Sadumuk Bathuk dan Penyeimbang It

Kalau dianggap pameran-pameran di galeri komersial dan hiruk-pikuk balai lelang seni rupa kurang acuan, Pameran Seni Rupa Nusantara menyimpan potensi menjadi penyeimbang, dengan sedikit pengembangan.

Ketika keberagaman disadari bukan saja sebagai kenyataan, melainkan kenyataan yang bernilai, keberagaman itu bisa menjadi ”jebakan” dalam menyeleksi karya seni rupa. Inilah tantangan yang mesti dijawab dalam Pameran Seni Rupa Nusantara, pameran dua tahunan (semula setahunan) oleh Galeri Nasional Indonesia sejak 2001. Pameran yang keenam hingga akhir Mei ini mengambil tema ”Menilik Akar”—tema yang ”meng­ikat” 90-an karya yang kebanyakan lukisan (ada beberapa instalasi dan seni rupa video) dari 90-an perupa dari seluruh Indonesia.

”Jebakan” pertama adalah seleksi tersebut sekadar memenuhi keberagaman itu agar satu daerah terwakili. ”Jebakan” kedua, seleksi mengupayakan ha­dirnya berjenis karya seni rupa: dari lukisan sampai seni grafis, dari patung sampai karya instalasi dan seni rupa video. Jadi, asal sebuah karya dianggap masuk ke bingkai ”Menilik Akar”, jadilah karya ini diterima.

Itulah yang muncul di kepala ketika berkeliling di ruang utama dan sam­ping serta halaman Galeri Nasional Indonesia tempat Pameran Nusan­tara VI diselenggarakan. Ada Sadumuk Bathuk Sanyari Bumi, lukisan karya Yudi Kodo, karya realistis yang me­nyuguhkan bentuk sebagaimana dilihat mata. Tampaknya lukisan ini menggambarkan seseorang sedang berpantomim, menilik wajahnya yang dilabur putih sebagaimana lazimnya pemain pantomim ketika beraksi di panggung. Karya ini, selain berhasil secara teknis, juga menimbulkan empati—kita merasakan lorek-lorek warna merah pada baju lurik pemain pantomim itu, komposisi tubuhnya yang merunduk, dan ekspresi wajahnya yang dingin sementara itu tangan kanannya menghunus sebilah keris yang warangka-nya digenggam di tangan kiri. Lalu ada lukisan Adat Lama (Pusaka Usang) karya Edi Dharma. Lukisan ini menggambarkan rumah-rumah adat, sesosok wajah, dan kemudian ditumpuk dengan kaligrafi Arab dan beberapa de­ret tulisan Latin. Dibandingkan dengan Sadumuk Bathuk, tampaknya Adat Lama dimasukkan hanya karena rumah adat itu. Ada jarak mutu yang cukup jauh di antara kedua karya ini.

Di halaman antara ruang utama dan ruang samping, dua instalasi terpajang megah. Cikal Bakal adalah karya instalasi Ismanto, dua patung batu, satu so­sok perempuan dan satu lelaki, menjadi gapura depan sebuah kolam. Karya instalasi yang lain dari Kokok H.S. berjudul Sedot. Sebuah mobil penyedot tinja beneran, yang selang-selang penyedotnya dipasang pada lukisan-lukisan berukuran besar yang disusun tak ber­aturan. Sedot menjadi karya seni, menurut kesan saya, karena mobil itu berhenti sebagai benda praktis karena dua hal. Pertama selang yang menyedot lukisan, dan kedua ban mobil diwarnai perak. Memang Sedot tak terlalu kuat karena mobil itu belum sepenuhnya tanggal kesan praktisnya. Namun, dibandingkan dengan Cikal Bakal, karya Kokok lebih tampil sebagai karya seni dan bukan kenyataan ”mentah” yang dianggap karya seni.

Empat karya ini adalah contoh yang jelas untuk menyatakan betapa seni rupa Indonesia yang plural itu dalam pameran ini diwakili oleh karya-karya yang mutunya pun beragam. Dari sisi ini Pameran Nusantara VI mengundang tanda tanya, apa sebenarnya yang hendak dicapai.

Pada pameran pertama, 2001, kurator pameran (Suwarno Wisetrotomo) menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu jalan untuk menemukan ”seni rupa modern di Indonesia”. Seingat saya, ”seni rupa modern di Indonesia” yang dimaksudkan itu di ruang pameran berupa karya yang gaya dan bentuknya berbeda-beda. Dan pada pameran-pameran berikutnya ­sampai yang kelima, 2007, keberagaman ini tak berubah meski tema berganti. Misalnya, tema pameran yang kelima ”demi ma[s]sa”, yang keempat ”apakah kita berbeda?”

Ini mengingatkan saya pada pameran pelukis muda Indonesia yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) sejak awal 1970-an, berselang-seling dengan Pameran Besar Seni Lukis Indonesia (yang kemudian menjadi Pameran Biennale Jakarta). Dalam pameran seni lukis muda itu konsep DKJ sederhana dan jelas: menyajikan karya perupa di bawah usia 35 tahun yang terpilih. Tujuannya, melihat adakah ”bakat” baru yang layak diikuti, didukung, dan diundang berpameran.

Saya tak ingat benar siapakah yang muda-muda itu yang hari ini dicatat sebagai perupa kita yang sukses dari sisi kreativitas. Samar-samar waktu itu ada nama Ivan Sagito, Nindityo, dan beberapa yang lain yang kini dianggap sebagai seniman yang layak dicatat. Bila kemudian pameran pelukis muda ini tak berlanjut, mungkin sejak awal 1990-an, itu soal lain. Boleh jadi DKJ melihat bahwa di luar Taman Ismail Marzuki—tempat program DKJ diselenggarakan—penyelenggara dan ruang pameran sudah tumbuh dan bahkan dari tempat, yakni ruang pamerannya, yang di luar TIM jauh lebih layak.

Yang kemudian hilang, pameran di luar DKJ itu tak lagi dalam ”skala Indonesia” untuk dengan sengaja mencari sosok baru. Kalau toh ada, misalnya sebuah galeri memamerkan karya pelukis muda yang ternyata kemudian memang mendapat apresiasi secara nasional (bahkan mungkin internasional), itu hanyalah kebetulan. Setidaknya galeri itu tak menjadikan hal ”mencari” ini sebagai hal yang direncanakan dalam jangka panjang di dalam dunia seni rupa Indonesia.

Itu sebabnya lahirnya Pameran Seni Rupa Nusantara pada 2001 saya lihat sebagai ganti dari pameran pelukis muda Indonesia yang diselenggarakan oleh DKJ. Ada persamaannya. Jangkauan Pameran Nusantara ini Indonesia, dan dari awal sudah meletakkan keberagaman sebagai hal yang disadari dan secara sengaja ditampilkan. Bedanya, pameran pelukis muda Indonesia DKJ terbuka, tanpa tema tertentu, Pameran Nusantara bertema tertentu.

Tema itulah pada hemat saya yang kemudian ”membatasi”, karena bisa saja seorang perupa menolak ikut serta karena merasa tak cocok dengan temanya. Bila memang ada niat untuk menyuguhkan sebuah panorama dunia seni rupa Indonesia masa kini dari generasi mudanya (dan menurut saya ini akan memberikan gambaran aktual tentang dunia seni rupa kita) bukannya tak ada jalan.

Sebab, sebagaimana Pameran Nusantara VI ini, ada sejumlah karya yang menunjukkan potensi untuk berkembang. Beberapa contoh yang saya catat, selain yang telah disebut di bagian awal tulisan ini, adalah Metamorfosa karya Bambang Hariyanto. Inilah karya yang dibuat dengan bolpoin di kanvas besar: ketekunan tanpa kehilangan élan, sebuah komposisi garis-garis yang membentuk ornamen. Lalu Pembekuan Budaya oleh Rendra Santana: close up wajah perempuan ”diterjang” huruf-­huruf balok.

Ada juga Teks Un Detect karya Andris Susilo. Inilah gambar 50 tokoh wayang, masing-masing digambarkan di kertas berukuran 32,5×21,5 cm, kertas yang penuh teks. Ke-50 gambar ini ditempel di tembok ruang pameran, disusun berderet 10×5. Kemudian 09 Never Ending Story lukisan Bestrizal Besta. Dalam gaya realisme fotografi, lukisan ini menggambarkan empat anak sibuk dengan laptop masing-masing, digambar dari belakang. Ada ”pelesetan” di sini: anak paling kanan tak berbusana selembar benang pun.

Adapun karya instalasi dicampur seni rupa video yang menyita perhatian adalah In Balance hasil karya Khrisna. Sebuah patung kepala Buddha sebesar dua kepalan tangan ditaruh di lantai dikelilingi taburan pasir putih melingkar, di tembok kanan dan kiri beberapa gambar ditempel, lalu di tembok depan di belakang patung kepala itu sebuah monitor. Patung kepala itu sendiri sebenarnya sudah merupakan karya instalasi yang memukau. ”Tambahan” seni rupa video sebenarnya tak begitu menambah nilai, untunglah tak mengganggu.

Mungkin, menyelenggarakan pameran selingan setelah lima kali Pameran Nusantara misalnya, yang menampil­kan karya dari beberapa seniman yang terpilih dari lima Pameran Nusantara itu, adalah solusi untuk mengatasi keterbatasan tersebut. Bila peng­antar kuratorial di Pameran Nusantara pertama berharap dari pameran ini bisa tergambar lebih ”jelas” yang dinamakan seni rupa modern di Indonesia, pameran selingan tersebut setidaknya bakal menggambarkan dunia seni rupa kita pada suatu kurun waktu. Ini akan membuat sebuah ke­seimbangan: di satu sisi Pameran Nu­santara, di sisi lain keramaian pameran di galeri komersial dan riuh-rendah­nya balai lelang yang hingga kini terasa kurang acuan itu.

Bambang Bujono

(diunduh dari http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/05/25/SR/mbm.20090525.SR130399.id.html)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: