Batang Korek Api yang Terbakar

pameran
Batang Korek Api yang Terbakar

Minggu, 5 April 2009 | 02:50 WIB

Adakah hubungan antara batang korek api dan manusia? Ada. Ketika dibakar, setiap batang kayu kecil itu meninggalkan jejak hangus yang berbeda. Itu mirip proses identifikasi manusia, di mana setiap pribadi adalah sosok yang unik. Ilham Khoiri

Yuli Prayitno (35), pematung lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, menempatkan korek api sebagai gambaran karakter manusia. Dia membuat bermacam obyek seni dengan idiom batang korek api terbakar. Hasilnya, digelar dalam pameran tunggalnya, ”I Love…” di Nadi Gallery, Jakarta, 1-13 April 2009.

Dari total 24 karya yang dipajang, sebagian memang memanfaatkan batang korek api. Kadang potongan kayu kecil dibiarkan utuh, lain kali ditempelkan, dibakar, dibuat jadi kaki kursi, jadi tangkringan burung, atau dijadikan kepala manusia. Setiap perlakuan melahirkan karya berlainan.

Tengok saja karya berjudul ”Burn My Heart”. Sebuah resin berbentuk hati ditempeli ribuan batang korek api. Pada bagian bawah hingga tengah, batang itu masih utuh. Pada bagian atas, batang itu telah terbakar-menghitam.

Obyek berjudul ”I Can’t Get Now Satisfaction” memanfaatkan batang korek api terbakar yang besar. Benda ini dijadikan salah satu kaki kursi yang memanjang.

Pada karya ”Space Race”, batang korek itu dijadikan kepala boneka manusia yang tertempel di atas guratan peta berbentuk hati di atas kayu. Karya ”Shock!” menggunakan batang itu jadi tempat tangkringan burung yang becermin pada bidang bundar dari stainless steel. Karya ”Dump Drop” berupa keran air juga menggunakan batang korek api alat pemutar keran.

Ada apa dengan batang korek api sampai-sampai Yuli begitu getol mengeksplorasinya? Seniman ini mengaku suka mengamati benda itu sejak kecil karena mirip proses identifikasi manusia. ”Saat dibakar, batang itu menghangus dan menjadi benda baru dengan bentuk dan warna berbeda-beda. Begitu pula manusia yang anatominya serupa, tetapi setiap individu punya karakter unik,” katanya.

Lalu, apa yang hendak disampaikan lewat batang korek api? Batang yang dipelintir jadi benda lain, katanya, diharapkan bisa menciptakan kejutan visual yang memancing perhatian. ”Setelah itu, orang bebas masuk dan menangkap tafsir apa saja. Bisa soal kefanaan, pluralitas, kerapuhan cinta, atau perbedaan antara harapan dan kenyataan.”

Yuli juga menggulati benda keseharian lain, seperti telinga (dari silikon), cabe (dari kasur kapuk), atau boneka tentara (yang dilelehkan membentuk gumpalan hati). Semua itu menyodorkan obyek-obyek yang merangsang penasaran. Tajuk ”I Love…” justru menggambarkan kegandrungan Yuli kepada benda-benda itu, bukan menggagas tema cinta umum.

Bricoleur

Di luar kejutan visual, karya-karya Yuli jelas mengesankan keterampilan mengutak-atik berbagai material dan benda dengan teknik dan ketelitian tinggi. Dia bisa merakit benda temuan, seperti kursi, keran air, batang kayu bekas rel kereta, lampu, kusen, atau boneka plastik, atau berbagai bahan (kayu, resin, stainless steel, karet, aluminium, atau perak). Hasilnya, benda baru yang segar.

Menurut kurator pameran, Enin Supriyanto, Yuli adalah seorang bricoleur: seniman yang lihai merancang, merakit, dan menyusun sesuatu yang ”lain” dari segala benda yang ada. Benda dan bahan sehari-hari itu diselewengkan menjadi obyek yang sama sekali lain. Pendekatan ini membongkar batas konvensi patung yang identik dengan karya monumental dari logam solid.

”Karya Yuli menunjukkan betapa luasnya kemungkinan yang bisa digulati seniman. Setiap kali dibangun batasan, setiap kali itu pula batasan itu mungkin didobrak,” katanya.

Pemanfaatan benda keseharian itu menarik karena memperlihatkan usaha membajak barang komoditas untuk dimainkan atau dimasuki makna pribadi. Mungkin itulah langkah subversif seniman untuk membebaskan diri dari kungkungan narasi besar konsumerisme yang dirancang kapitalisme.

Pada titik ini, perlakuan Yuli pada benda mengingatkan kita kepada beberapa seniman lain. Sebut saja, Faisal Habibi yang suka memelesetkan kursi, Wiyoga Muhardanto yang menyelewengkan komoditas menjadi mainan, atau Handiwirman Saputra yang mengulik narasi kecil dari benda remeh-temeh. Dengan bahasa visual masing-masing, para seniman muda itu memperluas praktik dan wacana seni rupa di Tanah Air.

(diunduh http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/04/05/02501159/batang.korek.api.yang.terbakar)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: