Ekspresi Nusantara

Dalam “Menilik Akar”, para seniman masih dibayangi nilai-nilai tradisi dan nasionalisme.

Pameran Seni Rupa Nusantara datang lagi. Kali ini, setelah melalui seleksi 600 peminat, 99 perupa dari 21 provinsi terpilih mengikuti pameran dua tahunan (bienial) bertajuk “Menilik Akar” itu. Di Galeri Nasional, terlihat bagaimana wajah perkembangan seni rupa Indonesia, sekaligus wajah Indonesia itu sendiri.

Para perupa menempuh beragam media berekspresi, dari lukisan, patung, grafis, gambar, instalasi, hingga video. Karya-karya video Forum Lenteng, misalnya. Mereka menghadirkan ratusan foto reklame pinggiran jalan. Bukan poster-poster berizin dan membayar pajak, melainkan pamflet-pamflet tempelan di tembok hingga iklan yang biasa dipaku di pohon atau digantung di tiang listrik.

Dalam karya berjudul Andi Bertanya itu, proyektor menayangkan potongan-potongan slide berisi foto-foto dari berbagai sudut kota dan tepi jalan, dari iklan sedot tinja hingga agen pembantu rumah tangga. Sebuah rekaman percakapan telepon diputar, berisi dialog antara Andi dan salah satu pengiklan pembantu rumah tangga.

Kegelisahan terhadap sistem sosial agaknya menjadi inspirasi para perupa instalasi. Seperti karya Ali Rubin, A White Key for Indonesian Oppressed Generation, yang membentuk wujud bayi terborgol dan terjepit gembok raksasa. Atau A.B. Soetikno dengan Dirt Inside, membuat figur otak yang terkungkung jeruji.

Secara umum, ekspresi trimatra yang dipamerkan bukanlah karya-karya yang mengejutkan bagi penikmat seni di pusat-pusat seni, seperti Bandung dan Jakarta. Meski begitu, kehadiran karya-karya perupa, seperti Endang Lestari, Agung Hanafi Purboaji, dan Ali Rubin, penting untuk memberi inspirasi bagi perupa-perupa dari daerah.

Karya-karya dwimatra pun tak mengejutkan. Kita melihat banyak perupa Indonesia masih berkutat dengan karya-karya yang realis. “Memang begitulah adanya seni rupa kita,” kata perupa Haris Purnomo kepada Tempo saat pembukaan pameran.

Namun begitu, Haris memuji keapikan teknik para perupa realis itu. “Juga ide-idenya,” kata Haris. Dia, misalnya, memuji karya Ariyadi-Cadio Tarompo (Kalimantan Timur), Super P Boy. Ini lukisan seorang anak dengan kostum pahlawan bertopeng, tapi bayangannya berbentuk garuda Pancasila.

Di sana-sini, kita melihat unsur-unsur tradisi berbagai daerah yang meloncat ke kanvas. Ada yang sepenuhnya “menyerah” pada keagungan tradisi, ada yang menabrakkannya dengan ciri modernitas, ada yang sekadar meminjam bentuknya saja, tanpa terikat dengan makna.

Ada pula yang tak melupakan peran seni sebagai pembawa pesan kaum marginal yang tersudut oleh pembangunan. Misalnya Mahdi Abdullah (Aceh) dengan Demi Massa #3 dan Jacky Lau (NTT) dengan Orang Timor. Mereka mengingatkan bahwa pemerataan tak kunjung sampai ke banyak tempat.

Ada pula perupa yang mencoba memberontak dari kanvas lukisan, seperti Susilo Tomo (Jawa Tengah) dan Lenny Pasaribu (Sumatra Utara). Pada Kerbau-kerbau di Bawah Langit Perak, Susilo mengganti bagian atas kanvasnya dengan bentuk-bentuk yang mengingatkan kepada mesin. Di kanvas, ekspresionisme lanskap alam bercampur aduk dengan jahitan spanduk.

Lenny, dengan Rumit, tak menggunakan cat. Bungkus-bungkus permen berwarna-warni ia tempelkan pada kanvas sebagai latar. Pola-pola dari benang wol dan sedikit perca berseliweran di atas latar itu. Yang antiklimaks adalah bingkai yang seakan membatasi ekspresinya.

Pada akhirnya, pameran ini tak cukup untuk menilai perkembangan individual para perupa. Secara kolektif, karya mereka kembali memotret wajah seni rupa Indonesia apa adanya. Bila perupa mendapat inspirasi dari lingkungannya, pameran ini, seperti bienial sebelumnya, masih menunjukkan ketimpangan pemerataan di Indonesia. Di “pusat”, perupa beroleh eksplorasi ide yang lebih pekat.

Kurator pameran, Kuss Indarto, mencatat bahwa para seniman masih dibayangi nilai-nilai tradisi dan nasionalisme. Dia juga mengakui faktor geografis mempengaruhi perkembangan seniman. “Ada wilayah yang mampat sebagai daerah kering untuk berkesenian, ada pula kawasan yang telah membentuk komunalitas yang berpengaruh bagi pembentukan dan pendalaman kreatif para seniman,” ujar dia.

Dan untuk aspek komunalitas itu, kata Kuss, Yogyakarta tetaplah daerahistimewa. IBNU RUSYDI

(diunduh dari http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/05/25/Budaya/krn.20090525.166084.id.html)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: