Oooiii… NAOSHIMA

Seni Rupa Kontemporer
Oooiii… NAOSHIMA

Minggu, 3 Mei 2009 | 03:25 WIB

Dadang Christanto

Pertengahan April lalu, saya mendapat kesempatan berkunjung ke Naoshima. Sebuah pulau yang tidak lebih besar dari Pulau Nusa Kambangan. Sejak 10 tahun terakhir ini Naoshima telah merebut perhatian dunia seni rupa kontemporer internasional. Demikian kesan saya lewat news letter berkala mereka, yang saya terima sejak beberapa tahun lalu. Naoshima adalah salah satu dari gugusan tujuh pulau di Seto Inland Sea di Kagawa Prefecture, Jepang.

Paling tidak, ada tiga tempat andalan untuk melihat karya- karya seni rupa/arsitektur kontemporer di sana. Pertama adalah Benesse House Museum (BHM), kedua Chichu Art Museum, dan ketiga House Project.

Bermula dari Benesse Corp yang dimotori seorang filantropi bernama Soichiro Fukutake. Fukutake, menggaet Tadao Ando (1941- ), seorang arsitek kesohor, otodidak, mantan petinju, membuat Benesse House Museum (BHM) di Naoshima pada tahun 1992. Rancangan BHM adalah rancangan sebuah hotel ”supermewah” yang dilengkapi museum di dalamnya. Para tamu hotel akan menginap bersama karya Alberto Giacometti, Jackson Pollock, Andy Warhol, Bruce Nauman, Richard Long, Cai Gou Qiang, Yayoyi Kusama, David Hockney, Tadshi Kawamata, Frank Stella, Yves Klein, Yukinori Yanagi, Jean Michel Basquiat, dan sederet nama besar lainnya. Disuguhkan lewat indoor maupun outdoor. Dan, tentu saja kekuatan arsitektur Tadao Ando yang minimalis dan meditatif membuat daya tarik tersendiri bagi landmark Naoshima.

Kepiawaian Ando yang lain, ketika Benesse Corp memperluas bangunannya dengan meresmikan museum baru 2004, bernama Chichu Art Museum atau art museum di bawah tanah. Chichu terdiri dari tiga lantai ke bawah, di atas tanah seluas 9.990 m2, dengan bangunan seluas 3.498 m2 dan luas lantainya 2.573 m2. Di Chichu hanya ada empat nama seniman yang menempati ruang-ruangnya secara permanen. Yakni: Claude Monet (1840-1926), James Turrell (1943- ), Walter De Maria (1935- ), dan Tadao Ando sendiri

Dalam rancangannya, ada tiga ”dialog” yang dilakukan Ando dengan tiga seniman di atas.

Dialog dengan Claude Monet tentunya dilakukan secara imajiner, melalui empat lukisan seri ”Water Lily” yang dipunyai Benesse. Hasilnya tampak kecerdasan Ando dalam menata bentuk/ruang. Sebelum kita melangkah ke ruang lukisan Monet ditempatkan, Ando membuat ruang kosong cukup luas dengan sinar temaram sebagai jeda. Sebagai ruang tarikan napas tapi sekaligus ”kejutan”. Dan, ”Water Lily Pond” (200 x 300 cm) beserta tiga seri lukisan lainnya, dengan pencahayaan alamiah/matahari, di ruang empat persegi (2.000 x 2.000 cm), terasa menjadi makin anggun dan berwibawa.

Memasuki ruang koleksi karya James Turrell ”Open Field” 2000. Kita dibawa ke ”pembongkaran” atau semacam dekonstruksi terhadap pengalaman kita tentang ruang. Turrell, perupa kelahiran Los Angeles yang basis penciptaannya lewat keruangan dan pencahayaan, memang piawai untuk membuat penonton terkecoh antara ruang sebagai realita atau ruang sebagai ilusi?

Memasuki karya instalasi ”meruang” Turrel, terbentang bidang segi empat kebiruan. Seolah bidang tersebut terpancar dari sebuah proyektor ke permukaan dinding. Jika kita merabanya, ternyata hampa/tembus. Bukan permukaan layar, tapi ruang kosong (berdimensi), di mana kita bisa berjalan mengitarinya. Turrell membuat ruang yang meruang. Bila berpaling ke belakang, ruang yang tertinggal menjadi oranye, dan ini sebenarnya efek saja karena si pemirsa melihatnya melalui cahaya yang terpancar dari sinar ultra violet yang terasa lembut bagai dalam kabut biru. ”Open Sky” 2004 adalah karya Turrell yang lain di Chichu, di mana penonton dibawa ke suasana meditatif lewat pencahayaan yang diatur, sembari duduk melihat langit lazuardi, awan berarak, atau mendung/gelap sekalipun.

Sedang karya Walter De Maria di Chichu ada dua instalasi. Satu karya instalasi berjudul ”Timeless/No Time” 2004. Bagai di dalam ruang teater/musik atau sebuah ruang gereja berarsitektur ”Rococo” yang sudah terpiuh. Terutama bilah-bilah/batangan keemasan yang diletakkan di beberapa tempat mengelilingi dinding tinggi. Batangan keemasan tersebut menyerupai sebuah teks dari huruf ”Paku”. Dan, di tengah ruangannya yang berundak, Maria menempatkan sebuah bola masif dari batu granit dengan garis tengah 200 cm, hitam kehijauan, mengilap. Sebuah karya instalasi yang berkesan surealis, agung namun kesepian. Satu lagi karya Maria, ”Seen/Unseen Know/Unknow” 2000, dengan memasang dua bola batu granit yang sama, bagai sepasang bola mata yang tengah mengintai/memandang ke laut dari dalam bunkernya. Sepasang mata yang dingin dan terpenjara. Maria dan Ando keduanya seperti menemukan dialog yang ”membebaskan”. Mereka seperti bertemu dalam muara yang sama, minimalis. Keduanya sangat ketat terhadap detail. Sebuah dialog yang saling mengisi antara lempengan-lempengan sekat beton semen beku, telanjang apa adanya dari Ando, dilengkapi dengan bentuk lengkung/bulat plastis dengan kesempurnaan teknis pembuatan. Ada ketegangan yang diakhiri dengan harmoni dalam duet Ando-Maria ini.

Tempat yang tak kalah piawai, artistik, estetis, adalah House Project. Sampai kini sudah ada tujuh seniman yang mendapatkan commission work untuk ”project on going” ini. Prosesnya, seniman datang ke Naoshima, memilih site berupa rumah, kuil, di perkampungan penduduk. Setelah itu seniman merespons bangunan tradisionil berubah menjadi karya baru (instalasi/arsitektur kontemporer). Lalu pengelolaannya diserahkan kepada partisipasi warga. Perawatan, penjualan tiket, pengaturan jadwal tugas relawan dan seterusnya, menjadi swadaya warga Naoshima.

”Sepuluh tahun lalu boleh dikatakan Naoshima tidak ada apa-apanya, tidak ada yang istimewa. Tapi sekarang banyak pelancong berdatangan. Di Chichu Art Museum saja, ada 130 ribu pengunjung tiap tahunnya. Dua puluh persennya adalah wisatawan asing. Belum lagi ditambah jumlah para pengunjung yang hanya sekadar rekreasi akhir minggu, menikmati taman public art dari para perupa dunia,” kata Takashi Furukawa dari kantor Tourism Promotion Takamatsu.

Keberhasilan Naoshima selain menyedot perhatian dunia seni rupa kontemporer internasional, secara tidak langsung juga membuat ekonomi warga Naoshima tumbuh. Jalan-jalan kampung yang dilewati para pelancong tampak terawat. Feri yang mengangkut penumpang makin padat. Para warga membuka toko, restoran. Nelayan, petani, makin produktif karena bisa menjual ikan dan hasil bumi langsung ke restoran-restoran setempat. Pendek kata keberhasilan Naoshima melalui kegiatan seni kontemporer telah mengubah wajah Naoshima. Dari sini kita bisa melihat bahwa seni rupa mampu membuat arus yang mendistribusikan ekonomi dari kota-kota besar seperti Tokyo, Osaka, Yokohama, Chiba, Beijing, New York, London, Berlin, Toronto, Roma, dan lain-lain. Menetes ke pedalaman.

Rupanya aktivitas seni di Naoshima akan diperluas ke beberapa pulau kecil lainnya di sekitar Seto Inland Sea. Seperti pulau Teshima, Megijima, Ogijima, Shodoshima, Inujima, dan Takamatsu. Untuk itu pemerintah Kagawa Prefecture bekerja sama dengan Naoshima Fukutake Art Museum dan Fukutake Foundation, memilih Fram Kitagawa sebagai Art Director untuk penyelenggaraan sebuah festival bertajuk ”Setouchi International Art Festival 2010” yang pertama. Akan dibuka bulan Juli. Bahkan, ”Naoshima: Art and Achitecture Project” akan dipamerkan di Venice Biennial, Juni mendatang.

Model atau konsep yang sama, pemberdayaan ekonomi lokal melalui festival seni bertaraf internasional telah muncul belasan tahun lalu di Jepang. Seperti di ”Ichigo Tsumari Trienial”, 18 Juli 2009 akan dibuka untuk keempat kalinya. Juga di kota Niigata, 16 Juli 2009, dengan ”Niigata Water and Land Art Festival”.

Dadang Christanto

Perupa

(diunduh dari http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/05/03/03250378/oooiii….naoshima)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: