Kegilaan Perupa Agus Suwage di Usia 50

Senin, 06 Juli 2009 | 10:29 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta -Poster besar itu menempel di tembok bekas kampus Sekolah Tinggi Seni Rupa ASRI di Gampingan, Yogyakarta. Potret diri seorang laki-laki tanpa wajah muncul dalam sapuan vertikal cat dengan kebeningan cat air. Di tengah wajah itu ada bentuk hidung babi yang mengesankan kesegaran dalam warna merah. Selebihnya teks: Agus Suwage “Still Crazy After All These Years”.

Inilah pesta ulang tahun ke-50 tahun perupa kelahiran Purworejo, Jawa Tengah itu, yang ditandai dengan pameran retrospeksi di bekas kampus akademi seni rupa yang kini bersalin nama menjadi Jogja National Museum yang berlangsung pada 4-31 Juli 2009. Bekas kampus yang selama ini senyap kini jadi riuh karena hadir sekitar 1.000 pengunjung pada pembukaan pameran, Sabtu lalu. Mulai seniman, penulis, kolektor, pemilik galeri, hingga pengelola balai lelang dari Jakarta, Singapura, Malaysia, Taipei, dan Hong Kong hadir.

Ada musik untuk menghibur pengunjung yang belum bisa masuk ke ruang pameran, karena pengunjung yang masuk diatur jumlahnya. Lantas ada makanan melimpah untuk pengunjung biasa, dan hidangan makan malam serta wine untuk tamu khusus di ruang VIP. Undangan pun datang dengan berdandan. Mereka tak sekadar menghadiri pameran seni rupa biasa. “Undangan hadir seperti datang ke pesta perkawinan,” ujar Mella Jaarsma, perupa asal Belanda yang menetap di Yogyakarta.

Pameran sekitar 100 karya pun dibuat luar biasa. “Ini peristiwa serius. Cara display pun sebagaimana yang seharusnya dilakukan oleh sebuah pameran,” kata Mella. Ia menambahkan, standar penyelenggaraan pameran ini bisa terwujud dengan biaya yang tinggi. Berdasarkan hasil hitung-hitungan Tita Rubi, istri Agus Suwage, pameran ini menghabiskan dana sekitar Rp 500 juta.

Sektor keamanan juga diperketat. Tita, yang mengorganisasi penyelenggaraan pameran ini, menyewa jasa keamanan profesional yang siap memelototi setiap inci ruang pameran selama 24 jam. Kemudian keamanan masih ditambah dengan 23 closed circuit camera yang memonitor ruang pameran dan ditayangkan secara online lewat Internet. “Kolektor yang karyanya dipinjam untuk pameran ini bisa memonitor selama 24 jam penuh dari pembukaan pameran hingga pameran berakhir,” ujar Tita. Maklum, 40 karya pada pameran ini dipinjam dari kolektor.

Lebih dari 100 karya ini merupakan hasil proses kreatif Agus Wage selama 20 tahun. Tajuk pameran “Still Crazy After These Years” dikutip Agus dari judul lagu pemusik balada Paul Simon. Dalam pameran ini, kurator Enin Supriyanto membagi 99 judul karya dalam kategori kronologis dan tematis serta disebar di tiga lantai bangunan.

Karyanya terdiri atas 24 gambar, 41 lukisan, dan 34 karya instalasi. Sebagai perupa, Agus memulai kariernya sebagai seniman profesional dengan ngotot menyodorkan karya drawing (gambar) menggunakan arang, baik di atas kertas maupun kanvas. Selanjutnya ia mulai menggunakan cat air. Karya drawing pada masa-masa awal Agus sebagai seniman profesional dimasukkan dalam Ruang I yang disebut “Genesis”.

Dalam Ruang II yang berjudul “Room of Mine”, Agus menampilkan karya seni rupa buku yang dibuat dengan tangan dalam edisi terbatas pada 1996. Ruang III yang berada di lantai I dan diberi tajuk “The Years of Living Dangerously”, yang dikutip dari judul film serta buku yang dibintangi Mel Gibson, menampilkan karya yang berisi komentar sosial pada rentang 1997-1999.

Dalam Ruang IV di lantai II (Aku Melihat, Aku Mendengar, Aku Merasa) dipamerkan karya yang kini menjadi karakter Agus Suwage, berupa potret diri dalam berbagai pose, berbagai sudut, yang mendominasi pameran tunggalnya pada 2000-2004. Sedangkan Ruang V jadi tempat untuk potret diri tokoh “Beyond Autoscopy”. “Potret tokoh ini sudah melampaui persoalan potret diri,” ujar Enin Supriyanto.

Karakter kuat secara tematis pada karya Agus adalah soal kematian (Aku Ingin Hidup Seribu Tahun Lagi) ada dalam Ruang VI (bertajuk Tempus Fugit). Ia menampilkan simbol rokok sebagai pembunuh (puntung rokok memenuhi kotak pada becak) dengan sejumlah tokoh dalam pose menyedot rokok (Charil Anwar, Munir, Kartini, dan Suharto).

Pameran ini ditutup di lantai VII dengan karya terbaru Agus Suwage, berupa karya instalasi yang dinilai Enin Supriyanto menunjukkan “kegilaan” Agus Suwage pada usia 50 tahun. Salah satu karya terbarunya berupa enam patung dalam pakaian putih berupa sosok kolektor, kurator, dan pemilik galeri berada dalam kerangkeng. Karya ini bertajuk Passion of Play. “Meski sudah tua, masih tetap edan,” ujar Enin.

RAIHUL FADJRI

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: