Wajah Kita pada Besi Tua

Pameran patung
Wajah Kita pada Besi Tua

Minggu, 26 April 2009 | 04:20 WIB

Ilham khoiri

Perupa Teguh Ostenrik (59) berpameran tunggal dengan tajuk ”deFacement” di Gedung Arsip Nasional, Jakarta, 25-29 April ini. Bermodal bahan besi tua, dia mengutak-atik beragam ekspresi wajah manusia. Apa menariknya?

Ada sebuah patung unik berdiri di halaman tengah Gedung Arsip Nasional. Karya itu berupa potongan pipa besi panjang yang melengkung pada bagian atas dengan ujung ditancapi ratusan kawat besi yang semrawut. Di bawah kawat-kawat itu ada tempelan gir, potongan besi kecil, dan lubang menganga.

Sekilas, benda ini tak ubahnya besi bekas dari tempat pembuangan barang rongsokan. Namun, saat dicermati lagi, lama-lama bentuk-bentuk itu mengingatkan kita pada sesuatu yang akrab. Gerombolan kawat itu mirip rambut riap-riap seorang perempuan; lubang menyerupai mulut; dan tempelan gir serta potongan besi mungil itu bak dua mata yang melotot.

Dengan melongok judul ”Belon Disasak”, kita segera tertuntun untuk membayangkan kepala perempuan berambut awut-awutan. Wajahnya memberengut.

Patung lain, berjudul ”Seribu Wajah”, mirip perisai besar yang disusun dari sambungan puluhan potongan besi persegi panjang. Jika diperhatikan lama-lama, ternyata rakitan, kerutan, sambungan, atau tempelan potongan besi itu mirip berbagai ekspresi wajah. Ada wajah murung, gembira, melongo, atau dingin-dingin saja.

Ada 53 patung karya Teguh yang ditampilkan di Gedung Arsip Nasional. Sejumlah karya dipasang di atas hamparan lapangan berumput di halaman tengah, sebagian lagi ditata di ruang pameran lantai satu dan dua. Semua karya tiga dimensi itu dibuat dari bahan besi bekas. Disertakan juga 19 lukisan.

Aneh-aneh

Sebagaimana dua patung tadi, puluhan patung lain juga memperlihatkan berbagai raut wajah dari rakitan potongan-potongan besi tua. Ada wajah orang kedinginan, mulut makan kentang, lidah menjulur, orang tersenyum, pipi menggelembung, wajah bulat-rembulan, atau perempuan dengan jilbab terlepas. Itulah gambaran beragam raut muka manusia yang suka aneh-aneh.

Ekspresi tersebut semakin unik karena muncul timbul-tenggelam di antara kilasan citraan dan ingatan. Tak ada bentuk pasti. Yang hadir adalah kilasan rupa hasil rakitan besi yang menyerupai hidung, mata, telinga, atau mulut. Pada momen tertentu, kilasan itu lebih dramatis, tak terduga, bahkan kuat menyentil absurditas mimik wajah manusia.

”Saya tidak menggambar anatomi, tetapi mendekatkan rupa pada emosi wajah manusia dalam momen-momen situasional,” kata Teguh. Dia memang tidak mengejar representasi (penghadiran kembali), tetapi reinterpretasi (penafsiran ulang) atas wajah manusia.

Kurator pameran, Wicaksono Adi, menilai, lapisan-lapisan ekspresi wajah dalam patung itu membuka ruang bagi kita untuk keluar-masuk dan terus bergerak bebas. Kadang, kita merasa akrab dengan wajah itu, tetapi lain kali terasing. Patung-patung ini mewakili momen-momen personal dan impersonal manusia saat melihat keunikan ekspresi wajah yang menampakkan sesuatu yang tersurat sekaligus menyimpan yang tersirat.

Secara teknis, patung-patung itu mengembalikan kekuatan rupa pada sifat besi bekas. Itu berbeda dengan konvensi patung yang biasa melebur bahan menjadi sesuatu yang sama sekali baru. Teguh tidak berkarya dengan dituntun satu konstruksi di kepala, melainkan lebih mengalir mengikuti naluri bahan.

”Dengan pendekatan itu, dia bekerja lebih bebas, tidak dibatasi oleh tema tertentu,” kata Adi.

Sejak 1976

Teguh tertarik pada persoalan visual wajah sejak tahun 1976. Saat kuliah di Fine Art, Hochschule der Künste, Jerman, dia sering bepergian dengan naik kereta bawah tanah. Ketika duduk di kursi kereta, dia selalu menghadapi banyak wajah tak dikenal, yang kerap terasa begitu asing dan menyimpan misteri.

Saat bersamaan, dia mengunjungi museum etnologi yang menggelar topeng atau gambar potret dari suku Maya dan Astek. Topeng-topeng itu tidak anatomis, tetapi dibuat dengan sangat cerdas. Hanya dengan dua-tiga garis saja, topeng itu mampu mengungkapkan ekspresi wajah dengan sangat kuat.

Teguh pun terdorong untuk bereksperimen dengan visual wajah. Dia mengolah wajah dengan tanah liat, kayu, perunggu, dan belakangan dengan besi. Lukisan-lukisannya pun banyak merekam ekspresi wajah yang terpendam di balik sapuan warna-warni cat.

”Ekspresi wajah manusia penuh teka-teki, kadang hanya jadi topeng untuk menutupi jiwanya yang lain,” kata Teguh.

(diunduh dari http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/04/26/04205413/wajah.kita.pada.besi.tua)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: