Wong Jawa, Liliput Vs Superman

Dalam pergaulan budaya global, banyak orang kita sering membayangkannya sebagai suatu konfrontasi atau pertarungan. Bukan sebagai proses yang alamiah; asimilasi dan akulturasi yang memperkaya peradaban. Dan entah didasari psikologi apa, dalam ”pertarungan budaya” itu, kita selalu membayangkan ”kalah” atau kita berada dalam bayang-bayang hegemoni budaya luar.

Imaji itu direfleksikan lewat lukisan yang menggambarkan seorang pria berikat kepala merah putih dalam ukuran liliput yang mendorong-dorong kaki raksasa Superman, simbol kebudayaan Barat. Sebuah perlawanan yang sia-sia. Pelukisnya, Ki Gedhe Solo, memberinya judul ”Rumangsa Bisa”, artinya merasa bisa (melawan).

Lukisan Ki Gedhe Solo di atas adalah satu dari sekitar 45 karya dalam pameran seni rupa bertema ”Wong Jawa Ilang Jawane” yang diadakan Balai Soedjatmoko Solo, sedangkan sebagian karya dipamerkan di Gedung House of Danar Hadi Solo, 14-23 Juni 2009. Pameran perdana ini diikuti 37 perupa dari Solo, Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta.

Tema ”Wong Jawa Ilang Jawane” rupanya cukup merangsang para perupa untuk menciptakan beragam konsep dan media; karya dwimatra maupun trimatra, dari yang berbahan kayu, keramik, perunggu, pelat besi, hingga besi rongsokan. Mereka— untuk menyebut beberapa di antaranya: Heri Dono, Ivan Sagito, Djoko Pekik, Jeihan, Nasirun, VA Sudiro, Wara Anindyah, Samuel Indratma, Gigih Wiyono, Teguh Ostenrik, Ipong Purnomosidhi, Hasyim Katamsi, Aries BM, Wedhar Riyadi, hingga Koni Herawati—coba merespons tema yang agak nyeleneh ini.

Para perupa itu mewakili awam yang tak paham definisi ”wong Jawa” dan bertanya, apa yang ”hilang”? Bagi sebagian orang, identitas wong (orang) Jawa dianggap tidak relevan lagi dibicarakan dalam konteks keindonesiaan saat ini, apalagi di tengah globalisasi. Namun, sejumlah kalangan diam-diam masih mengakui ”kejawaan” dirinya—berikut konstruk tentang kebudayaan Jawa.

Pelukis Rudyanto asal Sragen, misalnya, jelas-jelas menggambarkan ”kehilangan” Jawa itu lewat lukisannya berjudul ”Good Bye, Jawa”; ada bangsawan duduk di kursi berukir, sementara di panil lain berjajar para remaja berkostum Batman, Spiderman, dan Superman.

Mitos

”Jawa” barangkali sebuah mitos, tetapi kebudayaan Jawa memang penuh dengan mitos. Pelukis senior asal Yogya, VA Sudiro, menganggap tokoh mitos yang paling mewakili Jawa adalah Semar. Sosok pria tua bertubuh tambun, berjambul putih, yang arif bijaksana menghadapi zaman yang penuh ”gara-gara”. Godaan itu datang dari penari dangdut yang bergoyang syur di depannya.

Tetapi, Hasyim Katamsi berpandangan skeptis. Pelukis Solo ini, lewat ”Hilangnya Kebijaksanaan” melukiskan Semar sebagai simbol kearifan Jawa, hak asasi manusia—tertulis ”HAM” di ikat pinggangnya—sekaligus nilai-nilai hidup yang damai kini berada di dalam peti mati, siap dikuburkan.

Apakah identitas ”Jawa” itu masih ada? Andre Tanama, kelahiran Yogyakarta, mengaku sulit merumuskan identitas dirinya sebagai ”wong Jawa”. Dalam konteks globalisasi, katanya, banyak hal menjadi ”seragam” dan kita seakan hidup dalam satu rumah yang sama. Menurut dia, identitas Jawa tidak akan hilang, tetapi hanya mengalami perubahan. Karya Andre, ”Ilang Neng Ndi?” (Hilang ke Mana?) melukiskan seorang anak kecil menggaruk-garuk kening.

Sebagian orang menolak konstruk ”Jawa” karena diasosiasikan sebagai suatu belenggu. Yogi Setiawan (Magelang) mengakui kejawaannya sebagai ”takdir”, tetapi dia memberontak terhadap nilai-nilai lama karena mendambakan jiwa yang bebas-merdeka. Lewat karya ”Ilang Jawane”, ia gambarkan seorang pria duduk norak di sadel motor gede dikerumuni orang-orang kampung. Begitu pun Yogi mengaku terpaksa kembali jadi orang Jawa karena lingkungan dan norma sekitar tak bisa menerima.

Jawa Barat

Tak syak, apa yang disebut wong Jawa dan budaya Jawa terus berubah. Sebagian perupa menggambarkan orang Jawa yang tak ”utuh” itu lewat personifikasi punakawan dalam wayang, sedangkan budaya luar identik dengan Amerika. Ipong Purnomosidhi (Jakarta) membuat personifikasi orang Jawa sebagai Bagong yang bermimpi jadi Superman (”Bagong Super”). Wara Anindyah dalam gaya dekoratif yang rinci melukiskan tokoh Petruk berpakaian campuran ”koboi” dan Jawa yang memegang botol bir serta keris, judulnya Jawa Barat.

Senjata keris malah diafkir dalam lukisan bergaya realisme-fotografis, Neo Java, Enggar Yuwono. Ia melukiskan transformasi budaya itu secara kontras: seorang pria berbusana Jawa, tetapi beskapnya bercorak bendera Amerika dan sabuknya bendera Inggris. Di sabuk belakang, ia menyengkelit sepucuk senapan otomatik dan bayonet.

Karya drawing pelukis Jaya Adi dengan teknik arsir pastel minyak, ”Ámerikini” melukiskan seorang pria tua Jawa, tetapi bergaya punk, memakai ikat kepala dan baju bercorak bendera Amerika, dan mencekal pistol. Di mata Gigih Wiyono, orang Jawa tak peduli lagi atas pelapukan budayanya. Dalam ”Teka-teki Adiluhung” yang bercorak abstrak figuratif, ia melukiskan jajaran keris dengan latar ikon pulau yang rapuh.

Bisa jadi, tak terlalu salah kalau sebagian orang menganggap orang Jawa punya sifat paradoksal, sementara yang lain menilai orang Jawa mengidap sisofren, pribadi yang terbelah. Setidaknya, itu terefleksikan lewat karya Dona Prawita Arissuta, ”The Death of Java”. Petruk digambarkan menganiaya orang sambil misuh-misuh. Dalam ”Tiwikrama”, Dyan Anggraini menggambarkan pria bertopeng yang bisa berubah jadi raksasa angkara murka bertangan 13.

”Jawa” tampaknya terus berubah. Ini ditafsir oleh Nasirun, pelukis kelahiran Cilacap, lewat penggambaran sosok-sosok deformatif yang bermakna sambil mengutip ”Jangka Jayabaya”: ”Londo Cino Gari Loro, Wong Jowo Gari Separo” (Belanda dan China tinggal dua, orang Jawa tinggal setengahnya).

Jadi, apakah ”Jawa” tinggal separuh? Atau isu identitas itu sudah usang? Heri Dono, pelukis kelahiran Jakarta, dalam karyanya ”Si Tungkot Tunggal Panuluan”—yang menunjukkan deformasi wayang kulit dengan ekspresi seni kontemporer—sesungguhnya mencerminkan spirit perubahan yang ada dalam setiap kebudayaan.

Ardus M Sawega

(diunduh dari http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/06/21/03110340/wong.jawa.liliput.vs.superman)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: