan kaum muslimin Indonesia mempunyai ciri khasnya sendiri yang layak ditampilkan.

 

Tak lain adalah pelukis A.D Pirous dan kolega dekatnya di Bandunglah yang pertama kali mengangankan proyek mushaf sebagai bagian dari Festival seni Islam yang mereka rencanakan untuk diadakan pada Oktober 1991 di Masjid Istiqlal Jakarta dalam rangka Tahun Kunjungan Wisata Indonesia. Rencana penyelenggaraan Festival Istiqlal I-1991 muncul dari hasil diskusi dengan Menteri Pariwisata, Menteri Agama, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, serta dilaksanakan oleh Pontjo Sutowo, pengusaha pendukung Soeharto dari Jakarta. Seperti apa yang dikemukakan Pirous, bahwa suasana politik tahun 1990-an sangat tidak memungkinkan untuk menyelenggarakan festival semacam itu. Oleh karena itu bagi Pirous, pemerintah, maupun para sponsor sangat tidak menduga bahwa Festival yang diselenggarakan sebulan penuh ini akan sukses dan menyerap lebih kurang 6,5 juta pengunjung. Ketika pada 1995 diadakan Festival Istiqlal II dalam rangka perayaaan kemerdekaan RI ke-50, banyak kaum elit Jakarta datang untuk memberi dukungan atau melibatkan diri dalam pameran itu.

 

Pada pokoknya pelaksanaan FI II 1995, merupakan rantai kelanjutan pada pada Festival yang pertama tahun 1991. Disebut pokok dan rantai kelanjutan karena konsep dan landasan-landasan yang diacu dan digunakannya tetap masih mengandalkan formulasi gagasan awal pada Festival Istiqlal I, terutama yang dibentuk oleh tim 7. Namun, sedikit banyak tentu saja ada penambahan disana-sini meliputi susunan acara, konsep pameran dan para peserta yang diundang untuk terlibat. Sebab dalam Festival yang ke-II 1995 ini, para peserta pameran mengalami peningkatan, lebih kurang 200 seniman yang diundang baik yang berada dalam lingkup nasional maupun internasional. Beberapa penjelasan dan catatan penting mengenai FI II 1995 tersebut, bisa disimak dalam komentar Arsono selaku ketua koordinator pameran /Chief-Coordinator:

”Festival Istiqlal, adalah upaya pengembangan orientasi sumber daya manusia dalam sebuah perhelatan akbar berupa Festival kebudayaan Indonesia yang bernafaskan Islam. Empat tahun sesudah Festival yang pertama, pada Festival Istiqlal II-1995 telah dicapai beberapa catatan penting. Pertama, pendalaman yang berkesinambungan dalam memahami materi pemikiran budaya Islam yang berkembang di Indonesia secara filosofis dan konseptual. Kedua, penggalian yang terus-menerus dalam keragaman materi tata nilai Islami yang mewujud dalam khasanah kesenian Indonesia, khususnya seni rupa Kontemporer. Ketiga, perluasan wawasan yang menjangkau titik temu proses kreatif antar negara, dengan mengundang seniman muslim dari beberapa negara sebagai peserta pameran maupun peserta seminar.”10

 

Penegasan bagaimana FI-1995 merupakan pijakan atau bahkan rantai kelanjutan dari Festival yang pertama. Ditegaskan juga oleh Ponjto Sutowo, yang tetap menjadi ketua pelaksana FI baik yang pertama maupun yang kedua ini, Pontjo Sutowo mengatakan:

”Festival Istiqlal II-1995 pada dasarnya masih berpijak kepada konsepsi Festival Istiqlal yang pertama, yakni menggali dan mengembangkan kebudayaan Indonesia yang bernafaskan Islam. Pengertian menggali dapat dijabarkan dengan upaya penelitian, pengkajian, dan pengungkapan kembali seputar pemikiran makna dan penuturan nilai dari kebudayaan Indonesia yang bernafaskan Islam. Sedangkan pengertian mengembangkan dapat diurai dengan melakukan upaya pembinaan, pematangan, dan pembaruan (ijtihad) dari hasil penggalian.”11

 

Pokok penting dari mana asal-muasal dan landasan fundamental penyelenggaraan dan dasar-dasar konsep FI baik yang pertama dan kedua itu dibuat. Kita juga tidak bisa melepaskan kekuatan konseptual apa yang telah dirumuskan oleh tim 7. Persoalan tim 7 itu sendiri, pada dasarnya juga perlu dilihat sebagai sistem hirarkis karena keterkaitannya para individu-individu di dalamnya terlibat keterhubungannya dengan kondisi-kondisi politik dan kekuasaan saat itu. Istilah tim 7 merupakan keterangan bagaimana tim atau panitia perumus FI itu disebut, dan mereka terdiri dari 7 orang perumus yang membidani keahliannya masing-masing yang diketuai oleh 1 orang. Mereka yang masuk dalam tim 7 tersebut antara lain: A.D Pirous (ketua), Mahmud Buchori (sekertaris), Ahmad No’eman, Saini K.M, Yusuf Affendi, Abay Subarna, dan Yustiono.

 

Begitulah, baik pada FI-1991 dan FI-1995 yang diselenggarakan di Indonesia pada masa orde baru, secara tidak langsung merupakan cerminan bagaimana identitas Islam khususnya dalam kondisi representasi modernitas dalam dunia ketiga itu diadaptasi dengan varian-varian yang berlapis-lapis baik secara sosial, politik dan kultural. Situasi inilah yang pada akhirnya terjadi dan turut-serta mempengaruhi bentuk ekspresi karya seni rupa masing-masing seniman yang terlibat pada FI-1991 dan FI-1995 tersebut.

 

 

 

Zaenudin Ramli

 

 

Catatan:

 

1.Prof. Dr. Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, Bentang Pustaka-Mizan Media Utama, Yogyakarta-Bandung, 2005, hal. 18.

 

2. Ir. Soekarno, Dibawah Bendera Revolusi: Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme, Panitia Penerbit Dibawah Bendera Revolusi, 1964, hal. 1-23.

 

3. Mohammed Arkoun, Islamic Culture, Modernity, Architecture, dalam Architectural Education in the Islamic World, Aga Khan Award, 1986.

 

4. Onghokham, Raja-raja Jawa dan Islam, dalam Wahyu Yang Hilang, Negeri Yang Guncang, Pusat Data dan Analisa TEMPO (PDAT), Freedom Institute dan LSSI, Jakarta, 2003, hal. 24.

 

5. Edward W. Said, Orientalisme, Penerbit Pustaka, Bandung-2001, hal. 76, Diterjemahkan dalam judul asli: Orientalisme, Vintage Books, New-York, 1979.

 

6. Seyyed Hossein Nasr, Islam: Agama, Sejarah dan Peradaban, Penerbit Risalah Gusti, Surabaya, 2003, hal.v. Diterjemahkan dalam judul asli Seyyed Hossein Nasr,  Islam: Religion, History, and Civilization, Harper-San Francisco, HarperCollins Publishers Inc-English, 2003.

 

7. Ziauddin Sardar, Beyond Difference: Cultural Relations In The New Century, British Council, London, 2004, hal.8. Makalah ini disampaikan dan ditulis sendiri oleh Ziauddin Sardar dalam konferensi Eye To Eye: Cultural Relations On The Level, pada tanggal 2 November 2004 memperingati 70 tahun British Council’s Foundation berdiri pada tahun 1934, di Business Design Centre, London.

 

 

8. Wijdan Ali, Contemporary Art From The Islamic World. (ed). Wijdan Ali, Scorpion Publishing Ltd. London, The Royal Society of Fine Arts, Amman, Jordan, 1989. hal. xi

 

9. Soeharto, Sambutan Presiden Republik Indonesia pada Pada Upacara Pembukaan Festival Istiqlal 1991, Islam dan Kebudayaan Indonesia: Dulu, Kini dan Esok, Yayasan Festival Istiqlal, 1993 Pustaka Bandung, ed, Yustiono (et.al), hal. v.

 

10. Arsono, Pengantar Ketua Koordinator, dalam Pameran Seni Rupa Kontemporer Festival Istiqlal II 1995. Mesjid Istiqlal dan Galeri Nasional, Jakarta, 23 September – 18 November 1995, hal. 3.

 

11. Pontjo Sutowo, op.cit, hal. 8.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: