Melacak Inspirasi Basoeki Abdullah

EMPO Interaktif, Jakarta -Basoeki Abdullah. Nama depannya memakai “oe”, ejaan lama Van Ophuijsen, sementara nama belakangnya menggunakan ejaan Soewandi. Seperti ejaan namanya, sang maestro lukis melintasi, serta dekat dengan, dua pemimpin besar Indonesia yang berbeda arah, Soekarno dan Soeharto.

Ia memang keturunan priyayi. Kakeknya tokoh pergerakan, Dr Wahidin Sudirohusodo. Ayahnya adalah Abdullah Surio Subroto, pelukis naturalis sekaligus penari. Dari ayahnya, ia mulai mengenal seni melukis. Sejak balita, Basoeki sudah mulai mencoreti kertas dan kanvas. Ibunya, Raden Ajeng Sukarsih, kerabat Kasunanan Solo.

Basoeki pada zaman Orde Baru sering diingat orang karena senantiasa mengenakan topi pet, berjas, dan berkacamata besar–yang tebal lensanya sekitar setengah sentimeter. Kacamata itu, yang kini penuh jamur, bisa dilihat di pameran Basoeki Abdullah, “Fakta dan Fiksi”, di Galeri Nasional hingga 5 Juli mendatang. Poster pameran tak memajang potret Basoeki dengan topi pet, melainkan lukisan dirinya semasa muda: berpakaian terpelajar, rambut berombak, dan beralis tebal.

Di pameran itu tak banyak lukisan Basoeki yang berhasil didatangkan. Panitia bisa meminjam beberapa koleksi pribadi, seperti dari pengusaha Setiawan Djody. Tapi usaha untuk membawa koleksi Kepresidenan tak berhasil. Seorang panitia mengatakan lukisan yang pada zaman Megawati dipamerkan di Istana Negara kini tercerai-berai. Ruang pamer itu kini dipakai sebagai ruang kerja Presiden Yudhoyono.

Tapi setidaknya kita bisa melihat jejak-jejak Basoeki. Yang penting dari pameran ini, kita bisa melihat rentang tema yang dirambah oleh Basoeki, mulai lukisan potret, figur, pemandangan alam, sampai karya yang bersumber dari mitologi. Nilai yang paling utama adalah, kurator Mikke Susanto menuliskan dalam katalog, bisa membuat perbandingan antara lukisan Basoeki dan karya pelukis-pelukis Eropa. Melalui usaha perbandingan Mikke, kita bisa mengetahui bahwa ternyata lukisan Basoeki banyak terinspirasi oleh pelukis lain.

Beberapa karya Basoeki, misalnya Perubahan Kehidupan Dunia dan Perubahan, yang menampilkan dunia hewan, mirip seperti yang dibawa Raden Saleh. Basoeki, kata Mikke, lebih naturalis, sementara Raden Saleh simbolis. Bila Raden Saleh memakai binatang untuk simbol rakyat (banteng) hingga negara-negara Eropa (singa), Basoeki lebih menonjolkan kegelisahannya tentang spesies yang berada di ambang kepunahan.

Banyak juga lukisan Basoeki Abdullah yang dramatis, yang terinspirasi oleh pelukis Inggris, John Martin (1789-1854). Tengoklah lukisan Bagaimana Jika Tuhan Murka, yang berstatus koleksi Istana Presiden. Lukisan itu menggambarkan bumi yang terbelah. Awan dan langit tampak bergetar. Bumi terbelah, sementara sosok-sosok manusia bergelimpangan dan sekarat.

Menurut Agus Dermawan T., seperti dikutip Mikke, karya Basoeki ini terinspirasi oleh lukisan Great Day of His Wrath karya John Martin bertahun 1853. Basoeki, menurut Agus, tak sendirian terpengaruh lukisan ini. Pelukis dunia lain, seperti Glenn Brown, juga terpengaruh lukisan ini. Suasana dramatis ala John Martin juga tampak pada karya Basoeki: Gatotkaca dan Antasena dengan Sembadra. Lukisan itu menampilkan sepotong imajinasi dari mitologi Mahabharata. Kita lihat air laut dan api dilukis dengan kesan bergelora yang menakutkan. Tapi ini juga mirip dengan Destruction of Sodom and Gomorrah, karya Martin bertahun 1852.

Kemolekan alam juga pernah menjadi concern Basoeki–yang menganggap Nyai Roro Kidul sebagai ibu. Karya-karya yang berbau eksotis semacam itu banyak dikoleksi Soekarno. Saat itu, sebagai pemimpin negara baru, Soekarno berkepentingan pula menunjukkan kiprah Indonesia di ranah seni. Lukisan-lukisan Basoeki sering diboyong ke luar negeri untuk dipamerkan. Soekarno bahkan datang sendiri saat koleksi Basoeki dipamerkan di Jepang.

Banyak pemimpin negara lain yang dilukis oleh Basoeki. Di negara-negara yang dekat, seperti Brunei Darussalam dan Thailand, Basoeki kerap melukis para raja itu hingga putri-putrinya. Kita bisa melihat “seri” lukisan potret pemimpin negara itu di pameran. “Saya suka sekali seri potret ini,” kata seorang pengunjung bernama Yudia, yang ibunya dulu pernah menjadi model lukisan Basoeki.

Satu dinding Galeri Nasional bahkan didominasi seri lukisan pemimpin Gerakan Non-Blok. Pada 1992, Soeharto memang meminta Basoeki melukis potret para pemimpin negara yang berkumpul untuk konferensi di Tanah Air. Salah satu lukisan memajang wajah-wajah mereka, dengan Soeharto sebagai sentralnya. Ukuran wajah Soeharto juga lebih besar dibanding yang lain.

Semasa kariernya sebagai pelukis, Basoeki agak bersaing dengan Sindoedarsono Soedjojono (1913-1985), pelopor seni lukis modern Indonesia. Soedjojono, sejak 1930-an, mengecam Basoeki tak nasionalis karena sering melukis pemandangan alam dan perempuan cantik (Basoeki banyak melukis perempuan telanjang, yang kini disimpan di ruangan khusus di Istana Negara di Bogor).

Perseteruan keduanya diakhiri di Ancol. Pada 1985, pengusaha Ir Ciputra mempertemukan Soedjojono dengan Basoeki, juga Affandi, dalam pameran bersama. Pertemuan tiga maestro itu nyaris batal karena Basoeki tiba-tiba tak datang ke penginapannya di Putri Duyung Cottage. Tapi pada 25 Maret, pukul 10 pagi, Basoeki muncul di Ancol. Kedatangannya itu bahkan disambut sendiri oleh Ciputra, yang tentu sempat berdebar-debar. Ketiga maestro lukis itu sempat berfoto bersama dengan senyum lebar di wajah mereka.

Soedjojono wafat beberapa bulan kemudian. Basoeki, yang lahir pada 25 Januari 1915, masih bertahan hingga usia 78 tahun. Ia wafat pada 5 November 1993 karena dibunuh seorang pencuri yang menyelinap ke dalam rumahnya. Pada hari nahas itu, saat malam hari, seorang maling bernama Amirudin Al-Nanda–yang merupakan tukang kebunnya sendiri–menyelinap masuk ke kamar sang tuan untuk merampok jam-jam koleksi Basoeki. Basoeki terkejut ketika memergokinya. Amirudin panik dan meraih senapan laras panjang milik Basoeki yang dipajang di dinding, lalu memukulkannya ke tubuh tuannya itu.

Di pameran di Galeri Nasional itu, kita bisa melihat senapan yang menuntaskan hidup Basoeki. Kita juga bisa melihat beberapa sisa koleksi arloji yang diincar oleh sang maling. Kita tercenung. Seluruh hidup Basoeki diabdikan pada yang molek, yang indah di indra, dan yang romantis. “Saya tak ingin mengkhianati aliran besar (yang memuja keindahan),” katanya pada suatu kali. Namun, seseorang mengakhiri hidupnya yang eksotis itu dengan cara yang barbar.

IBNU RUSYDI

(diunduh dari http://www.tempointeraktif.com/hg/seni/2009/07/01/brk,20090701-184606,id.html)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: