Memuliakan Pensil dan Charcoal

Sebuah pameran gambar besar-besaran berlangsung di Galeri Nasional, Jakarta. Karya-karya yang ditampilkan masih berkutat pada media konvensional. Membuka ruang perdebatan batas antara lukis dan gambar.

Pada tradisi lama, gambar memang kerap diletakkan dalam ka­tegori kerja belum jadi. Atau setangkap gagasan yang dibekukan sementara dalam elemen garisgaris liar yang masih mentah, kelak diolah kembali menjadi lukisan, patung, desain produk, dan seterusnya. Pada 1980an dan 1990an, perupa Semsar Siahaan, Srihadi Soedarsono, Arahmaiani, Moelyono, Satya Graha, dan Persekutuan Seni Gambar Indonesia pernah memamerkan, secara tunggal dan bersama, seni gambar di Jakarta. Pameranpameran itu mencoba meletakkan gambar pada tradisi baru seni rupa: bukan sebagai sketsa dan karya kelas dua, melainkan sebagai proyek yang selesai, sebagaimana lukisan dan patung. Sayang, setelah gegapgempita pameranpameran itu, tak ada lagi kabar tentang seni gambar.

Tak banyak peminat, posisi gambar tersudut oleh wacana seni rupa modern yang menempatkannya sebagai kawasan dingin, jauh dari pembaruan dan sepi dari emosi; diduga hal ini menjadi salah satu penyebab macetnya seni gambar. Media sederhana yang umum dipakai dalam gambar pun tak populer: pensil, pena, charcoal, dan kertas. Anggapan mudah rusak, sulit disimpan, berukuran kecil, dan hitamputih merupakan beban lain yang membuat posisi gambar makin sayupsayup dari pembicaraan, juga pameran. Dan kuranglebih dalam dua dekade belakangan ini, ingatan orang tentang seni gambar tertimbun oleh riuhrendah seni lukis yang tak hentihentinya memperbarui diri dan dipamerkan.

Kita senang, pada 1624 Juni 2009, dikelola Andy’s Gallery, berlangsung pameran Indonesia Contemporary Drawing di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Sejenak ingatan kita kembali segar terhadap seni gambar. Lebih dari 50 perupa diundang. Sebagian besar dari mereka dikenal luas dalam dunia seni lukis masa kini: Srihadi Soedarsono, Agus Suwage, Chusin Setiadikara, Nyoman Erawan, S. Teddy Dharma­wan, Ugo Untoro, Ronald Manulang, dan perupa media baru Nus Salomo.

Para perupa itu bebas mengambil tema gambar apa saja. Sebagian menampilkan gambar potret dan ­model (Ronald Manulang, R.E. Hartanto, Dewa Gede Ratayoga, Chusin Setiadikara, Nyoman Erawan, Polenk Rediasa). Sebagian lagi mencoba mere­presentasikan pelbagai hal sebagaimana tema yang kerap muncul dalam lukisan mereka.

Tisna Sanjaya, S. Teddy Dharma­wan, Mangu Putra, dan Doel A.B., misalnya, asyik dengan komentar ­sosial dan politiknya. Agus Suwage dengan kemasygulan sinismenya. Nus Salomo, Sigit Santoso, dan A.S. Kurnia meminjam citra Yesus sebagai parodi masa kini. Dan di ruang pamer, kita melihat hasil gambar itu tak jauhjauh berbeda dengan karya lukis mereka selama ini. Dalam pameran ini sesuai dengan tujuannya para perupa digiring kepada apa yang dimaksud oleh tim kurator dan penyelenggara sebagai seni gambar yang berbeda dengan seni lukis.

Perbedaan media dalam dunia seni rupa memang menjadi pokok pembicaraan tersendiri, seperti kita mengenal media baru untuk membedakannya dengan media lama yang konvensional. Kendati samasama trimatra, seni patung berbeda secara substansial dengan seni keramik, kriya, obyek, dan instalasi.

Demikian pula pameran ini, yang menarik garis tegas perbedaan antara seni gambar dan seni lukis. Pameran ini kuranglebih mengikuti prinsip itu. Anggapan yang tertangkap pada pameran ini: karyakarya dengan media utama pensil, pena, dan charcoal dikategorikan sebagai seni gambar; dan karyakarya dengan media utama akrilik dan cat minyak dikate­gorikan sebagai seni lukis. Kategori ini, kendati masih bisa diperdebatkan, tentu baik adanya. Sebab, dengan demikian, setidaktidaknya kita lebih mudah melihat ragam dalam karyakarya seni rupa.

Tentu saja, pameran ini hanya satu upaya mengumpulkan pelbagai kecenderungan seni gambar masa kini, dari gambar yang masih berkutat pada sepotong pensil hingga gambar yang dibangun dengan media campuran. Misalnya Self Portrait with Boo #2, 200 x 180 sentimeter (2009), karya Ronald­ Manulang, yang memperlihatkan po­tret dirinya tengah menjunjung buku di atas kepalanya. Gambar hitamputih yang dipajang paling depan dalam ruang pamer utama ini sekilas seperti hasil petikan dari kamera. Pengunjung pameran akan kaget dan raguragu tatkala membaca keterangan di samping gambar: charcoal on canvas. Gambar itu tampak tak kalah dingin dengan hasil petik­an ­obyek dari sebuah kamera. Jauh berbeda, misalnya, dengan karya Untitled, 200 x 225 sentimeter, charcoal on linen (2009), karya R.E. Hartanto. Karya ini tak hanya memperlihatkan keterampilan seorang perupa menggunakan charcoal. Di situ, bagaimana dengan media sederhana, arsiran yang kasar, terbangun ekspresi yang kuat dan hangat.

Kesetiaan para perupa pada pensil, pena, dan charcoal dalam menafsir seni gambar rupanya tak menerus pada kertas. Media sederhana ini ditinggalkan begitu saja sebagai masa lalu yang tak menjanjikan. Sebagian besar perupa memilih menggambar dengan pensil/pena/charcoal di atas kanvas. Beberapa yang lain bahkan tak tahan untuk tak mencampurnya dengan akrilik, media yang jauh lebih akrab bagi mereka dalam melukis. Menolak kertas dan memilih kanvas untuk gambar seolaholah penegasan bahwa pandangan hierarkis terhadap media, menganggap media yang satu lebih tinggi dan yang lain lebih rendah, masih membayangi karyakarya gambar dalam pameran ini.

Pilihan pada kanvas, dan penggunaan media campur yang cukup besar, mengesankan sejumlah karya berada dalam kawasan abuabu, antara lukisan dan gambar: lukisan yang di­tampilkan dalam wajah gambar, atau gambar yang ditampilkan seperti lukisan.

Lihat umpamanya karya kembar Budi Kustarto, masingmasing berukuran 200 x 250 sentimeter (2009). Gambar berjudul Miring ke Kiri dan Miring ke Kanan itu tak lain potret diri penggambarnya sendiri seperti pada lukisan dia umumnya. Ia menggunakan campuran pensil dan akrilik. Sapuansapuan kuas dengan media akrilik yang ekspresif dan penuh pada kedua karya itu tak ada bedanya dengan sapuan pada lukisanlukisannya. Lagilagi untuk menjaga karya itu tetap teridentifikasi sebagai seni gambar, obyek utama tetap didominasi oleh arsirarsir yang lincah dan konstruktif.

Para perupa dalam hal ini sesungguhnya diuji untuk menahan diri agar proyek seni gambar yang tengah digarapnya tak telanjur masuk ke kawasan lukis. Karya Untuk Apa Perang, Untuk Siapa Perang, 180 x 300 sentimeter (2009), dari S. Teddy Dharmawan, memperlihatkan upaya tarikmenarik antara gambar dan lukis itu dengan kuat. Tarikan garis yang sekali jadi dan tepat pada proporsinya tentu saja memperlihatkan kualitas perupanya. Tapi Teddy tampak terus berlari kencang, tak merasa cukup hanya bermainmain pada garisgaris. Ia bahkan masih perlu sapuansapuan spontan dan mengisi bidangbidang penuh warna. Ia agak tak kuasa untuk menahan diri agar sebagian bidang kanvas dibiarkan kosong saja, untuk sekadar memberikan napas pada gambarnya.

Menonton pameran ini, kita mesti menyiapkan lebih banyak energi, memperhatikan rinci demi rinci goresan dari mata pensil dan tarikan kuas yang sangat halus. Hal yang lebih melelahkan adalah semua gambar yang ditampilkan berukuran besar, 150200 sentimeter, bahkan ada yang panjangnya mencapai lima meter. Ukuran serba jumbo, entah apa sebabnya, memang dominan pada gambargambar yang dipajang, seperti mengikuti kecenderungan lukisan belakangan ini. Seolaholah tak ada lagi pesona dari yang kecil. Kita tak melihat dalam pameran ini, misalnya, gambar dengan ukuran sehalaman buku, selaku sebuah catatan spontan dan padat.

Berlari di bidang yang sangat luas, ke arena lukis, dan kemudian gambar, rupanya tak diikuti dengan keberanian memasuki kawasan media baru. Tak satu pun yang berani keluar dari genggaman pensil, pena, dan charcoal, hanya karena takut keluar dari misi seni gambar yang dipahami. Dengan kata lain, pameran ini kurang berani melompat lebih jauh memperlihatkan sebuah gerak dinamis dalam perkembangan media yang, sesungguhnya, berpeluang besar itu.

Tekanan pada media tertentu, sebagai satusatunya tanda pengenal bahwa karyakarya yang dipamerkan ini seni gambar, justru mengurangi daya lentur perupa untuk menggunakan media alternatif. Bukankah dengan teknologi masa kini orang bisa menggambar tanpa menggunakan media konvensional sebagaimana disebut di atas? Perupa Nus Salomo, misalnya, selama ini menarik perhatian dengan gagasan baru—mengembangkan gambar dengan perangkat lunak pada komputer yang canggih. Justru karya berbasis digital itu tak ditanggap di sini.

Pameran ini masih terkesan raguragu memandangi perkembangan lain di luar wacana seni gambar itu sendiri. Padahal semangat yang hendak diusung adalah gejala seni gambar kontemporer, yang sejatinya tak hanya longgar terhadap perubahan, tapi juga siap menyongsong kemajuan yang datang dari manamana, termasuk dari dunia industri media baru. Di sinilah, mungkin, ruang diskusi terbuka lebar bagi seni gambar.

(diunduh http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/06/29/SR/mbm.20090629.SR130673.id.html)

Asikin Hasan

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: