Mempersoalkan Identitas di Balik Wajah

Kalau pernah mengunjungi kawasan Montmartre di ketinggian kota Paris, Anda pasti akan bertemu dengan para pelukis wajah yang berasal dari berbagai bangsa. Hal serupa bisa ditemui di sepanjang kawasan Malioboro, Yogyakarta, atau Pasar Baru, Jakarta. Putu Fajar Arcana

Apa bedanya para penggambar wajah itu dengan empat perupa yang sedang pameran, 19 Juni-5 Juli 2009 di Sigiarts Gallery Jakarta, di bawah tajuk ”Face Value, The Self Portraits of Four Artist”. Secara sederhana bedanya terletak pada cara seniman memperlakukan subject matter. Jika para pelukis ”jalanan” berkutat menangkap bentuk, para perupa seperti FX Harsono, Astari, Agus Suwage, dan Budi Kustarto sibuk mempersoalkan identitas di balik wajah dirinya.

Persoalan wajah dalam konteks seni rupa modern (kontemporer) harusnya memang tidak berhenti pada visualisasi keserupaan. Bahkan, pada 50 lukisan potret diri Affandi, pengamat seni rupa Jim Supangkat tak sekadar menemukan wajah-wajah Affandi dalam berbagai versi dan aktivitas. Kata Jim, melalui lukisan potret diri, Affandi berusaha membalik realitas dan mencari pembenaran bagi kekuatan-kekuatan individual yang mendesak dari dalam.

Peristiwa penolakan untuk memasuki ruang pamer (sekarang Gedung Merdeka) tahun 1940 di Bandung menjadi titik awal Affandi mempertanyakan identitas. Ada apa dengan wajah? Barangkali dalam versi dan semangat berbeda FX Harsono mempertanyakan penandaan identitas lewat seraut wajah. Pada karya I Am Chinesse, I Am Not, ia melukiskan wajahnya sendiri secara distorsif. Bahkan pada sosok lain, Harsono menyembunyikan wajahnya dengan cara membelakangi permukaan kanvas.

Dalam situasi tertentu, terhadap isu-isu etnisitas yang selalu menjadi awal dari tindakan diskriminatif, Harsono merasa perlu menusuk wajahnya dengan jarum. Pada karya instalasi Floating With Needles, ia memajang lima tiruan wajahnya dari bahan transparent polyresin yang diletakkan di atas permukaan air, lalu menusukkan sekitar 60 jarum. Begitu ”nistakah” memiliki wajah yang secara kebetulan berbeda dari etnis mayoritas dalam satu wilayah negara?

Agus Suwage dalam konteks yang sama juga memotret dirinya dengan piuhan-piuhan distorsif. Perupaan itu mengandung pertanyaan-pertanyaan substantif tentang politik identitas yang sesungguhnya tak sepenuhnya menjalankan kodrat multikultural. Wajah menjadi ”bentuk” yang menakutkan untuk diperlihatkan jati dirinya lantaran dari situ orang-orang, kelompok tertentu, dan bahkan negara bisa melakukan tindakan diskriminatif.

Dalam seri karya Manusia dan Angka-angka, Agus Suwage tak hanya menggambarkan keterjebakan ”dirinya” pada angka-angka statistik sampai wajahnya terpiuh, tetapi juga menyimpan ketakutan-ketakutan yang bergejolak dari alam bawah sadarnya.

Sementara pada karya Astari, pernyataan identitas itu tampak sebagai pergumulan antara nilai-nilai tradisional dengan kehidupan urban yang kini mendominasi kehidupan manusia. Dalam seri karya Guilt Trip Series: Birong Berries, ia melukiskan latar belakang tradisi menjadi samar-samar ketika deru zaman ditandai dengan speed boat dan mobil balap yang serba cepat. Namun, dalam diri Astari yang dilukiskan berpakaian adat, tradisional dan urban bisa menyatu. Selain menyunggi tas mewah, tangan Astari juga menggenggam Blackberry, yang kini menjadi simbol dari kecanggihan komunikasi.

Kecuali Budi Kustarto, tiga perupa lainnya sebenarnya telah menjadikan diri mereka, khususnya wajah, sebagai medium pernyataan terhadap politik identitas yang kini berlangsung di negeri ini. Keresahan atas perlakuan diskriminatif dan bahkan tindakan kekerasan atas dasar kecemburuan ekonomi, seperti terjadi pada Mei 1998, menjadi trauma yang tak mudah dihapus. Jika Agus Suwage sekadar mendistorsi wajahnya, FX Harsono mengambil tindakan yang jauh lebih traumatik. Ia merasa perlu menyembunyikan wajahnya dan bahkan ”merusaknya” dengan tusukan jarum sehingga tak mudah diidentifikasi. Dengan begitu, harapannya, ia akan hadir sebagai manusia tak beridentitas karena hanya itulah yang bisa menyelamatkannya.

(diunduh dari http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/06/28/03071794/mempersoalkan.identitas.di.balik.wajah)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: