Hibridisasi Bukan Sebuah Tema

Hibridisasi Bukan Sebuah Tema

Adanya sebuah tema yang mengikat karya-karya dalam sebuah pameran adalah cara mengusir kehambaran. Tapi tema saja ternyata tidak cukup. Pameran pembukaan Galeri NAS, 17 April-3 Mei, salah satu contoh.

Hibridisasi, kata inilah yang mengikat sekitar 40 karya dari 24 senirupa­wan yang dipamerkan di Gale­ri North Art Space (NAS), Ta­man Impian Jaya Ancol. Wujudnya adalah karya yang dengan nada ringan orang menyebut sebagai ”kar­ya seni rupa kontemporer”. Rifky Effendy, kurator pameran ini, di tulisannya tentang ”Hybridization” menyebut karyakarya yang dipilihnya ini mewakili semangat postmodernism.

Itulah karya seni rupa video, instalasi, dan lukisan yang dianggap sudah melampaui seni rupa modern. Ada tumpukan balok dengan ujung sebagaimana batang korek api. Judulnya, Sang Pewarta. Memang, batangbatang korek api itu seolah muncul dari sebuah mesin ketik (dari kayu) yang tergeletak di pinggir tumpukan. Ada batu apung (atau seperti batu apung) digantung dengan senar, tersusun acak. Inilah Endless IV karya instalasi Yani Mariani.

Ada pula gambar hasil cetak di­gital, sesosok dalam sajian yang pudar di latar belakang, dan seekor kupukupu di latar depan yang menjadi fokus. Kupukupu disate oleh sebatang jarum. Memory of Pain 2, karya F.X. Harsono. Ada lukisan akrilik yang tampak seperti hasil jepretan kamera foto, sebuah tikungan jalan dalam suasana malam dengan lampu terlihat bagaikan kunangkunang di ujungujung gedung. Don’t Forget Me, lukisan Andy Dewantoro. Dan banyak lagi, misalnya barisan tengkorak binatang yang diatur sedemikian rupa seperti berbaris menuju ke sesuatu entah apa: tujuan itu disugestikan berada di belakang tembok, yang akan ditembus oleh tengkoraktengkorak itu. Ada mobil Heri Dono, ada bayibayi Harris Purnomo, ada lukisan yang ­realistis fotografis kaleng minuman Pocari Sweat yang seperti habis diremat sebuah tangan nan kukuh. Bisa dikatakan, satu per satu karya mencapai nilai di atas standar. Katakanlah, inilah karyakarya pilihan termasuk karya seni rupa videonya.

Yang kemudian terasa mengganjal dalam pameran pembukaan Galeri NAS ini, mengapa karya bermutu itu kurang memberikan kesan ”kebersamaan” walau sudah diikat dengan kata hybridization.

Bukan sesuatu yang istimewa bahwa sebuah pameran, bersama maupun tunggal, menyajikan sejumlah karya yang diikat oleh satu konsep atau ide atau tema. Memang, dalam zaman yang disebut postmodernism hal pameran satu tema adalah kecenderungan. Hou Hanru, kritikus dan kurator berdarah Cina yang tinggal di Eropa, pernah menyatakan soal satu tema ini. Kata dia, seolaholah tanpa satu tema sebuah pameran seni rupa menjadi hambar.

Pameran Hybridization, menurut saya, justru menyajikan sesuatu yang hambar meski sudah dengan satu tema. Pengunjung bisa mengagumi satu per satu karya, namun beranjak dari Galeri NAS, Ancol, ini tak terbawa sebuah kesan tentang pameran ini. Ikatan hybri­dization itu tak terasa mengikat.

Bisa jadi pemilihan temanyalah yang membuat ikatan itu melonggar. Penye­leksian senirupawan sudah dengan sendirinya mencerminkan hibridisasi itu. Ke24 nama bisa dikatakan adalah senirupawan yang disadari atau tidak menempuh lajur yang oleh Rifky, kuratornya, disebut postmodernism. Dan salah satu unsur postmodernism ini pun telah diuraikan secara baik pada catatan kuratorial. ”Posmodernisme merupakan gejala budaya ketika segala bentuk seni dan budaya berbaur dan bercampur, hingga pemikiran lokal dan tradisional terakomodasi lewat ungkapanungkapan seni,” tulis Rifky.

Dengan kalimat lain, sebenarnya hibridisasi kurang pas diambil untuk mengikat berbagai karya dalam pameran ini. Kata itu terlalu luas maknanya untuk sebuah tema, hingga dalam bayangan saya, karya mana pun bisa masuk dalam tema ini. Hou Hanru saya kira tidak keliru, bahwa tanpa tema tertentu sebuah pameran terasa hambar. Tapi tidak selalu pameran yang diselenggarakan dan dimaui sejak awal bersatu tema dengan sendirinya mengusir kehambaran itu, bila tema itu terlalu luas hingga malah seperti tanpa tema.

Dalam hal pameran Hybridization ini, tampaknya perlu diambil sebuah fokus, hingga tema atau konsep pameran bisa lebih tajam, dan karena itu memberikan kesan.

Tapi tidakkah sebuah pameran juga tergantung cara menyajikan karya? Saya kira begitu. Ketika sebuah karya dibawa dari tempat kerja senimannya atau dinding seorang kolektor, karya itu akan dipasang di suatu suasana berbeda. Karya itu akan berada di antara karyakarya lain, dalam ruang yang lain. Peluang ini bisa menjadi ”tema”. Seorang kurator lalu bisa mengatur karya sedemikian rupa hingga karya itu memancarkan secara imajinatif sesuatu yang tidak ditemukan ketika karya itu masih di sanggar senimannya atau di dinding rumah kolektornya. Saya merasa bahwa sekitar 40 karya di Galeri NAS ini bisa diatur sedemikian rupa sehingga pameran tak terasa hambar. Bukan saja keunikan setiap karya bisa menjadi lebih menonjol, pengunjung yang memasuki ruang pameran dan berjalan berkeliling akan ”mendengarkan” sebuah suguhan yang terbentuk dari kesan masingmasing karya.

Betapapun, dilihat dari sisi sejarah Galeri Pasar Seni Ancol (demikianlah nama galeri ini pada mulanya, yang diresmikan pada paruh kedua 1970an), ini sebuah upaya menyemarakkan dunia seni rupa di Jakarta. Galeri ini, bersama dengan beberapa tempat berpameran (sebut saja Bentara Budaya, Galeri Salihara, Galeri Nasional Indonesia, Taman Ismail Marzuki) berpe­luang untuk menyajikan pameran yang tidak sekadar—atau malah sama sekali tidak—berkaitan dengan pasar. Atau kalau pasar menjadi tema pameran, pasar di situ adalah ide untuk dimasalahkan, bukan tujuan.

Saya kira prasarana yang membuka peluang pameran seperti itu diperlukan untuk mengimbangi pameran di galeri komersial dan hirukpikuk balai lelang. Tak berarti pameran di galeri komersial tidak penting. Semua diperlukan untuk sebuah kehidupan di dunia seni rupa yang baik. Kota perlu prasarana yang komplet, karena pengalaman Affandi di Bienal Venesia 1954 seharusnya menjadi catatan kita. Affandi merasa kalah oleh karya yang terpilih sebagai karya yang dianggap berhak mendapat hadiah utama hanya karena ia tumbuh di dunia seni rupa yang prasarananya belum lengkap: belum ada galeri, kritikus, kolektor yang cukup. Ia tak punya pembela untuk mengimbangi pendapat Herbert Read, kritikus yang sangat berpengaruh waktu itu, bahwa karyanya tidak ”baru” betapapun uniknya, karena ekspresionisme sudah lama ada di Eropa. Affandi juga merasa kurang punya wawasan seni rupa dunia karena tak mudah kala itu di Indonesia untuk mendapatkan informasi tentang seni rupa di negaranegara lain.

Tapi ini bukan suatu undangan untuk menumbuhkan senirupawan yang bisa melahirkan karya yang bakal mendapat ”hadiah utama” dalam sebuah bienal internasional. Yang layak dicatat dari Affandi itu adalah betapa perlunya prasarana seni rupa dibentuk. Kita mudah melupakan karya para senirupawan pada 1970an, misalnya (baru sekitar 40 tahun), seolaholah karya itu tak begitu berarti. Dan ini tecermin di balai lelang, betapa karya baru memperoleh penawaran tinggi, sedangkan karya lama—termasuk karya dari mereka yang dianggap maestro—seperti tak ada harganya.

Memang, sejarah dan nilai tak terbentuk di balai lelang. Tapi sebuah penghargaan yang proporsional pada karya dahulu maupun sekarang tampaknya terasa lebih sehat untuk sebuah dunia seni rupa kita, yang kini diharapkan menjadi bagian dari industri kreatif. Dari sudut pandang ini, sudah selayaknya pameran di Galeri North Art Space bisa menjadi salah satu acuan perkembangan seni rupa kita.

Bambang Bujono

(diunduh dari http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/04/27/SR/mbm.20090427.SR130127.id.html)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: