Seni Merusak Wajah Ostenrik

Seni Merusak Wajah Ostenrik

Teguh Ostenrik menggelar pameran patung dan lukisan: deFACEment. Limbah pabrik baja menjelma menjadi seni instalasi. Perlukah seni didekatkan ke publik?

TANGAN Murni perlahan menelusuri rongsokan besi yang terserak di halaman pabrik Nikko Steel, Tangerang. Sesekali ia mendenting-dentingkan tumpukan logam itu sambil bersenandung. Gadis 18 tahun yang cacat ganda—tak bisa melihat dan terbelakang mentalnya—ini tersenyum saat menemukan sebentuk besi yang ia sukai. Dibantu gurunya, Murni menyorongkan potongan itu ke Teguh Ostenrik.

Teguh lalu merekatkan besi-besi dari Murni—dan belasan siswa lainnya—dengan las. Maka, voila, besi berkarat itu pun menjelma menjadi seni instalasi patung. Awal Maret lalu, sang perupa mengundang belasan murid Sekolah Luar Biasa Rawinala, Kramat Jati, Jakarta Timur. Mereka bersama merakit besi sisa produksi pabrik untuk dijadikan karya seni. ”Anak-anak itu melihat dan mendengar dengan hati, sehingga lebih peka dalam banyak hal, termasuk soal seni,” kata seniman 59 tahun itu.

Karya kolaborasi ini, bersama 52 karya rakit-rangkai dan 19 lukisan Teguh lainnya, dipamerkan dalam deFACEment di Gedung Arsip Nasional, 25-29 April lalu. Kali ini ia menciptakan karya patung dari besi bekas pabrik. Bagi banyak orang, besi seperti itu mungkin cuma sampah yang tak berharga. Namun, di tangan Teguh, rongsokan itu bertransformasi menjadi deretan patung yang menggambarkan wajah manusia. Yang rusak, berkarat, carut-marut: wajah kita.

Perupa kelahiran Jakarta yang menempuh pendidikan seni rupa di Jerman ini kembali ke Tanah Air pada 1988. Di Jakarta, ia mendirikan dan mengelola C-Line Gallery (1989-1994), Galeri Teguh (1995-2003), dan kini Bilik 3Dharma di Cilandak, Jakarta Selatan.

Teguh sudah menggelar 25 pameran tunggal dan puluhan lagi pameran bersama serta kolaborasi dengan seniman lain di berbagai negara. Tahun lalu ia juga menggelar karya dari rongsokan besi di Alpha Utara Gallery, Penang, Malaysia. Selain itu, ada pula Kamasutra Femmes, karya lukisan dan patung perunggu, di East and West Art Gallery, Melbourne, Australia pada 2007, dan Compassions di Church of St. Mary of The Angels, Singapura, pada 2005.

”Ekspresi muka mengungkapkan kepribadian,” tutur Teguh tentang tema wajah manusia dalam pameran terbarunya ini. Alumnus seni murni di Hochschule der Kuenste, Berlin, Jerman, ini telah lama merasa format anatomi wajah manusia yang ”indah” membatasi gerak langkah kreatifnya. Maka, ia pun memilih mengobrak-abrik wajah yang serba cantik dan rapi itu lewat deFACEment.

Pilihannya pun jatuh pada bangkai besi sisa produksi pabrik. Maka, potongan logam bekas (scrap) yang kaku, kasar, dan berkarat pun dirangkainya. Ia sama sekali tak mengubah bentuk asli besi sampah itu. Bentuk kepingan besi yang tak beraturan justru dimanfaatkannya untuk menciptakan sesuatu yang tak terduga.

Misalnya ada besi berbentuk mirip kukusan nasi yang tersobek di sana-sini. Teguh dengan cerdik merangkai kepingan itu hingga terciptalah Mulutnya Penuh Kentang—gambaran wajah dengan mulut sedang mengunyah keripik. Ada pula Lambaian Jiwa, besi berkarat dengan lubang dan tonjolan di mana-mana yang disulap Teguh menjadi sesosok tubuh dengan tangan dan kaki yang melambai-lambai.

Yang juga menarik, Yes I’m Listening to You. Sebuah besi berbentuk tabung yang di bagian bawahnya ada bekas lubang pipa berubah wujud menjadi wajah takzim dengan mulut menganga seolah sedang serius mendengarkan. Teguh juga mencoba menciptakan patung jenaka. Misalnya sebuah besi berbentuk tabung tipis yang di bagian atasnya ada kepingan bengkok yang bolong-bolong dan dipenuhi serabut besi serupa kabel. Itulah Belon Disasak—patung yang dengan jenaka menggambarkan rambut acak-acakan dan menjulang ala ibu-ibu pejabat yang bersiap pergi ke pesta.

Besi berkarat itu menjelma menjadi sebuah patung yang ”berbicara”. Sangat berbeda dengan posisinya saat teronggok di halaman pabrik. Wicaksono Adi, kurator pameran ini, menyatakan, meski awalnya adalah rombengan yang biasanya berakhir di gudang atau pembuangan, patung Teguh justru sukses menampilkan wajah manusia dalam berbagai bentuk. ”Teguh tidak sedang menciptakan wajah makhluk asing dan aneh, tapi justru hendak menangkap ekspresi yang mudah kita jumpai sehari-hari,” kata Wicaksono.

Bentuk dan kepingan logam yang tak beraturan itu justru membuka berbagai kemungkinan ekspresi wajah. Tak hanya itu, penggunaan bahan logam bekas yang penuh karat juga sukses menambah dramatis. Wicaksono menyatakan justru lewat kawat runcing, potongan balok logam, lempengan, bekas roda gigi, dan berbagai gumpalan penuh sudut yang sudah berkarat itulah Teguh menampilkan wajah manusia.

Ya, kita memang tak akan menemukan bentuk utuh ataupun ”keindahan” sebuah wajah dalam karya Teguh. Pengamat perkotaan Jo Santoso—dalam diskusi prapameran Teguh: Bedah Seni, Pengenalan Diri yang Hilang—menyatakan salah satu keunggulan karya ini adalah pemanfaatan limbah pabrik. Rombengan itu menjelma menjadi karya seni bernilai tinggi setelah disentuh Teguh. Menurut Jo, Teguh—meski bukan seniman terkaya atau terpopuler—adalah salah satu yang menciptakan karya paling relevan dengan kondisi saat ini. ”Sesuatu yang dibuang dan dihancurkan oleh modernisasi bisa dibangkitkan menjadi karya seni,” kata Jo. Bukan sekadar karya seni, tapi karya yang merujuk ke wajah kita, manusia modern yang semakin impersonal.

Penggunaan barang bekas dalam dunia seni rupa modern tak benar-benar baru. Museum of Modern Art (MOMA) dan Guggenheim di Amerika Serikat sudah beberapa kali menampilkan karya seni dari barang buangan yang berkarat atau didaur ulang. Toh tetap saja Teguh jeli mewujudkannya dalam versi Indonesia. Teguh dianggap sukses mendompleng seni rupa modern untuk menampilkan sesuatu yang ”Indonesia” bahkan ”Jawa”.

Teguh sempat mendapat masukan agar mengekspos karyanya di tempat publik, sehingga lebih banyak yang menikmati. Misalnya di taman umum atau bahkan di halte bus dalam jangka waktu yang lama—bukan hanya satu dua hari seperti sekarang. Selama ini, para seniman kerap dianggap ”membangun pulau sendiri” yang menjauhkan karya mereka dari masyarakat awam. Terlepas dari posisi karya Teguh dalam dunia seni rupa modern Indonesia, hal ini mencuatkan satu perdebatan klasik: perlukah seni mendekatkan diri ke masyarakat umum?

Kita ingat, pada Januari 2004, karya instalasi Tisna Sanjaya, Doa Buat Mereka yang Mati, dibakar oleh aparat keamanan dan kebersihan. Karya berbentuk perahu yang dipamerkan di halaman bekas rumah makan Babakan Siliwangi, Bandung, itu rupanya dianggap sampah. Tisna dan para seniman yang tergabung dalam Komunitas Seniman Gerbong Bawah Tanah pun menggugat Pemerintah Kota Bandung.

Benarkah semakin ”bagus” sebuah karya berarti semakin susah dipahami oleh orang banyak? Semestinya tak begitu. Contohnya, Monalisa di Museum Louvre, Prancis. Pada awalnya, lukisan legendaris itu dianggap sakral dan hanya bisa dinikmati di dalam museum dengan membayar tiket masuk. Namun, belakangan, banyak kalangan—termasuk pihak museum sendiri—yang menuangkan Monalisa dalam bentuk yang ”tidak sakral”: kaus, mug, stiker, dan pernik lain. Akhirnya, senyum si cantik bertebaran di mana-mana, dinikmati lebih banyak orang dan tak lagi menjadi sesuatu yang mesti dinikmati dengan kening berkerut.

Andari Karina Anom

(diunduh dari http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/05/04/SR/mbm.20090504.SR130195.id.html)

  1. #1 by andreas on May 15, 2009 - 7:10 pm

    puluhan wajah-wajah manusia, topeng-topeng di panggung sandiwara?

    bumi, air, udara, kesuburan, bebatuan, bahan tambang, sungai, ngarai, debur ombak, puluhan ribu pulau di hampar sabang merauke, lahar, gunung api, krakatau 1883, homo erectus, homo soloensis, asin laut, asam, basa, hutan gambut, hutan bakau, savanna, tanah liat, bakau, batu gamping, kapur, khatulistiwa, panas menggigit kering kerontang, kubur kajang, dingin mengigit atap langit bersalju di papua, geologi, ekologi, biologi, kekayaan alam, perjumpaan peradaban, migrasi bangsa-bangsa,

    negeri ini tergeletak kalah atau menang diantara dua benua dan dua samudera?

    melahirkan seribu neka suku bangsa, bahasa, ekspresi budaya, kalah atau menang?

    sesungguhnya negeri ini tanah tumbuh, bahan baku, ekpresi kesenian dan kebudayaan tak habis-habisnya, teramat kaya dan menakjubkan.

    orang bilang tanah kita tanah surga
    tongkat batu dan kayu jadi tanaman……..

    koesplus bicara tentang suburnya tanah di negeri ini, teguh ostenrik melalui pameran tunggalnya “defacement” (yang disiapkan oleh ide global art, gedung arsip nasional 25-29 arpil lalu) bicara tentang ragam ekspresi wajah manusia yang sama kayanya.

    demikian pula kayu, batu, besi bekas, ban bekas, plastik bekas, kulit kayu, beling, perca atau bahkan sisa potongan rambut tukang cukur melalui olah pikir, rasa dan tangan-tangan terampil semua itu bisa menjadi bahan baku karya seni yang hebat.

    pada pameran ‘deFACEment” ini teguh memulung besi bekas, dan mengolah di bengkelnya menjadi puluhan instalasi rupa wajah-wajah . Kemudian untuk menampilkan kesan lebih kuat atas keusangan, ia torehkan zat kimia untuk menambah karat…..

    dalam booklet pameran teguh onsentrik menjelaskan apa yang sesungguhnya ingin ia ekspresikan..

    mengapa tema wajah manusia? alasannya sederhana saja kata teguh, bahwa ekspresi muka mengungkapkan kepribadian seseorang. “setiap kali saya melihatnya, timbul pertanyaan dalam benak saya apakah arti semuanya? jika seseorang tersenyum, maka muncul pertanyaan ada apa di balik senyumnya, bisa jadi senyum bukan lagi sebuah cermin kegembiraan, tapi mungkin ada rasa getir yang tertahan”

    kemudian teguh bertanya secara kritis terkait teknologi dan jiwa manusia. teknologi terus saja berkembang, apakah demikian pula jiwa manusia? apakah sejalan dengan perkembangan waktu, manusia semakin bahagia? sebaliknya kata teguh, fakta saat ini menunjukkan bahwa banyak orang yang semakin menderita.

    lantas bagaimana kisah dunia ini panggung sandiwara, seperti dinyanyikan godbless?
    teguh tegas mengatakan apa yang dipancarkan wajah bukan lagi manifestasi jujur atas perasaan jiwa tetapi seringkali hanya sekeping topeng yang sedang menghadapi kenyataan. “inilah dasar pemilihan judul deFACEment, karena manusia telah mengalami deformasi. harapannya adalah, bagaimana kita bisa membaca yang tersirat, bukan yang tersurat.”

    opss surut sejenak dulu, sebenarnya saya merasa terganggu dengan satu pernyataan teguh, yakni apa yang ingin ia sampaikan dengan menyandingkan perkembangan teknologi dan perkembangan jiwa manusia.

    saya langsung teringat soal ancaman kiamat dari berton-ton limbah nuklir, senjata-senjata nuklir, kimia dan biologi, rekayasa genetik, teknologi energi yang menghasilkan lubang ozon, hujan asam, lelehan salju di atap langit papua dan ancaman lenyapnya ribuan pulau di nusantara akibat naiknya permukaan air laut. belum lagi aneka flu, dari flu burung, flu singapura, flu babi yang bisa jadi karena rusaknya keseimbangan alam dan limbah yang tidak terurus dengan baik. juga teknologi yang memperbudak manusia, teknologi rekayasa wajah dan tubuh yang lahirlah bonek-boneka, manekin malahan mutan, teknologi yang terus berkembang menghasilkan perubahan tiap bulan fitur-fitur teknologi komunikasi dan informasi dengan limpahan sampah handphone, tv misalnya, teknologi (psikologi) rekayasa kesadaran manusia, dan konsumerisme sebagai salah satu produknya. juga memoles wajah bersimbah darah atau wajah abdi modal dan menghina korban lumpur lapindo (sepanjang 3 tahun ini) menjadi calon pemimpin masa depan yang bersih, peduli, berwibawa.

    tentu saja teguh tidak bicara teknologi dari sisi negatif ini yang berjalan seiring dengan perkembangan jiwa manusia, dari keadaban menuju kebiadaban. barangkali topeng-topeng wajah adalah topeng-topeng kekalahan jiwa manusia. walau saya yakin wajah-wajah yang jujur dari adab dan kemanusiaan akan tetap hidup, bertahan, bekerja dan memanen hasil. baca juga kontradiksi antara wajah-wajah kalah dan wajah-wajah harapan pada pameran herri purnomo yang uniknya berlangsung hampir berbareng dengan pameran teguh (menunggu aba-aba : bayi bertato, kepompong dan pisau sangkur)

    kembali kepada pesan teguh, deformasi ekspresi manusia itu tentunya hanyalah satu tawaran penghayatan, sebenarnya teguh juga menawarkan soal lain lagi yang agaknya luput dari sorotan media paling tidak begitu yang terbaca dari laporan kompas ‘wajah kita pada besi tua (ilham khoiri 26 april 2009)

    memang ilham menyoroti proses kreatif teguh dan soal-soal teknis pengolahan besi tua dalam proses penciptaan teguh, tetapi luput menyoroti kenapa dipilih medium besi tua. Di titik ini omelan saya soal teknologi pembunuh dan memperbudak bertemu lagi dengan gagasan teguh

    soal ini adalah bagian dua dari artikel saya defacement : teguh ostenrik pada raya bumi, ini terkait juga dengan kenapa saya begitu bawel pada awal tulisan ini bicara bumi dan air di hamparan khatulistiwa ini. demikian pula saya menemukan penghayatan lain saat menjejaki ruang pamer gedung arsip nasional. pertama, saya terpaku pada inagatan kepedihan dan nasib korban lumpur di porong sidoarjo (defacement : teguh ostenrik pada korban lapindo). dan kedua saya menemukan wajah krisis kapitalisme hari ini (defacement : karya teguh ostenrik pada krisis kapitalisme). dan terakhir perkawinan yang sedap pada ketuaan bangunan gedung arsip nasional dan karya rupa teguh (defacement : teguh ostenrik pada batu dan besi tua)(foto dan teks andreas iswinarto)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: